pangacaprukan

Koleksi pangacaprukan kuring ngeunaan sawatara hal. Umumna sok diposting di milis urangsunda, yahoogroups.

Sunday, May 31, 2009

OUTLINE DAN PENUGASAN

OUTLINE DAN PENUGASAN

RUBRIK : MIMBAR UTAMA

MASALAH : VISI EKONOMI CAPRES-CAWAPRES

DIBERIKAN : SENIN, 1 JUNI 2009

DEADLINE : RABU, 3 JUNI 2009

MASALAH :

Kampanye Pemilu Pilpres 2009 sebetulnya baru akan dimulai 3 Juni 2009. Namun, saling serang dan saling lempar visi sudah dimulai sejak awal. Demikian pula reaksi dari masyarakat terhadap para calon yang ada. Di internet, khususnya facebook, misalnya, sejak lama beredar poster yang merujuk ke “anti Prabowo dan Wiranto” – terkait dugaan pelanggaran HAM yang mereka lakukan di masa lalu. Demikian juga dengan tuduhan “neolib” yang dilayangkan ke Boediono, yang juga akan berdampak kepada SBY.

Nah, Mimbar Utama kita kali ini akan mencoba focus kepada visi ekonomi para capres-cawapres itu. Apa sebetulnya visi ekonomi mereka itu? Juga penjelasan di balik masing-masing visi tersebut. Apa sebenarnya yang dimaksud Prabowo dengan Ekonomi Kerakyatan yang disebut-sebutnya itu? Bagaimana aplikasinya dalam praktik ekonomi, politik, dan pemerintahannya kelak bila ia terpilih? Bukankah, “ilusi” ini sejak lama digembar-gemborkan pemerintah – bahkan para founding father, meskipun tentu saja dengan nama berbeda? Tapi, praktiknya? Sampai kini tak pernah nyata terwujud. Mungkinkah hal itu bisa diterapkan pada konstalasi ekonomi global sekarang ini?

Diharapkan, dengan Prabowo sebagai Prabowo dan marketing tool, masyarakat paham akan kelemahan dan kelebihan masing-masing pasangan. Termasuk, dan terutama, integritas mereka. Juga, pola dan metode black campaign yang terjadi selama kampanye Pilpres ini.

Cover story ini akan terdiri dari enam bagian, dengan rincian :

1. Bagian I: Ekonomi Kerakyatan dan Integritas Prabowo 4 Halaman.

2. Bagian II: Visi Ekonomi Capres-cawapres lain. 4 Halaman

3. Bagian III: Komentar pelaku usaha terhadap masing-masing visi. 2 Halaman

4. Bagian IV : Black Campaign dalam kampanye Pilpres. 2 Halaman

5. Wwc: Prabowo 4 Halaman

6. Bagian V : Analisis Refrisond Baswir. 2 Halaman

7. Bagian VI: Analisis EMS 2 Halaman

Total 18 Halaman

Penjelasan lebih jauh tentang masing-masing bagian bisa dilihat di bawah ini:



Bagian I: Ekonomi Kerakyatan dan Integritas Prabowo

Bagian ini akan diawali dengan hiruk pikuk persiapan Pilpres selama ini, dengan lebih focus kepada aktivitas Prabowo dan saling serang antar kubu yang terjadi selama ini (Lihat apa yang ditulis dalam rubrik Politik Mimbar edisi 3). Di sini, disinggung pula fenomenalnya Prabowo Subianto dalam Pemilu kali ini. Mulai dengan perolehan suara Gerindra yang lumayan, sebagai partai baru dan gaya kampanyenya yang “agung” dan percaya diri, sekaligus sangat “pro rakyat” dan “ekonomi kerakyatan”.

Bersamaan dengan itu, kubu SBY pun dituduh sebagai penganut mazhab neolib. Terutama, dengan hadirnya Boediono sebagai calon Wakil Presiden. Disebutkan, misalnya, alasan apa yang melatari tuduhan tersebut. Apakah semata-mata karena ia pernah bekerja di IMF? Atau, bagaimana? Sebab, kalau saja hanya semata pernah bekerja di IMF, tak hanya Boediono yang bisa dikategorikan “neolib” – Burhanuddin Abdullah, Sri Mulyani, dan ekonom Indonesia lainnya banyak yang pernah bekerja di IMF. Karena itu, ihwal tudingan “neolib” itu harus bisa dijelaskan secara meyakinkan. Atau, tuduhan itu samata-mata black campaign yang berniat membunuh karakter Boediono (SBY) sekaligus menggugah emosi masyarakat – yang notabene “dirugikan” dengan globalisasi dan neoliberalisasi yang terjadi di seluruh dunia sekarang ini.

Setelah itu, tulisan difokuskan kembali ke konsep ekonomi Prabowo. Selain persoalan mungkin-tidaknya konsep ekonomi kerakyatan diterapkan, bagaimana dengan integritas Prabowo (dan Megawati) sendiri? Apakah selama ini ia mencerminkan sikap dan gaya hidup yang “ekonomi kerakyatan”? Terutama karena di situs resmi Gerindra, ia juga memasang fotonya sedang menaiki kuda, yang konon harganya miliaran? Ini bagaimana? Pun sepakterjang dia lainnya. Termasuk kekayaannya: Bagaimana dia bisa mengumpulkan harta yang mencapai triliunan? Padahal, ia “hanya” pensiunan tentara?

Analisis kegiatan dia selama ini: Mulai dari sebagai Danjen Kopassus sampai kegiatannya sebagai purnawirawan. Apakah semua itu mencerminkan ekonomi kerkayatan? Lebih dari itu, sejauh mana keberhasilan dia dalam menerapkan ekonomi kerakyatan tadi? Baik sebagai Ketua HKTI, HNSI, maupun Ketua Pedagang Pasar Seluruh Indonesia?

Demikian juga prilaku pribadi dan politik Megawati selama ini: Apakah dia mencerminkan sikap ekonomi kerakyatan? Baik sebagai Presiden dan Ketua Umum PDIP?



ANGLE: Ekonomi Kerakyatan dan integritas para penggagasnya.

SUMBER dan PERTANYAAN:

1. Prabowo Subianto : Lihat daftar pertanyaan untuk wawancara.

2. Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo : Apa komentar dia terhadap visi ekonomi kerakyatan yang diusung Prabowo CS? Apa pula komentarnya terhadap tuduhan “neolib” yang dituduhkan lawan-lawan SBY terhadap Boediono? Menurut dia, apa sebenarnya yang dimaksud dengan neolib itu? Adakah sekarang ini perekonomian yang bebas dari neolib? Cina? Artinya, mungkinkah kita menerapkan “ekonomi kerakyatan” ala Prabowo itu? Bagaimana dengan konsep ekonomi SBY sendiri? Bagaimana kiatnya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 7%? Mungkinkah? Apa pula komentar dia dengan konsep ekonomi yang diusung JK-Win? Di mana kekurangan dan kelebihannya?

3. Rizal Mallarangeng : Idem dengan pertanyaan untuk Hadi Oetomo

4. Ketua Partai Gerindra Suhardi : Idem dengan pertanyaan untuk Prabowo.

5. Pakar/pemikir ekonomi PDIP : .

6. Pakar/pemikir ekonomi Golkar

7. Pakar/pemikir ekonomi Demokrat.

8. Thoby Mutis (Pakar ekonomi Untar, Bekas Ketua Dekopin itu): Apa komentar dia terhadap gagasan Prabowo itu? Menurut dia, mungkinkah menerapkan ekonomi kerakyatan seperti yang dimaksud Prabowo itu, terutama ketika kita sudah terbebat ketat ekonomi global yang cenderung tidak pro ekonomi kerakyatan?

9. Pakar Komunikasi Massa : Apa komentar dia tentang gaya berkampanye masing-masing capres-cawapres? Khususnya Prabowo yang, dalam beberapa hal, tidak sejalan dengan konsep yang diusungnya? Bicara soal ekonomi kerakyatan, tapi kudanya berharga miliaran? Apakah itu mencerminkan Prabowo tidak memiliki integritas? Atau, memang tak ada kesejalanan antara gaya hidup dengan konsep politik? Lalu, di mana otentisitas seperti yang dulu pernah dilontarkan almarhum Nurcholis Madjid?

FOTO:

1. Prabowo Subianto sedang naik kuda

2. Rizal Mallarangeng

3. Suasana di sebuah perkampungan nelayan.

4. Suasana di sebuah pasar tradisional.



BAG II: Menguji Konsep Ekonomi Capres Non Mega-Pro

Bagian ini mencoba memaparkan, sekaligus mengkritisi konsep atau visi ekonomi yang diusung para capres-cawapres non Mega-Pro. Kenapa, misalnya, SBY-Boediono cenderung konservatif dalam menentukan target pertumbuhan ekonomi? Apa dasar-dasarnya? Dan bagaimana peluang serta teknis yang akan mereka ambil, bila terpilih, dalam meraih target tersebut? Sektor apa yang akan digenjot?

Demikian pula dengan konsep/visi ekonomi JK-Win, yang kelihatannya sangat optimistis. JK-lah di antara para capres yang menjanjikan pertumbuhan ekonomi paling tinggi. (TOLONG DICEK LAGI, ketika TOR ini dibuat saya lagi jauh dari internet). Apa alasannya mereka mentargetkan seperti itu? Dan kiat apa yang mereka lakukan untuk mencapainya?

Selain penjelasan dari masing-masing kubu, dipaparkan juga kritik terhadap konsep ekonomi mereka itu. Baik dari kalangan politisi, pakar, maupun pengusaha.

ANGLE: Realibilitas konsep ekonomi capres non Mega-Pro?

SUMBER:

1. Jusuf Kalla.

2. Pemikir/ekonom Golkar-Hanura.

3. Pemikir/ekonom PDIP.

4. Anggota Komisi IX DPR-RI

5. Faisal Basri

6. Thoby Mutis

7. Sofyan Wanandi

8. Ketua Kadin MS Hidayat.

FOTO:

1. SBY sedang meresmikan panen raya padi.

2. JK bersama para pedagang atau pengusaha.

3. MS Hidayat

4. Sofyan Wanandi

5. Thoby Mutis



Bagian III : Komentar Pengusaha terhadap Konsep/Visi Ekonomi masing-masing Capres.

Bagian ini merupakan galeri pendapat sejumlah pengusaha terhadap gagasan ekonomi para capres-cawapres. Artinya, memaparkan komentar dan pendapat sejumlah pengusaha terhadap visi/konsep ekonomi para capres apa adanya.Tanpa harus dirangkai lagi dalam sebuah tulisan berupa esai.

Fokus pertanyaan : Di mata mereka, konsep ekonomi mana/siapa yang paling masuk akal? Mungkinkah visi/konsep dan target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan para capres itu bisa tercapai? Apa alasannya? Menurut mereka, sektor mana yang harus digenjot atau dibenahi? Sejauh ini, persoalan apa yang menghambat pertumbuhan ekonomi kita? Benarkah fundamental ekonomi kita sudah oke? Bagaimana dengan visi ekonomi Prabowo Subianto, yang mengusung ekonomi kerakyatan? Apakah ide ini cukup masuk akal untuk diterapkan? Terurama sekarang ini? Atau, itu benar-benar konsumsi politis alias sebuah konsep yang hanya indah diucapkan tapi tak mungkin diterapkan? Bukankah konsep itu sudah lama didengung-dengungkan? Tapi, penerapannya? Dst-dst.

ANGLE : Mungkinkah konsep/visi ekonomi para capres/cawapres itu diterapkan?

SUMBER:

1. Sofyan Wanandi.

2. MS Hidayat.

3. Ketua Gaikindo Agus

4. Ketua Migas

5. Ketua

6. Pedagang di Pasar Senen atau kakilima.

FOTO: Masing-masing sumber yang diwawancarai.

BAG. IV : Saling serang dalam Kampanye Pilpres 2009

Bagian ini memaparkan saling serang antar kubu di luar perkara ekonomi. Apa, misalnya, yang dituduhkan kubu SBY-Boediono terhadap JK-Win maupun Mega-Pro. Demikian juga serangan, dan pembalasan, kedua kubu tadi terhadap SBY-Boediono – di luar soal neolib, yang sudah kita bahas pada edisi 3.

Tulisan bisa dimulai dengan laporan pandangan mata terhadap spanduk-spanduk yang ada di jalan-jalan, kemudian ucapan-ucapan masing-masing kubu di media massa. Lalu, komentar masing-masing penyerang maupun yang diserang. Untuk menjaga keberimbangan, masing-masing kubu kita paparkan – baik serangan maupun tangkisan masing-masing. Secara aple to aple.

Setelah itu, komentar Panwaslu. Apa komentar mereka terhadap gaya dan praktik kampanye yang terjadi para wapres selama ini? Apakah sejauh ini masing-masing masih berada dalam koridor aturan yang ada? Pun masih dalam tataran etika? Bagaimana dengan “kampanye” yang terjadi sebelum 3 Juni 2009? JK, misalnya, dilaporkan menemui para kiai, Sultan, pedagang, dab? Apakah itu tak bisa disebut sebagai mencuri start? Demikian juga dengan SBY dan Prabowo? Mega-Pro mendeklarasikan diri berkali-kali – termasuk di Bantargebang – apakah itu bukan bagian dari kampanye? Apakah hal seperti itu diperbolehkan? Dan secara etis, etiskah cara mereka itu (deklarasi di Bantargebang, sementara Taufik Kiemas sendiri tak kuasa turun dari bis – karena “bau” dan kepayahan dengan tubuhnya yang tambun)?

Lalu, apa komentar para akhli media massa dan pengamat politik: Apakah cara kampanye masing-masing capres ini masih bisa dinilai elok? Alias belum kebablasan, menjadi black campaign misalnya? Sebenarnya, black campaign sendiri diperbolehkan tidak sih dalam kode etik kampanye? Menurut mereka, gaya berkampanye siapa yang lebih berhasil (dalam meraih perolehan suara kelak)? Prabowo yang mengusung ekonomi-kerakyatan? (Tapi, kudanya miliaran?) SBY yang nyaris tak terdengar, kecuali suara para pendukung atau tim suksesnya? Atau, JK-Win yang kelihatan agresif dan gerak cepat – sesuai dengan mottonya, “lebih cepat, lebih baik”? Apa penjelasan lebih jauh tentang pendaapatnya itu?

Apakah gaya berkampanye seorang kandidat ikut menentukan perolehan suara kelak? Mana yang lebih penting: Figur, konsep/gagasan, atau “gaya” dalam meraih simpati pemilih?

Menurut mereka, key issue apa sejatinya yang menjadi tema pokok kampanye para capres sekarang ini? Apakah tema ekonomi seperti terjadi sekarang cukup tepat? Termasuk, dan terutama, untuk rakyat kebanyakan? Bukankah tema penegakan hukum akan lebih menyentuh? Atau, kalaupun soal ekonomi, focus ke salah satu sektor? Pertanian, misalnya?

SUMBER:

1. Efendi Ghozali.

2. Djalaluddin Rakhmat.

3. M.Qodari

FOTO:

1. JK-Win di sebuah pesantren.

2. SBY-Boediono di depan para mahasiswa.

3. Mega-Pro di Bantargebang.



WWC: Prabowo Subianto

PERTANYAAN POKOK:

1. Apa sebenarnya yang Anda maksud dengan Ekonomi Kerakyatan itu?

2. Apa yang akan menjadi fokus atau primadona dalam pelaksanaan konsep tersebut?

3. Apa kira-kira hambatannya?

4. Mungkinkah konsep tersebut diterapkan, terutama dalam konstalasi ekonomi global sekarang ini, yang sangat kapitalistik dan pasar bebas?

5. Adakah negara yang sukses menerapkan konsep sosialistis seperti “ekonomi kerakyatan” yang Anda maksud itu?

6. Anda yakin tema ini akan berhasil menarik simpati pemilih?

7. Berapa target perolehan suara Anda dengan mengusung tema “ekonomi kerakyatan” tersebut?

8. Bagaimana dengan gaya hidup Anda sendiri yang dinilai tidak mencerminkan “ekonomi kerakyatan” tadi? Bahkan, dalam situs resmi Gerindra ada foto Anda sedang menaiki kuda, yang konon harganya miliaran? Anda tak merasa rikuh menampilkan itu?

9. Banyak pihak menilai, Anda tidak memiliki integritas karena konsep “ekonomi kerakyatan” Anda tak selaras dengan gaya hidup Anda. Komentar Anda?

10. Anda yakin hal itu tak akan menghalangi pemilih untuk memilih Anda?

11. Pun sepak terjang bisnis keluarga Anda selama ini? Apakah ini tak akan menjadi kelemahan Anda?


Maman Gantra
Jalan Salemba Tengah 51,
Jakarta 10440.
0812-940-5441

Friday, December 15, 2006

Siapa Elo?

Harita teh masih harengheng ku reformasi. Soeharto geus turun. Digantikeun ku Habibie. Sawatara aktivis kasampak keur guntreng. Nyawalakeun soal pemilihan langsung jeung saha-sahana nu pantes dicalonkeun jadi Presiden. Habibie sorangan geus pasti dicaroret ku maranehna. Da, manehna pan "Orde Baru" jeung "Orang Soeharto" pisan.
Sabenerna mah rada aneh oge "larangan" keur Habibie teh. Pan, kuduna, mun urang tuhu kana demokrasi, saha bae ge meunang atawa boga hak nyalonkeun dirina jadi Presiden. Dalah garong ge, ceuk babasananna, meunang. Asal nyumponan sarat-saratna. Tapi, ngaranna ge "reformasi". Eta larangan teh "asup akal" oge.
Kuring pangangguran nanya saha-saha bae ngaran nu geus disebut dina eta obrolan teh. Sawatara ngaran disebut ku maranehna. Ti mimiti ekonom, pengamat politik, aktivis HAM, nepi ka seniman. Kuring nyengir ngadenge kitu teh. Lain nanaon, nu kasawang ku kuring, mun tea mah sistem pemilihan langsung rek dilaksanakeun, saha nu rek marilih eta inohong-inohong? Di Jakarta, atawa di kalangan maranehna, atawa di kalangan "terpelajar" tea, eta ngaran teh matih. Tapi di jalma loba mah can karuhan.
Ningali kuring nyengir, nu saurang asa aya nu mangmeunangkeun. "Tuh, kan?," ceuk manehna. Tayohna, eta budak teh ti tatadi skeptis jiga kuring. Lain perkara pamohalan heunteuna, tapi, nya teu realistis bae. Paling heunteu, mun tea mah ngaran-ngaran eta rek "ditawarkeun", butuh mesin politik nu hade, nu oge hartina butuh dana nu gede. Keur "mensosialisasikeun" ngaran-ngaran tadi.
Tapi, lawan eta budak, di antarana nu karek lulus sakola di Inggris, keukeuh kana pamanggihna. Lian ti nyebut lolongkrang ngadegkeun partai politik anyar, maranehna yakin jaringan LSM jeung aktivis, oge media, bakal ngadukung eta calon. Malah, budak nu karek datang ti Inggris mah keukeuh, yen seniman nu diusulkeun ku manehna dipikawanoh ku jalma loba. "Tiap minggu dia nulis di majalah," ceuk manehna, nganggap tiap jelema Indonesia maraca -- utamana maca majalah nu disebutna, bari di mana maraca eta majalah ge, can tangtu maca tulisan eta inohong. Tayohna, manehna kagendam ku Vaclav Havel, penyair nu manggung jadi presiden di Ceko.
Sabalikna, budak nu asa dipangmeunangkeun tea, keukeuh teu percaya. Sanajan geus dibantuan ku partai, LSM, jeung media ge, manehna yakin yen inohong-inohong tadi moal matih. Moal loba nu milih. Hartina, mun rek dilakonan teh karah ka gaplah. Euweuh gunana. "Kalaupun mau, butuh kampanye intesif dua atau tiga tahun. Itupun harus disertai tim kampanye yang bagus," ceuk manehna.
Ningali kitu, deui-deui, pangangguran kuring ngomong: "Test saja. Bawa calon-calon Anda itu jalan-jalan ke daerah. Orang kenal mereka, nggak?" ceuk kuring.
Teu nyana, omongan pangangguran teh ditarima ku maranehna. Mani giak. Maklum aktivis, harita keneh maranehna ngatur kumaha prak-prakannana. Saha ngahubungi saha, saha ngagawekeun naon, jste. Kuring sorangan teu ulubiung. Harita keneh balik, inget boga sabaraha film nu can dilalajoan. Ongkoh, ka tempat eta teh pangangguran bae. Euweuh gawe. Pon kitu deui milu mairan obrolan nu nyampak.
Teu nyana, dua atawa tilu poe ti harita, aya nu nelpon. "Kang, besok kita jadi, lo. Anda ikut, kan?," ceuk eta nu nelepon. "Ikut apa?," ceuk kuring. "Lo, gimana? Anda sendiri yang ngusulin, kok?," ceuk manehna, bari nyabit-nyabit obrolan sawatara poe ka tukang. Ceuk manehna, ku dibibita ulin jeung refreshing, sawatara inohong nu kamari disebut-sebut teh daraekkeun diajak jalan-jalan. Kaasup nginjeumkeun mobil, supir, jeung (tangtu bae) bengsinna. "Pokoknya beres, Kang. Besok kita start jam 7," ceuk manehna.
Pondok carita, isukna kuring geus nyemprung di toll Cikampek. Dua inohong, nu teu kaasup "calon", ekonom jeung pengamat politik, ngarilu dina mobil kuring. Aranjeunna, cenah, wegah ngangge mobil ku anjeun. Lima mobil lianna, nu naluturkeun, ditarumpakan ku "calon-calon" lianna. Teu kabeh nu disebut dina paguneman nu kabandang ku eta barudak teh. Ngan aya tiluan: Si seniman, ekonom, jeung aktivis HAM.
Geus paheut, tempat nu dijugjug teh Cirebon. Ngan, jalanna muter. Teu ka Pantura. Mengkol heula ka Purwakarta, naek ka Wanayasa, turun ka Sagalaherang, lempeng ka Kasomalang, Cisalak, Tomo, Kadipaten, Jatiwangi, Ciledug. Ku kuring rek dibawa sare di Trusmi. Kabeneran aya kawawuhan nu keur riset di dinya, ngontrak imah heubeul nu lumayan gede. Di mana teu cukup ge, atawa ngarasa sareukseuk ningali kaayaan eta lembur, sawareh sina ka karota bae. Sina nareangan hotel, ngatur diri sewang-sewangan. Bongan.
Di Wanayasa rombongan eureun. Ngadon ngopi jeung ka cai. Malah aya nu ngadon dahar sagala. Pajarkeun teh, basa rek miang teu kaburu mumuluk heula. Padahal mah teu kuat bae ningali maranggi nu pating polotot, adu manis jeung beuleum ketan.
Siga nu dipaheutkeun di Jakarta, kuring sabatur-batur teu meunang narik perhatian nu kaleuleuwihi. Komo, nu sipatna ngojok-ngojok atawa sarupaning "kampanye" mah. Pokona, ieu mah ulin bae. Sakalian ngetest, naha jalma loba nyarahoan atawa warawuheun heunteu ka na beungeut eta para inohong. Cukup beungeut. Ku angkanan, mun nyaho beungeutna, pasti nyaho kana "kainohongan" aranjeunna.
Hasilna? Nyamos. Euweuh saurang-urang acan jelema nu mere perhatian leuwih ka eta inohong-inohong teh. Boh di restoran, di pasar, di tempat ngompa ban, atawa di Trusmi pisan. Di mana aya ge, nya sailaharna tukang warung ngaladenan nu meuli bae. Teu harib-harib kana nyaho yen jalma nu diladenannana teh inohong penting -- keur sawatara urang Jakarta mah. Paling ge perhatian nu aya teh perhatian ilaharna urang lembur ningali rombongan urang kota, nu nepi ka genep mobil. Teu leuwih, teu kurang.
Nu lucu, bari matak ngahelas, kajadian di Kadipaten. Mangsa rombongan dahar beurang. Geus kaerong ti anggalna, rombongan nu nepi ka 18 jalma teh moal cukup di hiji meja. Kabeneran, si seniman, nu mashur di antara aktivis jeung intelektuil lianna, misahkeun maneh. Katingalna mah nampi telepon atawa nelepon. Atuh, nu ngaladenan ge mikeun dahareun teh ka meja anjeunna. Anjeunna ge teu seueur saur, beres teteleponan, bari tuangeun tos nyampak, am bae tuang di dinya. Nyalira.
Keur anteng tuang, torojol tukang parkir asup. Nyampeurkeun meja si seniman tadi. "Mas Supir, mobilnya bisa digeser sedikit? Ada yang mau masuk!," ceuk si tukang parkir, mani tarik. Ngadenge kitu, atuh kabeh carolohok meunang sajongjonan mah. Kaasup si seniman. Teu lila, ger seuri meh eak-eakan. Budak nu ngarasa mobilna ngahalangan nangtung, ngayonan pamenta si tukang parkir nu rungah-ringeuh bari bangun bingung. Si seniman ukur mesem, bari gogodeg.
Tina kituna mah kaharti. Eta inohong teh, sanajan sok ngangge raksukan nu cenah kaetang branded, bari sakapeung sok nyesep surutu, kawilang basajan. Da seniman tea -- meureun. Nepi ka awam mah sok katipu. Komo mun anjeunna nuju teu parurun mah. Kucel, kerung, bari lambey manyun. Moal nyangka yen anjeunna teh jalma penting, lain bae "dipikawanoh" di urang tapi oge di mancanagara. Lian ti kitu, harita anjeunna ngadon misahkeun anjeun. Atuh, inohong nu ku sawatara jalma dihormat didama-dama teh, ku si tukang parkir mah, dianggap supir.
Basa rek hanjat ka nu mobil, budak nu baheula asa dipangmeunangkeun noel leungeun kuring. Bari ngareret ka "lawan-lawanna", manehna mesem jeung ngaharewos. "Emang, siapa elo?," ceuk manehna. Kuring surti pisan kana polah eta budak: Urang remen ditalikung ku pangaweruh, lingkungan jeung pangalaman sorangan. Nepi ka, sakapeung, ngarasa ge-er. Asa pangna... Kituna teh bari nyapirakeun batur.
Enya di lingkungannana mah, sarupaning cerdik cendekia tea, eta inohong teh dipikawanoh bari jeung didama-dama pisan. Malah teu sirikna dianggap dewa. Tapi, keur tukang parkir mah, nya dianggap ilaharna supir bae. Pon kitu deui si tukang parkir, sarua: Kakurungan ku pangaweruh jeung lingkunganana tea. Keur manehna mah, meureun, inohong teh taya lian ti sarupaning Camat, Lurah, kiai, jeger pasar, juragan pabrik kenteng, atawa reserse ti kantor Polres, nu sok pirajineun mere udud atawa menta udud. Di luar eta, nya... siapa elo?
Salemba Tengah,
urangsunda, Sun Jan 22, 2006 12:54 pm

Heureuy Enya, Heueuh Ongkoh

(Keur sawatara surat jeung komentar #1)
Pakait jeung pangacaprukan kuring sawatara minggu ieu, aya sabaraha serelek nu asup kana koropak kuring. Eusina rupa-rupa. Aya nu sakadar hayang silaturahmi, aya nu nanya leuwih jauh ngeunaan prak-prakkan nulis, kaasup nanyakeun naon nu kira-kira kudu ditulis ku manehna. Malah, aya oge nu patanyaanna kawilang orsinil atawa "genuine" tea: Dina waktu kumaha alusna urang nulis? Geu puguh nu nanyakeun naon pagawean kuring sabenerna. Eta bae,cenah, ku bisa-bisana ngacapruk nepi ka ngayayay kitu. Aya oge nu ngadon ngananaha atawa "nyarekan" pisan. Ku naon kuring teu nulis dina koran atawa media nu ilahar lianna. "Pan, akang wartawan. Minimal pernah gawe di majalah," kitu ceuk eta surat.
Hanjakal di antara sawelas surat teh euweuh nu nanyakeun nomer rekening (listrik) atawa mere order nulis atawa ngengken seminar. Teuing teu nyaho, teuing teu percaya, teuing minder, sieun teu kuat mayarna, atawa medit pisan. Teuing. Komo, nu ngajak kawin mah. Euweuh saurang-urang acan. Padahal, di antara nu nulis surat teh tujuh di antarana mah (kacirina) awewe, jeung pantesna teh gareulis jeung sareungit. (Dimana aya ge nu ngajak kawin, nu kitu mah rek...ditarima! Bae dimusuhan ku Bah Willy jeung Teh Imas ge).
Saencan kuring ngacapruk ngeunaan hal eta, idinan kuring menta hampura jeung nganuhunkeun. Menta hampura, kahiji, rumasa teu bisa males kabeh surat. Lain teu hormat, ngan pegel we mun kudu ngawalonan hiji-hiji mah. Sawatara surat lianna ge, nu leuwih heula datang, jeung "leuwih penting", masih keneh aya nu can dijawab. Nya, ku cara males berjamaah kieu eta surat teh dijawab jeung dikomentarannana. (Ka Teh Gilang di Nyi Sunda, hapunten pisan kamari lepat nyerat nami. Oge, punten ayeuna disebat-sebat deui di dieu. Sanes nanaon, nya ku hoyong we...).
Kadua, kuring menta hampura pedah rumasa munapek. Munapekna? Nya, munapek bae. Dina pangacaprukan kuring salila ieu, langsung teu langsung kuring nyebutkeun mangpaat atawa kaleuwihan milis nu miboga sipat langsung, dua arah, spontan, personal, jste. Tapi, prak-prakannana kuring sok siga nu api lain kana pananya atawa pangbagea batur. Malah, sok tinggaleun informasi pisan. Kaasup soal pasamoan di Dago Tea House. Nyaho teh bane bae Kang Agus nga-SMS. Bari kuringna teu bisa datang. Aya pagawean nu kudu rengse poe Senenna.
Polah kieu teh taya lian ku arangna kuring browsing ka milis. Kaitung remen ari muka email mah. Ngan, lian teu bisa lila-lila teh, sakalina muka, sok pasesered jeung perkara lianna. Boh perkara nu pakait jeung nyiar kipayah, boh nu pakait jeung nyiar kutu. Atuh, rek noongan teh kaburu belel panonna. Jeung deui teu arang muka emailna ge ngandelkeun kahaat pamajikan. Tina HPna. Teu bisa browsing pisan.
Ari dina mimilisan ieu, umumna kuring make modus no-email. Atuh kuring teu bisa three in one jeung nu lianna. (Naon maksudna three in one di dinya? Tong dipikiran teuing. Nyebut eta teh pedah bae inget, nyambung heunteuna mah teuing. Ngaranna ge ngacapruk. Busway!).
Tangtuna lain niat kuring nyapirakeun kusnet ku make cara no-email kitu teh. Atawa kuring teu resep ngabandungan wangkongan nu aya. Resep pisan. Sanajan, enya, rumasa teu bisa ngilu mairan atawa ngengklokan.
Ngan, nyaeta teu kuat ku murudulna. Eukeur mah, pan tadi tea: eemailan teh pakepuk jeung pagawean. Beda jeung Kang Agus, nu boga alamat email nepi ka leuwih ti lima, dina hal ieu, kuring mah tuhu kana pituah Bah Willy. Lain dina perkara pamajikan, tapi dina perkara alamat email: Ngan boga hiji. Aya ketang hiji deui tapi leuwih arang dibukana.
Tuh, pan? Dasar tukang ngacapruk. Rek menta hampura bae karah ka ngawadulkeun perkara alamat email jeung soal pamajikan sagala. Tapi, jeun teuing. Da, beuki. Jeung sirik we ka MJ jeung Kang Boim, nu bisa nulis pondok tapi alus. Geus puguh ari ka Kang Syam mah. Lian ti alus teh, sagala rupa bisa diheureuykeun.
Antukna, dina perkara mimilisan tea, kuring milih modus no-email. Teu kuat ku murudulna. Eta bae kamari nyobaan make daily diguest di gankleboy. Sapoe teh aya kana opat limana. Atuh, cape nga-delete-na. Komo mun urangsunda mah. Geus apal ti baheulana. Ditinggalkeun 10 menit ge, baheula, keur mimiti ngiluan, geus metet koropak teh. Nepi ka Mas Noorca (M.Massardi) mah, urang Sunda hiji-hijina nu kuring disebut Mas, ngan kuat saminggu ngilu urangsunda teh. "Kok, banyak amat, Man?," ceuk manehna, antara reuwas jeung bingung.
Ayeuna, nu sok rada dihajakeun noongan teh Ki Sunda jeung Baraya-Sunda. Bane bae di dinya aya Kang Rahman, nu ceuk kuring, rada luar biasa. Aya karep ngahijikeun baraya di luar nagri, ku cara mere informasi ngeunaan kaayaan nagara urang. Mostingkeun warta-warta ti koran-koran lokal jeung nasional. Alus pisan, ceuk kuring mah.
Sabab, nu kaharti ku kuring, kumna nu ngilu eta milis, bari jeung teu bisa atawa teu kaburu maca koran, paling heunteu teu kudu mukaan website eta koran. Cukup muka email atawa Baraya-Sunda. Warta-warta nu dianggap penting geus disampakkeun ku Kang Rahman.
Lian ti kitu, kumna anggota bisa silih simbeuh ku komentar jeung pamanggih sewang-sewangan. Hartina oge, wangkongan teh bisa dipancing ku atawa ngeunaan naon nu nyampak dina atawa disampakkeun ku koran. Ayalah istilahna dina elmu komunikasi mah, ngan kuring keur poho. Jeung kateuteuari ngapalkeun istilah ari teu ngarti mah! Ongkoh ieu mah ngacapruk. Sanajan aya sari-sari benerna, leuwih loba heureuyna. Heureuy enya, heueuh ongkoh.
Intina mah, ceuk eta istilah, aya proses diskusi jeung internalisasi dina diri nu maca ngeunaan informasi atawa beja nu ditepikeun ku media, nu disodorkeun deui ku Kang Rahman di Baraya-Sunda. Paling heunteu, ku cara siga nu dilakukeun ku Kang Rahman eta, urang moal beakeun wangkongan. Sakaligus teu ngacapruk teuing. Da kawengku ku topik nu disodorkeun ku koran atawa Kang Rahman. Kitu ge meureun, ketang. Boa-boa maksud Kang Rahman mah teu "muluk-muluk" siga kitu. Pangangguran bae, siga kuring ayeuna nyieun pangacaprukan kawas kieu. Heureuy enya, heueuh ongkoh.
Ari noongan Ki Sunda, pedah bae aya paguneman Kang Rahman jeung Kang Nana. Ngeunaan Partey Politik Sunda. Ngan, kamari ditingal teh masih keneh jalan di tempat. Kumaha, Kang Rahman? Teraskeun ulah ieu teh? Asa lebar, tah. Malah, aya salah sahiji serat nu nyebatkeun, pajar teh abdi aktivis jeung politisi? Hahaha... Alhamdulillah.
Kukituna, kuring nganuhunkeun ka sugri nu tos kersa ngintun serat kana koropak sim kuring. Ngan, bongan tadina dina milis, bari tetep teu ngurangan hormat kuring ka aranjeunna, nya urang wangsulkeun deui bae kana milis. Moal, moal naon-naon. Ongkoh: Sekali cuek, tetap beybeh! Insya Allah namina moal disebat-sebat. Ari lain poho mah!
Har, ongkoh rek mairan pananya jeung komentar? Nya, heueuh. Pan ngacapruk? Kuma kuring we. Jeung deui, soal pananya jeung komentar mah engke bae. Dina pangacaprukan ka hareupna. Mun pareng. Barina ge siga kiamat rek datang isuk, sagala teh kudu anggeus ayeuna. Dicarekan Gus Dur, siah!
Ayeuna mah sakieu bae heula. Lian ti bisi panjang teuing teh, itu si bungsu geus jejebres bae ti tatadi. Hayang dibantuan ngagawean PR. Ma'lum sakola jaman ayeuna, geus mahal-mahal kaluar duit, keukeuh we urang kudu milu cape. Nyaho kitu mah teu kudu diasupkeun sakola sagala. Mending...

Geus, ah. Bisi si Teh Tien kabujeng bendu.
urangsunda, 22 Januari 2006

DVD Bajakan

Rada era oge maca Bisnis Indonesia poe ieu, Rebo, 18 Januari 2006, kaca T3. Disebutkeun, pamarentah leungiteun pajak nepi ka Rp 10 triliun ku alatan ayana DVD bajakan. Komo, kamari kuring narima undangan ngeunaan seminar pajak. Dina panganteurna disebutkeun, pamarentah ngandelkeun panghasilannana tina pajak nepi ka 60%. Teu aneh, mun jalma siga kuring nepi ka "diaku", "dijelemakeun": Dibere NPWP jeung dititah...ngilu seminar!
Rada era teh lain ku nanaon. Pedah bae kuring rumasa salah sahiji jelema nu resep, jeung diuntungkeun, ku barang bajakan. Da, murah tea. Coba bae, di hareupeun stadion Menteng, Jakarta, nu ngaranna DVD teh ngan Rp 5 rebu sasiki! Nu aslina, nu orisinil, bisa nepi ka Rp 250 rebu. Malah sakapeung aya nu nepi ka Rp 300 rebu. Ari ieu? Ngan 5% tina harga "resmi"! Rek teu murah kumaha?
Kituna teh, siga nu sok dibeulian ku kuring ka ayeunakeun, loba nu mangrupa much in one. Nu hiji CD eusina bisa nepi ka 10 film! Hartina, ngan 0,5% safilm -- tina harga CD asli. Matak, sanajan teu matuh, sakali meuli film teh kuring sok rada "kokomoan". Nepi ka 10 CD, nu lolobana samodel much in one eta. Pokona mah asa ceuyah-lah.
Sakalina euweuh gawe atawa hulu geus pegel, sok ngagoler di hareupeun TV. Lalajo film. Kalan-kalan mah film teuing ka mana, kuring geus ngaguher. Hudang-hudang kageuingkeun ku adan subuh, bari parabotan can diparareuman. Atuh, subuh-subuh keneh pamajikan geus kukulutus. Pajarkeun teh kuring teu nyaah kana barang. Ngadenge kitu, kuring mah sok api-api teu ngadenge. Gura-giru bae ngamparkeun sajadah. Salat subuh. Ku cara kieu dua hal bisa kalakonan: Nohonan piwarang Anjeunna jeung ngeureunkeun nu kukulutus. (Duh, Gusti punten pisan, salat teh karah ka dipake nyumput).
Film-film nu baheula, keur SMA atawa mahasiswa, ngan saukur ngadenge, atawa lalajona kudu ngadangkal ka Decenta, malah kudu ka Jakarta pisan, ka TIM atawa ka imahna Sardono, atawa nungguan acara di Liga Film Mahasiswa ITB atawa di CCF; ayeuna pabalatak meh di tiap emper toko. Ti mimiti film "klasik" kawas Ben Hur, The Sounds of Music, The Godfather, Legends of The Fall, nepi ka film-film Kurosawa atawa sarupaning "film-film Festival". Kabeh aya. Nu euweuh teh ngan film-film Zhang Yimao bae. Kitu ge tayohna, ketang. Jeung nu mangrupa DVD. Da ari nu mangrupa VCD mah kuring kungsi meunang sawatara di antarana -- asana mah kari Red Shorgum bae nu can boga teh. Ongkoh, sanajan hayang, kuring tara maksakeun teuing kukurusukan ka Kota.
Lian ti pabalatak, nu matak helok kuring, film-film nu dibajak teh lain bae film-film nu geus heubeul. Oge nu alanyar pisan. Malah, tong boroning nu can diputer di bioskop, nu can dipreviewkeun ku nu ngedarkeunnana ge, eta film teh geus nyampak di tukang-tukang DVD bajakan tadi. Contona, The Memoirs of A Geisha. Asa karak kamari eta film diwartakeun di media. Tapi, kuring geus meuli eta film dua atawa sabulan ka tukang. Tangtu bae dina wangun DVD bajakan.
Pon kitu deui film-film lianna. Di koran atawa televisi can disebut-sebut, kaasup di Amerikana pisan, di urang geus nyampak bajakannana. Matak, basa keur gawe di majalah keneh, kuring sok mesem bae mun aya budak nu mulang ti acara preview ngadon alewoh ngeunaan film nu dilalajoannana. Lain nanaon. Kuring geus lalajo eta film, tina VCD bajakannana, dua bulan atawa tilu bulan ka tukang. Ku alatan kitu, kuring tara diondang deui ka acara-acara preview kitu teh. Da, sakalina diondang, kuringna tara datang. Keur naon? Geus lalajo ti iraha mula... Jeung geuleuh bae, waktuna teh sok isuk-isuk. Ngangganggu waktu sare kuring!
Matak, minggu kamari mah rada keuheul. Datang ka Menteng rek balanja, singhoreng nu daragang DVD teh suwung. Euweuh hiji-hiji acan. Sugan teh pedah kamarina geus Lebaran Rayagung, nu daragang teh palere. Basa lebaran kamari, oge keur poean Natal, katingalna nu daragang teh teu palere. Padahal, maranehna teh urang Batak, nu pipanteseunnana urang nasrani. Ayeuna meureun perena teh, ceuk pikir. ¨
Tapi, basa pangangguran ditanyakeun ka tukang parkir, singhoreng kamarina geus aya operasi. "Dua orang dibawa ke Polsek, Pak," ceuk manehna. Nyel keuheul. Hanas ngadangkal indit ti imah, budak hayang ngilu ge dicaram. Da, hayang jongjon. Ari ieu? Mangkaning geus "lila" teu meuli film. Panganyarna teh, nya mangsa Natal bae balanja teh. "Tapi, agak malem juga buka, Pak. Jam 9-an," ceuk si tukang parkir. Ah, sarangeuk ari kudu balik deui mah. Belenyeng ka Jalan Sabang. Ditingali teh DVD-DVDna nu sarupaning single, nu eusina ngan sa-film. Kurang meriah.
Sajajalan ka imahkeun kuring kukulutus sorangan. Na, korupsi teh ceuyah-ceuyah teuing?
Enya korupsi. Ceuk kuring mah, nya ku alatan pagebug korupsi nu matak kuring ngarasa keuheul kawas kieu teh.
Ku alatan ayana korupsi eta, pausahaan-pausahaan nu ngedarkeun DVD resmi di urang jadi teu efisien. Lian, oge nya ku sarakah bae. Hayang meunang untung loba jeung gancang. Tuntungna, DVD-DVD resmi jadi "mahal". Ahirna, sawatara nu dagang oge milu korupsi. Nyarieunan DVD bajakan, nu teu kudu mayar pajak atawa royalti ka nu nyieun eta film. Antukna hargana murah. Ngan opat atawa lima kali lipet tina ongkos produksi.
Alatan ku korupsi nu sarua, daya meuli masarakat urang jadi handap. Nya, enya, mun korupsi bisa diteken, pungli-pungli bisa dihapus, pausahaan bisa neken ongkos produksina. Bisa leuwih efisien. Di mana enya mahal ge, moal karasa. Da, daya meulina alus. Harga Rp 250 rebu teh nya karasa murah bae. Tah, daya beli alus ku alatan balarea bisa leuwih produktif.
Wangwangan kuring, ku alatan euweuh korupsi tea, kontraktor nu migawe jalan atawa sakola, oge konsultan-konsultanna, bisa nyieun sakola atawa jalan teh bener-bener "murah" bari alus. Teu jiga kiwari: Karek ge saminggu, ceuk paribasana, geus runtuh deui. Atawa geus bolong deui. Atuh, kapaksa nagara teh ngaluarkeun deui duit keur ngomean eta jalan atawa sakola. Coba mun duitna teu dikorupsi, naha ku cara meleg-meleg atawa korupsi nu "prosedural", nu katingal ilahar, luyu jeung prosedur, tapi ti keur dirarancang keneh sabenerna geus "diembohan", geus teu efisien. Tah duit ladang efisiensi eta, nu teu dikorupsi tadi, bisa dipake keur ngawangun fasilitas lianna, nu bisa ngaraharjakeun balarea. Naha mangrupa sakola anyar, pabrik anyar, atawa hal lianna.
Eta bae, trotoar di hareupeun imah teh asa karak taun tukang dibenerkeun. Ari kamari geus dibenerkeun deui. Malah desain jeung bahanna diobah pisan. Nu tadina make paving block, diganti ku pelur, "K2", diguratan ku batu laleutik. Ku naon, teu sakalian nyieun trotoar teh nu alus, nu bener, nu teu kudu diome-ome nepi ka saratus taun mah? Bisa jadi hargana leuwih mahal, tapi, ku cara kitu, anggaran nu aya teh bisa dipake keur nu lian. Naha nyieun trotoar di tempat lian, atawa nyieun solokan pisan.
Tapi teuinglah. Eta mah Pa Erry bae jeung Kang Tirta nu mikiran. Kuring mah rek ngacapruk deui bae ngeunaan DVD bajakan, jeung karugian nagara nu diwawaas nepi ka 10 triliun tea. Enya diwawaas. Sabab, lain bae jumlah DVD bajakan nu teu jelas datana. Tapi, karugian nu cenah jumlahna nepi ka Rp 10 triliun tadi. Soal jumlah ieu diwawaas, dipapantes, atawa diasumsikeun mun jalma loba meuli DVD orisinal tadi. Tapi, alatan daya beulina handap, saha nu daek meuli film nu hargana Rp 200 rebu? Mending meuli togel! Saha nu nyaho meunang nu opat angka!
Hartina, sanajan DVD bajakan bisa ditumpes, can tangtu nagara meunang tambahan Rp 10 triliun. Da, can tangtu aya nu meuli DVD resmi nu mahal tea. Pan, pagebug korupsi masih mahabu? Ceuk Bang Mawi almarhum mah: "Ampun, dah!".

Salemba, 18 Januari 2006
Sumber: urangsunda, Wed Jan 25, 2006 12:44 pm

Nu Aheng

Pasipatan sawatara jelema, ceuk kuring, kawilang "aheng". Ti mimiti nu fanatik kana hiji barang, atawa fanatik kana hiji kalakuan, aya oge nu “aheng” bari rada-rada "mistis" -- maksudna, pakait jeung dunya mistik atawa (teuing) mimistikan. Pokona mah, nya aheng we. Aneh.
Salah sahiji jalma “aheng” (ceuk kuring) teh hiji batur, urang Surabaya. Letah Jawana medok pisan. Awakna begung kawas kuring. Ngan, manehna mah matana bolotot, sungut bosongot, huntuna taronggos, bari teu weleh calangap, jeung -- punten -- mun ngomong sok rada-rada maluncrat. Pokona mah jauh tina kaseplah. Utamana mun dibandingkeun jeung Nicholas Saputra -- komo jeung kuring mah. Ari ngomong, arap ap areup eup. Matak cape nu diajak ngomong.
Umurna sahandapeun kuring. Tapi, teuing ketang persisna mah. Da harita, sanajan di Unpadna sahandapeun, ari gawe mah manehna leuwih ti heula. Harita, taun 1983, manehna geus gawe di Balai Penelitian Keramik, Cicadas. Di Unpadna di PAAP -- mun teu angkatan 1983 pisan, nya 1982 atawa 1981.
Nu matak “aheng”, sakaligus pikaresepeun atawa pikaajriheun, eta ku daekan gaulna. Ulin ka komunitas ieu, si eta aya. Ulin ka dieu, si eta nyampak. Malah, sanggeus kuring gawe di Jakarta, kuring kungsi manggihan manehna keur ulin di tempatna Teguh Karya, di Kebon Pala. Enya, lampar tina kituna mah. Ngan, encan we kadenge manehna ulin ka Kalimantan atawa ka Papua mah.
Nu oge pikaajriheun, manehna ngilu Lises -- Lingkung Seni Sunda. Lain perkara manehna Jawa atawa lain urang Sunda. Tapi, lian ti letah Jawana nu medok tadi, oge ngomongna nu arap ap areup eup tea. Ari barudak Lises, siga umumna urang Sunda, resep pisan kana heureuy. Kaasup ngoleg atawa ngageuhgeuykeun batur. Atuh, tiap aya eta batur, nya jadi bahan gogonjakan sarerea. Kaasup kuring. Sanajan sok watir, campur ajrih (respek), nya kuring ge da manusa -- jeung urang Sunda pisan: Ngageuhgeuykeun batur mah resep oge. Eh, sanajan sok digeuhgeuykeun jeung diheureuyan ge, manehna mah nagen we. Meh tiap kuring ka dinya, manehna sok aya. Keur dihareureuyan. Dikitukeun teh manehna mah jajauheun tina ambek. Nyerengeh we nu aya.
Kaahengan lianna: Eta batur sieun ku kabel. Lain sarupaning kabel SUTET. Tapi, kabel biasa. Jeung sieunna teh lain siga urang sieun ku kabel listrik, dina harti sieun aya setrumna. Tapi, nya sieun we. Mun sakalina ningal potongan atawa gulungan kabel ngagoler, siga di toko atawa di emper imah, atawa di mana bae, bari teu nyangsang kana sarupaning sumber setrum, manehna mah sok malipir. Teu daek deukeut. Kaasup tara daek deukeut jeung parabot elektronik. Pan aya kabelan?
Kuring kungsi nanya, ku naon manehna sieun ku kabel sagala? Cenah mah manehna trauma. Singhoreng, basa keur leutik, manehna ningali kumaha imahna diduruk, oge bapana ditandasa ku cara dicekek make.. kabel. Ngadenge kitu, kuring jadi leuwih hormat ka manehna. Ku angkanan kuring, nya trauma eta oge nu matak manehna ngomong arap ap eureup eup teh.
Ti harita, kuring tara ngageuhgeuykeun deui -- iwal keur poho. Tapi, sok nyarekan. Geuleuh ku sabarna. Diheureuyan kitu kieu teh anteng wae. Karah sok nyerengeh. "Sekali-kali kamu marah, dong," ceuk kuring. Pon kitu deui perkara arap ap eureup eupna. "Setiap mau ngomong coba kamu tarik nafas dulu. Biarkan pikiran kamu tenang," ceuk kuring nyanyahoanan -- siga nepi ka kiwari.
Bari disambung ku mapatahan, siga nu heueuh. "Teruskan hobby motret kamu. Itu melatih kita tenang," ceuk kuring. Kabeneran, harita, manehna keur resep motret. Bari, kituna teh, make kamera batur. Teuing nu saha. Da, iwal ti ngaku sorangan, katingal, matak sakola bari gawe ge, kahirupan ekonomi walurat -- teu beda jeung kuring.
Dina taksiran kuring, ngomong, siga nulis, nembongkeun kaayaan mental urang. Mun mental urang tatag, ngomong ge baris tatag. Mun mental urang pabaliut, ngomong atawa nulis ge ngacapruk. Siga kuring. Anapon, motret ngabiasakeun urang tatag. Utamana mun make kamera SLR nu manual, lain kamera saku atawa kamera digital. Da ari kamera saku mah, pasti jadi tea. Leuwih pasti fokusna teh. Urang tinggal pinter ngome angle jeung komposisi.
Basa geus gawe, bari balik deui ka Bandung, kuring meunang warisan kamera heubeul. Biasa, kamera nu rek dicoret tina pembukuan pausahaan. Sok dibikeun ka karyawan. Alatan karyawanna loba, nya dilotre. Kabeneran kuring meunang. Inget ka batur nu hayang bisa motret, bari teu boga kamera, kamera warisan teh dibikeun ka manehna. Ngajenan perjuangan jeung kahayangna.
Ti dinya, pleng tara panggih deui. Kuring tonggoy mereskeun sakola, da balik ka Bandung teh hayang neruskeun sakola. Gawe mah nya tamba kesel teuing bae, refreshing tina kacangkeul mereskeun sakola. Beres sakola kuring balik deui ka Jakarta. Gawe di Editor.
Tah, keur di Editor eta kuring ngadenge batur tadi sok mantuan Mas Wendo di Monitor. Ngadenge kitu kuring bungangang. Jelema nu ngomongna arap ap eureup eup jadi wartawan? Asa teu kabayang kumaha mun wawancara. Bari nu diwawancara artis-artis nu sareungit tea. Aya ajrih, aya sirik.
Basa tabloid eta dibredel, manehna pindah gawe teuing ka mana. Ngadenge-denge geus ngilu di tabloid Bintang. Sakali waktu di hiji cafe di Melawai, kuring pasaranggrok jeung manehna. Kuring rek asup, manehna karak kaluar. Nya, ngobrol heula rada uplek. Ma'lum geus taunna tara panggih. Nu matak helok, ngomongna geus teu arap ap areup eup. Jeung kaciri pisan leuwih PD. Pangangguran, kuring nanya kumaha panyakit arap ap eureup eupna bisa cageur. Bari nyerengeh nembongkeun huntuna nu tonggos, manehna ngaharewos: "Banyak main perempuan, Kang".
Geus ah, bisi ditarurutan. Ongkoh ayeuna mah manehna geus kawin. Boga imah sadua-dua, di Gegerkalong jeung di Tangerang. Terakhir nelepon, manehna laporan karak rengse nyieun buku ngeunaan kleub band Dewa. Ngondang kuring kana acara launchingna, ngan kuring teu bisa datang. Sawatara minggu ka tukang, beungeutna aya di Kompas. Mejeng jeung penggemar komik Tintin lianna.

(Pasir Angin, Oktober 2005. Hormat jeung sono kuring keur manehna).
Sumber: urangsunda, Sun Jan 22, 2006 12:54 pm

Kalakuan Jelema

Enya. Kalakuan atawa pasipatan jelema teh rupa-rupa. Oge jalan hirupna, nu sakapeung teu asup akal atawa teu siga-siga. Aya nu baheula ceuceuleuweungan ngajualan koran, ayeuna ka mana-mana teu weleh ngekelek pestol. Jadi intel. Aya nu baheula disapirakeun, alatan dianggap kuuleun, ayeuna jadi produser film. Kituna teh kabogohna meh teu kaitung. Bari sarupaning socialite tea. Nu sareungit, camperenik, awakna reuteum ku merek, bari (meureun) can ngasaan numpak busway-busway acan. Geus puguh ari seseleket dina beus kota atawa katorekan alatan naek Bajaj mah.
Perkara pasipatan, coba bae tengetan sabudeureun urang. Boh di tempat gawe, di imah, di kulawarga, sakola, pasantren, masigit, pangulinan, atawa di milis pisan. Aya Kang Sjam nu sagala rupa diheureuykeun. Aya Bah Willy nu keukeuh cadu bisnis jeung nu nyandung. Aya MJ nu gumasep -- eta bae nulis noong ge sok make "noonk", cabok jadi "cabox". Aya Kang Oman nu nyepuh (maksudna siga sepuh atawa koloteun) bari daria bae. Jeung rea-rea deui. Hartina, deui-deui, Mang Haji Oma Irama bener pisan: Urang teh rupa-rupa. "Ada Sunda, ada Jawa, ada Batak, ada...". (Ngajleung teuing paparikannana? Jeung teuing).
Kituna teh, tiap jelema siga miboga fungsi atawa peran sewang-sewangan. Aya nu nempatkeun maneh jadi boss, dina harti lain bae sok utah-etah. Tapi, sok rada geumpeur mun aya batur ngilu mayar di mana sakalina dahar bareng atawa jajan. Aya oge nu sabalikna: Medit kacida. Geus puguh datang ka tempat dahar teh rek udunan, ari waktuna mayar, si pedit mah hare-hare bae. Barang nu ngaladenan dicalukan sina ngitung sabarahaeun, manehna mah gura-giru ka cai. Pajarkeun teh, seubeuh teuing. "Teu kuat hayang miceun," ceuk manehna.
Sakalina meunang kiriman dahareun ti lemburna, si pedit mah sok ngerem maneh di kamarna. Sanajan di luar rea batur ge, manehna mah jongjon bae maca bari ngerewis kiriman ti lemburna. Boro-boro hideng nyodorkeun, tawar gatra ge heunteu. Sieun nu ditawarannana daek. Ongkoh heueuh, teu ditalawaran sorangan ge sok hideng nyarokot sorangan. Nunggu nu boga kamar ka cai.
Mun hese pisan kaluarna, kapaksa si julig peuting-peuting kukurubutan ka pipir kandang hayam batur. Ngadon newak beurit. Geus beunang, keteyep ngadeukeutan kamar si pedit. Sabot nu boga kamar kaluar, da dicalukan ku nu lian, api-api nanyakeun soal atawa catetan, geuwat si beurit teh diasupkeun kana kaleng kadaharan si pedit. Antukna, tengah peuting, nu lain keur anteng diajar, nyanghareupan ujian isuk, si pedit nu oge bersekana kaleuleuwihi tuturubun kaluar ti kamarna. Jeblag panto imah dibantingkeun. Berebet lumpat ngurilingan buruan. Bari jejeritan jeung ngepret-ngepretkeunkeun leungeun kencana. "Beurit! Beurit! Beurit!".
Meunang sabulan mah manehna teu bisa sare tibra. Sieun beurit nu "asup" kana kaleng kadaharannana can bener-bener ingkah ti kamarna. Padahal, bari jeung ujian ge, manehna meh unggal poe bobongkar jeung beberesih kamar nu sabenerna geus beresih. Bobongkarna teh aya kana samingguna. Dasar si pedit jeung berseka kaleuleuwihi.
Aya oge nu purah diutah-etah. Purah dititahan. Sakalina dosen nitah motocopy diktat atawa buku, meh saangkatan nitip ka manehna. Geus puguh, mun aya nu rek datang ka imah dosen, diher atawa sasadu can bisa mikeun tugas, nya si tukang dititah tea nu diajak marengan teh. Pon kitu deui mun rek datang ka imah awewe nu ditaksir, bari rada teu PD. Manehna nu jadi "tameng" atawa "bemper" teh. Atawa, mun bapa atawa dulur eta awewe rada "someah", nya si bemper tadi nu diwadalkeun. Sina maturan adi si awewe maen monopoli atawa lalajo film kartun!
Nu matak watir, bari embung mantuan, mun sakalina keur ngumpul beakkeun roko atawa dahareun. Euweuh deui nu pada nginjeuman jeket atawa sarung teh, nya manehna. Da, saha atuh nu tengah peuting -- mangsa katiga -- daek momotoran ka Simpang atawa ka Tamansari Handap? Sudi najis. Kajeun teuing ngarengkol dina kursi butut, diharudum sarung, bari ngalung-ngalungkeun kartu remi. Mun beuteung ngurubuk, rot nginum cai enteh. Nu tiisna matak linu huntu nu bolong.
Aya deui nu gawena ngagonjak atawa ngaheureuyan batur. Bari sakapeung sok dedegler. Ka telepon-telepon imah, nu ngajungkiring sagede jurig, diasupkeun kana rangsel batur. Atuh, boh nu boga imah boh nu boga rangsel sarua ripuh. Nu hiji kukurilingan neangan telepon, bari teu weleh gogodeg. Teu ngarti telepon sagede kitu nepi ka leungit. Nu lainna, era-era ge kudu ngahajakeun indit ti Bandung ka...Sukabumi! Nganteurkeun telepon. Da, nu boga dosana mah teuing ngatrok ka mana. Aya kana sabulanna karak mucunghul deui di sakola.
Siga nu geus diatur ti loh mahpudna, mun aya nu tukang heureuy, geus pasti aya jelema nu paling sering jadi obyek heureuyna atawa obyek heureuy lingkungannana. Ti mimiti ngaran, cara leumpang, beubeungeutan, nepi ka kancing-kancing baju nu dipake -- geus puguh urusan awewe atawa bacaan mah -- nya manehna nu jadi sasaran.
"Ke ditingal-tingal, maneh teh siga Brian Jones, euy. Coba nangtung geura," ceuk si tukang heureuy. Sakitu geus mangtaun-taun diheureuyan jeung diheureuykeun oge, si obyek teu insap-insap. Dititah kitu teh daek we. Jung manehna nangtung.
"Ngan buuk maneh rada galing, euy. Mun lempeng mah, wah Mick Jager ge bisa pangling," ceuk si tukang heureuy.
"Maenya?," ceuk nu diheureuyan, teu rongget-rongget.
"Enya," ceuk nu ngaheureuyan, bari sok ngaitkeun gagang bulu hayam (kamoceng) kana kerah si obyek.
"Coba geura leumpang ka beh ditu," ceuk manehna, sanggeus bulu hayam nempel.
"Tuh, pan siga, nya?," ceuk si tukang heureuy deui kanu lian, basa ningali si obyek leumpang ka juru nu ditunjukna. Nu lian, tangtu bae, ngahaminan. "Enya, euy. Tinggal buukna dilempengkeun jeung make kaos hideung," ceuk salah saurang nu ngahaminan, bari nahan seuri.
Kaceuleupeungan jelema tadi teh teu eureun nepi ka dinya. Sanajan kamarina kanyahoan yen manehna dititah nangtung teh sangkan kerahna bisa ditempelan bulu hayam, isukna aya batur nu ningali eta batur kaluar ti hiji salon di Jalan Banda. "Sigana mah bener si eta ngadon ngalelempeng buuk," ceuk nu mergokeun. Enya bae: Pagetona, basa panggih di sakola, batur nu digeuhgeuykeun teh geus rada beda: Buukna rada jeceng, bari make turtleneck hideung tur disapatu model rock and roll tea. Nu hakna jangkung, bari hareupna lancip -- nepi ka ramo pabeulit teu puguh matut.
Tapi, enya siga Brian Jones? Boro-boro. Eta batur urang Garut teh pendek busekel, bari beuteung rada bentelu. Jauh pisan kana jiga. Matak, barudak awewe ti fakultas lian mah sok pating harewos mun sakalina Juragan Brian Jones ngalangkung teh. Sawareh mah katingal teu kuat nahan seuri.

Nungguan telepon ti Kayuputih, 7 November 2005.

Sumber: urangsunda, Wed Jan 25, 2006 11:47 pm

Degung jeung Janji Jhoni atawa Industri Film Indonesia

Mun urang kiwari bisa mesem lalajo film Janji Jhoni atawa sinetron Kejar Kusnadi, urang kudu nganuhunkeun ka menak Bandung nu jenengannana RAA Wiranatakoesoemah. Komo, mun tas lalajo eta film, urang terus muter kaset atawa nanggap degung mah. Panuhun tadi teh leuwih "mustahak" deui.
Naon hubungannana? Kieu:
Sawatara ahli antropologi, utamana Max Leigh Harrel, nandeskeun yen degung teh kaasup kasenian buhun. Eta kasenian teh, cenah, geus aya ti mangsa Pajajaran jeung Galuh keneh. Rek deukeut siga kiwari, harita -- numutkeun Juragan Max Leigh -- degung sok dipake dina upacara-upacara adat. Utamana upacara leleran (pelantikan) raja atawa nampi tamu agung.
Bukti nu nunjukeun degung seni buhun nu geus aya ti jaman Pajajaran keneh, pedah ngeunaan degung eta disabit-sabit dina sawatara carita pantun. Demi pantun, pan geus aya ti baheula keneh, ti jaman Pajajaran tea. "Buruhul menak ti kidul, aleutan para tumenggung, candakna parabot degung, tutup kendang kulit lutung, dirarawat hoe buntung, dipirig ku hujan subuh, ditepak ku nu jarangkung". Kitu ceuk salah sahiji carita pantun.
Kadieunakeun, sanggeus Pajajaran runtag, Tatar Sunda dikawasa ku Mataram, degung terus dipulasara ku urang Sunda. Utamana ku menak-menakna. Abad ka 17, mangsa Aria Wiratanu II jeneng Bupati Cianjur, eta wewengkon kakoncara dina perkara degung ieu. Ma'lum, Bupatina resep pisan kana kasenian teh. Malah, mun teu salah inget, nya mangsa Aria Wiratanu II pisan tembang Cianjuran mimitina aya teh.
Bandung, nu ngagantikeun Cianjur salaku dayeuh Priangan, neruskeun tradisi nu ditaratas Aria Wiratanu II tea: Bupati atawa menak-menakna jadi pangaping atawa maecenas kasenian. Di kabupaten teh sok aya rombongan degung atawa... Cianjuran!
Peta kitu teh nepa ka elit-elit lianna. Kaasup camat jeung wadana. Nepi, ka aya wadana nu dipercaya ku Bupati pikeun jadi "tim audisi" rombongan kasenian nu rek manggung di kabupaten atawa rek jadi tim kasenian resmi kabupaten. Salah sahijina, ramana Pa Kusnadi Harjasoemantri, manten rektor UGM, nu ayeuna nyepeng kalungguhan Ketua Akademi Jakarta. Ramana Pa Kusnadi eta, saur Pa Kusnadi ku anjeun, nu sok ngetes seniman-seniman nu bade lebet ka kabupaten Cianjur teh. Utamina dina widang tembang Cianjuran. "Mun lulus ti pun Bapa, kakara eta seniman teh bisa manggung di kabupaten," saur Pa Kusnadi, sawatara waktu ka tukang.
Tah, mangsa RAA Wiranatakoesoemah janten Bupati Bandung, anjeunna marentahkeun salah saurang nayaga degung nu aya di padaleman (kompleks) kabupatenna, pikeun ngarubah degung tina wangunan gamelan renteng kana wangun degung siga ayeuna. Cenah, nepi ka harita mah nu ngaranna degung teh ngarenteng, teu siga gamelan degung cara kiwari. Hartina, najan degung kaasup buhun ge ari wujudna nu kawas ayeuna mah kawilang anyar. Can nepi ka saratus taun. Da, dirobahna ku Pa Idi, nayaga kleub degung Purbasari nu dipiwarang kanjeng dalem Bandung kangge ngarobih wanda gamelan degung tea. kajadiannana taun 1920.
Perkara anyarna obahna wujud degung eta teu beda jeung calung. Sanajan calung kaitung seni buhun, nu cenah paragi karuhun urang hahaleuangan di humana, ari wandana nu siga kiwari mah karek aya taun 60-an. Nyaeta mangsa H.Ekik Barkah masih janten mahasiswa UNPAD. Nya, anjeunna saparakanca nu ngarobih wanda calung janten siga kiwari teh, nu bisa digigiwing atawa dijingjing. Baheula mah, cenah, calung teh ngarantay. Matak, keur ngabedakeun jeung calung jingjing kamonesan Pa Ekik Cs, disebutna ge calung rantay.
Balik deui kana degung, lian ti wangunna, waditra atawa parabotannana, alat musikna, ditambahan ku kendang jeung suling. Saencanna, waditra degung teh ngan aya opat: Bonang, saron, jenglong, jeung goong. Nu kumaha nu ngaranna bonang, saron, jeung jenglong, tong nanya ka kuring. Da, kuring ge teu apal cangkem apal cangkeum acan. Ngacaprukeun perkara ieu teh bubuhan bae keur euweuh gawe.
Nu pasti, bari jeung cenah deui bae, mangsa wangun jeung waditra degung dirobah eta, pausahaan film nu kuring keur poho ngaranna nyieun film Loetoeng Kasaroeng. RAA Wiranatakoesoemah ngarojong pisan kana produksi film nu dilakukeun ku pausahaan nu studiona aya di lebah Jl.Astana Anyar kiwari teh (mun teu salah, kitu ge). Bubuhan, harita, sa Hindia Walanda, nya kakarak film eta nu dijieun teh. Hartina, eta film teh film munggaran di Indonesia.
Pangrojong juragan bupati eta, lain bae ku ngiring ngaluuhan preview film tadi. Tapi, oge ku ngiring ngemutan sareng ngusulkeun ilustrasi musik keur Loeteong Kasaroeng. Tong poho, cenah, harita nu ngaranna film can aya soraan. Film bisu atawa "film chaplin" tea. Keur nambah panarik nu lalajo, mun eta film keur diputer, sok aya nu maen piano, akordeon, atawa orkes kamar pisan. Tangtu bae live. Lain rekaman -- komo sarupaning minus one atawa karaoke mah.
Tah, waktu film Loetoeng Kasaroeng diputer dina acara preview tea, dipirigna teh ku sora piano. Tangtu bae karasa ningnangna, siga dahar croisant atawa tiramisu dituturkeun ku nginum lahang atawa cai dawegan. Teu cocok. (Kitu ge ceuk William Wongso. Ari ceuk nu beuki, atawa harita euweuh deui cai mah, ngeunah we nu aya). Nya, RAA Wiranatakoesoemah pisan nu ngusulkeun sangkan pamirig eta film teh rombongan degung Purbasari, kleub degung "wanda anyar" nu diaping ku anjeunna tea.
Nya ti harita, tiap film Loetoeng Kasaroeng diputer di bioskop-bioskop, rombongan degung Purbasari jadi pamirigna. Pon kitu deui basa eta film dikurilingkeun sa-Pasundan. Purbasari teu weleh nuturkeun, jadi pamirig eta film. Ku jalaran eta, lain bae seni degung leuwih ceuyah di Pasundan. Tapi: Industri film di Indonesia ge dimimitian jeung terus ngajembaran. Nepi, ka taun 70-an, dina sataun, aya kana ratusna film nu dijieun ku sineas-sineas urang. Ti mimiti Si Pitung, Dikejar Dosa, nepi ka Bang Mamad .
Atuh, sanggeus kungsi diwadalkeun keur industri tekstil, bari sineas-sineasna loba nu epes meer, antukna film urang kapeupeuh ku film impor; kiwari urang bisa lalajo Janji Jhoni, Kejar Kusnadi, atawa 9 Naga. Degung jeung dalem Bandung nu namina RAA Wiranatakoeseomah mah meh tara kapilem. Kalimpudan ku amnesia sajarah tea.
(Diropea tina tulisan Asep Nugraha, Degung, Gamelan Tua atau Muda?, Majalah Seni Budaya Swara Cangkurileung, No 125, Taun ka 26, Maret 2002, kaca 13).
urangsunda, Fri Jan 13, 2006 2:16 am

Kusnet jeung "Pewarisan Nilai Budaya Sunda"

(Tawis hormat kanggo Abah Surya sareng Kang Runa Saparakanca)

Mun kuring nyebut kusnet dina ieu pangacaprukan, lain bae milis urangsunda. Tapi, oge kum milis-milis kasundaan. Mimiti ti urangsunda, kisunda, gank-leboy, baraya-sunda, sastra-sunda, sunda-mining, sunda-sci, sun-da bageur, sigasunda, sundasajati jeung sajabana. Kaasup milis-milis wewengkon (kota) nu aya di Tatar Sunda. Malah sawatara web nu make basa Sunda ge, satemenna, kahayang mah, kawengku ku ieu kocap kusnet. Sanajan, enya: Conto-conto nu ditembrakkeun leuwih loba ngarefer ka urangsunda. Bubuhan milis kasundaan pangkolotna, pangramena, jeung panglucuna. Sagala aya.
Oge, kuring ngahaja make tesis Pa Ajip pikeun judul di luhur: "Pewarisan Nilai". Ambeh gagah. Jeung kaciri pisan kumaha "daria"-na ieu "pasoalan" nu rek diguar teh. Sanajan, mun Harry Roesli jumeneng keneh, bari maos ieu pangacaprukan, pasti muncereng. "Kumaha nilai-nilai bisa diwariskeun? Paling ge nu bisa diwariskeun mah sumangetna. Lain nilaina," kira-kira kitu pibasaeun si Akang kana eta judul.
Tapi, keun bae-lah. Anggap bae sumanget jeung nilai teh eta-eta keneh. Ongkoh, mun sumanget teu didadasaran ku nilai, sumanget teu puguh tea meureun ngaranna. Sabalikna, mun nilai euweuh sumangetna, keur nanahaon? Matak disebut nilai ge, meureun, pedah aya sumangetna. Atawa, pedah bisa nyumangetan. Jeung deui, ceuk tadi ge make judul eta teh gagayaan wungkul. Ngarah jiga.
Keur sakuringeun, kusnet lain bae tempat silaturahmi dina harti kuring jadi wawuh jeung Kang Oman, MJ, Kang Ilen, Kang Agus, Ua Obie, Teh Tien, jeung sajabana. Atawa Kusnet, nu di dieu maksudna urangsunda, tina hiji komunitas jurig bisa ngawujud jadi "organisasi" (Yayasan Perceka), pasaka, atawa HBH. Lain. Tapi, leuwih ditu deui: Siga nu disigeung dina surat kuring sawatara ka tukang, keur kuring, Kusnet nepungkeun kuring jeung Sunda eta sorangan. Atawa, bisi dianggap kaleuleuwihi: Kusnet ngahudangkeun rasa ka-Sunda-an kuring nu -- diheunteu-heunteu -- nyayang dina lelembutan kuring.
Kahudangna teh lain bae ku wacana-wacana nu "baleurat" ngeunaan realitas ekonomi, politik, budaya, jeung sosial ( urang) Sunda. Tapi, oge ku tulisan-tulisan nu basajan, nu (katingalna) teu sapira. Jajauheun tina paniatan berwacana, komo make rek ngawariskeun nilai-nilai budaya mah. Nya sarupaning "just say hello", ngabodor, atawa nyaritakeun pangalamannana.
Tapi, ku cara basajan siga kitu, keur kuring, naon nu disebut (atawa nu ku kuring dianggap) pewarisan nilai tadi teh lumangsung kalayan lancar jeung keuna kana sasaran. Disebut keuna kana sasaran teh, pedah bae anggota milis umumna ngalora keneh. Ari nu ngalora, pan nu pang dipikahariwangna ku para inohong nu ngarasa perlu ngawariskeun "nilai-nilai" budaya tea? Dipikahariwang, sieun barudak ngora Sunda murtad, teu nyunda.Geus puguh tulisan-tulisan nu sipatna "verbal", meleg-meleg ngaguar perkara nilai-nilai budaya Sunda mah. Siga sawatara tulisan Kang Oman, Abah Surya, Kang Ilen, jeung rea deui. Tapi, tulisan-tulisan nu basajan tadi ge, nu teu boga karep atawa teu diniatan ngaguar nilai-nilai tadi, teu bisa dimomorekeun kitu bae. Ceuk tadi ge, dina satengahing nyaritakeun pangalamannana, nu narulis eta tulisan teh satemenna ngebrehkeun nilai-nilai budaya tadi. Paling heunteu, keur kuring, ngebrehkeun (baca: ngawariskeun) kabeungharan kokocapan (jeung rasa) nu aya dina basa Sunda.
Perkara basa, kuring meunang pangaweruh loba pisan alatan kukusnetan ieu. Sebut bae kocap "mataholang", "mireng", "keom", "bawiraos", "indung peuting", "Bobo sapanon carang sapakan", jste. Kaasup ngabedakeun "keuheul" jeung "ambek". Nepi ka, baheula, mangsa masih gawe di majalah, kuring ngahaja nyadiakeun hiji hard disk nu diajangkeun keur neundeun posting-posting nu aya di urangsunda jeung kisunda.
Dina pipikiran kuring harita, ngeunteung kana katuna diri, boa-boa, aya sawatara kokocapan nu can kacatet dina kamus. Lain bae kamus Wilde, tapi nu disusun ku LBSS pisan. Saha nu nyaho, pan? Paling heunteu, eta data teh bisa dimangpaatkeun keur ningali atawa nalungtik fenomena basa Sunda dina milis, nu sakapeung jajauheun tina papagon nu dianggap "baik dan benar" atawa "nyakola", atawa basa rumaja nu nempel di sawatara anggota milis. Bisi bae aya mahasiswa, boh ti fakultas basa, komunikasi, psikologi, atawa filsafatna pisan, nu rek ngamangpaatkeun eta "database".
Hanjakal, basa kuring kaluar gawe ti eta majalah, hard disk tadi teh teu kapuluk. Budak EDP nu dipentaan tulung keur ngarawatan eta hard disk, oge ngakat posting-posting tadi kana wangunan wordpad, teuing ka mana. Ongkoh, kuring kaluarna ge bari teu sasadu teu naon. Da, biasa, kaluarna teh pinuh ku kakeuheul. Sanajan teu nepi ka ambek-ambekan.
Salah sahiji tulisan nu, ceuk kuring, nepikeun Sunda kalayan alus jeung basajan, teu sadar atawa teu diniatkeun keur wawarisan tea, atawa bubudayaan, nyaeta tulisan MJ ngeunaan huntu. Enya huntu. Gigi. Bagian awak urang nu ranggeteng tukangeun biwir. Paragi nyapek, paragi ngegel, paragi ngagayeum.
Teu pira: Dina eta tulisan, MJ nyaritakeun pangalamannana nyeri huntu. Terus ka dokter gigi. Ceuk dokter, eta huntu kudu dicabut. MJ manut. Huntu nu dicabut teh dibawa mulang. Peun.
Waktu nyieun ieu pangacaprukan kuring teu bisa muka internet. Jadi, teu bisa ngorehan tulisan eta dina arsip milis. Ngan, perkara huntu jeung dicabut huntu nu biasa tadi, ku MJ, dina pangrasa kuring, jadi teu biasa. Aya roman-roman romantis, malah surealistis jeung magis. Huntu nu geus dicabut teh ku MJ bangun diajak nyarita. Ditarimakeun, dipapatahan, malah satengah dicarekan sagala.
Ditarimakeun, pedah geus mantuan ngagayem dahareun, nu engkena matak sehat, matak hirup. Satengah dicarekan, da nu ngaranna nyeri huntu tea; matak galingging panas tiris, nu hartina gering, beh dituna maot. Ari maot, pan ceuk sawatara kaum existensialis mah totonden keokna atawa teu walakayana manusa. Matak, mun teu salah, ku MJ, eta sakadang huntu teh dijadikeun kongkorong. Teuing gantungan konci, ketang. Pokona mah, jadi monumen. Monumen nu satemenna maheutkeun pakaitna dunya badag/raga jeung dunya roh/jiwa/spriritual.
Bisa jadi kuring kaleuleuwihi, ngadramatisir, atawa overtheoritizing. Tapi, teuing, basa kuring maca tulisan MJ eta, satengahing mesem, pipikiran ras inget kana "dongeng" Sempak Waja (atawa teuing saha. Rumasa, teu apal persis kana sajarah Sunda teh). Lain pedah rumasa huntu kuring goreng, karahaan. Komo alatan kuring hayang jadi raja mah. Lain. Ngan, ceuk eta "dongeng", eta tokoh teu bisa jadi raja alatan huntuna aya nu somplak. Hartina, nilai Sunda mah ngahargaan (oge) kana perkara fisik teh. "Mun dia dek jadi pangagung, mudu sembada, mudu sampurna," ceuk hiji kolot di Sajira. Bari kasampurnaan fisik eta teu eureun nepi ka dinya. Mudu dibarungan ku kasampurnaan nu sifatna rohani, spiritual.
Pataremana materi jeung spirit lain bae ngancik dina awak manusa. Tapi, oge dina mahluk lianna, kaasup nu (katingalna) euweuh nyawaan. Nepi ka, ceuk sawatara "dongeng" mah, batu sriman nu dibawa ka Banten teh teu kitu bae bisa diringkid ti Pajajaran. Kakuatan spiritual nu aya dina eta batu kudu ditalukkeun heula. Ongkoh, keur bisa calik di dinya teh aya parancah, aya sarat-saratna. Hartina, raja teh kudu miboga kasampurnaan spiritual tea. Ambeh kakawasaannana lain bae ditarima ku rahayat, tapi oge ku para dewata, jeung kumna alam, kaasup nu aya di alam lelembutan. Nya, sakumaha nu jadi tradisi kiwari bae: Nu aranna sumpah jabatan teh pan lain sumpah ka atasan atawa ka nagara pisan, tapi sumpah ka pangeran. Matak, nu disumpah teh sok bari ditudungan ku Qur'an.
Pondokna mah, tulisan MJ teh ngebrehkeun nilai-nilai Sunda nu ngarojong kasampurnaan lahir jeung batin. Pakaitna dunya materi jeung non materi, spirit atawa roh. Bandingkeun jeung paribasa Latin ieu, nu keur urang SD sok remen digorowokeun: Men sana in corpore sano! Atawa, nu leuwih up to date, bahasan sawatara filosof kiwari nu maca fenomena "pemujaan tubuh" sarupaning diet, body building, taebo, six pack, jeung operasi plastik.
Bah Willy ge nepikeun Sunda-na teh ku tulisan-tulisan "biografis" siga kitu. Diembohan ku yuswana nu tos sepuh, dibandingkeun jeung MJ , komo jeung kuring mah, seratan-seratan Bah Willy ngalengkepan dokumen Sunda nu nyampak di kusnet.
Seratan Bah Willy ngeunaan eyangna, keur kuring, mere informasi nu kawilang munel jeung "akurat". Utamana, ngeunaan Tari Topeng. Oge, sawatara fragmen sajarah Sunda, nu ngebrehkeun nilai-nilai Sunda, ku cara ngadongengkeun tapak lajak sawatara menak Sumedang baheula. Tina seratannana, urang bisa ningali kumaha komitmen sosial menak Sumedang harita. Boh ka rahayat nu aya di wewengkonna, oge nu aya di luareun Sumedang.
Enya, gambaran umum, malah leuwih lengkep, ngeunaan hal-hal eta geus nyampak di sawatara buku atawa wacana "resmi" nu diserat atawa didugikeun ku para budayawan atawa sajarawan profesional. Tapi, keur kuring, "memoar-memoar" Bah Willy ngarupakeun data lapangan. Hiji panyaksen ti "pelaku", di kalangan "awam". Dina hal tari, misalna, bandingkeun jeung panyaksen suwargi Tjetje Somantri, "pelaku profesional", nu sawatara waktu ka tukang ku kuring pernah diposting.
Ari tulisan Bah Toto nu ceuk kuring pangasoyna: Posting anjeunna ngeunaan copet atawa nu disangka nyopet di setasion Jatinegara. Hiji waktu Bah Toto mulih ka Bandung -- harita anjeunna masih dines di Jakarta. Di Jatinegara aya copet katewak. Der digarebugan. Nepi ka, ceuk anjeunna, baloboran getih.
Dina ahir tulisannana, nu kuring teu weleh inget, Bah Toto ngadon lumengis. Nalangsa ku nasib jalma nu dituduh nyopet, nu ngadon digarebugan. Katingalina siga nu epes meer. Tapi, nilai Sunda nu diharewoskeun ku Bah Toto: Rasa nyaah ka sasama, jeung rasa kaadilan. Malah, beh dituna mah, nya naon nu disebut kasadaran hukum tea. Sanajan eta batur salah, tong maen hakim sendiri. Komo karak dituding mah. Can karuhan. (Tangtu bae, urang bisa oge nanya leuwih jauh; Kumaha mun hakimna sorangan teu maen-maen? Atawa aranjeunna anteng maen sewang-sewangan?).
Hanjakal si Abah teh rada "sensitif", pedah anjeunna sanes urang Sunda pituin. Ari harita, posting-posting nu aya, kaasup posting kuring, ngaheabkeun "sumanget anti Jawa" atawa "anti" non-Sunda. Anjeunna teu bisa ngabedakeun "analisis sosial" jeung "analisis pribadi". Teu terangeun, kuring sorangan secara genetis mah teu kaasup urang Sunda pituin. Ongkoh, rada absurd bae ngarumuskeun Sunda ku ningali asal-usul getihna.
Nilai-nilai Sunda nu ditepikeun ku cara nu leuwih "verbal", bisa katingal dina posting-posting Kang Oman, Ua Sas, sareng Abah Surya. Malah, baheula, Ua Sas boga "rubrik husus". Rubrik reboan. Eusina, sarupaning babasan atawa paribasa Sunda. Kaasup sesebutan keur hiji profesi atawa kaahlian, nu sawareh mah ngan tinggal dina buku. Hanjakal, kiwari eta rubrik teh leungit. Ongkoh, si Uana ge ayeuna mah arang mosting. Keur pogot kana buku, katingalna mah. Padahal, keur jalma siga kuring, nu karak Puasa kamari boga kamus Basa Sunda, dipaparin ku si Ua; seratan-seratan verbal kitu teh gede pisan mangpaatna. Kuring jadi leuwih nyaho, teu apal cangkem teuing, atawa salah ngalarapkeun hiji kokocapan atawa paribasa.
Pon kitu deui sepuh-sepuh sapertos Ua DJ, Kang Yayat Supriyatna, Kang Obay Sobarli, sjte. Kang Yayat, misalna, kantos nyerat perkawis wawacan sareng guguritan. Lengkep sareng rupa-rupa pupuh anu aya. Teu kabayang, mun tea mah Kang Yayat teu ngadamel seratan siga kitu, urang nu hayang nyaho kudu kokotengan ka pabukon atawa toko buku. Neangan buku nu ngajelaskeun perkara eta. Leuheung mun aya. Di mana ayana ge, nya rada renced oge. Kudu ucul duit.
Ari onjoyna Abah Surya, keur kuring, lain bae ku verbalna eta. Tapi, ku kersana bae sepuh sapertos anjeunna rurumpaheun, ngiring gunem catur, dina "kahirupan rumaja" siga milis ieu. Pan, siga nu diharewoskeun dina pangacaprukan kuring kamari, arang birokrat nu kersa ilubiung dina milis, bari nepikeun kapentingan lembagana.
Tangtu lain kuring rek nyebutkeun si Abah kalebet birokrat, nu di urang mah konotasina teh goreng malulu. Tapi, maksud kuring, arang para sepuh, utamina nu kalebet inohong atawa budayawan profesional sapertos anjeunna, kersa rurumpaheun ilubiung dina milis. Lian ti internet teu pati dipikawanoh ku umumna masarakat teh, milis mah lolobana sok diariluan ku barudak ngora tea. Matak kuring ngabasakeun, milis mah kultur barudak ngora. Ari ieu?
Tah, ku ayana inohong sapertos si Abah, nu ngagaduhan otoritas dina medar kabudayaan Sunda, boh ku sepuhna, pangalamannana, profesina, oge ku kaelmuannana, naon nu jadi tesis Pa Ajip teh geus dilakonan. Sadar teu sadar, aya pewarisan nilai (paling heunteu dina mekarkeun pangaweruh basa) ka generasi sahandapeunna. Kukituna, kuring respek pisan ka anjeunna. Nya, sanajan ngacapruk, bari jajauheun tina nyunda ge, ieu teh hormat kuring ka anjeunna. Sakaligus do'a kuring: Sugan bae leuwih loba deui sepuh nu daek ngahuma di tempat nu ngaranna milis atawa internet, di kusnet.
Pangacaprukan ieu, oge hormat kuring ka budak ngora siga Kang Runa, Kang Eko, Kang Gibson, Kang Kumi, jeung sajabana, nu oge sok katingal di sawatara milis kakotaan di Tatar Sunda. Ku cara kitu, aranjeunna geus ngiring nepakeun atawa ngawariskeun budaya Sunda. Paling heunteu dina perkara basa. Ku cara nu basajan, murah, jeung up to date: Milis kusnet.
urangsunda, Wed Jan 11, 2006 3:37 am

Transparansi jeung Akuntabilitas LSM

Ieu tulisan lain rek "nyerang" LSM. Komo, mangrupa "serangan balik kana gerakan anti korupsi" mah. Ieu mah, saperti biasa, saukur ngacapruk bae. Kutrat-kotret bari nungguan jemputan. Sugan bae aya mangpaatna. Kitu ge teuing nepi, teuing moal, kana eta jejer nu kawilang "gagah" teh. Ma'lum, da ngacapruk tea.
Ari mimitina mah aya batur. Cenah, manehna jadi konsultan (bisnis jeung keuangan) di hiji LSM nu udagannana ningkatkeun kahirupan patani kalapa. Keur ngabeayaan eta LSM, manehna nyieun deui LSM lain, mangrupa yayasan, nu tugasna nampung jeung neangan dana. Kituna mah pantes, mun manehna boga akses ka nu boga duit (jeung dipercaya) teh. Lila di luar nagri, sakalina gawe teu weleh di bank asing. "Yayasan ieu mah teu ngan ukur ngagugulung kalapa. Kagiatan naon ge bisa, kaasup ngabiayaan kagiatan seni jeung budaya. Ngan, saheulaanan, salaku pilot project LSM Kalapa eta," ceuk manehna.
Ari nu jadi titincakan manehna nyieun eta yayasan taya lian ti panyakit nu masih keneh mahabu di urang: Korupsi. Ieu panyakit teh, ceuk manehna, lain bae nalikung lingkungan pamarentahan atawa penyelenggara negara. Tapi, oge masarakat. Kaasup kalangan LSM, nu sakedapan mah nyitrakeun diri -- malah asbabun nujul-na ge harib-harib ka -- anti korupsi.  )Ceuk manehna keneh, ku alatan panyakit ieu, dana bantuan tsunami saalam dunya, nu 70% di antarana diancokeun keur Indonesia, rada seuseut turunna. "Nu geus turun, ku taksiran urang, teu nepi ka 30% tina MOU," ceuk eta batur. Nagara atawa lembaga donor rada merod nohonan naon nu baheula geus disanggupan ku manehna. Lain embung. Tapi, sieun eta dana atawa bantuan teh teu nepi ka jinisna. Da dicoceng, dikorupsi, ku nu nepikeunnana -- boh LSM, boh lembaga pamarentah. Antukna, lembaga-lembaga eta teh ati-ati dina ngucurkeun komitmenna.
Tah, kasieun siga kitu oge nu nyampak dina dana-dana nu diajangkeun ku lembaga-lembaga donor di luar konteks tsunami. Dana bantuan keur Indonesia teh, paling heunteu: nu bisa dipenta keur kapentingan Indonesia, cenah, pabalatak. Bari teu bisa dilakonan ku cara G to G. Da hayang "civil society" tea, bari "rada-rada" teu percaya ka pamarentah. "Jumlahna, itung bae: Mun tiap lembaga mere bantuan, tong loba-loba, US$ 100 rebu we sataun. Kalikeun saratus lembaga bae, aya kana US$ 10 yuta-na!," ceuk eta batur. Jumlah nu teu pamohalan. Utamana, mun urang ngadenge yen dana sosial Gates Fondations bae leuwih gede manan anggaran WHO. Encan sarupaning Soros, Ford, Prins Benhard, Prins Gantra, jeung nu lianna.
Tapi, nya kitu. Eta dana teh teu bisa maksimal dimangpaatkeun. Da aya handycap nu ngaranna korupsi tea. "Utamana korupsi di kalangan LSM," ceuk manehna, teugeug. Nepi ka, imej LSM sorangan jadi goreng. Dianggap ngan tukang nyieunan proposal, bari geus meunang duit, tapi euweuh prakna. Atawa, nu paling ngenes kana ati: Tukang ngajualan jalma miskin!
"Analisis" eta batur teu nyalahan. Paling heunteu, lain pamanggih anyar. Baheula, keur mahasiswa keneh, sawatara batur nu aktif di LSM pating harewos ngeunaan "mafia LSM". Nu dituding jadi mafiana, taya lian ti Adi Sasono jeung pupuhu LSM Dian Desa harita. Cenah, ceuk babaturan aktivis LSM tea, Adi Sasono jeung Dian Desa lain bae ngamonopoli sumber-sumber pendanaan ti luar. Tapi, oge teu transaparan dina perkara dana. Ku alatan teu transparan eta, tadi batur nyebut yen dua inohong LSM tadi ngorupsi dana.
Tangtu bae, tudingan eta batur teh rada gagabah. Teu transparan, dina harti teu nyebutkeun sabaraha, ti mana, jeung ka mana, can tangtu nyalikong atawa korupsi. Bisa bae maranehna teu transparan teh ka eta batur. Tapi ka nu mere duit mah, boa-boa, tiap menit mere laporanna teh. Malah, boa-boa manehna nyebut "korupsi" teh pedah teu boga akses bae ka si sumber dana. Wallohualam.
Nu pasti, tuduhan yen LSM teu amanah teh terus aya. Contona, kadieunakeun, perkara korupsi nu dituduhkeun ka LSM teh mucunghul deui. Utamana geus deukeut ka Soeharto lengser. (Atawa geus lengser pisan, kitu? Poho deui). Majalah tempat gawe kuring harita kungsi nulis ngeunaan LSM-LSM papan nama. LSM nu meunang dana, tapi euweuh kagiatannana. Di Solo, nu jadi contoh harita, aya nepi ka ratusna LSM model kitu (atawa nu dituding model kitu) teh.
Sabenerna mah, mun ku urang dititenan, LSM papan nama kitu teh (sigana) lain di Solo bae. Tapi, di mana mendi. Enya, pan, bareng jeung hiliwirna angin reformasi, masarakat urang siga asa aya nu kurang mun teu nyieun LSM teh. Geus puguh ari mahasiswa mah. Ka, tukang-tukang cukur, ceuk paribasana, teu ku hanteu nyieun LSM. Tangtu bae aya nu baleg, bener-bener LSM, aya oge ngan sakadar LLSM-an. Ngan sakadar hayang gaya, jeung ...ngamangpaatkeun "dana pembinaan" ti pemda atawa hibah ti lembaga donor.
Tah, mun teu salah inget, eta tulisan panjang teh jadi cover story. Dirarangken ku kasus-kasus "korupsi LSM" lianna, kaasup perkara asal-usul dana LSM, jeung kumaha sawatara LSM ngokolakeun eta dana. Mun teu salah deui bae, kasus nu disabit-sabit teh kaasup kasus nu kungsi tumiba ka KIPP. Harita, Mulyana W.Kusumah, nu jadi salah saurang pangurus KIPP, dituduh teu bisa mempertanggungjawabkeun duit nu "dicekel" ku manehna. Ngan, teuing kumaha, siga nu lianna, isu ngeunaan duit KIPP eta teh pareum. Sigana mah, kalangan LSM sorangan mareuman eta isu. Solidaritas, bari -- meureun -- sieun meulit ka LSM lianna. Wallohualam deui bae.
Leuwih beh dieu, aktivis LSM nu dituduh nyalikong duit teh Irma Hutabarat. Pajar teh, Irma nyelewengkeun dana penanggulangan banjir sakitu miliar. Siga dina kasus KIPP jeung kasus-kasus lianna, tudingan ieu teu nepi unggah bale watangan. Eureun ku penjelasan Irma ka Sutiyoso. Sanajan, beda jeung KIPP atawa nu lianna, duit nu ditudingkeun ka Irma teh duit nagara. Duit Pemda DKI.
Paling beh dieu, nu diwartakeun ngorupsi duit LSM teh barudak AJI, si Lukas Cs. Deui-deui teu manjang "carita"-na. Wasalam ku katerangan si Lukas Cs.
Eta sawatara conto nu kungsi muncul di media. Sanajan, aya deui modus korupsi lian nu dilakukeun ku LSM: Meres pengusaha jeung pejabat. Enya, meres. Eta bae, kamari, basa rek HBH Kusnet, di Lembang, kuring nyimpang ka babaturan nu jadi kontraktor. Ditanya keur boga gawe naon teh, manehna karah ka humandeuar. "Susah, Kang, ayeuna mah. Loba teuing bebegigna. Ti mimiti pejabat, LSM, jeung punten bae: wartawan. Kabeh menta bagean. Menta uang preman!," ceuk manehna.
Caritaan eta batur teh teu aneh. Ti Purwakarta keneh kuring geus "ngambeu" "data" siga kitu. Enya, waktu ulin ka kantor perwakilan hiji koran, kabeneran keur ngarumpul. Salah saurangna, nya aktivis LSM. "Ah, abdi mah kieu we. Kerjasama sareng pers," ceuk eta aktivis. "Aya nu nyeleweng, sikat," tambah manehna. Nu dimaksud "kerjasama" jeung "sikat" teh kuring geus surti: Meres. Manehna silih bantuan dina ngumpulkeun data jeung wartawan, terus ditulis dina koran. Sakapeung, manehna ngerahkeun massa. Ambeh leuwih katingal enya. Udagannana lain sangkan masalah jadi bener. Tapi, nya "uang preman" tea.
Tangtu bae teu kabeh LSM, oge wartawan, korup siga kitu. Ngan, mun urang percaya kana omongan babaturan nu ilubiung dina LSM Kalapa tea, nu polahna siga kitu kaitung loba. LSM nu ngan saukur neangan duit, lain memener nu salah, atawa ngabantu jalma leutik luyu jeung paniatannana.
Balik deui kana jejer tulisan, lain maksud kuring nyaram aktivis LSM -- oge wartawan -- neangan duit. Pan, maranehna ge sarua dalahar keneh. Butuh kejo, butuh sapatu, perlu HP, butuh ngafe. Ngan kudu puguh aturannana. Malah, munasabah pisan, siga pejabat nagara, atawa wartawan, oge guru, maranehna meunang gajih nu gede. Ngahaja make istilah gede, lain "cukup". Ambeh teges. Lain nanaon. Ambeh maranehna tonggoy kana pagaweannana atawa tugasna. Teu kaganggu ku duit nu lain hakna, nu sakapeung teu sabaraha.
Matak, reugreug oge ngadenge gajih hiji babaturan nu jadi pupuhu hiji LSM nepi ka puluhan yuta. Kabuktian, manehna mah galak teh bener-bener galak. Lain ngarah "uang preman". Komo, komisi atawa sarupaning kick back mah.
Lian ti kitu, hade pisan mun hiji LSM ngalaporkeun keuangannana tiap taun. Siga nu katingal dina Kompas poe ieu. Enya laporan keuangan LBH. Sanajan teu kabeh masarakat bisa maca neraca pembukuan siga kitu, paling heunteu, ceuk kuring, asas transparansi jeung akuntabilitas geus kahontal. Pan dina laporan eta ge disebutkeun ti mana maranehna meunang duit, jeung dipake naon bae. Leuwih alus deui mun maranehna oge bisa ngebrehkeun sarupaning gajih pangurus-pangurusna. Supaya ulah aya fitnah jeung suudzon. Saha nu nyaho manehna geus beunghar ti buyutna keneh? Ayeuna, saprak gawe di LSM, make Terrano? Nya, munasabah bae. Ku ngembrakkeun gajih pangurus, oge, urang bisa ngira-ngira naha pantes heunteu gajih maranehna "sakitu" -- bari anggaran keur kagiatan utamana ngan "sakieu"?
Tapi, pan teu kabeh LSM boga sumber pendanaan nu hade siga LBH, Walhi, Kehati, atawa 68H? Teu saeutik nu ngan ngandelkeun "uang pembinaan" ti pemda. Tah, husus keur LSM "gurem" siga kieu, naon salahna nyieun unit usaha. Maenya aktivis bisnis? Eh, manan meres?
Enya ari alusna mah, idealna, LSM -- siga wartawan -- tonggoy bae jadi "watch dog". Tapi, mun can kaduga jadi LSM "papan atas" mah, ceuk kuring, naon salahna oge baroga "sayap bisnis". Kituna ge bari cara jeung lokasi usahana teh diteangan, nu teu matak paketrok kapentingan. Urang aktif dina widang lingkungan di Ciamis, nya ulah bisnis binih pepelakan -- komo jadi makelar tanah mah. Nya muka jaringan warnet atuh? (etah, si kasebelan, geus kanu warnet deui bae. Na, mani siga nu obsesif kitu, nya?). Jeung tong di Ciamis deuih muka usahana teh. Di Serang atawa di Lampung, sugan.
Intina mah tong nepi pakojot bae: Ongkoh pupuhu LSM, oge direktur PT Anu. Poe ieu direktur, mangsa teu boga order pupuhu LSM -- nu mingpin demo ngeunaan masalah nu pakait jeung bisnisna. Sigana, cukup ngan jadi pemegang saham bae. Bisnis mah serahkeun bae ka batur nu bisa dipercaya.
Eh, justru jadi aktivis teh ku alatan teu boga gawe atawa teu boga modal? Wah, mun kieu alesannana, nya kuring ge teu bisa ngacaprukna. Paling ge nyarankeun tong jadi aktiivis bae. Mending ngilu pilihan lurah sakalian. Sarua mulya jeung barokahna, ari baleg mah. Paling heunteu, gajihna geus jelas: Beas hasil sawah desa.
Ngeunaan modus sayap usaha tadi, sakanyaho kuring, kungsi dilakukeun ku LBH (Jakarta) sorangan. Paling heunteu waktu dipupuhuan ku Nursjahbani Katjasungkana. Harita maranehna boga kantor lawyer nu sipatna komersial, di wewengkon Blok M. Sanajan eta kantor pengacara nu "komersil" teh teu bisa disebut organ resmi LBH, tapi nya sawatara lawyer LBH "garawe" oge di eta kantor.
Alesannana, dina seuhseuhannana teu sakabeh nu datang ka LBH jalma miskin, lapisan masarakat nu jadi target utama kagiatan LBH. Oge, nya keur ngahangkeutkeun karaharjaan pagawe-pagawe LBH sorangan. Ongkoh, harita "dana pembinaan" (bantuan) ti Pemda DKI dikurangan. Beda jeung Ali Sadikin, nu ngabeayaan eta lembaga teh sangkan maranehna bener-benar galak, paling heunteu jadi partner kritis pemda; pamarentahan nu kadieunakeun mah siga nu sabalikna. Pan, nepi kiwari: Kacirina, pamarentah mere "dana pembinaan" teh sangkan bisa patingkiceup jeung LSM -- teu beda jeung "kadeudeuh" nu jadi jatah sawatara wartawan ti humas-humas pamarentahan -- nu bisa ti kelebuh kana korupsi berjamaah tea.
Mungkas ieu pangacaprukan, kuring rek ngajak nabeuh maneh. Tadi mah Pa Ali nu dijadikeun conto pamarentah nu hade teh. Ieu mah ngeunaan transparansi LSM tea. Tah, dina hal ieu urang, urang Sunda, kudu bangga. Utamana, mun Yayasan Rancage ku urang rek dianggap LSM. Ari banggana, pedah, baheula, panitia KIBS, nu diluluguan ku Yayasan Rancage, oge ngalaporkeun keuangannana dina laporan kagiatannana. Teuing pedah di dinya aya Pa Erry (Riyana Hardjapamekas), Wakil Ketua KPK, salah sahiji inohong nu kungsi dileler Hadiah Hatta, nu oge kungsi dijagokeun waktu kalangan budayawan neangan jalma nu pantes keur ngurus Yayasan Kesenian Jakarta? Teuing nurutan MJ nu teu weleh ngalaporkeun keuangan Yayasan Perceka? Teuing.
Naon bae alatannana, nu pasti, transaparansi jiga kitu teh bisa nambah kapercayaan jalma loba ka hiji lembaga nu ngokolakeun duit publik. Cag, ah! Nu ngajemput geus datang, euy!
urangsunda. Sat Jan 7, 2006 12:19 pm

Milis jeung Community Relations

Mun teu salah, jumlah nu make internet di Indonesia teu leuwih ti 3 yuta. Jumlah nu samenel dibandingkeun jeung populasi bangsa urang, nu leuwih ti 203 yuta. Teu nepi ka 2 %-na. Kitu ge, ceuk hiji riset, para netter teh sarupaning karyawan nu ngamangpaatkeun fasilitas internet haratis nu aya di tempat gawena sewang-sewangan, atawa nu ngaradon muka internet di warnet-warnet. Saeutik pisan netter nu ngahaja muka internet di imahna, nu hartina lalangganan sorangan ka ISP. Ma'lum akses internet di urang, masih kaitung mahal. Paling heunteu, keur pantar kuring, nu masih keneh dijamotrotan pamajikan sakalina tagihan telepon "lain dari biasa".
Sanajan kitu, jumlah nu ngan samenel teh prak-prakannana signifikan pikeun migeykeun kagiatan ekonomi, sosial, budaya, jeung politik. Contona, mengparkeun maneh tina nyebutkeun Kusnet: Urang, atawa sawatara di antara urang, tangtu inget kumaha lalakon milis apakabar mangsa Soeharto rek lengser. Teu weudeu eta milis teh gede pisan mangpaatna keur "manaskeun" kaayaan. Ku ayana eta milis, urang meunang info-info "A-1" jeung "mutakhir" ngeunaan kaayaan nagara jeung pamarentahan urang harita. Utamana nu teu bisa muncul di media massa.
Sabalikna, sanajan geus aya BPPT, program e-government, Menkominfo, jeung sajabana, pihak birokrasi pamarentahan katingal can optimal ngamangpaatkeun teknologi ieu. Urang masih jajauheun bisa ngurus perpanjangan KTP, SIM, atawa STNK, ku ngaliwatan internet. Dalah, informasi-informasi standar nu dibutuhkeun ngeunaan hiji hal, arang urang bisa meunang ku ngaliwatan salah sahiji modus e-government eta. Coba bae urang titenan sawatara situs resmi milik pamarentah. Boh hiji departemen, lembaga nagara, atawa pamarentah daerah pisan.
Sebut bae, situs Departemen Pertanian, nu ceuk pangalaman kuring, paling informatif manan situs-situs "plat merah" lianna nu kungsi kaanjangan ku kuring. Tapi, sanajan kaitung rempeg, tetep bae aya nu kurang: Urang misalna teu meunang informasi ngeunaan kumaha prak-prakannana meunang sertifikat organik. Lien ti eta, data di dinya loba nu geus lawas, nu sanajan aya mangpaatna, tapi teu up to date. Malah, aya sabaraha kaca nu teu bisa kabaca pisan informasina.
Geus puguh ari situs sabangsa www.subang.go.id mah. Urang boro-boro dibere nyaho bisa sare di mana, mun sakalina urang nganjang ka lebah dinya teh. Dalah, statistik ngeunaan eta wewengkon ge can dieusian keneh. Padahal, eta website teh geus aya taunna ngajomantara. Kaciri pisan teu dipiarana teh. Mun tea mah urang teu wasa nyebutkeun, eta situs sabenerna "teu niat" dijieunna teh. Ongkoh, nu ngagarawekeun eta situs teh, utamana dina versi anyar ieu, barudak keneh. Barudak STM Pasundan, Bandung. Sanajan, tangtuna, dipigawe ku barudak kitu teh lain ulah. Malah, hade pisan. Tapi, hasilna kudu tetep alus. Kudu luyu jeung paniatan, konsep, atawa prak-prakan e-government atawa naon nu disebut "abad informasi" tea.
Lian ti kitu, atawa luyu jeung sipat lur jeun atawa sipat asal aya tadi, fungsi komunikasi dua arah nu bisa dipiboga situs-situs siga kitu teh euweuh pisan. Buktina, sawatara email nu ku kuring dikirim ka sawatara instansi nu aya di hiji departemen atawa kabupaten euweuh hiji-hiji acan nu meunang jawaban. Geus karuhan meunang jawaban ngeunaan data atawa informasi nu ku kuring ditanyakeun mah. Ieu mah jawaban nu sipatna sasadu ge euweuh. Bisa jadi, nu teu nyebutkeun email sewang-sewangan, ku web masterna teu ditepikeun ka jinisna. Atawa, boa-boa, pajabat nu bersangkutan teu nyahoeun yen di dunya ieu aya teknologi nu ngaranna internet, jeung sapurati turunan-turunannana.
Nyebut kitu teh kuring lain suudzon atawa ngarasa "pang melek internet"-na. Teu pisan-pisan. Nyebut kitu teh pedah bae, kuring sok pangangguran nanyakeun alamat email sawatara pejabat. Umumna, maranehna teu barogaeun. Lain pedah sakur surat nu asup ditekel heula ku sarupaning staf atawa sekretaris. Tapi, teu saeutik nu memang (kacirina) teu pati wanoh jeung internet.
Malah, aya babaturan kuring, humas salahsahiji kabupaten di "Pulo Jawa" (ngahaja locusna dilegaan ambeh teu kaciri teuing), karah ka malik nanya: "Ari email teh naon, Man?," ceuk manehna, lempeng.
Patanyaan eta batur teh teu beda jeung hiji letnan (harita) di Mabes Polri, ahir dekade 80-an, nu hiji peuting deadline haharehohan datang ka kantor. "Mas, saya disuruh Pak Anu lihat Pak Ismail di ruang Sekpri untuk diantar ke Mas. Tapi, saya lihat ke sana nggak ada siapa-siapa," ceuk eta Letnan, bangun nu bingung. "Gimana, ya?". Atuh, ngadenge kitu teh kuring nyerengeh. Na hate mah hayang ngabarakatak. Tapi, teu wasa. Karunya. Enya, da nu dimaksud ku si komandan teh faksimil. Si komandan, beurangna geus jangji rek mere data via faksimil. Ngan teu apaleun nomer faksimil kantor kuring meureun. Dikirim ka kantorna. Tapi, kadenge ku si Letnan "Pak Ismail". Bari jeung teu nyaho nu kumaha faksimil teh. Matak, basa ningali di rohangan si Sekpri euweuh jelama, manehna ti paparetot ka kantor. Ngadon sasadu.
Ari dina kasus babaturan tadi, di hareupeun manehna teh ngajungkiring komputer nu geus dilengkepan ku modem. Tapi, teu nyaho email-email acan. Ditanya soal internet ge teu nyahoeun. Atuh ku kuring ditunjukkeun kumaha prak-prakkannana muka jeung ngamangpaatkeun internet, nyieun alamat email, jste. Salila dua minggu kuring aya di lembur eta, meh unggal poe mere kursus haratis ngeunaan email jeung internet. Malah, ku kuring dipangnyieunkeun milis sagala.
Tapi. sanajan geus dipapatahan ge tetep bae eta fasilitas teh teu dimangpaatkeun. Nepi ka, sawatara bulan ka tukang ku kuring ditingali, eta milis geus euweuh. Geus dipaehan ku yahoo. Kateuteuari, meureun. Ngaheuheurin wungkul.
Satadina, ku cara dipangnyieunkeun milis, manehna, salaku humas di eta kabupaten, bisa komunikasi leuwih langsung, malah leuwih personal, jeung jalma loba. Jeung masarakat. Sanajan, guna jeung mangpaat eta milis teh diragukeun. Lain bae ku perkara biaya interlokal ka ISPna, nu bisa diakalan ku ngan muka internet dina waktu nu geus ditangtukeun -- ngan tilu jam saminggu, misalna. Atawa neang cara lian nu leuwih murah. Tapi, oge ku masih saeutikna masarakat di wewengkon manehna nu bisa ngakses internet.
Bisa jadi, keur kasus siga babaturan kuring, nu infrastruktur internet di daerahna masih goreng, ngamangpaatkeun milis salaku media community relation teu efesien atawa teu efektif. Tapi, keur wewengkon lain, nu insfrastruktu atawa budaya internetna geus alus, media siga milis teu bisa disapirakeun mangpaatna pikeun hiji lembaga siga pamarentah tempat gawe eta batur. Utamana salaku salah sahiji modus atawa media community relation tadi. Bisa jadi, "kayakinan" ieu pedah kuring urang komunikasi. Sensitif kana perkara media siga internet kieu. Matak, teu pati helok waktu dua taun ka tukang, aya babaturan nu jadi manajer marketing di hiji majalah franchaise, ngadangkal dikirim ka Hong Kong. Pausahaan nu boga eta franchaise, ngayakeun seminar jeung pelatihan keur sakur manajer marketingna di Asia-Pasifik.
Salah sahiji sesi, nu meunang porsi waktu rea, taya lian ti kumaha prak-prakannana jadi ...moderator milis!
Lian ti kudu nyaho persis filosofi, kultur, jeung kawijakan pausahaan teh, si moderator milis kudu bisa ngasuh anggota milis nu aya. Nya, dina raraga ngabina hubungan jeung masarakat tea. Sangkan bisa meunang feedback nu leuwih akurat, bari maca "gerentes pasar", ti masarakat. Tangtu bae media nu bisa dipake keur kagiatan community relation siga kitu lain bae milis. Tapi, di kota gede, nu infrastruktur jeung budaya internetna leuwih alus, siga Jabodetabek, salah sahiji cara nu murah nya ku nyieun milis.
Malah, ceuk eta batur, beh dituna mah tugas manehna teh kudu bisa ngaronjatkeun jumlah pelanggan eta majalah. Luyu jeung tugasna salaku manajer marketing. Hartina, milis bener-bener murah meriah. Bisa kabula-bale. Lain bae jadi media community relation. Tapi, leuwih jauh deui: Media promosi atawa alat marketing. Komo, ceuk eta batur keneh, lian ti ngajaga hubungan jeung ningkatkeun jumlah pelanggan majalah teh, manehna oge kudu bisa neangan duit tina kagiatan off print nu diayakeun ku eta majalah, nu alat marketing utamana nya milis majalah tea. Nya, ku cara ngamangpaatkeun anggota milis eta, nu teu kabeh langganan majalahna, manehna nyieun rupa-rupa kagiatan. Ti mimiti jalan-jalan ka Anyer, nepi ka sarupaning bazaar, fashion show atawa ngayakeun seminar-seminar nu aya pakaitna jeung kabutuhan pembaca eta majalah.
Tetela, ku eta majalah, fungsi milis teh dioptimalkeun. Sanajan, dina raraga marketingna, siga katingal di luhur, eta majalah teh ngalaksanakeun atawa ngamangpaatkeun naon nu disebut mix media marketing. Teu ngan ngandelkeun hiji media.
Ngamangpaatkeun milis salaku media community relation siga kitu, atawa salaku instrumen marketingna pisan, oge dilakukeun ku sawatara pausahaan. Utamana, nu kuring katingal, pausahaan otomotif. Sawatara produk nu dikaluarkeun ku maranehannana, sok terus dibarungan ku ayana milis komunitas nu make eta produk. Dina eta milis, sing sakur nu make eta produk bisa silih tukeur informasi. Lengkep jeung acara kopdarna, kopi darat. Kituna teh, lian ti milis, oge sok dibarungan ku mucunghulna kleub-kleub otomotif pakait jeung produk tadi. Saliwatan mah siga nu heueuh inisiatif masarakat. Padahal, aya leungeun nu meh teu kadeuleu nu ngahirupkeun eta "inisiatif".
Geus puguh ari sarupaning pausahaan komputer mah. Meh unggal bulan, sakapeung dua minggu sakali, kuring meunang news letter ti hiji milis nu dikokolakeun ku hiji distributor komputer di India jeung hiji hotel di Phuket, Thailand. Eusina, lian ti hahargaan produk-produk nu dijual ku manehna, oge sawatara artikel ngeunaan TI jeung telematika. Ngiluan eta milis teh lain pedah kuring hayang dagang komputer. Tapi, ku hayang nyaho bae gambaran kaayan kahirupan TI di ditu, bari meunang data ti lapangan, oge...haratis. Sanajan, seuseuhannana, teu kabeh informasi bisa kaharti, bisa mangpaat -- da sakapeung, keur kuring, teknis teuing. Ari nu di Thailand mah, nu remen midangkeun acara keur lalaki, murni gagayaan bae. Ambeh katingal kuring sok sare di hotel.
Tangtuna, lain lembaga-lembaga komersial bae nu ngadangkal nyieun milis keur ngawangun komunikasi dua arah bari jeung leuwih personal eta. Kalangan LSM jeung partai politik ge teu saeutik nu ngamangpaatkeun ieu teknologi. Di antarana, nu paling "organized", Jaringan Islam Liberal. Malah, ceuk pamanggih kuring, di antara LSM nu aya, nya JIL nu paling sadar media. Lian ti milis teh, pan maranehna mah tapis pisan nulis di koran, nyieun acara radio, ngayakeun diskusi, nerbitkeun buku, jste. Pon kitu deui sawatara organisasi kaagamaan, boh Islam boh non Islam. Embung eleh dina ngamangpaatkeun fasilitas murah meriah nu ngaranna milis pikeun nyebarkeun ide-idena, paling heunteu dina ngalakukeun community relation-na.
Mun pihak swasta sakitu motekarna dina ngamangpaatkeun milis, kumaha birokrasi urang? Siga nu disigeung di luhur, asana, euweuh pipikiran pejabat pamarentahan urang pikeun ngamangpaatkeun milis salaku media komunikasi. Utamana, dina raraga community relation tea. Tangtu lain maksud kuring rek nyebutkeun yen euweuh pagawe pamarentahan nu melek internet atawa sarupaning kitu. Malah, pan, dina perkara ieu, teu saeutik PNS nu oge kaasup "aktivis" milis. Tapi, icikibung maranehna teh leuwih ku inisiatif pribadi. Lain ku alatan tugas, dina harti boga misi nepikeun sora atawa ngawakilan kapentingan lembaga tempat manehna gawe.
Aya ketang, nu kungsi kabaca ku kuring, hiji perwira di Mabes ABRI nu "diteundeun" di salah sahiji milis. Utamana keur ngaladenan provokasi aktivis-aktivis atawa simpatisan GAM. Tapi, eta mah bisa disebut hiji "anomali". Lain sipat atawa beleid umum pamarentahan urang. Sakanyaho kuring, euweuh misalna hiji milis kakotaan/wewengkon nu diadegkeun ku humas atawa hiji dinas di hiji kota atawa kabupaten, oge dimoderatoran ku maranehna, nepi ka warga kota atawa saha bae nu boga karep bisa nanya atawa madungdengkeun hiji pasoalan nu aya di eta wewengkon.
Bisa jadi, maranehna lain teu boga pipikiran ka dinya. Tapi, pipikiran eta teu dijalankeun. Sangeuk ngalakonannana. Enya, kabayang misalna mun eta milis diadegkeun ku Pemkot Bandung. Geus pasti moderatorna pada mentog. Atuh, maranehna pakepuk ngajawab patanyaan nu meh taya eureunna. Ku naon AACC diidinan ngayakeun haul John Lennon? Ku naon Rumentang Siang rek dijual? Ku naon Pasar Anyar make kudu direnovasi? Kumaha prak-prakannana mun urang rek ngadegkeun masigit? Ku naon jalan layang Pasopati karah ka nambah macet Jalan Suci? Kunaon Saritem teu dibuburak? Kumaha carana sangkan industri jin di Jl. Pajajaran hirup deui? Wah, matak lieur.
Teuing tah lamun Presidenna urang PKS mah. Bisa jadi, aya staf-staf humas kabupaten atawa provinsi nu oge ditugaskeun jadi moderator atawa ngilu icikibung dina milis-milis. Paling heunteu, milis kakotaan nu aya di wewengkonna. Naha bet PKS? Pedah bae, di antara partey nu aya kiwari, nu pangkatingalina "milis minded" teh nya urang-urang PKS. Bubuhan, meureun: Anggota atawa simpatisan PKS mah lolobana barudak ngora. Ari kultur internet tea, utamana milis, pan sasatna kultur barudak ngora? Malah, bisa disebut kultur rumaja. Tapi, justru alatan kultur budak ngora eta, satemenna ieu hiji investasi nu pang...
Wallohualam.

29 Januari 2005