OUTLINE DAN PENUGASAN
RUBRIK : MIMBAR UTAMA
MASALAH : VISI EKONOMI CAPRES-CAWAPRES
DIBERIKAN : SENIN, 1 JUNI 2009
DEADLINE : RABU, 3 JUNI 2009
MASALAH :
Kampanye Pemilu Pilpres 2009 sebetulnya baru akan dimulai 3 Juni 2009. Namun, saling serang dan saling lempar visi sudah dimulai sejak awal. Demikian pula reaksi dari masyarakat terhadap para calon yang ada. Di internet, khususnya facebook, misalnya, sejak lama beredar poster yang merujuk ke “anti Prabowo dan Wiranto” – terkait dugaan pelanggaran HAM yang mereka lakukan di masa lalu. Demikian juga dengan tuduhan “neolib” yang dilayangkan ke Boediono, yang juga akan berdampak kepada SBY.
Nah, Mimbar Utama kita kali ini akan mencoba focus kepada visi ekonomi para capres-cawapres itu. Apa sebetulnya visi ekonomi mereka itu? Juga penjelasan di balik masing-masing visi tersebut. Apa sebenarnya yang dimaksud Prabowo dengan Ekonomi Kerakyatan yang disebut-sebutnya itu? Bagaimana aplikasinya dalam praktik ekonomi, politik, dan pemerintahannya kelak bila ia terpilih? Bukankah, “ilusi” ini sejak lama digembar-gemborkan pemerintah – bahkan para founding father, meskipun tentu saja dengan nama berbeda? Tapi, praktiknya? Sampai kini tak pernah nyata terwujud. Mungkinkah hal itu bisa diterapkan pada konstalasi ekonomi global sekarang ini?
Diharapkan, dengan Prabowo sebagai Prabowo dan marketing tool, masyarakat paham akan kelemahan dan kelebihan masing-masing pasangan. Termasuk, dan terutama, integritas mereka. Juga, pola dan metode black campaign yang terjadi selama kampanye Pilpres ini.
Cover story ini akan terdiri dari enam bagian, dengan rincian :
1. Bagian I: Ekonomi Kerakyatan dan Integritas Prabowo 4 Halaman.
2. Bagian II: Visi Ekonomi Capres-cawapres lain. 4 Halaman
3. Bagian III: Komentar pelaku usaha terhadap masing-masing visi. 2 Halaman
4. Bagian IV : Black Campaign dalam kampanye Pilpres. 2 Halaman
5. Wwc: Prabowo 4 Halaman
6. Bagian V : Analisis Refrisond Baswir. 2 Halaman
7. Bagian VI: Analisis EMS 2 Halaman
Total 18 Halaman
Penjelasan lebih jauh tentang masing-masing bagian bisa dilihat di bawah ini:
Bagian I: Ekonomi Kerakyatan dan Integritas Prabowo
Bagian ini akan diawali dengan hiruk pikuk persiapan Pilpres selama ini, dengan lebih focus kepada aktivitas Prabowo dan saling serang antar kubu yang terjadi selama ini (Lihat apa yang ditulis dalam rubrik Politik Mimbar edisi 3). Di sini, disinggung pula fenomenalnya Prabowo Subianto dalam Pemilu kali ini. Mulai dengan perolehan suara Gerindra yang lumayan, sebagai partai baru dan gaya kampanyenya yang “agung” dan percaya diri, sekaligus sangat “pro rakyat” dan “ekonomi kerakyatan”.
Bersamaan dengan itu, kubu SBY pun dituduh sebagai penganut mazhab neolib. Terutama, dengan hadirnya Boediono sebagai calon Wakil Presiden. Disebutkan, misalnya, alasan apa yang melatari tuduhan tersebut. Apakah semata-mata karena ia pernah bekerja di IMF? Atau, bagaimana? Sebab, kalau saja hanya semata pernah bekerja di IMF, tak hanya Boediono yang bisa dikategorikan “neolib” – Burhanuddin Abdullah, Sri Mulyani, dan ekonom Indonesia lainnya banyak yang pernah bekerja di IMF. Karena itu, ihwal tudingan “neolib” itu harus bisa dijelaskan secara meyakinkan. Atau, tuduhan itu samata-mata black campaign yang berniat membunuh karakter Boediono (SBY) sekaligus menggugah emosi masyarakat – yang notabene “dirugikan” dengan globalisasi dan neoliberalisasi yang terjadi di seluruh dunia sekarang ini.
Setelah itu, tulisan difokuskan kembali ke konsep ekonomi Prabowo. Selain persoalan mungkin-tidaknya konsep ekonomi kerakyatan diterapkan, bagaimana dengan integritas Prabowo (dan Megawati) sendiri? Apakah selama ini ia mencerminkan sikap dan gaya hidup yang “ekonomi kerakyatan”? Terutama karena di situs resmi Gerindra, ia juga memasang fotonya sedang menaiki kuda, yang konon harganya miliaran? Ini bagaimana? Pun sepakterjang dia lainnya. Termasuk kekayaannya: Bagaimana dia bisa mengumpulkan harta yang mencapai triliunan? Padahal, ia “hanya” pensiunan tentara?
Analisis kegiatan dia selama ini: Mulai dari sebagai Danjen Kopassus sampai kegiatannya sebagai purnawirawan. Apakah semua itu mencerminkan ekonomi kerkayatan? Lebih dari itu, sejauh mana keberhasilan dia dalam menerapkan ekonomi kerakyatan tadi? Baik sebagai Ketua HKTI, HNSI, maupun Ketua Pedagang Pasar Seluruh Indonesia?
Demikian juga prilaku pribadi dan politik Megawati selama ini: Apakah dia mencerminkan sikap ekonomi kerakyatan? Baik sebagai Presiden dan Ketua Umum PDIP?
ANGLE: Ekonomi Kerakyatan dan integritas para penggagasnya.
SUMBER dan PERTANYAAN:
1. Prabowo Subianto : Lihat daftar pertanyaan untuk wawancara.
2. Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo : Apa komentar dia terhadap visi ekonomi kerakyatan yang diusung Prabowo CS? Apa pula komentarnya terhadap tuduhan “neolib” yang dituduhkan lawan-lawan SBY terhadap Boediono? Menurut dia, apa sebenarnya yang dimaksud dengan neolib itu? Adakah sekarang ini perekonomian yang bebas dari neolib? Cina? Artinya, mungkinkah kita menerapkan “ekonomi kerakyatan” ala Prabowo itu? Bagaimana dengan konsep ekonomi SBY sendiri? Bagaimana kiatnya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 7%? Mungkinkah? Apa pula komentar dia dengan konsep ekonomi yang diusung JK-Win? Di mana kekurangan dan kelebihannya?
3. Rizal Mallarangeng : Idem dengan pertanyaan untuk Hadi Oetomo
4. Ketua Partai Gerindra Suhardi : Idem dengan pertanyaan untuk Prabowo.
5. Pakar/pemikir ekonomi PDIP : .
6. Pakar/pemikir ekonomi Golkar
7. Pakar/pemikir ekonomi Demokrat.
8. Thoby Mutis (Pakar ekonomi Untar, Bekas Ketua Dekopin itu): Apa komentar dia terhadap gagasan Prabowo itu? Menurut dia, mungkinkah menerapkan ekonomi kerakyatan seperti yang dimaksud Prabowo itu, terutama ketika kita sudah terbebat ketat ekonomi global yang cenderung tidak pro ekonomi kerakyatan?
9. Pakar Komunikasi Massa : Apa komentar dia tentang gaya berkampanye masing-masing capres-cawapres? Khususnya Prabowo yang, dalam beberapa hal, tidak sejalan dengan konsep yang diusungnya? Bicara soal ekonomi kerakyatan, tapi kudanya berharga miliaran? Apakah itu mencerminkan Prabowo tidak memiliki integritas? Atau, memang tak ada kesejalanan antara gaya hidup dengan konsep politik? Lalu, di mana otentisitas seperti yang dulu pernah dilontarkan almarhum Nurcholis Madjid?
FOTO:
1. Prabowo Subianto sedang naik kuda
2. Rizal Mallarangeng
3. Suasana di sebuah perkampungan nelayan.
4. Suasana di sebuah pasar tradisional.
BAG II: Menguji Konsep Ekonomi Capres Non Mega-Pro
Bagian ini mencoba memaparkan, sekaligus mengkritisi konsep atau visi ekonomi yang diusung para capres-cawapres non Mega-Pro. Kenapa, misalnya, SBY-Boediono cenderung konservatif dalam menentukan target pertumbuhan ekonomi? Apa dasar-dasarnya? Dan bagaimana peluang serta teknis yang akan mereka ambil, bila terpilih, dalam meraih target tersebut? Sektor apa yang akan digenjot?
Demikian pula dengan konsep/visi ekonomi JK-Win, yang kelihatannya sangat optimistis. JK-lah di antara para capres yang menjanjikan pertumbuhan ekonomi paling tinggi. (TOLONG DICEK LAGI, ketika TOR ini dibuat saya lagi jauh dari internet). Apa alasannya mereka mentargetkan seperti itu? Dan kiat apa yang mereka lakukan untuk mencapainya?
Selain penjelasan dari masing-masing kubu, dipaparkan juga kritik terhadap konsep ekonomi mereka itu. Baik dari kalangan politisi, pakar, maupun pengusaha.
ANGLE: Realibilitas konsep ekonomi capres non Mega-Pro?
SUMBER:
1. Jusuf Kalla.
2. Pemikir/ekonom Golkar-Hanura.
3. Pemikir/ekonom PDIP.
4. Anggota Komisi IX DPR-RI
5. Faisal Basri
6. Thoby Mutis
7. Sofyan Wanandi
8. Ketua Kadin MS Hidayat.
FOTO:
1. SBY sedang meresmikan panen raya padi.
2. JK bersama para pedagang atau pengusaha.
3. MS Hidayat
4. Sofyan Wanandi
5. Thoby Mutis
Bagian III : Komentar Pengusaha terhadap Konsep/Visi Ekonomi masing-masing Capres.
Bagian ini merupakan galeri pendapat sejumlah pengusaha terhadap gagasan ekonomi para capres-cawapres. Artinya, memaparkan komentar dan pendapat sejumlah pengusaha terhadap visi/konsep ekonomi para capres apa adanya.Tanpa harus dirangkai lagi dalam sebuah tulisan berupa esai.
Fokus pertanyaan : Di mata mereka, konsep ekonomi mana/siapa yang paling masuk akal? Mungkinkah visi/konsep dan target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan para capres itu bisa tercapai? Apa alasannya? Menurut mereka, sektor mana yang harus digenjot atau dibenahi? Sejauh ini, persoalan apa yang menghambat pertumbuhan ekonomi kita? Benarkah fundamental ekonomi kita sudah oke? Bagaimana dengan visi ekonomi Prabowo Subianto, yang mengusung ekonomi kerakyatan? Apakah ide ini cukup masuk akal untuk diterapkan? Terurama sekarang ini? Atau, itu benar-benar konsumsi politis alias sebuah konsep yang hanya indah diucapkan tapi tak mungkin diterapkan? Bukankah konsep itu sudah lama didengung-dengungkan? Tapi, penerapannya? Dst-dst.
ANGLE : Mungkinkah konsep/visi ekonomi para capres/cawapres itu diterapkan?
SUMBER:
1. Sofyan Wanandi.
2. MS Hidayat.
3. Ketua Gaikindo Agus
4. Ketua Migas
5. Ketua
6. Pedagang di Pasar Senen atau kakilima.
FOTO: Masing-masing sumber yang diwawancarai.
BAG. IV : Saling serang dalam Kampanye Pilpres 2009
Bagian ini memaparkan saling serang antar kubu di luar perkara ekonomi. Apa, misalnya, yang dituduhkan kubu SBY-Boediono terhadap JK-Win maupun Mega-Pro. Demikian juga serangan, dan pembalasan, kedua kubu tadi terhadap SBY-Boediono – di luar soal neolib, yang sudah kita bahas pada edisi 3.
Tulisan bisa dimulai dengan laporan pandangan mata terhadap spanduk-spanduk yang ada di jalan-jalan, kemudian ucapan-ucapan masing-masing kubu di media massa. Lalu, komentar masing-masing penyerang maupun yang diserang. Untuk menjaga keberimbangan, masing-masing kubu kita paparkan – baik serangan maupun tangkisan masing-masing. Secara aple to aple.
Setelah itu, komentar Panwaslu. Apa komentar mereka terhadap gaya dan praktik kampanye yang terjadi para wapres selama ini? Apakah sejauh ini masing-masing masih berada dalam koridor aturan yang ada? Pun masih dalam tataran etika? Bagaimana dengan “kampanye” yang terjadi sebelum 3 Juni 2009? JK, misalnya, dilaporkan menemui para kiai, Sultan, pedagang, dab? Apakah itu tak bisa disebut sebagai mencuri start? Demikian juga dengan SBY dan Prabowo? Mega-Pro mendeklarasikan diri berkali-kali – termasuk di Bantargebang – apakah itu bukan bagian dari kampanye? Apakah hal seperti itu diperbolehkan? Dan secara etis, etiskah cara mereka itu (deklarasi di Bantargebang, sementara Taufik Kiemas sendiri tak kuasa turun dari bis – karena “bau” dan kepayahan dengan tubuhnya yang tambun)?
Lalu, apa komentar para akhli media massa dan pengamat politik: Apakah cara kampanye masing-masing capres ini masih bisa dinilai elok? Alias belum kebablasan, menjadi black campaign misalnya? Sebenarnya, black campaign sendiri diperbolehkan tidak sih dalam kode etik kampanye? Menurut mereka, gaya berkampanye siapa yang lebih berhasil (dalam meraih perolehan suara kelak)? Prabowo yang mengusung ekonomi-kerakyatan? (Tapi, kudanya miliaran?) SBY yang nyaris tak terdengar, kecuali suara para pendukung atau tim suksesnya? Atau, JK-Win yang kelihatan agresif dan gerak cepat – sesuai dengan mottonya, “lebih cepat, lebih baik”? Apa penjelasan lebih jauh tentang pendaapatnya itu?
Apakah gaya berkampanye seorang kandidat ikut menentukan perolehan suara kelak? Mana yang lebih penting: Figur, konsep/gagasan, atau “gaya” dalam meraih simpati pemilih?
Menurut mereka, key issue apa sejatinya yang menjadi tema pokok kampanye para capres sekarang ini? Apakah tema ekonomi seperti terjadi sekarang cukup tepat? Termasuk, dan terutama, untuk rakyat kebanyakan? Bukankah tema penegakan hukum akan lebih menyentuh? Atau, kalaupun soal ekonomi, focus ke salah satu sektor? Pertanian, misalnya?
SUMBER:
1. Efendi Ghozali.
2. Djalaluddin Rakhmat.
3. M.Qodari
FOTO:
1. JK-Win di sebuah pesantren.
2. SBY-Boediono di depan para mahasiswa.
3. Mega-Pro di Bantargebang.
WWC: Prabowo Subianto
PERTANYAAN POKOK:
1. Apa sebenarnya yang Anda maksud dengan Ekonomi Kerakyatan itu?
2. Apa yang akan menjadi fokus atau primadona dalam pelaksanaan konsep tersebut?
3. Apa kira-kira hambatannya?
4. Mungkinkah konsep tersebut diterapkan, terutama dalam konstalasi ekonomi global sekarang ini, yang sangat kapitalistik dan pasar bebas?
5. Adakah negara yang sukses menerapkan konsep sosialistis seperti “ekonomi kerakyatan” yang Anda maksud itu?
6. Anda yakin tema ini akan berhasil menarik simpati pemilih?
7. Berapa target perolehan suara Anda dengan mengusung tema “ekonomi kerakyatan” tersebut?
8. Bagaimana dengan gaya hidup Anda sendiri yang dinilai tidak mencerminkan “ekonomi kerakyatan” tadi? Bahkan, dalam situs resmi Gerindra ada foto Anda sedang menaiki kuda, yang konon harganya miliaran? Anda tak merasa rikuh menampilkan itu?
9. Banyak pihak menilai, Anda tidak memiliki integritas karena konsep “ekonomi kerakyatan” Anda tak selaras dengan gaya hidup Anda. Komentar Anda?
10. Anda yakin hal itu tak akan menghalangi pemilih untuk memilih Anda?
11. Pun sepak terjang bisnis keluarga Anda selama ini? Apakah ini tak akan menjadi kelemahan Anda?
Maman Gantra
Jalan Salemba Tengah 51,
Jakarta 10440.
0812-940-5441
