<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936</id><updated>2011-04-21T14:33:21.309-07:00</updated><title type='text'>pangacaprukan</title><subtitle type='html'>Koleksi pangacaprukan kuring ngeunaan sawatara hal. Umumna sok diposting di milis urangsunda, yahoogroups.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-6084168317633051768</id><published>2009-05-31T13:37:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T13:38:38.773-07:00</updated><title type='text'>OUTLINE DAN PENUGASAN</title><content type='html'>OUTLINE DAN PENUGASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUBRIK                     : MIMBAR UTAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASALAH                 : VISI EKONOMI CAPRES-CAWAPRES&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIBERIKAN                 : SENIN, 1 JUNI 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEADLINE                  : RABU, 3 JUNI 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASALAH :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampanye Pemilu Pilpres 2009 sebetulnya baru akan dimulai 3 Juni 2009. Namun, saling serang dan saling lempar visi sudah dimulai sejak awal. Demikian pula reaksi dari masyarakat terhadap para calon yang ada. Di internet, khususnya facebook, misalnya, sejak lama beredar poster yang merujuk ke “anti Prabowo dan Wiranto” – terkait dugaan pelanggaran HAM yang mereka lakukan di masa lalu. Demikian juga dengan tuduhan “neolib” yang dilayangkan ke Boediono, yang juga akan berdampak kepada SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Mimbar Utama kita kali ini akan mencoba focus kepada visi ekonomi para capres-cawapres itu. Apa sebetulnya visi ekonomi mereka itu? Juga penjelasan di balik masing-masing visi tersebut. Apa sebenarnya yang dimaksud Prabowo dengan Ekonomi Kerakyatan yang disebut-sebutnya itu? Bagaimana aplikasinya dalam praktik ekonomi, politik, dan pemerintahannya kelak bila ia terpilih? Bukankah, “ilusi” ini sejak lama digembar-gemborkan pemerintah – bahkan para founding father, meskipun tentu saja dengan nama berbeda? Tapi, praktiknya? Sampai kini tak pernah  nyata terwujud.  Mungkinkah hal itu bisa diterapkan pada konstalasi ekonomi global sekarang ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan, dengan Prabowo sebagai Prabowo dan marketing tool, masyarakat paham akan kelemahan dan kelebihan masing-masing pasangan. Termasuk, dan terutama, integritas mereka. Juga, pola dan metode black campaign yang terjadi selama kampanye Pilpres ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cover story ini akan terdiri dari enam bagian, dengan rincian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.         Bagian I: Ekonomi Kerakyatan dan Integritas Prabowo                   4 Halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.        Bagian II: Visi Ekonomi Capres-cawapres lain.                                              4 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.        Bagian III: Komentar pelaku usaha terhadap masing-masing visi.     2 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.        Bagian IV : Black Campaign dalam kampanye Pilpres.                     2 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.        Wwc:  Prabowo                                                                                       4 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.        Bagian V : Analisis Refrisond Baswir.                                                           2 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.        Bagian VI: Analisis EMS                                                                                2 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total                         18 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan lebih jauh tentang masing-masing bagian bisa dilihat di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian I: Ekonomi Kerakyatan dan Integritas Prabowo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ini akan diawali dengan hiruk pikuk persiapan Pilpres selama ini, dengan lebih focus kepada aktivitas Prabowo dan saling serang antar kubu yang terjadi selama ini (Lihat apa yang ditulis dalam rubrik Politik Mimbar edisi 3). Di sini, disinggung pula fenomenalnya Prabowo Subianto dalam Pemilu kali ini. Mulai dengan perolehan suara Gerindra yang lumayan, sebagai partai baru dan gaya kampanyenya yang “agung” dan percaya diri, sekaligus sangat “pro rakyat” dan “ekonomi kerakyatan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu, kubu SBY pun dituduh sebagai penganut mazhab neolib. Terutama, dengan hadirnya Boediono sebagai calon Wakil Presiden. Disebutkan, misalnya, alasan apa yang melatari tuduhan tersebut. Apakah semata-mata karena ia pernah bekerja di IMF? Atau, bagaimana? Sebab, kalau saja hanya semata pernah bekerja di IMF, tak hanya Boediono yang bisa dikategorikan “neolib” – Burhanuddin Abdullah, Sri Mulyani, dan ekonom Indonesia lainnya banyak yang pernah bekerja di IMF. Karena itu, ihwal tudingan “neolib” itu harus bisa dijelaskan secara meyakinkan. Atau, tuduhan itu samata-mata black campaign yang berniat membunuh karakter Boediono (SBY) sekaligus menggugah emosi masyarakat – yang notabene “dirugikan” dengan globalisasi dan neoliberalisasi yang terjadi di seluruh dunia sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, tulisan difokuskan kembali ke konsep ekonomi Prabowo. Selain persoalan mungkin-tidaknya konsep ekonomi kerakyatan diterapkan, bagaimana dengan integritas Prabowo (dan Megawati) sendiri? Apakah selama ini ia mencerminkan sikap dan gaya hidup yang “ekonomi kerakyatan”? Terutama karena di situs resmi Gerindra, ia juga memasang fotonya sedang menaiki kuda, yang konon harganya miliaran? Ini bagaimana? Pun sepakterjang dia lainnya. Termasuk kekayaannya: Bagaimana dia bisa mengumpulkan harta yang mencapai triliunan? Padahal, ia “hanya” pensiunan tentara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis kegiatan dia selama ini: Mulai dari sebagai Danjen Kopassus sampai kegiatannya sebagai purnawirawan. Apakah semua itu mencerminkan ekonomi kerkayatan? Lebih dari itu, sejauh mana keberhasilan dia dalam menerapkan ekonomi kerakyatan tadi? Baik sebagai Ketua HKTI, HNSI, maupun Ketua Pedagang Pasar Seluruh Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga prilaku pribadi dan politik Megawati selama ini: Apakah dia mencerminkan sikap ekonomi kerakyatan? Baik sebagai Presiden dan Ketua Umum PDIP?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANGLE: Ekonomi Kerakyatan dan integritas para penggagasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER dan PERTANYAAN:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.         Prabowo Subianto : Lihat daftar pertanyaan untuk wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.        Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo : Apa komentar dia terhadap visi ekonomi kerakyatan yang diusung Prabowo CS? Apa pula komentarnya terhadap tuduhan “neolib” yang dituduhkan lawan-lawan SBY terhadap Boediono? Menurut dia, apa sebenarnya yang dimaksud dengan neolib itu? Adakah sekarang ini perekonomian yang bebas dari neolib? Cina? Artinya, mungkinkah kita menerapkan “ekonomi kerakyatan” ala Prabowo itu? Bagaimana dengan konsep ekonomi SBY sendiri? Bagaimana kiatnya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 7%? Mungkinkah? Apa pula komentar dia dengan konsep ekonomi yang diusung JK-Win? Di mana kekurangan dan kelebihannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.        Rizal Mallarangeng : Idem dengan pertanyaan untuk Hadi Oetomo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.        Ketua Partai Gerindra Suhardi : Idem dengan pertanyaan untuk Prabowo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.        Pakar/pemikir ekonomi PDIP : .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.        Pakar/pemikir ekonomi Golkar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.        Pakar/pemikir ekonomi Demokrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.        Thoby Mutis (Pakar ekonomi Untar, Bekas Ketua Dekopin itu): Apa komentar dia terhadap gagasan Prabowo itu? Menurut dia, mungkinkah menerapkan ekonomi kerakyatan seperti yang dimaksud Prabowo itu, terutama ketika kita sudah terbebat ketat ekonomi global yang cenderung tidak pro ekonomi kerakyatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.        Pakar Komunikasi Massa : Apa komentar dia tentang gaya berkampanye masing-masing capres-cawapres? Khususnya Prabowo yang, dalam beberapa hal, tidak sejalan dengan konsep yang diusungnya? Bicara soal ekonomi kerakyatan, tapi kudanya berharga miliaran? Apakah itu mencerminkan Prabowo tidak memiliki integritas? Atau, memang tak ada kesejalanan antara gaya hidup dengan konsep politik? Lalu, di mana otentisitas seperti yang dulu pernah dilontarkan almarhum Nurcholis Madjid?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FOTO:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.         Prabowo Subianto sedang naik kuda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.        Rizal Mallarangeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.        Suasana di sebuah perkampungan nelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.        Suasana di sebuah pasar tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAG II: Menguji Konsep Ekonomi Capres Non Mega-Pro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ini mencoba memaparkan, sekaligus mengkritisi konsep atau visi ekonomi yang diusung para capres-cawapres non Mega-Pro. Kenapa, misalnya, SBY-Boediono cenderung konservatif dalam menentukan target pertumbuhan ekonomi? Apa dasar-dasarnya? Dan bagaimana peluang serta teknis yang akan mereka ambil, bila terpilih, dalam meraih target tersebut? Sektor apa yang akan digenjot?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan konsep/visi ekonomi JK-Win, yang kelihatannya sangat optimistis. JK-lah di antara para capres yang menjanjikan pertumbuhan ekonomi paling tinggi. (TOLONG DICEK LAGI, ketika TOR ini dibuat saya lagi jauh dari internet). Apa alasannya mereka mentargetkan seperti itu? Dan kiat apa yang mereka lakukan untuk mencapainya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain penjelasan dari masing-masing kubu, dipaparkan juga kritik terhadap konsep ekonomi mereka itu. Baik dari kalangan politisi, pakar, maupun pengusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANGLE: Realibilitas konsep ekonomi capres non Mega-Pro?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.         Jusuf Kalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.        Pemikir/ekonom Golkar-Hanura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.        Pemikir/ekonom PDIP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.        Anggota Komisi IX DPR-RI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.        Faisal Basri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.        Thoby Mutis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.        Sofyan Wanandi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.        Ketua Kadin MS Hidayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FOTO:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.         SBY sedang meresmikan panen raya padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.        JK bersama para pedagang atau pengusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.        MS Hidayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.        Sofyan Wanandi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.        Thoby Mutis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian III : Komentar Pengusaha terhadap Konsep/Visi Ekonomi masing-masing Capres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ini merupakan galeri pendapat sejumlah pengusaha terhadap gagasan ekonomi para capres-cawapres. Artinya, memaparkan komentar dan pendapat sejumlah pengusaha terhadap visi/konsep ekonomi para capres apa adanya.Tanpa harus dirangkai lagi dalam sebuah tulisan berupa esai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus pertanyaan : Di mata mereka, konsep ekonomi mana/siapa yang paling masuk akal? Mungkinkah visi/konsep dan target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan para capres itu bisa tercapai? Apa alasannya? Menurut mereka, sektor mana yang harus digenjot atau dibenahi? Sejauh ini, persoalan apa yang menghambat pertumbuhan ekonomi kita? Benarkah fundamental ekonomi kita sudah oke? Bagaimana dengan visi ekonomi Prabowo Subianto, yang mengusung ekonomi kerakyatan? Apakah ide ini cukup masuk akal untuk diterapkan? Terurama sekarang ini? Atau, itu benar-benar konsumsi politis alias sebuah konsep yang hanya indah diucapkan tapi tak mungkin diterapkan? Bukankah konsep itu sudah lama didengung-dengungkan? Tapi, penerapannya? Dst-dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANGLE : Mungkinkah konsep/visi ekonomi para capres/cawapres itu diterapkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.         Sofyan Wanandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.        MS Hidayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.        Ketua Gaikindo Agus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.        Ketua Migas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.        Ketua &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.        Pedagang di Pasar Senen atau kakilima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FOTO: Masing-masing sumber yang diwawancarai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAG. IV : Saling serang dalam Kampanye Pilpres 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ini memaparkan saling serang antar kubu di luar perkara ekonomi. Apa, misalnya, yang dituduhkan kubu SBY-Boediono terhadap JK-Win maupun Mega-Pro. Demikian juga serangan, dan pembalasan, kedua kubu tadi terhadap SBY-Boediono – di luar soal neolib, yang sudah kita bahas pada edisi 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan bisa dimulai dengan laporan pandangan mata terhadap spanduk-spanduk yang ada di jalan-jalan, kemudian ucapan-ucapan masing-masing kubu di media massa. Lalu, komentar masing-masing penyerang maupun yang diserang. Untuk menjaga keberimbangan, masing-masing kubu kita paparkan – baik serangan maupun tangkisan masing-masing. Secara aple to aple.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, komentar Panwaslu. Apa komentar mereka terhadap gaya dan praktik kampanye yang terjadi para wapres selama ini? Apakah sejauh ini masing-masing masih berada dalam koridor aturan yang ada? Pun masih dalam tataran etika? Bagaimana dengan “kampanye” yang terjadi sebelum 3 Juni 2009? JK, misalnya, dilaporkan menemui para kiai, Sultan, pedagang, dab? Apakah itu tak bisa disebut sebagai mencuri start? Demikian juga dengan SBY dan Prabowo? Mega-Pro mendeklarasikan diri berkali-kali – termasuk di Bantargebang – apakah itu bukan bagian dari kampanye? Apakah hal seperti itu diperbolehkan? Dan secara etis, etiskah cara mereka itu (deklarasi di Bantargebang, sementara Taufik Kiemas sendiri tak kuasa turun dari bis – karena “bau” dan kepayahan dengan tubuhnya yang tambun)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa komentar para akhli media massa dan pengamat politik: Apakah cara kampanye masing-masing capres ini masih bisa dinilai elok? Alias belum kebablasan, menjadi black campaign misalnya? Sebenarnya, black campaign sendiri diperbolehkan tidak sih dalam kode etik kampanye? Menurut mereka, gaya berkampanye siapa yang lebih berhasil (dalam meraih perolehan suara kelak)? Prabowo yang mengusung ekonomi-kerakyatan? (Tapi, kudanya miliaran?) SBY yang nyaris tak terdengar, kecuali suara para pendukung atau tim suksesnya? Atau, JK-Win yang kelihatan agresif dan gerak cepat – sesuai dengan mottonya, “lebih cepat, lebih baik”? Apa penjelasan lebih jauh tentang pendaapatnya itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah gaya berkampanye seorang kandidat ikut menentukan perolehan suara kelak? Mana yang lebih penting: Figur, konsep/gagasan, atau “gaya” dalam meraih simpati pemilih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mereka, key issue apa sejatinya yang menjadi tema pokok kampanye para capres sekarang ini? Apakah tema ekonomi seperti terjadi sekarang cukup tepat? Termasuk, dan terutama, untuk rakyat kebanyakan? Bukankah tema penegakan hukum akan lebih menyentuh? Atau, kalaupun soal ekonomi, focus ke salah satu sektor? Pertanian, misalnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.         Efendi Ghozali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.        Djalaluddin Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.        M.Qodari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FOTO:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.         JK-Win di sebuah pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.        SBY-Boediono di depan para mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.        Mega-Pro di Bantargebang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WWC: Prabowo Subianto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTANYAAN POKOK:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.         Apa sebenarnya yang Anda maksud dengan Ekonomi Kerakyatan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.        Apa yang akan menjadi fokus atau primadona dalam pelaksanaan konsep tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.        Apa kira-kira hambatannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.        Mungkinkah konsep tersebut diterapkan, terutama dalam konstalasi ekonomi global sekarang ini, yang sangat kapitalistik dan pasar bebas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.        Adakah negara yang sukses menerapkan konsep sosialistis seperti “ekonomi kerakyatan” yang Anda maksud itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.        Anda yakin tema ini akan berhasil menarik simpati pemilih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.        Berapa target perolehan suara Anda dengan mengusung tema “ekonomi kerakyatan” tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.        Bagaimana dengan gaya hidup Anda sendiri yang dinilai tidak mencerminkan “ekonomi kerakyatan” tadi? Bahkan, dalam situs resmi Gerindra ada foto Anda sedang menaiki kuda, yang konon harganya miliaran? Anda tak merasa rikuh menampilkan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.        Banyak pihak menilai, Anda tidak memiliki integritas karena konsep “ekonomi kerakyatan” Anda tak selaras dengan gaya hidup Anda. Komentar Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.      Anda yakin hal itu tak akan menghalangi pemilih untuk memilih Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.        Pun sepak terjang bisnis keluarga Anda selama ini? Apakah ini tak akan menjadi kelemahan Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maman Gantra&lt;br /&gt;Jalan Salemba Tengah 51,&lt;br /&gt;Jakarta 10440.&lt;br /&gt;0812-940-5441&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-6084168317633051768?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/6084168317633051768/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=6084168317633051768' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/6084168317633051768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/6084168317633051768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2009/05/outline-dan-penugasan.html' title='OUTLINE DAN PENUGASAN'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116625033711305904</id><published>2006-12-15T22:24:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T22:25:37.293-08:00</updated><title type='text'>Siapa Elo?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Harita teh masih harengheng ku reformasi. Soeharto geus turun. Digantikeun ku Habibie. Sawatara aktivis kasampak keur guntreng. Nyawalakeun soal pemilihan langsung jeung saha-sahana nu pantes dicalonkeun jadi Presiden. Habibie sorangan geus pasti dicaroret ku maranehna. Da, manehna pan "Orde Baru" jeung "Orang Soeharto" pisan.&lt;br /&gt;Sabenerna mah rada aneh oge "larangan" keur Habibie teh. Pan, kuduna, mun urang tuhu kana demokrasi, saha bae ge meunang atawa boga hak nyalonkeun dirina jadi Presiden. Dalah garong ge, ceuk babasananna, meunang. Asal nyumponan sarat-saratna. Tapi, ngaranna ge "reformasi". Eta larangan teh "asup akal" oge.&lt;br /&gt;Kuring pangangguran nanya saha-saha bae ngaran nu geus disebut dina eta obrolan teh. Sawatara ngaran disebut ku maranehna. Ti mimiti ekonom, pengamat politik, aktivis HAM, nepi ka seniman. Kuring nyengir ngadenge kitu teh. Lain nanaon, nu kasawang ku kuring, mun tea mah sistem pemilihan langsung rek dilaksanakeun, saha nu rek marilih eta inohong-inohong? Di Jakarta, atawa di kalangan maranehna, atawa di kalangan "terpelajar" tea, eta ngaran teh matih. Tapi di jalma loba mah can karuhan.&lt;br /&gt;Ningali kuring nyengir, nu saurang asa aya nu mangmeunangkeun. "Tuh, kan?," ceuk manehna. Tayohna, eta budak teh ti tatadi skeptis jiga kuring. Lain perkara pamohalan heunteuna, tapi, nya teu realistis bae. Paling heunteu, mun tea mah ngaran-ngaran eta rek "ditawarkeun",  butuh mesin politik nu hade, nu oge hartina butuh dana nu gede. Keur "mensosialisasikeun" ngaran-ngaran tadi.&lt;br /&gt;Tapi, lawan eta budak, di antarana nu karek lulus sakola di Inggris, keukeuh kana pamanggihna. Lian ti nyebut lolongkrang ngadegkeun partai politik anyar, maranehna yakin jaringan LSM jeung aktivis, oge media, bakal ngadukung eta calon. Malah, budak nu karek datang ti Inggris mah keukeuh, yen seniman nu diusulkeun ku manehna dipikawanoh ku jalma loba. "Tiap minggu dia nulis di majalah," ceuk manehna, nganggap tiap jelema Indonesia maraca -- utamana maca majalah nu disebutna, bari di mana maraca eta majalah ge, can tangtu maca tulisan eta inohong. Tayohna, manehna kagendam ku Vaclav Havel, penyair nu manggung jadi presiden di Ceko.&lt;br /&gt;Sabalikna, budak nu asa dipangmeunangkeun tea, keukeuh teu percaya. Sanajan geus dibantuan ku partai, LSM, jeung media ge, manehna yakin yen inohong-inohong tadi moal matih. Moal loba nu milih. Hartina, mun rek dilakonan teh karah ka gaplah. Euweuh gunana. "Kalaupun mau, butuh kampanye intesif dua atau tiga tahun. Itupun harus disertai tim kampanye yang bagus," ceuk manehna.&lt;br /&gt;Ningali kitu, deui-deui, pangangguran kuring  ngomong: "Test saja. Bawa calon-calon Anda itu jalan-jalan ke daerah. Orang kenal mereka, nggak?" ceuk kuring.&lt;br /&gt;Teu nyana, omongan pangangguran teh ditarima ku maranehna. Mani giak. Maklum aktivis, harita keneh maranehna ngatur kumaha prak-prakannana. Saha ngahubungi saha, saha ngagawekeun naon, jste. Kuring sorangan teu ulubiung. Harita keneh balik, inget boga sabaraha film nu can dilalajoan. Ongkoh, ka tempat eta teh pangangguran bae. Euweuh gawe. Pon kitu deui milu mairan obrolan nu nyampak.&lt;br /&gt;Teu nyana, dua atawa tilu poe ti harita, aya nu nelpon. "Kang, besok kita jadi, lo. Anda ikut, kan?," ceuk eta nu nelepon. "Ikut apa?," ceuk kuring. "Lo, gimana? Anda sendiri yang ngusulin, kok?," ceuk manehna, bari nyabit-nyabit obrolan sawatara poe ka tukang. Ceuk manehna, ku dibibita ulin jeung refreshing, sawatara inohong nu kamari disebut-sebut teh daraekkeun diajak jalan-jalan. Kaasup nginjeumkeun mobil, supir, jeung (tangtu bae) bengsinna. "Pokoknya beres, Kang. Besok kita start jam 7," ceuk manehna.&lt;br /&gt;Pondok carita, isukna kuring geus nyemprung di toll Cikampek. Dua inohong, nu teu kaasup "calon", ekonom jeung pengamat politik, ngarilu dina mobil kuring. Aranjeunna, cenah, wegah ngangge mobil ku anjeun. Lima mobil lianna, nu naluturkeun, ditarumpakan ku "calon-calon" lianna. Teu kabeh nu disebut dina paguneman nu kabandang ku eta barudak teh. Ngan aya tiluan: Si seniman, ekonom, jeung aktivis HAM.&lt;br /&gt;Geus paheut, tempat nu dijugjug teh Cirebon. Ngan, jalanna muter. Teu ka Pantura. Mengkol heula ka Purwakarta, naek ka Wanayasa, turun ka Sagalaherang, lempeng ka Kasomalang, Cisalak, Tomo, Kadipaten, Jatiwangi, Ciledug. Ku kuring rek dibawa sare di Trusmi. Kabeneran aya kawawuhan nu keur riset di dinya, ngontrak imah heubeul nu lumayan gede. Di mana teu cukup ge, atawa ngarasa sareukseuk ningali kaayaan eta lembur, sawareh sina ka karota bae. Sina nareangan hotel,  ngatur diri sewang-sewangan. Bongan.&lt;br /&gt;Di Wanayasa rombongan eureun. Ngadon ngopi jeung ka cai. Malah aya nu ngadon dahar sagala. Pajarkeun teh, basa rek miang teu kaburu mumuluk heula. Padahal mah teu kuat bae ningali maranggi nu pating polotot, adu manis jeung beuleum ketan.&lt;br /&gt;Siga nu dipaheutkeun di Jakarta, kuring sabatur-batur teu meunang narik perhatian nu kaleuleuwihi. Komo, nu sipatna ngojok-ngojok atawa sarupaning "kampanye" mah. Pokona, ieu mah ulin bae. Sakalian ngetest, naha jalma loba nyarahoan atawa warawuheun heunteu ka na beungeut eta para inohong. Cukup beungeut. Ku angkanan, mun nyaho beungeutna, pasti nyaho kana "kainohongan" aranjeunna.&lt;br /&gt;Hasilna? Nyamos. Euweuh saurang-urang acan jelema nu mere perhatian leuwih ka eta inohong-inohong teh. Boh di restoran, di pasar, di tempat ngompa ban, atawa di Trusmi pisan. Di mana aya ge, nya sailaharna tukang warung ngaladenan nu meuli bae. Teu harib-harib kana nyaho yen jalma nu diladenannana teh inohong penting -- keur sawatara urang Jakarta mah. Paling ge perhatian nu aya teh perhatian ilaharna urang lembur ningali rombongan urang kota, nu nepi ka genep mobil. Teu leuwih, teu kurang.&lt;br /&gt;Nu lucu, bari matak ngahelas, kajadian di Kadipaten. Mangsa rombongan dahar beurang. Geus kaerong ti anggalna,  rombongan nu nepi ka 18 jalma teh moal cukup di hiji meja. Kabeneran, si seniman, nu mashur di antara aktivis jeung intelektuil lianna, misahkeun maneh. Katingalna mah nampi telepon atawa nelepon. Atuh, nu ngaladenan ge mikeun dahareun teh ka meja anjeunna. Anjeunna ge teu seueur saur, beres teteleponan, bari tuangeun tos nyampak, am bae tuang di dinya. Nyalira.&lt;br /&gt;Keur anteng tuang, torojol tukang parkir asup. Nyampeurkeun meja si seniman tadi. "Mas Supir, mobilnya bisa digeser sedikit? Ada yang mau masuk!," ceuk si tukang parkir, mani tarik. Ngadenge kitu, atuh kabeh carolohok meunang sajongjonan mah. Kaasup si seniman. Teu lila, ger seuri meh eak-eakan. Budak nu ngarasa mobilna ngahalangan nangtung, ngayonan pamenta si tukang parkir nu rungah-ringeuh bari bangun bingung. Si seniman ukur mesem, bari gogodeg.&lt;br /&gt;Tina kituna mah kaharti. Eta inohong teh, sanajan sok ngangge raksukan nu cenah kaetang branded, bari sakapeung sok nyesep surutu, kawilang basajan. Da seniman tea -- meureun. Nepi ka awam mah sok katipu. Komo mun anjeunna nuju teu parurun mah. Kucel, kerung, bari lambey manyun. Moal nyangka yen anjeunna teh jalma penting, lain bae "dipikawanoh" di urang tapi oge di mancanagara. Lian ti kitu, harita anjeunna  ngadon misahkeun anjeun. Atuh, inohong nu ku sawatara jalma dihormat didama-dama teh, ku si tukang parkir mah, dianggap supir.&lt;br /&gt;Basa rek hanjat ka nu mobil, budak nu baheula asa dipangmeunangkeun noel leungeun kuring. Bari ngareret ka "lawan-lawanna", manehna mesem jeung ngaharewos. "Emang, siapa elo?," ceuk manehna. Kuring surti pisan kana polah eta budak: Urang remen ditalikung ku pangaweruh, lingkungan jeung pangalaman sorangan. Nepi ka, sakapeung, ngarasa ge-er. Asa pangna... Kituna teh bari nyapirakeun batur.&lt;br /&gt;Enya di lingkungannana mah, sarupaning cerdik cendekia tea, eta inohong teh dipikawanoh bari jeung didama-dama pisan. Malah teu sirikna dianggap dewa. Tapi, keur tukang parkir mah, nya dianggap ilaharna supir bae. Pon kitu deui si tukang parkir, sarua: Kakurungan ku pangaweruh jeung lingkunganana tea. Keur manehna mah, meureun, inohong teh taya lian ti sarupaning Camat, Lurah, kiai, jeger pasar, juragan pabrik kenteng, atawa reserse ti kantor Polres, nu sok pirajineun mere udud atawa menta udud. Di luar eta, nya... siapa elo?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Salemba Tengah,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;urangsunda, Sun Jan 22, 2006 12:54 pm &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116625033711305904?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116625033711305904/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116625033711305904' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116625033711305904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116625033711305904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/siapa-elo.html' title='Siapa Elo?'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116625022910347811</id><published>2006-12-15T22:20:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T22:23:49.596-08:00</updated><title type='text'>Heureuy Enya, Heueuh Ongkoh</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;(Keur sawatara surat jeung komentar #1)&lt;br /&gt;Pakait jeung pangacaprukan kuring sawatara minggu ieu, aya sabaraha serelek nu asup kana koropak kuring. Eusina rupa-rupa. Aya nu sakadar hayang silaturahmi, aya nu nanya leuwih jauh ngeunaan prak-prakkan nulis, kaasup nanyakeun naon nu kira-kira kudu ditulis ku manehna. Malah, aya oge nu patanyaanna kawilang orsinil atawa "genuine" tea: Dina waktu kumaha alusna urang nulis? Geu puguh nu nanyakeun naon pagawean kuring sabenerna. Eta bae,cenah, ku bisa-bisana ngacapruk nepi ka ngayayay kitu. Aya oge nu ngadon ngananaha atawa "nyarekan" pisan. Ku naon kuring teu nulis dina koran atawa media nu ilahar lianna. "Pan, akang wartawan. Minimal pernah gawe di majalah," kitu ceuk eta surat.&lt;br /&gt;Hanjakal di antara sawelas surat teh euweuh nu nanyakeun nomer rekening (listrik) atawa mere order nulis atawa ngengken seminar. Teuing teu nyaho, teuing teu percaya, teuing minder, sieun teu kuat mayarna, atawa medit pisan. Teuing. Komo, nu ngajak kawin mah. Euweuh saurang-urang acan. Padahal, di antara nu nulis surat teh tujuh di antarana mah (kacirina) awewe, jeung pantesna teh gareulis jeung sareungit. (Dimana aya ge nu ngajak kawin, nu kitu mah rek...ditarima! Bae dimusuhan ku Bah Willy jeung Teh Imas ge).&lt;br /&gt;Saencan kuring ngacapruk ngeunaan hal eta, idinan kuring menta hampura jeung nganuhunkeun. Menta hampura, kahiji, rumasa teu bisa males kabeh surat. Lain teu hormat, ngan pegel we mun kudu ngawalonan hiji-hiji mah. Sawatara surat lianna ge, nu leuwih heula datang, jeung "leuwih penting", masih keneh aya nu can dijawab. Nya, ku cara males berjamaah kieu eta surat teh dijawab jeung dikomentarannana. (Ka Teh Gilang di Nyi Sunda, hapunten pisan kamari lepat nyerat nami. Oge, punten ayeuna disebat-sebat deui di dieu. Sanes nanaon, nya ku hoyong we...).&lt;br /&gt;Kadua, kuring menta hampura pedah rumasa munapek. Munapekna? Nya, munapek bae. Dina pangacaprukan kuring salila ieu, langsung teu langsung kuring nyebutkeun mangpaat atawa kaleuwihan milis nu miboga sipat langsung, dua arah, spontan, personal, jste. Tapi, prak-prakannana kuring sok siga nu api lain kana pananya atawa pangbagea batur. Malah, sok tinggaleun informasi pisan. Kaasup soal pasamoan di Dago Tea House. Nyaho teh bane bae Kang Agus nga-SMS. Bari kuringna teu bisa datang. Aya pagawean nu kudu rengse poe Senenna.&lt;br /&gt;Polah kieu teh taya lian ku arangna kuring browsing ka milis. Kaitung remen ari muka email mah. Ngan, lian teu bisa lila-lila teh, sakalina muka, sok pasesered jeung perkara lianna. Boh perkara nu pakait jeung nyiar kipayah, boh nu pakait jeung nyiar kutu. Atuh, rek noongan teh kaburu belel panonna. Jeung deui teu arang muka emailna ge ngandelkeun kahaat pamajikan. Tina HPna. Teu bisa browsing pisan.&lt;br /&gt;Ari dina mimilisan ieu, umumna kuring make modus no-email. Atuh kuring teu bisa three in one  jeung nu lianna. (Naon maksudna three in one di dinya? Tong dipikiran teuing. Nyebut eta teh pedah bae inget, nyambung heunteuna mah teuing. Ngaranna ge ngacapruk. Busway!).&lt;br /&gt;Tangtuna lain niat kuring nyapirakeun kusnet ku make cara no-email kitu teh. Atawa kuring teu resep ngabandungan wangkongan nu aya. Resep pisan. Sanajan, enya, rumasa teu bisa ngilu mairan atawa ngengklokan.&lt;br /&gt;Ngan, nyaeta teu kuat ku murudulna. Eukeur mah, pan tadi tea: eemailan teh pakepuk jeung pagawean. Beda jeung Kang Agus, nu boga alamat email nepi ka leuwih ti lima, dina hal ieu, kuring mah tuhu kana pituah Bah Willy. Lain dina perkara pamajikan, tapi dina perkara alamat email: Ngan boga hiji. Aya ketang hiji deui tapi leuwih arang dibukana.&lt;br /&gt;Tuh, pan? Dasar tukang ngacapruk. Rek menta hampura bae karah ka ngawadulkeun perkara alamat email jeung soal pamajikan sagala. Tapi, jeun teuing. Da, beuki. Jeung sirik we ka MJ jeung Kang Boim, nu bisa nulis pondok tapi alus. Geus puguh ari ka Kang Syam mah. Lian ti alus teh, sagala rupa bisa diheureuykeun.&lt;br /&gt;Antukna, dina perkara mimilisan tea, kuring milih modus no-email. Teu kuat ku murudulna. Eta bae kamari nyobaan make daily diguest di gankleboy. Sapoe teh aya kana opat limana. Atuh, cape nga-delete-na. Komo mun urangsunda mah. Geus apal ti baheulana. Ditinggalkeun 10 menit ge, baheula, keur mimiti ngiluan, geus metet koropak teh. Nepi ka Mas Noorca (M.Massardi) mah, urang Sunda hiji-hijina nu kuring disebut Mas, ngan kuat saminggu ngilu urangsunda teh. "Kok, banyak amat, Man?," ceuk manehna, antara reuwas jeung bingung.&lt;br /&gt;Ayeuna, nu sok rada dihajakeun noongan  teh Ki Sunda jeung Baraya-Sunda. Bane bae di dinya aya Kang Rahman, nu ceuk kuring, rada luar biasa. Aya karep ngahijikeun baraya di luar nagri, ku cara mere informasi ngeunaan kaayaan nagara urang. Mostingkeun warta-warta ti koran-koran lokal jeung nasional. Alus pisan, ceuk kuring mah.&lt;br /&gt;Sabab, nu kaharti ku kuring, kumna nu ngilu eta milis, bari jeung teu bisa atawa teu kaburu maca koran, paling heunteu teu kudu mukaan website eta koran. Cukup muka email atawa Baraya-Sunda. Warta-warta nu dianggap penting geus disampakkeun ku Kang Rahman.&lt;br /&gt;Lian ti kitu, kumna anggota bisa silih simbeuh ku komentar jeung pamanggih sewang-sewangan. Hartina oge, wangkongan teh bisa dipancing ku atawa ngeunaan naon nu nyampak dina atawa disampakkeun ku koran. Ayalah istilahna dina elmu komunikasi mah, ngan kuring keur poho. Jeung kateuteuari ngapalkeun istilah ari teu ngarti mah! Ongkoh ieu mah ngacapruk. Sanajan aya sari-sari benerna, leuwih loba heureuyna.  Heureuy enya, heueuh ongkoh.&lt;br /&gt;Intina mah, ceuk eta istilah, aya proses diskusi jeung internalisasi dina diri nu maca ngeunaan informasi atawa beja nu ditepikeun ku media, nu disodorkeun deui ku Kang Rahman di Baraya-Sunda.  Paling heunteu, ku cara siga nu dilakukeun ku Kang Rahman eta, urang moal beakeun wangkongan. Sakaligus teu ngacapruk teuing. Da kawengku ku topik nu disodorkeun ku koran atawa Kang Rahman. Kitu ge meureun, ketang. Boa-boa maksud Kang Rahman mah teu "muluk-muluk" siga kitu. Pangangguran bae, siga kuring ayeuna nyieun pangacaprukan kawas kieu. Heureuy enya, heueuh ongkoh.&lt;br /&gt;Ari noongan Ki Sunda, pedah bae aya paguneman Kang Rahman jeung Kang Nana. Ngeunaan Partey Politik Sunda. Ngan, kamari ditingal teh masih keneh jalan di tempat. Kumaha, Kang Rahman? Teraskeun ulah ieu teh? Asa lebar, tah. Malah, aya salah sahiji serat nu nyebatkeun, pajar teh abdi aktivis jeung politisi? Hahaha... Alhamdulillah.&lt;br /&gt;Kukituna, kuring nganuhunkeun ka sugri nu tos kersa ngintun serat kana koropak sim kuring. Ngan, bongan tadina dina milis, bari tetep teu ngurangan hormat kuring ka aranjeunna, nya urang wangsulkeun deui bae kana milis. Moal, moal naon-naon. Ongkoh: Sekali cuek, tetap beybeh! Insya Allah namina moal disebat-sebat. Ari lain poho mah!&lt;br /&gt;Har, ongkoh rek mairan pananya jeung komentar?  Nya, heueuh. Pan ngacapruk? Kuma kuring we. Jeung deui, soal pananya  jeung komentar mah engke bae. Dina pangacaprukan ka hareupna. Mun pareng. Barina ge siga kiamat rek datang isuk, sagala teh kudu anggeus ayeuna. Dicarekan Gus Dur, siah!&lt;br /&gt;Ayeuna mah sakieu bae heula. Lian ti bisi panjang teuing teh, itu si bungsu geus jejebres bae ti tatadi. Hayang dibantuan ngagawean PR. Ma'lum sakola jaman ayeuna, geus mahal-mahal kaluar duit, keukeuh we urang kudu milu cape. Nyaho kitu mah teu kudu diasupkeun sakola sagala. Mending...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geus, ah. Bisi si Teh Tien kabujeng bendu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;urangsunda, 22 Januari 2006&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116625022910347811?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116625022910347811/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116625022910347811' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116625022910347811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116625022910347811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/heureuy-enya-heueuh-ongkoh.html' title='Heureuy Enya, Heueuh Ongkoh'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116625001362181839</id><published>2006-12-15T22:19:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T22:20:13.723-08:00</updated><title type='text'>DVD Bajakan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Rada era oge maca Bisnis Indonesia poe ieu, Rebo, 18 Januari 2006, kaca T3. Disebutkeun, pamarentah leungiteun pajak nepi ka Rp 10 triliun ku alatan ayana DVD bajakan. Komo, kamari kuring narima undangan ngeunaan seminar pajak. Dina panganteurna disebutkeun, pamarentah ngandelkeun panghasilannana tina pajak nepi ka 60%. Teu aneh, mun jalma siga kuring nepi ka "diaku", "dijelemakeun": Dibere NPWP jeung dititah...ngilu seminar!&lt;br /&gt;Rada era teh lain ku nanaon. Pedah bae kuring rumasa salah sahiji jelema nu resep, jeung diuntungkeun, ku barang bajakan. Da, murah tea. Coba bae, di hareupeun stadion Menteng, Jakarta, nu ngaranna DVD teh ngan Rp 5 rebu sasiki! Nu aslina, nu orisinil, bisa nepi ka Rp 250 rebu. Malah sakapeung aya nu nepi ka Rp 300 rebu. Ari ieu? Ngan 5% tina harga "resmi"! Rek teu murah kumaha?&lt;br /&gt;Kituna teh, siga nu sok dibeulian ku kuring ka ayeunakeun, loba nu mangrupa much in one. Nu hiji CD eusina bisa nepi ka 10 film! Hartina, ngan 0,5% safilm -- tina harga CD asli. Matak, sanajan teu matuh, sakali meuli film teh kuring sok rada "kokomoan". Nepi ka 10 CD, nu lolobana samodel much in one eta. Pokona mah asa ceuyah-lah.&lt;br /&gt;Sakalina euweuh gawe atawa hulu geus pegel, sok ngagoler di hareupeun TV. Lalajo film. Kalan-kalan mah film teuing ka mana, kuring geus ngaguher. Hudang-hudang kageuingkeun ku adan subuh, bari parabotan can diparareuman. Atuh, subuh-subuh keneh pamajikan geus kukulutus. Pajarkeun teh kuring teu nyaah kana barang. Ngadenge kitu, kuring mah sok api-api teu ngadenge. Gura-giru bae ngamparkeun sajadah. Salat subuh. Ku cara kieu dua hal bisa kalakonan: Nohonan piwarang Anjeunna jeung ngeureunkeun nu kukulutus. (Duh, Gusti punten pisan, salat teh karah ka dipake nyumput).&lt;br /&gt;Film-film nu baheula, keur SMA atawa mahasiswa, ngan saukur ngadenge, atawa lalajona kudu ngadangkal ka Decenta, malah kudu ka Jakarta pisan, ka TIM atawa ka imahna Sardono, atawa nungguan acara di Liga Film Mahasiswa ITB atawa di CCF; ayeuna pabalatak meh di tiap emper toko. Ti mimiti film "klasik" kawas Ben Hur, The Sounds of Music, The Godfather, Legends of The Fall, nepi ka film-film Kurosawa atawa sarupaning "film-film Festival". Kabeh aya. Nu euweuh teh ngan film-film Zhang Yimao bae. Kitu ge tayohna, ketang. Jeung nu mangrupa DVD. Da ari nu mangrupa VCD mah kuring kungsi meunang sawatara di antarana -- asana mah kari Red Shorgum bae nu can boga teh. Ongkoh, sanajan hayang, kuring tara maksakeun teuing kukurusukan ka Kota.&lt;br /&gt;Lian ti pabalatak, nu matak helok kuring, film-film nu dibajak teh lain bae film-film nu geus heubeul. Oge nu alanyar pisan. Malah, tong boroning nu can diputer di bioskop, nu can dipreviewkeun ku nu ngedarkeunnana ge, eta film teh geus nyampak di tukang-tukang DVD bajakan tadi. Contona, The Memoirs of A Geisha. Asa karak kamari eta film diwartakeun di media. Tapi, kuring geus meuli eta film dua atawa sabulan ka tukang. Tangtu bae dina wangun DVD bajakan.&lt;br /&gt;Pon kitu deui film-film lianna. Di koran atawa televisi can disebut-sebut, kaasup di Amerikana pisan, di urang geus nyampak bajakannana. Matak, basa keur gawe di majalah keneh, kuring sok mesem bae mun aya budak nu mulang ti acara preview ngadon alewoh ngeunaan film nu dilalajoannana. Lain nanaon. Kuring geus lalajo eta film, tina VCD bajakannana, dua bulan atawa tilu bulan ka tukang. Ku alatan kitu, kuring tara diondang deui ka acara-acara preview kitu teh. Da, sakalina diondang, kuringna tara datang. Keur naon? Geus lalajo ti iraha mula... Jeung geuleuh bae, waktuna teh sok isuk-isuk. Ngangganggu waktu sare kuring!&lt;br /&gt;Matak, minggu kamari mah rada keuheul. Datang ka Menteng rek balanja, singhoreng nu daragang DVD teh suwung. Euweuh hiji-hiji acan. Sugan teh pedah kamarina geus Lebaran Rayagung, nu daragang teh palere. Basa lebaran kamari, oge keur poean Natal, katingalna nu daragang teh teu palere. Padahal, maranehna teh urang Batak, nu pipanteseunnana urang nasrani. Ayeuna meureun perena teh, ceuk pikir. ¨&lt;br /&gt;Tapi, basa pangangguran ditanyakeun ka tukang parkir, singhoreng kamarina geus aya operasi. "Dua orang dibawa ke Polsek, Pak," ceuk manehna. Nyel keuheul. Hanas ngadangkal indit ti imah, budak hayang ngilu ge dicaram. Da, hayang jongjon. Ari ieu? Mangkaning geus "lila" teu meuli film. Panganyarna teh, nya mangsa Natal bae balanja teh. "Tapi, agak malem juga buka, Pak. Jam 9-an," ceuk si tukang parkir. Ah, sarangeuk ari kudu balik deui mah. Belenyeng ka Jalan Sabang. Ditingali teh DVD-DVDna nu sarupaning single, nu eusina ngan sa-film. Kurang meriah.&lt;br /&gt;Sajajalan ka imahkeun kuring kukulutus sorangan. Na, korupsi teh ceuyah-ceuyah teuing?&lt;br /&gt;Enya korupsi. Ceuk kuring mah, nya ku alatan pagebug korupsi nu matak kuring ngarasa keuheul kawas kieu teh.&lt;br /&gt;Ku alatan ayana korupsi eta, pausahaan-pausahaan nu ngedarkeun DVD resmi di urang jadi teu efisien. Lian, oge nya ku sarakah bae. Hayang meunang untung loba jeung gancang. Tuntungna, DVD-DVD resmi jadi "mahal". Ahirna, sawatara nu dagang oge milu korupsi. Nyarieunan DVD bajakan, nu teu kudu mayar pajak atawa royalti ka nu nyieun eta film. Antukna hargana murah. Ngan opat atawa lima kali lipet tina ongkos produksi.&lt;br /&gt;Alatan ku korupsi nu sarua, daya meuli masarakat urang jadi handap. Nya, enya, mun korupsi bisa diteken, pungli-pungli bisa dihapus, pausahaan bisa neken ongkos produksina. Bisa leuwih efisien. Di mana enya mahal ge, moal karasa. Da, daya meulina alus. Harga Rp 250 rebu teh nya karasa murah bae. Tah, daya beli alus ku alatan balarea bisa leuwih produktif.&lt;br /&gt;Wangwangan kuring, ku alatan euweuh korupsi tea, kontraktor nu migawe jalan atawa sakola, oge konsultan-konsultanna, bisa nyieun sakola atawa jalan teh bener-bener "murah" bari alus. Teu jiga kiwari: Karek ge saminggu, ceuk paribasana, geus runtuh deui. Atawa geus bolong deui. Atuh, kapaksa nagara teh ngaluarkeun deui duit keur ngomean eta jalan atawa sakola. Coba mun duitna teu dikorupsi, naha ku cara meleg-meleg atawa korupsi nu "prosedural", nu katingal ilahar, luyu jeung prosedur, tapi ti keur dirarancang keneh sabenerna geus "diembohan", geus teu efisien. Tah duit ladang efisiensi eta, nu teu dikorupsi tadi, bisa dipake keur ngawangun fasilitas lianna, nu bisa ngaraharjakeun balarea. Naha mangrupa sakola anyar, pabrik anyar, atawa hal lianna.&lt;br /&gt;Eta bae, trotoar di hareupeun imah teh asa karak taun tukang dibenerkeun. Ari kamari geus dibenerkeun deui. Malah desain jeung bahanna diobah pisan. Nu tadina make paving block, diganti ku pelur, "K2", diguratan ku batu laleutik. Ku naon, teu sakalian nyieun trotoar teh nu alus, nu bener, nu teu kudu diome-ome nepi ka saratus taun mah? Bisa jadi hargana leuwih mahal, tapi, ku cara kitu, anggaran nu aya teh bisa dipake keur nu lian. Naha nyieun trotoar di tempat lian, atawa nyieun solokan pisan.&lt;br /&gt;Tapi teuinglah. Eta mah Pa Erry bae jeung Kang Tirta nu mikiran. Kuring mah rek ngacapruk deui bae ngeunaan DVD bajakan, jeung karugian nagara nu diwawaas nepi ka 10 triliun tea. Enya diwawaas. Sabab, lain bae jumlah DVD bajakan nu teu jelas datana. Tapi, karugian nu cenah jumlahna nepi ka Rp 10 triliun tadi. Soal jumlah ieu diwawaas, dipapantes, atawa diasumsikeun mun jalma loba meuli DVD orisinal tadi. Tapi, alatan daya beulina handap, saha nu daek meuli film nu hargana Rp 200 rebu? Mending meuli togel! Saha nu nyaho meunang nu opat angka!&lt;br /&gt;Hartina, sanajan DVD bajakan bisa ditumpes, can tangtu nagara meunang tambahan Rp 10 triliun. Da, can tangtu aya nu meuli DVD resmi nu mahal tea. Pan, pagebug korupsi masih mahabu? Ceuk Bang Mawi almarhum mah: "Ampun, dah!". &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Salemba, 18 Januari 2006&lt;br /&gt;Sumber: urangsunda, Wed Jan 25, 2006 12:44 pm&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116625001362181839?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116625001362181839/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116625001362181839' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116625001362181839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116625001362181839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/dvd-bajakan_15.html' title='DVD Bajakan'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624990022599869</id><published>2006-12-15T22:17:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T22:18:20.350-08:00</updated><title type='text'>Nu Aheng</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pasipatan sawatara jelema, ceuk kuring, kawilang "aheng". Ti mimiti nu fanatik kana hiji barang, atawa fanatik kana hiji kalakuan, aya oge nu “aheng” bari rada-rada "mistis" -- maksudna, pakait jeung dunya mistik atawa (teuing) mimistikan. Pokona mah, nya aheng we. Aneh.&lt;br /&gt;Salah sahiji jalma “aheng” (ceuk kuring) teh hiji batur, urang Surabaya. Letah Jawana medok pisan. Awakna begung kawas kuring. Ngan, manehna mah matana bolotot, sungut bosongot, huntuna taronggos, bari teu weleh calangap, jeung -- punten -- mun ngomong sok rada-rada maluncrat. Pokona mah jauh tina kaseplah. Utamana mun dibandingkeun jeung Nicholas Saputra -- komo jeung kuring mah. Ari ngomong, arap ap areup eup. Matak cape nu diajak ngomong.&lt;br /&gt;Umurna sahandapeun kuring. Tapi, teuing ketang persisna mah. Da harita, sanajan di Unpadna sahandapeun, ari gawe mah manehna leuwih ti heula. Harita, taun 1983, manehna geus gawe di Balai Penelitian Keramik, Cicadas. Di Unpadna di PAAP -- mun teu angkatan 1983 pisan, nya 1982 atawa 1981.&lt;br /&gt;Nu matak “aheng”, sakaligus pikaresepeun atawa pikaajriheun, eta ku daekan gaulna. Ulin ka komunitas ieu, si eta aya. Ulin ka dieu, si eta nyampak. Malah, sanggeus kuring gawe di Jakarta, kuring kungsi manggihan manehna keur ulin di tempatna Teguh Karya, di Kebon Pala. Enya, lampar tina kituna mah. Ngan, encan we kadenge manehna ulin ka Kalimantan atawa ka Papua mah. &lt;br /&gt;Nu oge pikaajriheun, manehna ngilu Lises -- Lingkung Seni Sunda. Lain perkara manehna Jawa atawa lain urang Sunda. Tapi, lian ti letah Jawana nu medok tadi, oge ngomongna  nu arap ap areup eup tea. Ari barudak Lises, siga umumna urang Sunda, resep pisan kana heureuy. Kaasup ngoleg atawa ngageuhgeuykeun batur. Atuh, tiap aya eta batur, nya jadi bahan gogonjakan sarerea. Kaasup kuring. Sanajan sok watir, campur ajrih (respek), nya kuring ge da manusa -- jeung urang Sunda pisan: Ngageuhgeuykeun batur mah resep oge. Eh, sanajan sok digeuhgeuykeun jeung diheureuyan ge, manehna mah nagen we. Meh tiap kuring ka dinya, manehna sok aya. Keur dihareureuyan. Dikitukeun teh manehna mah jajauheun tina ambek. Nyerengeh we nu aya.&lt;br /&gt;Kaahengan lianna: Eta batur sieun ku kabel. Lain sarupaning kabel SUTET. Tapi, kabel biasa. Jeung sieunna teh lain siga urang sieun ku kabel listrik, dina harti sieun aya setrumna. Tapi, nya sieun we. Mun sakalina ningal potongan atawa gulungan kabel ngagoler, siga di toko atawa di emper imah, atawa di mana bae, bari teu nyangsang kana sarupaning sumber setrum, manehna mah sok malipir. Teu daek deukeut. Kaasup tara daek deukeut jeung parabot elektronik. Pan aya kabelan?&lt;br /&gt;Kuring kungsi nanya, ku naon manehna sieun ku kabel sagala? Cenah mah manehna trauma. Singhoreng, basa keur leutik, manehna ningali kumaha imahna diduruk, oge bapana ditandasa ku cara dicekek make.. kabel. Ngadenge kitu, kuring jadi leuwih hormat ka manehna. Ku angkanan kuring, nya trauma eta oge nu matak manehna ngomong arap ap eureup eup teh.&lt;br /&gt;Ti harita, kuring tara ngageuhgeuykeun deui -- iwal keur poho. Tapi, sok nyarekan. Geuleuh ku sabarna. Diheureuyan kitu kieu teh anteng wae. Karah sok nyerengeh. "Sekali-kali kamu marah, dong," ceuk kuring. Pon kitu deui perkara arap ap eureup eupna. "Setiap mau ngomong coba kamu tarik nafas dulu. Biarkan pikiran kamu tenang," ceuk kuring nyanyahoanan -- siga nepi ka kiwari.&lt;br /&gt;Bari disambung ku mapatahan, siga nu heueuh. "Teruskan hobby motret kamu. Itu melatih kita tenang," ceuk kuring. Kabeneran, harita, manehna keur resep motret. Bari, kituna teh, make kamera batur. Teuing nu saha. Da, iwal ti ngaku sorangan, katingal, matak sakola bari gawe ge, kahirupan ekonomi walurat -- teu beda jeung kuring.&lt;br /&gt;Dina taksiran kuring, ngomong, siga nulis, nembongkeun kaayaan mental urang. Mun mental urang tatag, ngomong ge baris tatag. Mun mental urang pabaliut, ngomong atawa nulis ge ngacapruk. Siga kuring. Anapon, motret ngabiasakeun urang tatag. Utamana mun make kamera SLR nu manual, lain kamera saku atawa kamera digital. Da ari kamera saku mah, pasti jadi tea. Leuwih pasti fokusna teh. Urang tinggal pinter ngome angle jeung komposisi.&lt;br /&gt;Basa geus gawe, bari balik deui ka Bandung, kuring meunang warisan kamera heubeul. Biasa, kamera nu rek dicoret tina pembukuan pausahaan. Sok dibikeun ka karyawan. Alatan karyawanna loba, nya dilotre. Kabeneran kuring meunang. Inget ka batur nu hayang bisa motret, bari teu boga kamera, kamera warisan teh dibikeun ka manehna. Ngajenan perjuangan jeung kahayangna.&lt;br /&gt;Ti dinya, pleng tara panggih deui. Kuring tonggoy mereskeun sakola, da balik ka Bandung teh hayang neruskeun sakola. Gawe mah nya tamba kesel teuing bae, refreshing tina kacangkeul mereskeun sakola. Beres sakola kuring balik deui ka Jakarta. Gawe di Editor.&lt;br /&gt;Tah, keur di Editor eta kuring ngadenge batur tadi sok mantuan Mas Wendo di Monitor. Ngadenge kitu kuring bungangang. Jelema nu ngomongna arap ap eureup eup jadi wartawan? Asa teu kabayang kumaha mun wawancara. Bari nu diwawancara artis-artis nu sareungit tea. Aya ajrih, aya sirik.&lt;br /&gt;Basa tabloid eta dibredel, manehna pindah gawe teuing ka mana. Ngadenge-denge geus ngilu di tabloid Bintang. Sakali waktu di hiji cafe di Melawai, kuring pasaranggrok jeung manehna. Kuring rek asup, manehna karak kaluar. Nya, ngobrol heula rada uplek. Ma'lum geus taunna tara panggih. Nu matak helok, ngomongna geus teu arap ap areup eup. Jeung kaciri pisan leuwih PD. Pangangguran, kuring nanya kumaha panyakit arap ap eureup eupna bisa cageur. Bari nyerengeh nembongkeun huntuna nu tonggos, manehna ngaharewos: "Banyak main perempuan, Kang".&lt;br /&gt;Geus ah, bisi ditarurutan. Ongkoh ayeuna mah manehna geus kawin. Boga imah sadua-dua, di Gegerkalong jeung di Tangerang. Terakhir nelepon, manehna laporan karak rengse  nyieun buku ngeunaan kleub band Dewa. Ngondang kuring kana acara launchingna, ngan kuring teu bisa datang. Sawatara minggu ka tukang, beungeutna aya di Kompas. Mejeng jeung penggemar komik Tintin lianna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pasir Angin,  Oktober 2005. Hormat jeung sono kuring keur manehna).&lt;br /&gt;Sumber: urangsunda, Sun Jan 22, 2006 12:54 pm  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624990022599869?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624990022599869/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624990022599869' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624990022599869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624990022599869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/nu-aheng.html' title='Nu Aheng'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624979990015137</id><published>2006-12-15T22:15:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T22:16:40.100-08:00</updated><title type='text'>Kalakuan Jelema</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Enya. Kalakuan atawa pasipatan jelema teh rupa-rupa. Oge jalan hirupna, nu sakapeung teu asup akal atawa teu siga-siga. Aya nu baheula ceuceuleuweungan ngajualan koran, ayeuna ka mana-mana teu weleh ngekelek pestol. Jadi intel. Aya nu baheula disapirakeun, alatan dianggap kuuleun, ayeuna jadi produser film. Kituna teh kabogohna meh teu kaitung. Bari sarupaning socialite tea. Nu sareungit, camperenik,  awakna reuteum ku merek, bari (meureun) can ngasaan numpak busway-busway acan. Geus puguh ari seseleket dina beus kota atawa katorekan alatan naek Bajaj mah.&lt;br /&gt;Perkara pasipatan, coba bae tengetan sabudeureun urang. Boh di tempat gawe, di imah, di kulawarga, sakola, pasantren, masigit, pangulinan, atawa di milis pisan. Aya Kang Sjam nu sagala rupa diheureuykeun. Aya Bah Willy nu keukeuh cadu bisnis jeung nu nyandung. Aya MJ nu gumasep -- eta bae nulis noong ge sok make "noonk", cabok jadi "cabox". Aya Kang Oman nu nyepuh (maksudna siga sepuh atawa koloteun) bari daria bae. Jeung rea-rea deui. Hartina, deui-deui, Mang Haji Oma Irama bener pisan: Urang teh rupa-rupa. "Ada Sunda, ada Jawa, ada Batak, ada...". (Ngajleung teuing paparikannana? Jeung teuing).&lt;br /&gt;Kituna teh, tiap jelema siga miboga fungsi atawa peran sewang-sewangan. Aya nu nempatkeun maneh jadi boss, dina harti lain bae sok utah-etah. Tapi, sok rada geumpeur mun aya batur ngilu mayar di mana sakalina dahar bareng atawa jajan. Aya oge nu sabalikna: Medit kacida. Geus puguh datang ka tempat dahar teh rek udunan, ari waktuna mayar, si pedit mah hare-hare bae. Barang nu ngaladenan dicalukan sina ngitung sabarahaeun, manehna mah gura-giru ka cai. Pajarkeun teh, seubeuh teuing. "Teu kuat hayang miceun," ceuk manehna.&lt;br /&gt;Sakalina meunang kiriman dahareun ti lemburna, si pedit mah sok ngerem maneh di kamarna. Sanajan di luar rea batur ge, manehna mah jongjon bae maca bari ngerewis kiriman ti lemburna. Boro-boro hideng nyodorkeun, tawar gatra ge heunteu. Sieun nu ditawarannana daek. Ongkoh heueuh, teu ditalawaran sorangan ge sok hideng nyarokot sorangan. Nunggu nu boga kamar ka cai.&lt;br /&gt;Mun hese pisan kaluarna,  kapaksa si julig peuting-peuting kukurubutan ka pipir kandang hayam batur. Ngadon newak beurit. Geus beunang, keteyep ngadeukeutan kamar si pedit. Sabot nu boga kamar kaluar, da dicalukan ku nu lian, api-api nanyakeun soal atawa catetan, geuwat si beurit teh diasupkeun kana kaleng kadaharan si pedit. Antukna, tengah peuting, nu lain keur anteng diajar, nyanghareupan ujian isuk,  si pedit nu oge bersekana kaleuleuwihi tuturubun kaluar ti kamarna. Jeblag panto imah dibantingkeun. Berebet lumpat ngurilingan buruan. Bari jejeritan jeung ngepret-ngepretkeunkeun leungeun kencana. "Beurit! Beurit! Beurit!".&lt;br /&gt;Meunang sabulan mah manehna teu bisa sare tibra. Sieun beurit nu "asup" kana kaleng kadaharannana can bener-bener ingkah ti kamarna. Padahal, bari jeung ujian ge, manehna meh unggal poe bobongkar jeung beberesih kamar nu sabenerna geus beresih. Bobongkarna teh aya kana samingguna. Dasar si pedit jeung berseka kaleuleuwihi.&lt;br /&gt;Aya oge nu purah diutah-etah. Purah dititahan. Sakalina dosen nitah motocopy diktat atawa buku, meh saangkatan nitip ka manehna. Geus puguh, mun aya nu rek datang ka imah dosen, diher atawa sasadu can bisa mikeun tugas, nya si tukang dititah tea nu diajak marengan teh. Pon kitu deui mun rek datang ka imah awewe nu ditaksir, bari rada teu PD. Manehna nu jadi "tameng" atawa "bemper" teh. Atawa, mun bapa atawa dulur eta awewe rada "someah", nya si bemper tadi nu diwadalkeun. Sina maturan adi si awewe maen monopoli atawa lalajo film kartun!&lt;br /&gt;Nu matak watir, bari embung mantuan, mun sakalina keur ngumpul beakkeun roko atawa dahareun. Euweuh deui nu pada nginjeuman jeket atawa sarung teh, nya manehna.  Da, saha atuh nu tengah peuting -- mangsa katiga -- daek momotoran ka Simpang atawa ka Tamansari Handap? Sudi najis. Kajeun teuing ngarengkol dina kursi butut, diharudum sarung, bari ngalung-ngalungkeun kartu remi. Mun beuteung ngurubuk, rot nginum cai enteh.  Nu tiisna matak linu huntu nu bolong. &lt;br /&gt;Aya deui nu gawena ngagonjak atawa ngaheureuyan batur. Bari sakapeung sok dedegler. Ka telepon-telepon imah, nu ngajungkiring sagede jurig, diasupkeun kana rangsel batur. Atuh, boh nu boga imah boh nu boga rangsel sarua ripuh. Nu hiji kukurilingan neangan telepon, bari teu weleh gogodeg. Teu ngarti telepon sagede kitu nepi ka leungit. Nu lainna, era-era ge kudu ngahajakeun indit ti Bandung ka...Sukabumi! Nganteurkeun telepon. Da, nu boga dosana mah teuing ngatrok ka mana. Aya kana sabulanna karak mucunghul deui di  sakola.&lt;br /&gt;Siga nu geus diatur ti loh mahpudna, mun aya nu tukang heureuy, geus pasti aya jelema nu paling sering jadi obyek heureuyna atawa obyek heureuy lingkungannana. Ti mimiti ngaran, cara leumpang, beubeungeutan, nepi ka kancing-kancing baju nu dipake  -- geus puguh urusan awewe atawa bacaan mah -- nya manehna nu jadi sasaran.&lt;br /&gt;"Ke ditingal-tingal, maneh teh siga Brian Jones, euy. Coba nangtung geura," ceuk si tukang heureuy. Sakitu geus mangtaun-taun diheureuyan jeung diheureuykeun oge, si obyek teu insap-insap. Dititah kitu teh daek we. Jung manehna nangtung.&lt;br /&gt;"Ngan buuk maneh rada galing, euy. Mun lempeng mah, wah Mick Jager ge bisa pangling," ceuk si tukang heureuy.&lt;br /&gt;"Maenya?," ceuk nu diheureuyan, teu rongget-rongget.&lt;br /&gt;"Enya," ceuk nu ngaheureuyan, bari sok ngaitkeun gagang bulu hayam (kamoceng) kana kerah si obyek.&lt;br /&gt;"Coba geura leumpang ka beh ditu," ceuk manehna, sanggeus bulu hayam nempel.&lt;br /&gt;"Tuh, pan siga, nya?," ceuk si tukang heureuy deui kanu lian, basa ningali si obyek leumpang ka juru nu ditunjukna. Nu lian, tangtu bae, ngahaminan. "Enya, euy. Tinggal buukna dilempengkeun jeung make kaos hideung," ceuk salah saurang nu ngahaminan, bari nahan seuri.&lt;br /&gt;Kaceuleupeungan jelema tadi teh teu eureun nepi ka dinya. Sanajan kamarina kanyahoan yen manehna dititah nangtung teh sangkan kerahna bisa ditempelan bulu hayam, isukna aya batur nu ningali eta batur kaluar ti hiji salon di Jalan Banda. "Sigana mah bener si eta ngadon ngalelempeng buuk," ceuk nu mergokeun. Enya bae: Pagetona, basa panggih di sakola, batur nu digeuhgeuykeun teh geus rada beda: Buukna rada jeceng, bari make turtleneck hideung tur disapatu model rock and roll tea. Nu hakna jangkung, bari hareupna lancip -- nepi ka ramo pabeulit teu puguh matut.&lt;br /&gt;Tapi, enya siga Brian Jones? Boro-boro. Eta batur urang Garut teh pendek busekel, bari beuteung rada bentelu. Jauh pisan kana jiga. Matak, barudak awewe ti fakultas lian mah sok pating harewos mun sakalina Juragan Brian Jones ngalangkung teh. Sawareh mah katingal teu kuat nahan seuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nungguan telepon ti Kayuputih, 7 November 2005.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sumber: urangsunda, Wed Jan 25, 2006 11:47 pm &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624979990015137?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624979990015137/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624979990015137' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624979990015137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624979990015137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/kalakuan-jelema.html' title='Kalakuan Jelema'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624973426510379</id><published>2006-12-15T22:13:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T22:15:34.496-08:00</updated><title type='text'>Degung jeung Janji Jhoni atawa Industri Film Indonesia</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Mun urang kiwari bisa mesem lalajo film &lt;strong&gt;Janji Jhoni&lt;/strong&gt; atawa sinetron &lt;strong&gt;Kejar&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Kusnadi&lt;/strong&gt;, urang kudu nganuhunkeun ka menak Bandung nu jenengannana RAA Wiranatakoesoemah. Komo, mun tas lalajo eta film, urang terus muter kaset atawa nanggap degung mah. Panuhun tadi teh leuwih "mustahak" deui.&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Naon hubungannana? Kieu:&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sawatara ahli antropologi, utamana Max Leigh Harrel, nandeskeun yen degung teh kaasup kasenian buhun. Eta kasenian teh, cenah, geus aya ti mangsa Pajajaran jeung Galuh keneh. Rek deukeut siga kiwari, harita -- numutkeun Juragan Max Leigh -- degung sok dipake dina upacara-upacara adat. Utamana upacara leleran (pelantikan) raja atawa nampi tamu agung.&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Bukti nu nunjukeun degung seni buhun nu geus aya ti jaman Pajajaran keneh,&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;pedah ngeunaan degung eta disabit-sabit dina sawatara carita pantun. Demi pantun, pan geus aya ti baheula keneh, ti jaman Pajajaran tea. &lt;em&gt;"Buruhul menak ti kidul, aleutan para tumenggung, candakna parabot &lt;strong&gt;degung&lt;/strong&gt;, tutup kendang kulit lutung, dirarawat hoe buntung, dipirig ku hujan subuh, ditepak ku nu jarangkung".&lt;/em&gt; Kitu ceuk salah sahiji carita pantun.&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kadieunakeun, sanggeus Pajajaran runtag, Tatar Sunda dikawasa ku Mataram, degung terus dipulasara ku urang Sunda. Utamana ku menak-menakna. Abad ka 17, mangsa Aria Wiratanu II jeneng Bupati Cianjur,&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;eta wewengkon kakoncara dina perkara degung ieu. Ma'lum, Bupatina resep pisan kana kasenian teh. Malah, mun teu salah inget, nya mangsa Aria Wiratanu II pisan tembang Cianjuran mimitina aya teh.&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Bandung, nu ngagantikeun Cianjur salaku dayeuh Priangan, neruskeun tradisi nu ditaratas Aria Wiratanu II tea: Bupati atawa menak-menakna jadi pangaping atawa &lt;strong&gt;maecenas&lt;/strong&gt; kasenian. Di kabupaten teh sok aya rombongan degung atawa... Cianjuran! &lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Peta kitu teh nepa ka elit-elit lianna. Kaasup camat jeung wadana. Nepi, ka aya wadana nu dipercaya ku Bupati pikeun jadi "tim audisi" rombongan kasenian nu rek manggung di kabupaten atawa rek jadi tim kasenian resmi kabupaten. Salah sahijina, ramana Pa Kusnadi Harjasoemantri, manten rektor UGM, nu ayeuna nyepeng kalungguhan Ketua Akademi Jakarta. Ramana Pa Kusnadi eta, saur Pa Kusnadi ku anjeun, nu sok ngetes seniman-seniman nu bade lebet ka kabupaten Cianjur teh. Utamina dina widang tembang Cianjuran. "Mun lulus ti pun Bapa, kakara eta seniman teh bisa manggung di kabupaten," saur Pa Kusnadi, sawatara waktu ka tukang.&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Tah, mangsa RAA Wiranatakoesoemah janten Bupati Bandung, anjeunna marentahkeun salah saurang nayaga degung nu aya di padaleman (kompleks) kabupatenna,&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;pikeun ngarubah degung tina wangunan gamelan renteng kana wangun degung siga ayeuna. Cenah, nepi ka harita mah nu ngaranna degung teh ngarenteng, teu siga gamelan degung cara kiwari. Hartina, najan degung kaasup buhun ge ari wujudna nu kawas ayeuna mah kawilang anyar. Can nepi ka saratus taun. Da, dirobahna ku Pa Idi, nayaga kleub degung Purbasari nu dipiwarang kanjeng dalem Bandung kangge ngarobih wanda gamelan degung tea. kajadiannana taun 1920. &lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Perkara anyarna obahna wujud degung eta teu beda jeung calung. Sanajan calung kaitung seni buhun, nu cenah paragi karuhun urang hahaleuangan di humana, ari wandana nu siga kiwari mah karek aya taun 60-an. Nyaeta mangsa H.Ekik Barkah masih janten mahasiswa UNPAD. Nya, anjeunna saparakanca nu ngarobih wanda calung janten siga kiwari teh, nu bisa digigiwing atawa dijingjing. Baheula mah, cenah, calung teh ngarantay. Matak, keur ngabedakeun jeung calung jingjing kamonesan Pa Ekik Cs, disebutna ge calung rantay. &lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Balik deui kana degung, lian ti wangunna, waditra atawa parabotannana, alat musikna, ditambahan ku kendang jeung suling. Saencanna, waditra degung teh ngan aya opat: Bonang, saron, jenglong, jeung&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;goong. Nu kumaha nu ngaranna bonang, saron, jeung jenglong, tong nanya ka kuring. Da, kuring ge teu apal cangkem apal cangkeum acan. Ngacaprukeun perkara ieu teh bubuhan bae keur euweuh gawe.&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Nu pasti, bari jeung cenah deui bae, mangsa wangun jeung waditra degung dirobah eta, pausahaan film nu kuring keur poho ngaranna nyieun film &lt;strong&gt;Loetoeng Kasaroeng&lt;/strong&gt;. RAA Wiranatakoesoemah ngarojong pisan kana produksi film nu dilakukeun ku pausahaan nu&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;studiona aya di lebah Jl.Astana Anyar kiwari teh (mun teu salah, kitu ge). Bubuhan, harita, sa Hindia Walanda, nya kakarak film eta nu dijieun teh. Hartina, eta film teh film munggaran di Indonesia. &lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pangrojong juragan bupati eta, lain bae ku ngiring ngaluuhan &lt;strong&gt;preview&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;film tadi. Tapi, oge ku ngiring ngemutan sareng ngusulkeun ilustrasi musik keur &lt;strong&gt;Loeteong&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Kasaroeng&lt;/strong&gt;. Tong poho, cenah, harita nu ngaranna film can aya soraan. Film bisu atawa "film chaplin" tea. Keur nambah panarik nu lalajo, mun eta film keur diputer, sok aya nu maen piano, akordeon, atawa orkes kamar pisan. Tangtu bae &lt;strong&gt;live&lt;/strong&gt;. Lain rekaman -- komo sarupaning &lt;strong&gt;minus one&lt;/strong&gt; atawa karaoke mah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Tah, waktu film &lt;strong&gt;Loetoeng&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Kasaroeng&lt;/strong&gt; diputer dina acara &lt;strong&gt;preview&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;tea, dipirigna teh ku sora piano. Tangtu bae karasa ningnangna, siga dahar &lt;i&gt;croisant&lt;/i&gt; atawa &lt;i&gt;tiramisu&lt;/i&gt; dituturkeun ku nginum lahang atawa cai dawegan. Teu cocok. (Kitu ge ceuk William Wongso. Ari ceuk nu beuki, atawa harita euweuh deui cai mah, ngeunah we nu aya). Nya, RAA Wiranatakoesoemah pisan nu ngusulkeun sangkan pamirig eta film teh rombongan degung Purbasari, kleub degung "wanda anyar" nu diaping ku anjeunna tea.&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Nya ti harita, tiap film &lt;strong&gt;Loetoeng&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Kasaroeng&lt;/strong&gt; diputer di bioskop-bioskop, rombongan degung Purbasari jadi pamirigna. Pon kitu deui basa eta film dikurilingkeun sa-Pasundan. Purbasari teu weleh nuturkeun, jadi pamirig eta film. Ku jalaran eta, lain bae seni degung leuwih ceuyah di Pasundan. Tapi: Industri film di Indonesia ge dimimitian jeung terus ngajembaran. Nepi, ka taun 70-an,&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;dina sataun, aya kana ratusna film nu dijieun ku sineas-sineas urang. Ti mimiti Si &lt;strong&gt;Pitung&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;Dikejar&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Dosa&lt;/strong&gt;, nepi ka &lt;strong&gt;Bang&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Mamad&lt;/strong&gt; . &lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Atuh, sanggeus kungsi diwadalkeun keur industri tekstil, bari sineas-sineasna loba nu epes meer, antukna film urang kapeupeuh ku film impor; kiwari urang bisa lalajo &lt;strong&gt;Janji&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Jhoni, Kejar Kusnadi,&lt;/strong&gt; atawa &lt;strong&gt;9&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Naga&lt;/strong&gt;. Degung jeung dalem Bandung nu namina RAA Wiranatakoeseomah mah meh tara kapilem. Kalimpudan ku amnesia sajarah tea.&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;(Diropea tina tulisan Asep Nugraha, &lt;strong&gt;Degung, Gamelan Tua atau Muda?,&lt;/strong&gt; Majalah Seni Budaya Swara Cangkurileung, No 125, Taun ka 26, Maret 2002, kaca 13).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;urangsunda, Fri Jan 13, 2006 2:16 am &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624973426510379?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624973426510379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624973426510379' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624973426510379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624973426510379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/degung-jeung-janji-jhoni-atawa.html' title='Degung jeung Janji Jhoni atawa Industri Film Indonesia'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624959970344490</id><published>2006-12-15T22:12:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T22:13:19.866-08:00</updated><title type='text'>Kusnet jeung "Pewarisan Nilai Budaya Sunda"</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;(Tawis hormat kanggo Abah Surya sareng Kang Runa Saparakanca)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mun kuring nyebut kusnet dina ieu pangacaprukan, lain bae milis urangsunda. Tapi, oge kum milis-milis kasundaan. Mimiti ti urangsunda, kisunda, gank-leboy, baraya-sunda, sastra-sunda, sunda-mining, sunda-sci, sun-da bageur, sigasunda, sundasajati jeung sajabana. Kaasup milis-milis wewengkon (kota) nu aya di Tatar Sunda. Malah sawatara web nu make basa Sunda ge, satemenna, kahayang mah, kawengku ku ieu kocap kusnet. Sanajan, enya: Conto-conto nu ditembrakkeun leuwih loba ngarefer ka urangsunda. Bubuhan milis kasundaan pangkolotna, pangramena, jeung panglucuna. Sagala aya.&lt;br /&gt;Oge, kuring ngahaja make tesis Pa Ajip pikeun judul di luhur: "Pewarisan Nilai". Ambeh gagah. Jeung kaciri pisan kumaha "daria"-na ieu "pasoalan" nu rek diguar teh. Sanajan, mun Harry Roesli jumeneng keneh, bari maos ieu pangacaprukan, pasti muncereng. "Kumaha nilai-nilai bisa diwariskeun? Paling ge nu bisa diwariskeun mah sumangetna. Lain nilaina," kira-kira kitu pibasaeun si Akang kana eta judul.&lt;br /&gt;Tapi, keun bae-lah. Anggap bae sumanget jeung nilai teh eta-eta keneh. Ongkoh, mun sumanget teu didadasaran ku nilai, sumanget teu puguh tea meureun ngaranna. Sabalikna, mun nilai euweuh sumangetna, keur nanahaon? Matak disebut nilai ge, meureun, pedah aya sumangetna. Atawa, pedah bisa nyumangetan. Jeung deui, ceuk tadi ge make judul eta teh gagayaan wungkul. Ngarah jiga.&lt;br /&gt;Keur sakuringeun,  kusnet  lain bae tempat silaturahmi dina harti kuring jadi wawuh jeung Kang Oman, MJ, Kang Ilen, Kang Agus, Ua Obie, Teh Tien, jeung sajabana. Atawa Kusnet, nu di dieu maksudna urangsunda, tina hiji komunitas jurig bisa ngawujud jadi "organisasi" (Yayasan Perceka), pasaka, atawa HBH. Lain. Tapi, leuwih ditu deui: Siga nu disigeung dina surat kuring sawatara ka tukang, keur kuring, Kusnet nepungkeun kuring jeung Sunda eta sorangan. Atawa, bisi dianggap kaleuleuwihi: Kusnet ngahudangkeun rasa ka-Sunda-an kuring nu -- diheunteu-heunteu -- nyayang dina lelembutan kuring.&lt;br /&gt;Kahudangna teh lain bae ku wacana-wacana nu "baleurat" ngeunaan realitas ekonomi, politik, budaya, jeung sosial  ( urang) Sunda. Tapi, oge ku tulisan-tulisan nu basajan, nu (katingalna) teu sapira. Jajauheun tina paniatan berwacana, komo make rek ngawariskeun nilai-nilai budaya mah. Nya sarupaning  "just say hello", ngabodor, atawa nyaritakeun pangalamannana.&lt;br /&gt;Tapi, ku cara basajan siga kitu, keur kuring, naon nu disebut (atawa nu ku kuring dianggap) pewarisan nilai tadi teh lumangsung kalayan lancar jeung keuna kana sasaran. Disebut keuna kana sasaran teh, pedah bae anggota milis umumna ngalora keneh. Ari nu ngalora, pan nu pang dipikahariwangna ku para inohong nu ngarasa perlu ngawariskeun "nilai-nilai" budaya tea? Dipikahariwang, sieun barudak ngora Sunda murtad, teu nyunda.Geus puguh tulisan-tulisan nu sipatna "verbal", meleg-meleg ngaguar perkara nilai-nilai budaya Sunda mah. Siga sawatara tulisan Kang Oman, Abah Surya, Kang Ilen, jeung rea deui. Tapi, tulisan-tulisan nu basajan tadi ge, nu teu boga karep atawa teu diniatan ngaguar nilai-nilai tadi, teu bisa dimomorekeun kitu bae. Ceuk tadi ge, dina satengahing nyaritakeun pangalamannana, nu narulis eta tulisan teh satemenna ngebrehkeun nilai-nilai budaya tadi. Paling heunteu,  keur kuring, ngebrehkeun (baca: ngawariskeun) kabeungharan kokocapan (jeung rasa) nu aya dina basa Sunda.&lt;br /&gt;Perkara basa, kuring meunang pangaweruh loba pisan alatan kukusnetan ieu. Sebut bae kocap "mataholang", "mireng", "keom", "bawiraos", "indung peuting", "Bobo sapanon carang sapakan", jste. Kaasup ngabedakeun "keuheul" jeung "ambek". Nepi ka, baheula, mangsa masih gawe di majalah, kuring ngahaja nyadiakeun hiji hard disk nu diajangkeun keur neundeun posting-posting nu aya di urangsunda jeung kisunda.&lt;br /&gt;Dina pipikiran kuring harita, ngeunteung kana katuna diri, boa-boa, aya sawatara kokocapan nu can kacatet dina kamus. Lain bae kamus Wilde, tapi nu disusun ku LBSS pisan. Saha nu nyaho, pan? Paling heunteu, eta data teh bisa dimangpaatkeun keur ningali atawa nalungtik fenomena basa Sunda dina milis, nu sakapeung jajauheun tina papagon nu dianggap "baik dan benar" atawa "nyakola", atawa basa rumaja nu nempel di sawatara anggota milis. Bisi bae aya mahasiswa, boh ti fakultas basa, komunikasi, psikologi, atawa filsafatna pisan, nu rek ngamangpaatkeun eta "database". &lt;br /&gt;Hanjakal, basa kuring kaluar gawe ti eta majalah, hard disk tadi teh teu kapuluk. Budak EDP nu dipentaan tulung keur ngarawatan eta hard disk, oge ngakat posting-posting tadi kana wangunan wordpad,  teuing ka mana. Ongkoh, kuring kaluarna ge bari teu sasadu teu naon. Da, biasa, kaluarna teh pinuh ku kakeuheul. Sanajan teu nepi ka ambek-ambekan.&lt;br /&gt;Salah sahiji tulisan nu, ceuk kuring, nepikeun Sunda kalayan alus jeung basajan, teu sadar atawa teu diniatkeun keur wawarisan tea, atawa bubudayaan, nyaeta tulisan MJ ngeunaan huntu. Enya huntu. Gigi. Bagian awak urang nu ranggeteng tukangeun biwir. Paragi nyapek, paragi ngegel, paragi ngagayeum.&lt;br /&gt;Teu pira: Dina eta tulisan,  MJ nyaritakeun pangalamannana nyeri huntu. Terus ka dokter gigi. Ceuk dokter, eta huntu kudu dicabut. MJ manut. Huntu nu dicabut teh dibawa mulang. Peun.&lt;br /&gt;Waktu nyieun ieu pangacaprukan kuring teu bisa muka internet. Jadi, teu bisa ngorehan tulisan eta dina arsip milis. Ngan, perkara huntu jeung dicabut huntu nu biasa tadi, ku MJ, dina pangrasa kuring, jadi teu biasa. Aya roman-roman romantis, malah surealistis jeung magis. Huntu nu geus dicabut teh ku MJ bangun diajak nyarita. Ditarimakeun, dipapatahan, malah satengah dicarekan sagala.&lt;br /&gt;Ditarimakeun, pedah geus mantuan ngagayem dahareun, nu engkena matak sehat, matak hirup. Satengah dicarekan, da nu ngaranna nyeri huntu tea; matak galingging panas tiris, nu hartina gering, beh dituna maot. Ari maot, pan ceuk sawatara kaum existensialis mah totonden keokna atawa teu walakayana manusa. Matak, mun teu salah, ku MJ, eta sakadang huntu teh dijadikeun kongkorong. Teuing gantungan konci, ketang. Pokona mah, jadi monumen. Monumen nu satemenna maheutkeun pakaitna dunya badag/raga jeung dunya roh/jiwa/spriritual.&lt;br /&gt;Bisa jadi kuring kaleuleuwihi, ngadramatisir, atawa overtheoritizing. Tapi, teuing, basa kuring maca tulisan MJ eta, satengahing mesem, pipikiran ras inget kana "dongeng" Sempak Waja (atawa teuing saha. Rumasa, teu apal persis kana sajarah Sunda teh).  Lain pedah rumasa huntu kuring goreng, karahaan. Komo alatan kuring hayang jadi raja mah. Lain. Ngan, ceuk eta "dongeng", eta tokoh teu bisa jadi raja alatan huntuna aya nu somplak. Hartina, nilai Sunda mah ngahargaan (oge) kana perkara fisik teh. "Mun dia dek jadi pangagung, mudu sembada, mudu sampurna," ceuk hiji kolot di Sajira. Bari kasampurnaan fisik eta teu eureun nepi ka dinya. Mudu dibarungan ku kasampurnaan nu sifatna rohani, spiritual.&lt;br /&gt;Pataremana materi jeung spirit lain bae ngancik dina awak manusa. Tapi, oge dina mahluk lianna, kaasup nu (katingalna) euweuh nyawaan. Nepi ka, ceuk sawatara "dongeng" mah, batu sriman nu dibawa ka Banten teh teu kitu bae bisa diringkid ti Pajajaran. Kakuatan spiritual nu aya dina eta batu kudu ditalukkeun heula. Ongkoh, keur bisa calik di dinya teh aya parancah, aya sarat-saratna. Hartina, raja teh kudu miboga kasampurnaan spiritual tea. Ambeh kakawasaannana lain bae ditarima ku rahayat, tapi oge ku para dewata, jeung kumna alam, kaasup nu aya di alam lelembutan. Nya, sakumaha nu jadi tradisi kiwari bae: Nu aranna sumpah jabatan teh pan lain sumpah ka atasan atawa ka nagara pisan, tapi sumpah ka pangeran. Matak, nu disumpah teh sok bari ditudungan ku Qur'an.&lt;br /&gt;Pondokna mah, tulisan MJ teh ngebrehkeun nilai-nilai Sunda nu ngarojong kasampurnaan lahir jeung batin. Pakaitna dunya materi jeung non materi, spirit atawa roh. Bandingkeun jeung paribasa Latin ieu, nu keur urang SD sok remen digorowokeun: Men sana in corpore sano!  Atawa, nu leuwih up to date, bahasan sawatara filosof kiwari nu maca fenomena "pemujaan tubuh" sarupaning diet, body building, taebo, six pack, jeung operasi plastik. &lt;br /&gt;Bah Willy ge nepikeun Sunda-na teh ku tulisan-tulisan "biografis" siga kitu. Diembohan ku yuswana nu tos sepuh, dibandingkeun jeung MJ , komo jeung kuring mah, seratan-seratan Bah Willy ngalengkepan dokumen Sunda nu nyampak di kusnet.&lt;br /&gt;Seratan Bah Willy ngeunaan eyangna, keur kuring, mere informasi nu kawilang munel jeung "akurat". Utamana, ngeunaan Tari Topeng. Oge, sawatara fragmen sajarah Sunda, nu ngebrehkeun nilai-nilai Sunda, ku cara ngadongengkeun tapak lajak sawatara menak Sumedang baheula. Tina seratannana, urang bisa ningali kumaha komitmen sosial menak Sumedang harita. Boh ka rahayat nu aya di wewengkonna, oge nu aya di luareun Sumedang.&lt;br /&gt;Enya, gambaran umum, malah leuwih lengkep, ngeunaan hal-hal eta geus nyampak di sawatara buku atawa wacana "resmi" nu diserat atawa didugikeun ku para budayawan atawa sajarawan profesional. Tapi, keur kuring, "memoar-memoar" Bah Willy ngarupakeun data lapangan. Hiji panyaksen ti "pelaku", di kalangan "awam". Dina hal tari, misalna, bandingkeun jeung panyaksen suwargi Tjetje Somantri, "pelaku profesional", nu sawatara waktu ka tukang ku kuring pernah diposting.&lt;br /&gt;Ari tulisan Bah Toto nu ceuk kuring pangasoyna: Posting anjeunna ngeunaan copet atawa nu disangka nyopet di setasion Jatinegara. Hiji waktu Bah Toto mulih ka Bandung -- harita anjeunna masih dines di Jakarta. Di Jatinegara aya copet katewak. Der digarebugan. Nepi ka, ceuk anjeunna, baloboran getih.&lt;br /&gt;Dina ahir tulisannana, nu kuring teu weleh inget, Bah Toto ngadon lumengis. Nalangsa ku nasib jalma nu dituduh nyopet, nu ngadon digarebugan. Katingalina siga nu epes meer. Tapi,  nilai Sunda nu diharewoskeun ku Bah Toto: Rasa nyaah ka sasama, jeung rasa kaadilan. Malah, beh dituna mah, nya naon nu disebut kasadaran hukum tea. Sanajan eta batur salah, tong maen hakim sendiri. Komo karak dituding mah. Can karuhan. (Tangtu bae, urang bisa oge nanya leuwih jauh; Kumaha mun hakimna sorangan teu maen-maen? Atawa aranjeunna anteng maen sewang-sewangan?).&lt;br /&gt;Hanjakal si Abah teh rada "sensitif", pedah anjeunna sanes urang Sunda pituin. Ari harita, posting-posting nu aya, kaasup posting kuring, ngaheabkeun "sumanget anti Jawa" atawa "anti" non-Sunda. Anjeunna teu bisa ngabedakeun "analisis sosial" jeung "analisis pribadi". Teu terangeun, kuring sorangan secara genetis mah teu kaasup urang Sunda pituin.   Ongkoh, rada absurd bae ngarumuskeun Sunda ku ningali asal-usul getihna.&lt;br /&gt;Nilai-nilai Sunda nu ditepikeun ku cara nu leuwih "verbal", bisa katingal dina posting-posting Kang Oman, Ua Sas, sareng Abah Surya. Malah, baheula, Ua Sas boga "rubrik husus". Rubrik reboan. Eusina, sarupaning babasan atawa paribasa Sunda. Kaasup sesebutan keur hiji profesi atawa kaahlian, nu sawareh mah ngan tinggal dina buku. Hanjakal, kiwari eta rubrik teh leungit. Ongkoh, si Uana ge ayeuna mah arang mosting. Keur pogot kana buku, katingalna mah. Padahal, keur jalma siga kuring, nu karak Puasa kamari boga kamus Basa Sunda, dipaparin ku si Ua; seratan-seratan verbal kitu teh gede pisan mangpaatna. Kuring jadi leuwih nyaho, teu apal cangkem teuing, atawa salah ngalarapkeun hiji kokocapan atawa paribasa.&lt;br /&gt;Pon kitu deui sepuh-sepuh sapertos Ua DJ, Kang Yayat Supriyatna, Kang Obay Sobarli, sjte. Kang Yayat, misalna, kantos nyerat perkawis  wawacan sareng guguritan. Lengkep sareng rupa-rupa pupuh anu aya. Teu kabayang, mun tea mah Kang Yayat teu ngadamel seratan siga kitu, urang nu hayang nyaho kudu kokotengan ka pabukon atawa toko buku. Neangan buku nu ngajelaskeun perkara eta. Leuheung mun aya. Di mana ayana ge, nya rada renced oge. Kudu ucul duit.&lt;br /&gt;Ari onjoyna Abah Surya, keur kuring, lain bae ku verbalna eta. Tapi, ku kersana bae sepuh sapertos anjeunna rurumpaheun, ngiring gunem catur, dina "kahirupan rumaja" siga milis ieu. Pan, siga nu diharewoskeun dina pangacaprukan kuring kamari, arang birokrat nu kersa ilubiung dina milis, bari nepikeun kapentingan lembagana.&lt;br /&gt;Tangtu lain kuring rek nyebutkeun si Abah kalebet birokrat, nu di urang mah konotasina teh goreng malulu. Tapi, maksud kuring, arang para sepuh, utamina nu kalebet  inohong atawa budayawan profesional sapertos anjeunna, kersa rurumpaheun ilubiung dina milis. Lian ti internet teu pati dipikawanoh ku umumna masarakat teh, milis mah lolobana sok diariluan ku barudak ngora tea. Matak kuring ngabasakeun, milis mah kultur barudak ngora. Ari ieu?&lt;br /&gt;Tah, ku ayana inohong sapertos si Abah, nu ngagaduhan otoritas dina medar kabudayaan Sunda, boh ku sepuhna, pangalamannana, profesina, oge ku kaelmuannana, naon nu jadi tesis Pa Ajip teh geus dilakonan. Sadar teu sadar, aya pewarisan nilai (paling heunteu dina mekarkeun pangaweruh basa) ka generasi sahandapeunna. Kukituna,  kuring respek pisan ka anjeunna. Nya, sanajan ngacapruk, bari jajauheun tina nyunda ge, ieu teh hormat kuring ka anjeunna. Sakaligus do'a kuring: Sugan bae leuwih loba deui sepuh nu daek ngahuma di tempat nu ngaranna milis atawa internet, di kusnet.&lt;br /&gt;Pangacaprukan ieu, oge hormat kuring ka budak ngora siga Kang Runa, Kang Eko, Kang Gibson, Kang Kumi, jeung sajabana, nu oge sok katingal di sawatara milis kakotaan di Tatar Sunda. Ku cara kitu, aranjeunna geus ngiring nepakeun atawa ngawariskeun budaya Sunda. Paling heunteu dina perkara basa. Ku cara nu basajan, murah, jeung up to date: Milis kusnet.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;urangsunda, Wed Jan 11, 2006 3:37 am &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624959970344490?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624959970344490/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624959970344490' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624959970344490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624959970344490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/kusnet-jeung-pewarisan-nilai-budaya.html' title='Kusnet jeung &quot;Pewarisan Nilai Budaya Sunda&quot;'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624942609188889</id><published>2006-12-15T22:08:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T22:11:56.876-08:00</updated><title type='text'>Transparansi jeung Akuntabilitas LSM</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ieu tulisan lain rek "nyerang" LSM. Komo, mangrupa "serangan balik kana gerakan anti korupsi" mah. Ieu mah, saperti biasa, saukur ngacapruk bae. Kutrat-kotret bari nungguan jemputan. Sugan bae aya mangpaatna. Kitu ge teuing nepi, teuing moal, kana eta jejer nu kawilang "gagah" teh. Ma'lum, da ngacapruk tea.&lt;br /&gt;Ari mimitina mah aya batur. Cenah, manehna jadi konsultan (bisnis jeung keuangan) di hiji LSM nu udagannana ningkatkeun kahirupan patani kalapa. Keur ngabeayaan eta LSM, manehna nyieun deui LSM lain, mangrupa yayasan, nu tugasna nampung jeung neangan dana. Kituna mah pantes, mun manehna boga akses ka nu boga duit (jeung dipercaya) teh. Lila di luar nagri, sakalina gawe teu weleh di bank asing. "Yayasan ieu mah teu ngan ukur ngagugulung kalapa. Kagiatan naon ge bisa, kaasup ngabiayaan kagiatan seni jeung budaya. Ngan, saheulaanan, salaku pilot project LSM Kalapa eta," ceuk manehna.&lt;br /&gt;Ari nu jadi titincakan manehna nyieun eta yayasan taya lian ti panyakit nu masih keneh mahabu di urang: Korupsi. Ieu panyakit teh, ceuk manehna, lain bae nalikung lingkungan pamarentahan atawa penyelenggara negara. Tapi, oge masarakat. Kaasup kalangan LSM, nu sakedapan mah nyitrakeun diri -- malah asbabun nujul-na ge harib-harib ka -- anti korupsi.  )Ceuk manehna keneh, ku alatan panyakit ieu, dana bantuan tsunami saalam dunya, nu 70% di antarana diancokeun keur Indonesia, rada seuseut turunna. "Nu geus turun, ku taksiran urang, teu nepi ka 30% tina MOU," ceuk eta batur. Nagara atawa lembaga donor rada merod nohonan naon nu baheula geus disanggupan ku manehna. Lain embung. Tapi, sieun eta dana atawa bantuan teh teu nepi ka jinisna. Da dicoceng, dikorupsi, ku nu nepikeunnana -- boh LSM, boh lembaga pamarentah. Antukna, lembaga-lembaga eta teh ati-ati dina ngucurkeun komitmenna.&lt;br /&gt;Tah, kasieun siga kitu oge nu nyampak dina dana-dana nu diajangkeun ku lembaga-lembaga donor di luar konteks tsunami. Dana bantuan keur Indonesia teh, paling heunteu: nu bisa dipenta keur kapentingan Indonesia, cenah, pabalatak. Bari teu bisa dilakonan ku cara G to G. Da hayang "civil society" tea, bari "rada-rada" teu percaya ka pamarentah. "Jumlahna, itung bae: Mun tiap lembaga mere bantuan, tong loba-loba, US$ 100 rebu we sataun. Kalikeun saratus lembaga bae, aya kana US$ 10 yuta-na!," ceuk eta batur. Jumlah nu teu pamohalan. Utamana, mun urang ngadenge yen dana sosial Gates Fondations bae leuwih gede manan anggaran WHO. Encan sarupaning Soros, Ford, Prins Benhard, Prins Gantra, jeung nu lianna.&lt;br /&gt;Tapi, nya kitu. Eta dana teh teu bisa maksimal dimangpaatkeun. Da aya handycap nu ngaranna korupsi tea. "Utamana korupsi di kalangan LSM," ceuk manehna, teugeug. Nepi ka, imej LSM sorangan jadi goreng. Dianggap ngan tukang nyieunan proposal, bari geus meunang duit, tapi euweuh prakna. Atawa, nu paling ngenes kana ati: Tukang ngajualan jalma miskin!&lt;br /&gt;"Analisis" eta batur teu nyalahan. Paling heunteu, lain pamanggih anyar. Baheula, keur mahasiswa keneh, sawatara batur nu aktif di LSM pating harewos ngeunaan "mafia LSM". Nu dituding jadi mafiana, taya lian ti Adi Sasono jeung pupuhu LSM Dian Desa harita. Cenah, ceuk babaturan aktivis LSM tea, Adi Sasono jeung Dian Desa lain bae ngamonopoli sumber-sumber pendanaan ti luar. Tapi, oge teu transaparan dina perkara dana. Ku alatan teu transparan eta, tadi batur nyebut yen dua inohong LSM tadi ngorupsi dana.&lt;br /&gt;Tangtu bae, tudingan eta batur teh rada gagabah. Teu transparan, dina harti teu nyebutkeun sabaraha, ti mana, jeung ka mana, can tangtu nyalikong atawa korupsi. Bisa bae maranehna teu transparan teh ka eta batur. Tapi ka nu mere duit mah, boa-boa, tiap menit mere laporanna teh. Malah, boa-boa manehna nyebut "korupsi" teh pedah teu boga akses bae ka si sumber dana. Wallohualam.&lt;br /&gt;Nu pasti, tuduhan yen LSM teu amanah teh terus aya. Contona, kadieunakeun, perkara korupsi nu dituduhkeun ka LSM teh mucunghul deui. Utamana geus deukeut ka Soeharto lengser. (Atawa geus lengser pisan, kitu? Poho deui). Majalah tempat gawe kuring harita kungsi nulis ngeunaan LSM-LSM papan nama. LSM nu meunang dana, tapi euweuh kagiatannana. Di Solo, nu jadi contoh harita, aya nepi ka ratusna LSM model kitu (atawa nu dituding model kitu) teh.&lt;br /&gt;Sabenerna mah, mun ku urang dititenan, LSM papan nama kitu teh (sigana) lain di Solo bae. Tapi, di mana mendi. Enya, pan, bareng jeung hiliwirna angin reformasi, masarakat urang siga asa aya nu kurang mun teu nyieun LSM teh. Geus puguh ari mahasiswa mah. Ka, tukang-tukang cukur, ceuk paribasana, teu ku hanteu nyieun LSM. Tangtu bae aya nu baleg, bener-bener LSM, aya oge ngan sakadar LLSM-an. Ngan sakadar hayang gaya, jeung ...ngamangpaatkeun "dana pembinaan" ti pemda atawa hibah ti lembaga donor.&lt;br /&gt;Tah, mun teu salah inget, eta tulisan panjang teh jadi cover story. Dirarangken ku kasus-kasus "korupsi LSM" lianna, kaasup perkara asal-usul dana LSM, jeung kumaha sawatara LSM ngokolakeun eta dana. Mun teu salah deui bae, kasus nu disabit-sabit teh kaasup kasus nu kungsi tumiba ka KIPP. Harita, Mulyana W.Kusumah, nu jadi salah saurang pangurus KIPP, dituduh teu bisa mempertanggungjawabkeun duit nu "dicekel" ku manehna. Ngan, teuing kumaha, siga nu lianna, isu ngeunaan duit KIPP eta teh pareum. Sigana mah, kalangan LSM sorangan mareuman eta isu. Solidaritas, bari -- meureun -- sieun meulit ka LSM lianna. Wallohualam deui bae.&lt;br /&gt;Leuwih beh dieu, aktivis LSM nu dituduh nyalikong duit teh Irma Hutabarat. Pajar teh, Irma nyelewengkeun dana penanggulangan banjir sakitu miliar. Siga dina kasus KIPP jeung kasus-kasus lianna, tudingan ieu teu nepi unggah bale watangan. Eureun ku penjelasan Irma ka Sutiyoso. Sanajan, beda jeung KIPP atawa nu lianna, duit nu ditudingkeun ka Irma teh duit nagara. Duit Pemda DKI.&lt;br /&gt;Paling beh dieu, nu diwartakeun ngorupsi duit LSM teh barudak AJI, si Lukas Cs. Deui-deui teu manjang "carita"-na. Wasalam ku katerangan si Lukas Cs.&lt;br /&gt;Eta sawatara conto nu kungsi muncul di media. Sanajan, aya deui modus korupsi lian nu dilakukeun ku LSM: Meres pengusaha jeung pejabat. Enya, meres. Eta bae, kamari, basa rek HBH Kusnet, di Lembang, kuring nyimpang ka babaturan nu jadi kontraktor. Ditanya keur boga gawe naon teh, manehna karah ka humandeuar. "Susah, Kang, ayeuna mah. Loba teuing bebegigna. Ti mimiti pejabat, LSM, jeung punten bae: wartawan. Kabeh menta bagean. Menta uang preman!," ceuk manehna.&lt;br /&gt;Caritaan eta batur teh teu aneh. Ti Purwakarta keneh kuring geus "ngambeu" "data" siga kitu. Enya, waktu ulin ka kantor perwakilan hiji koran, kabeneran keur ngarumpul. Salah saurangna, nya aktivis LSM. "Ah, abdi mah kieu we. Kerjasama sareng pers," ceuk eta aktivis. "Aya nu nyeleweng, sikat," tambah manehna. Nu dimaksud "kerjasama" jeung "sikat" teh kuring geus surti: Meres. Manehna silih bantuan dina ngumpulkeun data jeung wartawan, terus ditulis dina koran. Sakapeung, manehna ngerahkeun massa. Ambeh leuwih katingal enya. Udagannana lain sangkan masalah jadi bener. Tapi, nya "uang preman" tea.&lt;br /&gt;Tangtu bae teu kabeh LSM, oge wartawan, korup siga kitu. Ngan, mun urang percaya kana omongan babaturan nu ilubiung dina LSM Kalapa tea, nu polahna siga kitu kaitung loba. LSM nu ngan saukur neangan duit, lain memener nu salah, atawa ngabantu jalma leutik luyu jeung paniatannana.&lt;br /&gt;Balik deui kana jejer tulisan, lain maksud kuring nyaram aktivis LSM -- oge wartawan -- neangan duit. Pan, maranehna ge sarua dalahar keneh. Butuh kejo, butuh sapatu, perlu HP, butuh ngafe. Ngan kudu puguh aturannana. Malah, munasabah pisan, siga pejabat nagara, atawa wartawan, oge guru, maranehna meunang gajih nu gede. Ngahaja make istilah gede, lain "cukup". Ambeh teges. Lain nanaon. Ambeh maranehna tonggoy kana pagaweannana atawa tugasna. Teu kaganggu ku duit nu lain hakna, nu sakapeung teu sabaraha.&lt;br /&gt;Matak, reugreug oge ngadenge gajih hiji babaturan nu jadi pupuhu hiji LSM nepi ka puluhan yuta. Kabuktian, manehna mah galak teh bener-bener galak. Lain ngarah "uang preman". Komo, komisi atawa sarupaning kick back mah.&lt;br /&gt;Lian ti kitu, hade pisan mun hiji LSM ngalaporkeun keuangannana tiap taun. Siga nu katingal dina Kompas poe ieu. Enya laporan keuangan LBH. Sanajan teu kabeh masarakat bisa maca neraca pembukuan siga kitu, paling heunteu, ceuk kuring, asas transparansi jeung akuntabilitas geus kahontal. Pan dina laporan eta ge disebutkeun ti mana maranehna meunang duit, jeung dipake naon bae. Leuwih alus deui mun maranehna oge bisa ngebrehkeun sarupaning gajih pangurus-pangurusna. Supaya ulah aya fitnah jeung suudzon. Saha nu nyaho manehna geus beunghar ti buyutna keneh? Ayeuna, saprak gawe di LSM, make Terrano? Nya, munasabah bae. Ku ngembrakkeun gajih pangurus, oge, urang bisa ngira-ngira naha pantes heunteu gajih maranehna "sakitu" -- bari anggaran keur kagiatan utamana ngan "sakieu"?&lt;br /&gt;Tapi, pan teu kabeh LSM boga sumber pendanaan nu hade siga LBH, Walhi, Kehati, atawa 68H? Teu saeutik nu ngan ngandelkeun "uang pembinaan" ti pemda. Tah, husus keur LSM "gurem" siga kieu, naon salahna nyieun unit usaha. Maenya aktivis bisnis? Eh, manan meres?&lt;br /&gt;Enya ari alusna mah, idealna, LSM -- siga wartawan -- tonggoy bae jadi "watch dog". Tapi, mun can kaduga jadi LSM "papan atas" mah, ceuk kuring, naon salahna oge baroga "sayap bisnis". Kituna ge bari cara jeung lokasi usahana teh diteangan, nu teu matak paketrok kapentingan. Urang aktif dina widang lingkungan di Ciamis, nya ulah bisnis binih pepelakan -- komo jadi makelar tanah mah. Nya muka jaringan warnet atuh? (etah, si kasebelan, geus kanu warnet deui bae. Na, mani siga nu obsesif kitu, nya?). Jeung tong di Ciamis deuih muka usahana teh. Di Serang atawa di Lampung, sugan.&lt;br /&gt;Intina mah tong nepi pakojot bae: Ongkoh pupuhu LSM, oge direktur PT Anu. Poe ieu direktur, mangsa teu boga order pupuhu LSM -- nu mingpin demo ngeunaan masalah nu pakait jeung bisnisna. Sigana, cukup ngan jadi pemegang saham bae. Bisnis mah serahkeun bae ka batur nu bisa dipercaya.&lt;br /&gt;Eh, justru jadi aktivis teh ku alatan teu boga gawe atawa teu boga modal? Wah, mun kieu alesannana, nya kuring ge teu bisa ngacaprukna. Paling ge nyarankeun tong jadi aktiivis bae. Mending ngilu pilihan lurah sakalian. Sarua mulya jeung barokahna, ari baleg mah. Paling heunteu, gajihna geus jelas: Beas hasil sawah desa.&lt;br /&gt;Ngeunaan modus sayap usaha tadi, sakanyaho kuring, kungsi dilakukeun ku LBH (Jakarta) sorangan. Paling heunteu waktu dipupuhuan ku Nursjahbani Katjasungkana. Harita maranehna boga kantor lawyer nu sipatna komersial, di wewengkon Blok M. Sanajan eta kantor pengacara nu "komersil" teh teu bisa disebut organ resmi LBH, tapi nya sawatara lawyer LBH "garawe" oge di eta kantor.&lt;br /&gt;Alesannana, dina seuhseuhannana teu sakabeh nu datang ka LBH jalma miskin, lapisan masarakat nu jadi target utama kagiatan LBH. Oge, nya keur ngahangkeutkeun karaharjaan pagawe-pagawe LBH sorangan. Ongkoh, harita "dana pembinaan" (bantuan) ti Pemda DKI dikurangan. Beda jeung Ali Sadikin, nu ngabeayaan eta lembaga teh sangkan maranehna bener-benar galak, paling heunteu jadi partner kritis pemda; pamarentahan nu kadieunakeun mah siga nu sabalikna. Pan, nepi kiwari: Kacirina, pamarentah mere "dana pembinaan" teh sangkan bisa patingkiceup jeung LSM -- teu beda jeung "kadeudeuh" nu jadi jatah sawatara wartawan ti humas-humas pamarentahan -- nu bisa ti kelebuh kana korupsi berjamaah tea.&lt;br /&gt;Mungkas ieu pangacaprukan, kuring rek ngajak nabeuh maneh. Tadi mah Pa Ali nu dijadikeun conto pamarentah nu hade teh. Ieu mah ngeunaan transparansi LSM tea. Tah, dina hal ieu urang, urang Sunda, kudu bangga. Utamana, mun Yayasan Rancage ku urang rek dianggap LSM. Ari banggana, pedah, baheula, panitia KIBS, nu diluluguan ku Yayasan Rancage, oge ngalaporkeun keuangannana dina laporan kagiatannana. Teuing pedah di dinya aya Pa Erry (Riyana Hardjapamekas), Wakil Ketua KPK, salah sahiji inohong nu kungsi dileler Hadiah Hatta, nu oge kungsi dijagokeun waktu kalangan budayawan neangan jalma nu pantes keur ngurus Yayasan Kesenian Jakarta? Teuing nurutan MJ nu teu weleh ngalaporkeun keuangan Yayasan Perceka? Teuing.&lt;br /&gt;Naon bae alatannana, nu pasti, transaparansi jiga kitu teh bisa nambah kapercayaan jalma loba ka hiji lembaga nu ngokolakeun duit publik. Cag, ah! Nu ngajemput geus datang, euy! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;urangsunda. Sat Jan 7, 2006 12:19 pm &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624942609188889?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624942609188889/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624942609188889' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624942609188889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624942609188889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/transparansi-jeung-akuntabilitas-lsm.html' title='Transparansi jeung Akuntabilitas LSM'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624930700482268</id><published>2006-12-15T22:05:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T22:08:27.130-08:00</updated><title type='text'>Milis jeung Community Relations</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Mun teu salah, jumlah nu make internet di Indonesia teu leuwih ti 3 yuta. Jumlah nu samenel dibandingkeun jeung populasi bangsa urang, nu leuwih ti 203 yuta. Teu nepi ka 2 %-na. Kitu ge, ceuk hiji riset, para netter teh sarupaning karyawan nu ngamangpaatkeun fasilitas internet haratis nu aya di tempat gawena sewang-sewangan, atawa nu ngaradon muka internet di warnet-warnet. Saeutik pisan netter nu ngahaja muka internet di imahna, nu hartina lalangganan sorangan ka ISP. Ma'lum akses internet di urang, masih kaitung mahal. Paling heunteu, keur pantar kuring, nu masih keneh dijamotrotan pamajikan sakalina tagihan telepon "lain dari biasa".&lt;br /&gt;Sanajan kitu, jumlah nu ngan samenel teh prak-prakannana signifikan pikeun migeykeun kagiatan ekonomi, sosial, budaya, jeung politik. Contona, mengparkeun maneh tina nyebutkeun Kusnet: Urang, atawa sawatara di antara urang, tangtu inget kumaha lalakon milis apakabar mangsa Soeharto rek lengser. Teu weudeu eta milis teh gede pisan mangpaatna keur "manaskeun" kaayaan. Ku ayana eta milis, urang meunang info-info "A-1" jeung  "mutakhir" ngeunaan kaayaan nagara jeung pamarentahan urang harita. Utamana nu teu bisa muncul di media massa.&lt;br /&gt;Sabalikna, sanajan geus aya BPPT, program e-government, Menkominfo, jeung sajabana, pihak birokrasi pamarentahan katingal can optimal ngamangpaatkeun teknologi ieu. Urang masih jajauheun bisa ngurus perpanjangan KTP, SIM, atawa STNK, ku ngaliwatan internet. Dalah, informasi-informasi standar nu dibutuhkeun ngeunaan hiji hal, arang urang bisa meunang ku ngaliwatan salah sahiji modus e-government eta. Coba bae urang titenan sawatara situs resmi milik pamarentah. Boh hiji departemen, lembaga nagara, atawa pamarentah daerah pisan.&lt;br /&gt;Sebut bae, situs Departemen Pertanian, nu ceuk pangalaman kuring, paling informatif manan situs-situs "plat merah" lianna nu kungsi kaanjangan ku kuring. Tapi, sanajan kaitung rempeg, tetep bae aya nu kurang: Urang misalna teu meunang informasi ngeunaan kumaha prak-prakannana meunang sertifikat organik. Lien ti eta, data di dinya loba nu geus lawas, nu sanajan aya mangpaatna, tapi teu up to date. Malah, aya sabaraha kaca nu teu bisa kabaca pisan informasina.&lt;br /&gt;Geus puguh ari situs sabangsa &lt;a href="http://www.subang.go.id/"&gt;www.subang.go.id&lt;/a&gt; mah. Urang boro-boro dibere nyaho bisa sare di mana, mun sakalina urang nganjang ka lebah dinya teh. Dalah,  statistik  ngeunaan eta wewengkon ge can dieusian keneh. Padahal, eta website teh geus aya taunna ngajomantara. Kaciri pisan teu dipiarana teh. Mun tea mah urang teu wasa nyebutkeun, eta situs sabenerna "teu niat" dijieunna teh. Ongkoh, nu ngagarawekeun eta situs teh, utamana dina versi anyar ieu, barudak keneh. Barudak  STM Pasundan, Bandung. Sanajan, tangtuna, dipigawe ku barudak kitu teh lain ulah. Malah, hade pisan. Tapi, hasilna kudu tetep alus. Kudu luyu jeung paniatan, konsep, atawa prak-prakan e-government atawa naon nu disebut "abad informasi" tea.&lt;br /&gt;Lian ti kitu, atawa luyu jeung sipat lur jeun atawa sipat asal aya tadi, fungsi komunikasi dua arah nu bisa dipiboga situs-situs siga kitu teh euweuh pisan. Buktina, sawatara email nu ku kuring dikirim ka sawatara instansi nu aya di hiji departemen atawa kabupaten euweuh hiji-hiji acan nu meunang jawaban. Geus karuhan meunang jawaban ngeunaan data atawa informasi nu ku kuring ditanyakeun mah. Ieu mah jawaban nu sipatna sasadu ge euweuh. Bisa jadi, nu teu nyebutkeun email sewang-sewangan, ku web masterna teu ditepikeun ka jinisna. Atawa, boa-boa, pajabat nu bersangkutan teu nyahoeun yen di dunya ieu aya teknologi nu ngaranna internet, jeung sapurati turunan-turunannana.&lt;br /&gt;Nyebut kitu teh kuring lain suudzon atawa ngarasa "pang melek internet"-na. Teu pisan-pisan. Nyebut kitu teh pedah bae, kuring sok pangangguran nanyakeun alamat email sawatara pejabat. Umumna, maranehna teu barogaeun. Lain pedah sakur surat nu asup ditekel heula ku sarupaning staf atawa sekretaris. Tapi, teu saeutik nu memang (kacirina) teu pati wanoh jeung internet.&lt;br /&gt;Malah, aya  babaturan kuring,  humas salahsahiji kabupaten di "Pulo Jawa" (ngahaja locusna dilegaan ambeh teu kaciri teuing), karah ka malik nanya:  "Ari email teh naon, Man?,"  ceuk manehna, lempeng.&lt;br /&gt;Patanyaan eta batur teh teu beda jeung hiji letnan (harita) di Mabes Polri, ahir dekade 80-an, nu hiji peuting deadline haharehohan datang ka kantor. "Mas, saya disuruh Pak Anu lihat Pak Ismail di ruang Sekpri untuk diantar ke Mas. Tapi, saya lihat ke sana nggak ada siapa-siapa," ceuk eta Letnan, bangun nu bingung.  "Gimana, ya?".  Atuh, ngadenge kitu teh kuring nyerengeh. Na hate mah hayang ngabarakatak. Tapi, teu wasa. Karunya. Enya, da nu dimaksud ku si komandan teh faksimil. Si komandan, beurangna geus jangji rek mere data via faksimil. Ngan teu apaleun nomer faksimil kantor kuring meureun. Dikirim ka kantorna. Tapi, kadenge ku si Letnan "Pak Ismail". Bari jeung teu nyaho nu kumaha faksimil teh. Matak, basa ningali di rohangan si Sekpri euweuh jelama, manehna ti paparetot ka kantor. Ngadon sasadu.&lt;br /&gt;Ari dina kasus babaturan tadi, di hareupeun manehna teh ngajungkiring komputer nu geus dilengkepan ku modem. Tapi, teu nyaho email-email acan. Ditanya soal internet ge teu nyahoeun. Atuh ku kuring ditunjukkeun kumaha prak-prakkannana muka jeung ngamangpaatkeun internet, nyieun alamat email, jste. Salila dua minggu kuring aya di lembur eta, meh unggal poe mere kursus haratis ngeunaan email jeung internet. Malah, ku kuring dipangnyieunkeun milis sagala.&lt;br /&gt;Tapi. sanajan geus dipapatahan ge tetep bae eta fasilitas teh teu dimangpaatkeun. Nepi ka, sawatara bulan ka tukang ku kuring ditingali, eta milis geus euweuh. Geus dipaehan ku yahoo. Kateuteuari, meureun. Ngaheuheurin wungkul.&lt;br /&gt;Satadina, ku cara dipangnyieunkeun milis, manehna, salaku humas di eta kabupaten,  bisa komunikasi leuwih langsung, malah leuwih personal, jeung jalma loba. Jeung masarakat. Sanajan, guna jeung mangpaat eta milis teh diragukeun. Lain bae ku perkara biaya interlokal ka ISPna, nu bisa diakalan ku ngan muka internet dina waktu nu geus ditangtukeun -- ngan tilu jam saminggu, misalna. Atawa neang cara lian nu leuwih murah. Tapi, oge ku masih saeutikna masarakat di wewengkon manehna nu  bisa ngakses internet.&lt;br /&gt;Bisa jadi, keur kasus siga babaturan kuring, nu infrastruktur internet di daerahna masih goreng, ngamangpaatkeun milis salaku media community relation  teu efesien atawa teu efektif. Tapi, keur wewengkon lain, nu insfrastruktu atawa budaya internetna geus alus, media siga milis teu bisa disapirakeun mangpaatna pikeun hiji lembaga siga pamarentah tempat gawe eta batur. Utamana salaku salah sahiji modus atawa media community relation tadi. Bisa jadi, "kayakinan" ieu pedah kuring urang komunikasi. Sensitif kana perkara media siga internet kieu. Matak, teu pati helok waktu dua taun ka tukang, aya babaturan nu jadi manajer marketing di hiji majalah franchaise, ngadangkal dikirim  ka Hong Kong. Pausahaan nu boga eta franchaise, ngayakeun seminar jeung pelatihan keur sakur manajer marketingna di Asia-Pasifik.&lt;br /&gt;Salah sahiji sesi, nu meunang porsi waktu rea, taya lian ti kumaha prak-prakannana jadi ...moderator milis!&lt;br /&gt;Lian ti kudu nyaho persis filosofi, kultur, jeung kawijakan pausahaan teh, si moderator milis kudu bisa ngasuh anggota milis nu aya. Nya, dina raraga ngabina hubungan jeung masarakat tea. Sangkan bisa meunang feedback nu leuwih akurat, bari maca "gerentes pasar", ti masarakat. Tangtu bae media nu bisa dipake keur kagiatan community relation siga kitu lain bae milis. Tapi, di kota gede, nu infrastruktur jeung budaya internetna leuwih alus, siga Jabodetabek, salah sahiji cara nu murah nya ku nyieun milis.&lt;br /&gt;Malah, ceuk eta batur, beh dituna mah tugas manehna teh kudu bisa ngaronjatkeun jumlah pelanggan eta majalah. Luyu jeung tugasna salaku manajer marketing. Hartina, milis bener-bener murah meriah. Bisa kabula-bale. Lain bae jadi media community relation. Tapi, leuwih jauh deui: Media promosi atawa alat marketing. Komo, ceuk eta batur keneh, lian ti ngajaga hubungan jeung ningkatkeun jumlah pelanggan majalah teh, manehna oge  kudu bisa neangan duit tina kagiatan off print nu diayakeun ku eta majalah, nu alat marketing utamana nya milis majalah tea. Nya, ku cara ngamangpaatkeun anggota milis eta, nu teu kabeh langganan majalahna, manehna nyieun rupa-rupa kagiatan. Ti mimiti jalan-jalan ka Anyer, nepi ka sarupaning bazaar, fashion show atawa ngayakeun seminar-seminar nu aya pakaitna jeung kabutuhan pembaca eta majalah.&lt;br /&gt;Tetela,  ku eta majalah, fungsi milis teh dioptimalkeun. Sanajan, dina raraga marketingna, siga katingal di luhur, eta majalah teh ngalaksanakeun atawa ngamangpaatkeun naon nu disebut mix media marketing. Teu ngan ngandelkeun hiji media.&lt;br /&gt;Ngamangpaatkeun milis salaku media community relation siga kitu, atawa salaku instrumen marketingna pisan, oge dilakukeun ku sawatara pausahaan. Utamana, nu kuring katingal, pausahaan otomotif. Sawatara produk nu dikaluarkeun ku maranehannana, sok terus dibarungan ku ayana milis komunitas nu make eta produk. Dina eta milis, sing sakur nu make eta produk bisa silih tukeur informasi. Lengkep jeung acara kopdarna, kopi darat.  Kituna teh, lian ti milis, oge sok dibarungan ku mucunghulna kleub-kleub otomotif pakait jeung produk tadi. Saliwatan mah siga nu heueuh inisiatif masarakat. Padahal, aya leungeun nu meh teu kadeuleu nu ngahirupkeun eta "inisiatif".&lt;br /&gt;Geus puguh ari sarupaning pausahaan komputer mah. Meh unggal bulan, sakapeung dua minggu sakali, kuring meunang news letter  ti hiji milis nu dikokolakeun ku hiji distributor komputer di India jeung hiji hotel di Phuket, Thailand. Eusina, lian ti hahargaan produk-produk nu dijual ku manehna, oge sawatara artikel ngeunaan TI jeung telematika. Ngiluan eta milis teh lain pedah kuring hayang dagang komputer. Tapi, ku hayang nyaho bae gambaran kaayan kahirupan TI di ditu, bari meunang data ti lapangan, oge...haratis. Sanajan, seuseuhannana, teu kabeh informasi bisa kaharti, bisa mangpaat -- da sakapeung, keur kuring, teknis teuing. Ari nu di Thailand mah, nu remen midangkeun acara keur lalaki, murni gagayaan bae. Ambeh katingal kuring sok sare di hotel.&lt;br /&gt;Tangtuna, lain lembaga-lembaga komersial bae nu ngadangkal nyieun milis keur ngawangun komunikasi dua arah bari jeung leuwih personal  eta. Kalangan LSM jeung partai politik ge teu saeutik nu ngamangpaatkeun ieu teknologi. Di antarana, nu paling "organized", Jaringan Islam Liberal. Malah, ceuk pamanggih kuring, di antara LSM nu aya, nya JIL nu paling sadar media. Lian ti milis teh, pan maranehna mah tapis pisan nulis di koran, nyieun acara radio, ngayakeun diskusi, nerbitkeun buku, jste. Pon kitu deui sawatara organisasi kaagamaan, boh Islam boh non Islam. Embung eleh dina ngamangpaatkeun fasilitas murah meriah nu ngaranna milis pikeun nyebarkeun ide-idena, paling heunteu dina ngalakukeun community relation-na.&lt;br /&gt;Mun pihak swasta sakitu motekarna dina ngamangpaatkeun milis, kumaha birokrasi urang? Siga nu disigeung di luhur, asana, euweuh pipikiran  pejabat pamarentahan urang pikeun ngamangpaatkeun milis salaku media komunikasi. Utamana, dina raraga community relation tea. Tangtu lain maksud kuring rek nyebutkeun yen euweuh pagawe pamarentahan nu melek internet atawa sarupaning kitu.  Malah, pan, dina perkara ieu, teu saeutik PNS nu oge kaasup "aktivis" milis. Tapi, icikibung maranehna teh leuwih ku inisiatif pribadi. Lain ku alatan tugas, dina harti boga misi nepikeun sora atawa ngawakilan kapentingan lembaga tempat manehna gawe.&lt;br /&gt;Aya ketang, nu kungsi kabaca ku kuring, hiji perwira di Mabes ABRI nu "diteundeun" di salah sahiji milis. Utamana keur ngaladenan provokasi aktivis-aktivis atawa simpatisan GAM. Tapi, eta mah bisa disebut hiji "anomali". Lain sipat atawa beleid umum pamarentahan urang. Sakanyaho kuring, euweuh misalna hiji milis kakotaan/wewengkon nu diadegkeun ku humas atawa hiji dinas di hiji kota atawa kabupaten, oge dimoderatoran ku maranehna, nepi ka warga kota atawa saha bae nu boga karep bisa nanya atawa madungdengkeun hiji pasoalan nu aya di eta wewengkon.&lt;br /&gt;Bisa jadi, maranehna lain teu boga pipikiran ka dinya. Tapi, pipikiran eta teu dijalankeun. Sangeuk ngalakonannana. Enya, kabayang misalna mun eta milis diadegkeun ku Pemkot Bandung. Geus pasti  moderatorna pada mentog. Atuh, maranehna pakepuk ngajawab patanyaan nu meh taya eureunna. Ku naon AACC diidinan ngayakeun haul John Lennon? Ku naon Rumentang Siang rek dijual? Ku naon Pasar Anyar make kudu direnovasi? Kumaha prak-prakannana mun urang rek ngadegkeun masigit? Ku naon jalan layang Pasopati karah ka nambah macet Jalan Suci? Kunaon Saritem teu dibuburak? Kumaha carana sangkan industri jin di Jl. Pajajaran hirup deui? Wah, matak lieur.&lt;br /&gt;Teuing tah lamun Presidenna urang PKS mah. Bisa jadi, aya staf-staf humas kabupaten atawa provinsi nu oge ditugaskeun jadi moderator atawa ngilu icikibung dina milis-milis. Paling heunteu, milis kakotaan nu aya di  wewengkonna. Naha bet PKS? Pedah bae,  di antara partey nu aya kiwari,  nu pangkatingalina "milis minded" teh nya urang-urang PKS. Bubuhan, meureun: Anggota atawa simpatisan PKS mah lolobana barudak ngora. Ari kultur internet  tea, utamana milis, pan sasatna kultur barudak ngora? Malah, bisa disebut kultur rumaja. Tapi, justru alatan kultur budak ngora eta, satemenna ieu hiji investasi nu pang...&lt;br /&gt;Wallohualam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 Januari 2005&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624930700482268?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624930700482268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624930700482268' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624930700482268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624930700482268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/milis-jeung-community-relations.html' title='Milis jeung Community Relations'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624909942622462</id><published>2006-12-15T22:02:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T22:04:59.530-08:00</updated><title type='text'>Milis Wewengkon jeung Basa Sunda</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Aya sabaraha milis wewengkon atawa milis kota di Tatar Sunda? Jawaban nu paheut mah teu nyaho persis. Ngan, milis siga kitu teh kaitung loba. Ti mimiti Serang, Cilegon, Tangerang, Bogor, Bekasi, Depok, Sukabumi, Karawang, Indramayu, Subang, Kuningan, Majalengka, jeung Cirebon. Kabeh aya. Dalah urang Pameungpeuk (Garut) jeung Banjaran (Bandung) ge baroga milis sorangan. Bari kituna teh aya wewengkon nu milisna leuwih ti hiji. Cianjur bae, contona, mun teu salah, aya nepi ka tiluna. Forumcianjur, pedulicianjur, jeung cianjur. Encan milis-milis nu diadegkeun ku barudak sakolana. Teuing aya sabaraha siki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ningali kaayaan kitu, urang tangtu ngarasa reugreug. Lain dina harti, lobana milis wewengkon teh nunjukeun infrastruktur atawa melek internet (kaasup melek milis) di Tatar Sunda geus alus. Pan, soal ieu mah geus diguar dina pangacaprukan kuring saencanna, ngeunaan milis jeung community relation. (Ngan, sakalian "ralat", datana aya nu anyar. Ceuk Bisnis Indonesia poe ieu, 13 Januari, nu marake internet di nagara urang teh aya 15 yuta jalma.Lain 3 yuta. Ieu mah, mun teu salah deui bae, nu langganan ka ISP). Malah, bisa-bisa, sabalikna: Kaayaan eta teh, mun dilenyepan jeung disalisik leuwih jauh, satemenna teu matak ngareugreugkeun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebut reureug teh dina harti, aya karep warga (nu asalna) ti hiji wewengkon pikeun "ngaropea" sarakanna sewang-sewangan ku cara ngamangpaatkeun milis. Paling heunteu ngajaga atawa ngaraketkeun silaturahmi di antara maranehna. Ongkoh, ceuk cenah, silaturahmi teh dadasar tina hirup kumbuh urang salaku manusa. Kumaha penjelasannana? Eta mah bagian pangersa Almukarom Kang Oman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu jadi perhatian kuring: Saeutikna basa Sunda nu dipake di milis-milis eta. Geus puguh ari milis sarupaning Grage Cirebon jeung Indramayu mah. Pan, secara kultural ge geus lain Sunda. Paling heunteu, di wewengkon-wewengkon eta mah, di rahayatna, Sunda teh teu "dominan" siga di wewengkon lianna. Utamana dibandingkeun jeung Bogor atawa Priangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, di milis-milis wewengkon nu aya di Priangan ge basa Sunda nu dipake di eta milis-milis teh kawilang saeutik. Ongkoh, loba milis wewengkon nu anggotana kurang ti 25 atawa 50 jalma. Malah, mun teu salah inget, paguyuban_ciamis mah anggotana teh ngan dalapan urang, kaasup kuring! Padahal, urang Ciamis teh, di Jakarta mah, loba nu jareneng. Hartina, leuwih pantes mun aranjeunna langkung iasa ngakses internet teh, kaasup ngaramekeun milis wewengkonna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tong poho, tadi disebut saeutik teh, boh dina perkara anggota boh frekuensi dipakena basa Sunda, mun ku urang dibandingkeun jeung milis-milis ka-Sundaan -- sarupaning urangsunda, gankleboy, barayasunda, nyi sunda, jste. (Ka Teh Gilang ti Nyi Sunda, punten abdi nyanyahoanan, nya. Bongan milisna diskriminatif gender siga kitu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangtu bae, kaayaan kitu teh bisa dianalisis. Pan, ku euweuh gawe mah sagala ge bisa dianalisis? Ka bulu-bulu irung dianalisis. Ditingali naha hideung meles, coklat, abu-abu, atawa geus bodas pisan. Nuju jeung wandana kumaha? Jeceng? Mengkol ka kenca, ka katuhu, atawa paparengkolan alias galing. Panjangna sakumaha? Naha kabeh rata? Atawa...geus, ah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik deui kana pangacaprukan nu utama: Perkara basa Sunda dina milis-milis wewengkon tadi, analisis, patanyaan, atawa asumsi nu bisa dipedar loba pisan. Ti mimiti nu harib-harib kana perkara Sara atawa bisa dikosewadkeun kana Sara, nepi ka asumsi nu leuwih "aman". Asumsi-asumsi eta, di antarana: Hiji, urang Sunda nu melek internet di "eta wewengkon" jumlahna leuwih saeutik manan urang non-Sunda. (Kasarna mah: Urang Sunda loba nu teu melek internet manan urang non-Sunda). Ka dua, urang Sunda di dinya (sanajan) melek internet tapi sangeuk mimilisan atawa teu melek milis pisan, atawa sangeuk ngilu milis siga kitu. Katilu, urang Sunda nu aya di eta milis ngarasa teu perlu make Basa Sunda di eta milis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisi aya nu lieur, ku naon kuring make tanda kutip dina kocap "eta wewengkon", taya lian ku alatan anggota milis hiji wewengkon can tangtu cicing di eta tempat. Malah, teu pamohalan, satemenna euweuh pakaitna jeung eta wewengkon. Kuring misalna, ngilu milis-milis wewengkon siga kitu teh alatan ku pagawean, boh salaku "wartawan" boh salaku "pengamat Basa Sunda dina milis jeung internet". Perkara naon jeung nu kumaha "urang Sunda", siga nu ditanyakeun ku ki dulur ti Majalengka nu ayeuna keur ngalap elmu di Yogya, saheulaanan mah urang make watesan nu gampang bae: Kum manusa nu ngarasa urang Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku nyodorkeun ieu pasoalan, kuring lain bae rek ngaririeut maneh. Tapi, oge hayang ngaririeut batur. Ti mimiti PBB, Interpol, KPK, Dekominfo, Pemda Jabar, Paguyuban Pasundan, Paguyuban Bandung, Bappeda Jabar, Yayasan Perceka, Yayasan Perkedel, BMC, mahasiswa elmu komunikasi, ahli-ahli IT, mahasiswa sastra atawa basa Sunda, jeung kumna nu milu milis-milis kasundaan. Ngaririeutna teh ku mere patanyaan ieu: Naha enya, bener, eta asumsi-asumsi amatiran teh? Mun enya, kumaha kolusina, eh, solusina?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hususon keur nu aya di kusnet atawa milis kasundaan tea, kuring rek umajak (siga hotib): Naha teu leuwih hade mun urang oge ngaramekeun milis-milis wewengkon eta? Ku naon, misalna, lian ti ngirim posting ka urangsunda atawa baraya-sunda teh teu sakalian ngirim ka milis kota-Bogor atawa Bandung-Raya? Pan sarua haratisna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina wangwangan kuring, ku cara kitu, paling heunteu urang ngilu mere wanda lokal ka milis-milis eta. Sugan bae atuh basa Sunda teh leuwih loba deui nu marakena. Euweuh di pasar atawa di bioskop-bioskop, atuh dina milis-milis wewengkon. Komo, mun teu salah basa pasamoan di Hotel Santika, urang boga karep rek ngalakukeun kampanye Basa Sunda. Sugan, ku cara kieu (salah sahiji modus) kampanyena teh: Ngaramekeun milis-milis wewengkon, nu sakapeung tariiseun atawa dilurjeunkeun pisan ku nu bogana, ku cara mosting ka milis eta. Make Basa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lian ti nyebarkeun Basa Sunda teh, atuh urang ge bisa silaturahmi jeung dulur-dulur lian nu aya di eta milis. Hanas eta aya nu teu ngarti, nya jeun bae. Sasadu bae. Pan urang mah "ngan" rek mere wanda lokal tea. Bongan eta milis teh "aya" di Tatar Sunda. Boleh, dong...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu ku kuring katingali geus prak ngalaksanakeun "program" tadi teh karek Kang Oman. Anjeunna katingal sok ngintun seratan ka milis wargi-karawang sareng wargi-purwakarta. Kang Runa, Kang Eko, Kang Kumi, Kang Gibson, Kang Tantan, oge sok katingal di milis Tasik jeung milis Asgar -- teuing Sigar teuing Sugar, ketang (pokona aya Garut-na). Geus puguh Om Teddy mah sok mendeko di milis Subang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira, saha deui, nya nu rek "aribadah" siga aranjeunna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh, dong...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maman Gantra&lt;br /&gt;Mantan Penikmat Milis (Soalna ayeuna ngan bisa ngacapruk sorangan. Teu bisa nooangan. Hampura).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sumber: urangsunda, Mon Jan 16, 2006 1:22 am&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624909942622462?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624909942622462/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624909942622462' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624909942622462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624909942622462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/milis-wewengkon-jeung-basa-sunda.html' title='Milis Wewengkon jeung Basa Sunda'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624843637135309</id><published>2006-12-15T21:51:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T21:53:56.506-08:00</updated><title type='text'>Mendak John Lennon</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;"Rumentang rek dijual, AACC dipake peringatan maotna John Lennon. Urang sunda kudu brgerak," ceuk eta SMS. "Na, make kudu riweuh? John Lennon ge urang Sunda, lin? Bapana ti Cicadas, emana ti Malimping", walon kuring. Teu lila, kurunyung deui SMS. "Serieus, euy. Jam sabaraha rek ka Bdg?".&lt;br /&gt;"Urang ge serius. Rek naon ka Bdg? Anggota DPRD lain, walikota lain, KTP ge teu boga. Jeung keur boga gawe. Pamajikan hayang Alpahrd," ceuk kuring.&lt;br /&gt;Dikitukeun teh eureun tah eta batur. Teu nga-SMS deui. Malah, nu biasana sok ngirim email ge, ngabejaan hasil gempungan atawa nagalaporkeun perkembangan hiji perkara,  euweuh pisan. Teu jadi "brgerak"na meureun. Atawa, tayohna mah keuheul pisan. Pedah ku kuring disungkun siga kitu.&lt;br /&gt;Kuring sorangan sarua: Keuheul, nyungkun kitu teh. Lain bae sagala sok disunda-sundakeun, sagala urusan make alesan "kapentingan urang Sunda" atawa "Sunda", tapi oge sok reaksioner. Gujrud lamun geus kajadian. Bari, teu puguh tea. Geledug ces. Mimitina mah rame, pahibut, siga Walanda geus nepi ka Cimindi, kabeh kudu ngilu riweuh. Geus kitu mah lep bae adem ayem deui. Sakalina panggih ge, ditanya ngeunaan hal eta, siga nu euweuh naon-naon. Siga nu teu kungsi riweuh ku soal eta. Jadi sangeuk ngalayannana.&lt;br /&gt;Ongkoh, ti iraha mula kuring geus ngusulkeun: Jieun organisasi atawa forum masarakat kasenian. Ayakeun gempungan nu rutin. Dina gempungan eta, sawalakeun ngeunaan kaayaan kasenian atawa kahirupan pamarentahan nu aya. Kaasup, kumaha ngokolakeun  tempat-tempat publik siga AACC kitu. Tong, ribut mun geus kajadian. AACC dipake kariaan pangurusna, ribut. Padepokan Seni rek dirobah jadi toko karajinan, pahibut. Taman Budaya teu merhatikeun senirupa kontemporer, ngagorowok. Festival Dago ngan ngabaribinan urang Dago, ngutruk. Haul Asia Afrika teu nyabak hate urang Sunda alatan nu ngacapi dina eta kariaan lain urang Sunda pituin, jamedud. Lieurrrr!&lt;br /&gt;Tapi, da saha kuring meureun? Usul teh teu matih. Pajarkeun teh, kuring ngajak popolitikan. Sok mamanejemenan. Pupujieun. Ongkoh, ceuk maranehna, kasenian mah teu kudu make manajemen. Teu kudu diatur-atur. Komo make organisasi sagala. Sina ngagorolong bae kuma karepna. Jeung rieut we... Komu kudu make kongres sagala mah. Kudu aya panitia, engke aya ketuana. Kudu itu, kudu ieu. Matak rieut! Dewan Kasenian Jawa Barat ge nu, cenah, boga anggaran miliaran teu jelas alpukahna. Kitu ceuk maranehna.&lt;br /&gt;Kaharti ari tina kituna mah. Lian ti frustasi ku kaayaan nu nyampak teh, sawareh mah geus ti dituna memang teu percaya pisan ka na sarupaning organisasi teh. Dalah, keur maranehna mah, tong boroning kasenian. Kahirupan ge teu kudu diatur-atur. Antep bae kuma karep. Malah pamarentahan ge bubarkeun wae. Euweuh mangpaatna. Ngan ngaririweuh jeung meakkeun duit nagara wungkul. (Bari, sakapeung, sawareh mah sok ngeteyep ka Disbudpar, ka kantor Gubernur. Mikeun proposal. Na, ari sia?).&lt;br /&gt;Ari kuring siga budak beger. Asa kamari panggih jeung Dr. Cipto, atawa jeung Setiabudhi-na pisan. Teu sadar jaman geus obah. Sagala teh (siga) kudu puguh organisasina, puguh manajemenna. Sanajan, lain rek migusti kana organisasi atawa manajemen. Tapi, nya sangkan leuwih gampang jeung ngeunah bae. Pan ieu mah tarekah urang sangkan hirup jadi leuwih ngeunah? (Atawa leuwih susah?) Paling heunteu dina perkara kasenian atawa ngokolakeun fasilitas kasenian nu sifatna publik, umum. Lain harti rek ngatur kumaha prak-prakan maranehna berekspresi. Eta mah kuma karep teuing. Rek teterekelan dina tangkal kalapa disebut kasenian, pek. Rek ngubur maneh disebut kasenian, hayu. Komo, mun rek ngadon ngagoreng peuteuy jeung peda siga si Isa mah. Okeh pisan.&lt;br /&gt;Ngan, ceuk pikiran kuring, organisasi di dieu teh nya hiji wadah atawa hiji forum bae. Di mana, siga nu disigeung tadi, nyawalakeun perkara kasenian nu sipatna pakait jeung kapentingan balarea, kaasup naon nu disebut seniman tea. Di antarana, nya ngungkulan masalah nu nyampak siga ayeuna: Pantes heunteu AACC dipake mendak John Lennon? Bener heunteu Rumentang Siang kudu dipindahkeun? Ku naon Babakan Siliwangi kudu tetep jadi leuweung? Sabaraha pantesna pamarentah kota atawa provinsi nyadiakeun waragad keur kasenian? Kasenian naon bae nu pantes dibantuan? Kumaha sangkan kelompok-kelompok seni nu aya bisa mandiri dina soal beaya? Lian ti gedong nu aya, wangunan mana bae nu kira-kira bisa dipake keur kapentingan kasenian? Jeung sawatara soal lianna. Pokona mah, nya nyawalakeun soal kahirupan kasenian bae.&lt;br /&gt;Pan geus aya pamarentah? Justru ituh, Sodarah. Matak nyodorkeun pipikiran siga kieu teh kamampuan pamarentah can nyugemakeun. Kudu dibantuan ku urang-urang. Paling heunteu, nya keur ngawasi tea. Bisi maranehna kalalanjoan atawa teu malire kapentingan kasenian tadi. DPRD atawa Dewan Kasenian pisan? Heueuh sarua. Maranehna ge kudu dipalirekeun. Tong nepi ka teu puguh siga ayeuna. Da mun baraleg mah lain bae moal ngacapruk nepi ka dieu. Nu ngaranna reformasi ge teu kudu aya.&lt;br /&gt;Jeung deui, dina paningal kuring, nu ngaranna Dewan Kasenian Jawa Barat, oge Dewan Kasenian nu aya di tempat lain, umumna ditunjuk ku pamarentah atawa badan-badan semi pamarentah. Paling heunteu ku lembaga super siga AJ (Akadem Jakarta) dina ngangkat DKJ (Dewan Kasenian Jakarta). Pondokna mah top down tea. Ari pamarentah tea pan sok asa pangnyahona atawa limpeuran pisan. Nu ditarunjuk teh, nya nu dipikawanoh ku maranehna bae. Teu dipalire, kumaha-kumahana eta calon anggota teh. Naha, diambeuan heunteu ku seniman-seniman lianna, nu araya di handap -- boh kainohongan aranjeunna dina widang kasenian atawa integritas moralna pisan. Siga nu asal padu aya bae. Matak, nya euweuh mangpaatna keur kahirupan kasenian sorangan.&lt;br /&gt;Keur ngingkahan hal eta, nya ngaliwatan organisasi atawa gempungan masarakat kasenian tea. rak-prakannana? Nya kumpulkeun bae kumna jalma nu boga karep dina widang kasenian. Boh ti masarakat umum, organizer, kritikus, pemerhati, perguruan tinggi atawa kalangan pendidikan, pers, agamawan, kalangan bisnis atawa pengusaha, kalangan industri,  jeung senimanna sorangan, oge wawakil ti pamarentahan. Kituna teh bari merhatikeun perkara keterwakilan wewengkon -- wakil kalurahan, misalna, mun keur ukuran Bandung. Oge disiplin kaseniannana. Ti mimiti nu disebut seni buhun/tradisional, modern, nepi ka naon nu dianggap seni kontemporer tea.&lt;br /&gt;Dina forum eta disawalakeun pasoalan nu aya. Kaasup program,  kawijakan dina widang pajak, saha nu kira-kira pipanteseun jadi anggota Dewan Kasenian, mun pamarentah rek nyieun fasilitas kasenian anyar di mana alusna, jste. Keur prak-prakanna sapopoe, nya kudu aya nu nungkulan. Nya ieu, ceuk kuring, nu disebut Dewan Kasenian teh.&lt;br /&gt;Ku cara  nu sipatna bottom up ieu, eta batur nu dicaturkeun dina awal pangacaprukan teu kudu miceun pulsa keur misoal mendak John Lennon di AACC. Da, kabeh geus nyaho atawa ngarti ti anggalna. Kaasup fungsi, "core", atawa "positioning" na hiji tempat publik siga kitu. Pan, tina ngaranna ge, AACC, eta tempat teh lain ngan keur saukur mintonkeun degung atawa seni Sunda lianna. Tapi, "culture" Asia jeung Afrika. Ari John Lennon? Nya, rek di mana deui? Di Taman Budaya? Dicarekan ku kulawarga Pa Soeharsono Sagir. Di GOR Saparua? Ti baheula keneh almarhum Harry Roesli kukulutus eta tempat teu cocok keur maen musik. Da, enya. Eta mah paranti basket paragi badminton. Di Sabuga? Boa-boa geus aya nu nyewa. Atawa, nu pangpantesna, nyewana mahal. Pan, eta mah kagungan ITB, paguron luhur nu otonom tea, nu hartina kudu oge neangan duit sorangan.&lt;br /&gt;Ongkoh, pan, tadi geus disebutkeun: John Lennon teh lahir di Transvaal, Afrika Selatan. Masih kapiraina Pangersa Nelson Mandela. Mung ti aalit dirorok ku kapininina di Senegal, nu kantos dibenum janten Atase MIliter Filipina di Kanada. Ari diajar ngeben (main band) mah nya ti Mang Uking sareng Gan Mahyar. Mung, diteraskeun ngaos di Gentur. Malih tos kenging ijajah ti Pangersa Ajengan Holil, di Cikeusik. Ari mamaosna mah ngalap katiasa ka Ajengan Kodri, di Bandar Lampung. Jadi, jelas yen...kuring ngacapruk!&lt;br /&gt;Ngacapruk atawa heunteu, nu jelas cara-cara nu bottom up tadi katingalna kiwari dilakukeun ku AJ dina milih pangurus DKJ. Sanajan masih dina raraga "yang bukan penyair, tak ikut ambil bagian". Ongkoh, pipikiran kuring ge teu leupas tina kasus DKJ. Hasil ngobrol jeung sawatara batur, baheula, basa DKJ rek nyanghareupan periode Ratna Sarumpaet. Malah kungsi diobrolkeun jeung sawatara anggota AJ. Hartina, teu pamohalan, mun dina haul atawa mendakna John Lennon ieu, AJ oge ngilu ngacapruk siga kuring. Naon hubungannana? Jelas euweuh, kehed! Jeung sagalana teh make kudu aya hubungannana bae. Barina ge kuring rek anggeusan heula. Nu rek ditepungan kapalna geus datang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Cengkareng, tilu poe satutas Mieling Mendakna Pangersa John Lennon nu ka 25, 4 Desember 2005.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624843637135309?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624843637135309/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624843637135309' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624843637135309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624843637135309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/mendak-john-lennon.html' title='Mendak John Lennon'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624820839372663</id><published>2006-12-15T21:48:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T21:50:12.776-08:00</updated><title type='text'>Kalapa II</title><content type='html'>&lt;div class="MsoPlainText" style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="FONT-FAMILY: Arial"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Aya eta ge usaha keur nambahan kaweruh ngeunaan kalapa teh. Ti mimiti mukaan laporan BPS, Departemen Pertanian, nepi ka tatanya ka batur-batur di sawatara pausahaan riset bisnis, kabeh dilakonan. Tapi, tetep kaweruh kuring teu nambahan. Di mana nambah ge, teu loba. Teu signifikan, meureun pilegegeunnana mah.&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoPlainText" style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="FONT-FAMILY: Arial"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Ari kamari,&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Saptu, 18 Desember 2005, kuring datang ka acara seminar pikeun noong paekonomian jeung politik taun hareup nu diayakeun ku hiji&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;pausahaan kabutuhan sapopoe (consumer good). Lain diondang kalayan resmi tangtuna ge. Komo jadi salah sahiji narasumberna mah. Boro-boro. Datang teh pedah bae aya manajer di pausahaan eta nu nitah. Pajarkeun teh sono hayang panggih jeung meumpeung acarana di hiji hotel nu teu jauh teuing ti imah. "Biar yang lain ikut seminar, kita sih ngopi aja di cafe," ceuk manehna, wangun nu ngagalendotan.&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoPlainText" style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="FONT-FAMILY: Arial"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Tangtu bae, sanajan teu dibibita ku "deukeut" jeung ngopi ge kuring pasti datang. Da nu rek medar panoongna teh jalma-jalma nu ahli dina widangna, kaasup nu ceuk kuring kuat pisan riset lapangannana. Ongkoh nu ngondangna ge awewe -- bari geulis. Barang manehna nelepon ge geus diwawaas mun sirahna diusapan (ku salakina) tangtuna bakal karasa teuas kawas...kalapa!&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoPlainText" style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="FONT-FAMILY: Arial"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Datang teh enya bae. Abong pausahaan gede jeung boga duit, seminar teh siga kariaan. Make aya bazaar, pameran, jeung sarupaning kamonesan keur barudak sagala. Tayohna mah, matak diayakeun di tungtung minggu ge, eta seminar teh dihijikeun jeung sarupaning pesta pausahaan. Sabot salaki atawa pamajikan seminar, barudak jeung indung atawa bapana arulin. Teu heran, nu ngarilu seminar teh mani metet. Boa-boa Satpam jeung office boy nu aya di eta pausahaaan kabeh dikeridkeun sina ngarilu eta seminar. &lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoPlainText" style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="FONT-FAMILY: Arial"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Lian ti kitu, sanajan pagalo jeung nu dagang atawa barudak nu ngagalambar, seminar teh kawilang hirup. Ti mimiti direksi nepi ka staf biasa, teu rogreg-rogreg nanya atawa ngadebat pisan pamanggih narasumber nu lain jalma jore-jore. Sanajan, kuring mah keukeuh, luyu jeung janji nu ngondang: Ngan meunang sawatara sesi ngadengekeun di rohangan seminar teh. Sesana mah, nya nyangsaya bae di tempat ngopi bari melong lambey nu geulis nu alewoh nyaritakeun kalakuan budak kameumeutna nu keur lucu-lucuna -- bari harita teu bisa datang, da keur ngendong di bapana. &lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoPlainText" style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="FONT-FAMILY: Arial"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Ari ceuli mah manteng kana radio manehna nu ngagembreng "nyiarkeun" nu keur ngocoblak di rohangan seminar. Ongkoh, salah sahiji narasumber teh medar perkara kalapa tea. Utamana prospek VCO jeung produk lianna nu dijieun tina kalapa. Alhamdulillah, beja teh bisa nambahan. Sanajan teu kabeh kabandungan, da pikiran midua jeung nu calik di hareupeun.&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoPlainText" style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="FONT-FAMILY: Arial"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Nu kacatet ku ingetan tina eta ceramah: Harga VCO di Eropa, ceuk eta ahli, leuwih murah manan di Indonesia. Ngan US$ 10 saleterna. Padahal, di Indonesia bisa nepi ka Rp 300 rebu (?). Onjoyna harga eta disababkeun presepsi nu beda antara masarakat urang jeung presepsi urang Eropa: Di urang VCO dianggap ubar. Lain minyak goreng siga di batur. Antukna, hargana relatif mahal manan di Eropa atawa di Amerika. &lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoPlainText" style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="FONT-FAMILY: Arial"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Sanajan hargana leuwih murah manan harga lokal, kabutuhan Eropa (oge Amerika) cukup gede keur VCO ieu. Pan dipikabutuh keur ngagoreng dahareun atawa keur lianna. Ngan, pasoalannana:&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;VCO urang can bisa nyaingan VCO buatan Filipina. Alatannana, nya nu diluhur geus disigeung: Ti mimiti perhatian pamarentah, kondisi kalapa urang, nepi ka mentalitas jeung prak-prakkan patani atawa padagang urang.&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoPlainText" style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="FONT-FAMILY: Arial"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Ceuk eta ahli, dumasar riset pihak manehna, nu oge loba dibutuhkeun ku nagara-nagara Eropa tina produk kalapa ieu taya lian ti chopstick soda. Teuing naon basa Sundana ieu barang teh, jeung kumaha bungkeuleukannana teu apal. Nu pasti, ceuk eta ahli, ieu barang teh dibutuhkeun nepi ka 30 ton sabulanna -- mun kuring teu salah inget, da nu geulis tonggoy ngecewiskeun budakna. Eta barang teh dibutuhkeun pabrik sabun nu, di Prancis, cenah, umumna mangrupa home industri. Sabaraha hargana, kuring lebeng teu inget pisan.&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoPlainText" style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="FONT-FAMILY: Arial"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Barina ge ieu mah ngacapruk, pangangguran ngalelempeng uteuk bari ngasah basa sorangan. Di mana aya nu butuh informasi leuwih jauh deui ngeunaan kalapa jeung barang lianna nu dijieun tina kalapa, nya neangan bae sorangan. Ngeunah we, sagala teh kudu dihuapan. Bari hayang haratis pisan. Hehehe...&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoPlainText" style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="FONT-FAMILY: Arial"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Enya. Aya hiji deui, nu katampa ti batur nu nitah nyieun proposal kalapa tea: Gawe bareng jeung pamarentahan Banjar, hiji pausahaan keur tatahar pikeun nyieun pabrik nu ngokolakeun kalapa nu sipatna integrated. Di eta pabrik, lain bae VCO jeung chopstik soda nu bisa dihasilkeun. Tapi oge tapas nu geus didedelan jeung briket areng batok kalapa. Ditargetkeun nampung 300 rebu (atawa 3 yuta kitu?) kalapa nu aya di Ciamis, ieu pabrik bisa ngahasilkeun 100 ton VCO sabulan. Tapi, ku alatan kabutuhan nu aya can bisa nampung, bari hargana murah mun diekspor, sigana eta pabrik teh rek leuwih ngagedekeun nyieunan chopstik soda.&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoPlainText" style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="FONT-FAMILY: Arial"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Keur nyieun jeung ngajalankeun usaha eta pabrik, ceuk batur tadi, kawilang murah: Di luar tanah nu geus disadiakeun pemkot Banjar, ngan Rp 2 miliar. Sabaraha jalma nu bisa ditampung gawe di eta pabrik, kuring poho deui. Ongkoh, ti mimitu ge geus disebutkeun, eta batur teh siga nu ngaheureuyan. Manehna leuwih nyaho manan kuring, tapi karah nitah. Teuing naon pamaksudannana. Ngetes? Naon untungna ngetes kuring? Ke, iraha-iraha urang tanyakeun. Mun teu poho.&lt;o&gt;&lt;/o&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;o&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;o&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:100%;"&gt;Cikajang-Pasir Angin, 20 Desember 2005&lt;/span&gt;&lt;/o&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624820839372663?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624820839372663/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624820839372663' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624820839372663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624820839372663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/kalapa-ii.html' title='Kalapa II'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624811311662169</id><published>2006-12-15T21:47:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T21:48:33.270-08:00</updated><title type='text'>Kalapa I</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Batur teh ku aya-aya bae. Nitah nyieun proposal bisnis produk olahan tina kalapa. Siga nu ngaheureuyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enya, sanajan kuring sanggup ge nyieun proposal bisnis, atawa proposal nagara pisan, nu karitu patut mah manehna leuwih jago. Leuwih ngarti. Da manukna. Sakanyaho kuring, keur manehna masih keneh gawe di bank, urusanna teh teu jauh tina urusan analisa kredit, nu hartina ngulukutek sarupaning proposal bisnis tea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeung deui, eta nu rek dibisniskeun atawa nu rek diproposalkeun teh produk olahan kalapa pisan. Hal anu kuring oge teu pati wawuh. Maksud kuring, kaweruh kuring ngeunaan eta mangkeluk standar pisan: Siga nu digambarkeun ku lambang pramuka, kalapa mangpaatna loba pisan. Ti mimiti kembang, daun, nepi ka tangkalna miboga mangpaatna. Geus puguh ari buahna mah. Boh dagingna, boh caina. Dalah, tapas jeung batokna ge teu saeutik mangpaatna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ti kapiadi, kuring meunang beja: Di Banjar aya pabrik tapas kalapa nu meunang kontrak ti hiji pausahaan Jerman keur nyuplai tapas kalapa pikeun jok mobil. Oge, mun teu salah denge, di Sumedang aya pabrik sarupa. Lian ti eta, aya sawatara pausahaan nu nyarieunan briket areng kalapa. Terus di Medan, aya hiji lembaga bogana PU nu naliti jeung ngembangkeun tangkal kalapa pikeun bahan bangunan. Usaha nu pakait jeung kalapa nu kiwari keur ngetren, industri VCO, Virgin Coconut Oil, nu ku kolot-kolot urang sok disebut keletik atawa minyak keletik. Kituna ge, cenah, masih skala home industri tea. Sarua jeung usaha buah merah. Can aya nu mangrupa pabrik gede.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alatannana, nya secara ekonomis can kaharti bae meureun ku nu baroga modal. Ongkoh, perkara "minyak keletik" ieu jadi ceuyah teh pedah bae aya urang Amerika nu ngahudangkeunnana. Manehna nyabit-nyabit mangpaat keletik atawa VOC, eh VCO eta. Mun lain urang Amerika eta mah, sanajan sarua ahlina, meureun, keukeuh bae kawas saencanna: Minyak kalapa teh dianggap sumber cholesterol. Matak, minyak tina kalapa sawit nu digegedekeun teh. Minyak kalapa mah, sanajan masih diproduksi, cenah, lakuna teu sabaraha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaweruh lianna: Kalapa bisa hirup di mana bae. Paling heunteu nepi ka wewengkon nu luhurna, mun teu salah inget, 3.000 meter luhureun laut. Teu pamohalan mun di urang, kalapa patulayah di mamana. Ku alatan kitu oge, patani kalapa di urang aya kana 4,5-5 yuta kulawargana. Hartina, mun tiap kulawarga tuhu kana "ajaran" Keluarga Berencana, dua anak sakulawara, aya 18-20 yuta manusa Indonesia nu hirupna pakait jeung kalapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngan nya kitu, kalapa teu dikokolakeun kalayan daria. Beda jeung Filipina atawa Vietnam, nu mulasara kalapana nepi ka bisa jadi lima (atawa tilu?) komoditi unggulan nu bisa mere devisa keur maranehna. Di urang mah, kebon nu aya ge teu dipirosea. Nepi ka 40-50% tangkal kalapa di urang kudu dirumajakeun. Hartina, nya perlu perhatian ti pamarentah, LSM, ulama, seniman, wartawan, tukang kiridit, mantri polisi, jeung relawan. Utamana, mun hayang ngajait patani kalapa tea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, nya kitu. Siga disebut tadi: Ti taun 80-an, pamarentah leuwih "ngogo" industri kalapa sawit. Lain bae di Sumatera jeung Kalimantan, di Jawa ge teu saeutik lahan nu dirobah jadi kebon sawit. Nepi ka di Kalimantan jeung Riau mah, cenah deui bae, aya kebon sawit nu langlayeuseun sorangan. Da sawitna euweuh nu nampung. Si investor, teu embol-embol deui. Enya. Da, manehna mah geus meunang untung tina kai leuweung nu dibabad mangsa muka eta kebon atawa tina kredit keur "muka" kebon sawit tea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antukna, nya rahayat leutik deui nu sangsara mah. Hanas manehna geus kaiwat ku program PIR nu baheula dijangjikeun ku si investor, ngarararobah kebonna jadi kebon sawit. Ari ayeuna kieu kajadiannana? Atuh, si kebon teh ngajejembrung deui. Teu kaurus. Ditambahan deui ku kawerit ayeuna: Euweuh gemuk. Geus kitu teh, pamarentah siga nu tonggoy: Leuweung-leuweung di wates RI-Malaysia rek diobah jadi...kebon kalapa sawit. Atuh, aktivis lingkungan ngagararowok. Da, lian lahanna miring, eta rarancang teh bakal ngababuk sabagian taman nasional. Rieurrrr...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanajan rieurrrr, digedekeunna industri atawa kebon kalapa sawit di urang tangtuna aya alesannana. (Nya, enya. Mun euweuh teh kacida pisan eta pamarentah). Lian ti dipiharep bisa nampung nu garawe teh, lolongkrang urang keur ekspor lumayan gede. Ti taun ka taun, cenah, kabutuhan minyak sawit terus nerekel. Geus kitu teh, Cina jeung Vietnam, nu remen jadi lawan urang dina widang kekebonan lian ti Thailand jeung Filipina, teu bisa melak eta tutuwuhan. Teu cocok alamna. Bari potensi tanah di urang lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teu aneh mun urang kiwari jadi eksportir minyak sawit ka dua (?) sadunya, saeunggeus Malaysia. Hartina, mangpaat sawit gede oge keur nagara. Eta bae, mangsa krisis moneter keur heuheurasna, 2000, industri ieu bisa nalangan nepi ka US$ 3,2 miliar. Sanajan, dibandingkeun jeung Malaysia mah can sabaraha. Harita, maranehna bisa meunang devisa nepi ka US$ 6,5 miliar tina ekspor sawit. Pan, urang mah karah nerapkeun pajeg ekspor nepi ka 3%? Ditambah ku cecek bocek lianna, nu ceuk taksiran kuring mah akarna aya dina kapercekaan jeung kasatian urang dina perkara korupsi, nya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitu kaweruh kuring ngeunaan kalapa (jeung sawit) teh. Standar pisan, pan? Leuwih ti kitu mah kuring teu nyaho. Aya ketang kaweruh standar lianna. Ngeunaan mamala kalapa: Mun hulu urang katinggang kalapa, komo nu keur meumeujeuhna, pasti bakal buncunurna. Malah, bisa-bisa, kalengger pisan. Geus puguh mun kalapana tilu kontainer mah. Diborolokeun kabeh kana hulu urang. Moal teu gepeng tah eta hulu, jeung awak-awakna. Tapi, saha nu rek pirajeunan ngaborolokeun kalapa nepi ka tilu kontainer? Tong jadi pikiran teuing. Barina ge...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624811311662169?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624811311662169/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624811311662169' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624811311662169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624811311662169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/kalapa-i.html' title='Kalapa I'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624787851464055</id><published>2006-12-15T21:44:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T21:44:45.606-08:00</updated><title type='text'>Si Bonar</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ambeh gampang, urang sebut bae Bonar. Kuring wawuh mangsa Habibie manggung jadi Presiden. Manehna, salah sahiji "wartawan" nu ngabantuan kuring nyieun hiji tabloid. Make tanda kutip teh, pedah bae maranehna leuwih deukeut ka abal-abal manan wartawan dina harti nu sabenerna. Nulis teu bisa, wawancara tara. Kartu pers jeung stiker PWI  we ngajegir sagede hihid na kaca mobilna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanajan, husus si Bonar, kaweruhna ngeunaan dunya preman mah teu bisa disapirakeun. Utamana nu nyoko atawa sabudeureun Kota jeung Mangga Besar. Da, memang asal muasalna ti dinya. Malah, nepi ka kiwari, mun butuh peta atawa kasangtukang jalma-jalma nu kasangkut kasus BLBI, kuring sok mulungan kaweruh ti manehna. Lumayan. Paling heunteu keur informasi awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asalna mah, nya  ti Medan. Budak Padangbulan. Taun 1982, kungsi jadi petinju nasional. Jeung sawatara petinju senior, sarupaning Sjamsul Anwar, manehna wanoh pisan. Teuing iraha-irahana mimiti matuh di Jakarta teh. Ngan, ceuk carita jinisna, manehna langsung idek liher di Kota jeung Mangga Besar. Lian ti jadi tukang kepruk teh, oge sok dijadikeun kurir ku sawatara Cina Kota jeung Mangga Besar keur setor ka sawatara pejabat. "Saya pernah bawa duit satu ransel ke Ambon. Setor untuk perwira di Polda Ambon," ceuk manehna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atuh, manehna apal pisan saha bae pejabat di Mabes Polri nu kungsi disakolakeun ku bosna. Si Anu Sespminna dibeayaan ku si Ieu, si Itu PTIK-na diwaragadan ku si Eta. Malah, saha bae kapolres nu ulangtaun anakna diayakeun di tengah laut ge manehna (siga nu) apal. "Kalau orangnya belagu, ya kita garap keluarganya. Isterinya kita kasih berlian, anaknya kita pestain di kapal pesiar...," ceuk manehna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari ka kuring mani siga ka pangagung. Akang deui, akang deui. Bari teu weleh nyebut "sumuhun" atawa "nuhun".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina kituna mah kaharti. Diheunteu-heunteu, kuring ti media nu “gede” jeung "bonafid". Ayeuna daek gaul jeung "wartawan" siga manehna. Atuh, manehna agul kacida. Asa dijelemakeun. Komo, sanggeus manehna ku kuring diajak wawancara Pangdam jeung Kapolda mah. Meh tiap ngariung jeung batur-baturna, eta pangalaman teh teu weleh dipedar. Sanajan, tangtu bae, hormatna teh ngan saukur luarna. Jero-jerona mah duka teh teuing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeung deui, ngaku ka kuring teh pedah guruna urang Sunda pisan. Urang Palabuan Ratu, urut dalang nu kungsi idekliher di Petak Sembilan. Enya, eta budak teh resep guguru. Nya, keur mageran dirina tina kadoreksaan batur -- meureun. Da hirupna teu leupas tinu kararitu. Didoreksa atawa ngadoreksakeun. Tah, di antara guru-guru kawedukan atawa guru spiritual nu geus didatangan ku manehna, nya urang Palabuan Ratu eta nu paling cop jeung manehna. "Saya sudah ke mana-mana, Kang. Tapi, tempat yang paling keramat dan guru yang paling top itu ya di Sunda ini. Daerahnya Prabu Siliwangi," ceuk manehna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanajan lain muslim, dina harti teu maca sahadat jeung teu disunatan, kana sarupaning wirid mah leket pisan. Sajadah, kopeah, jeung tasbe teu weleh aya dina mobilna. Ceuk manehna, meh tiap peuting ngadon wiridan. Ngamalkeun ajaran nu diturunkeun ku guruna tea. "Yang belum itu saya baca syahadat dan naik haji, Kang. Yang lainnya, saya udah Islam," ceuk manehna, bari tara tinggaleun nyebut "alhamdulillah", "barokah", jeung kocap-kocap Islami lianna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah, ka kuring ge sok remen mere amalan-amalan. Ngan, kuringna teu parurun. Sanajan ditarimakeun, tara ieuh diamalkeun. Teu ngarti we, teu jelas sanadna. Ku kuring ditarima teh pedah ku hayang nyaho dunya manehna, jeung saukur ngaragangan, bari nambah kaweruh. Geus ilahar di kalangan nu kararitu, kaweruh sajarahna ge sok "pabaliut". Lain bae perkara mana dongeng  mana sajarah, tapi oge perkara ngaran atawa inohong-inohongna. Antara Borosngora jeung Sri Manarah, misalna, silih tumpuk. Pon kitu deui inohong-inohong lianna. Sanajan, geus bisa kajudi: Karamat-karamat nu aya di Jawa jeung Bali  geus kaaprak ku manehna. Kaasup karamat Eyang Sosro, Sosrokartono, lanceukna RA Kartini, nu aya teuing di mana (keur poho). Geus karuhan ari Eyang Suryakancana, Eyang Ranggagading, Eyang Jayaprakosa, Eyang Jatra, jeung karamat-karamat lain nu aya di Tatar Sunda mah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hormat ka guruna nu urang Palabuan Ratu tea teh enya-enya. Meh tiap malem Jumaah, keur kumaha atawa keur naon bae, manehna sok nyelang heula ka Palabuan Ratu. Kituna teh bari jeung sok maksakeun rebo ku babawaan. Naon bae nu bisa dibawa. Sakali mangsa mah, ku kuring katingali mobilna pinuh ku sirop jeung sarung poleng. "Biasa... Titipan dari orang Kota," ceuk manehna. Waktu lainna, nu dibawa teh embe hideung satilu-tillu. Diasupkeun kitu bae di jok tukang mobilna, sedan Datsun kaluaran heubeul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu oge kapiahengeun, keur kuring, sikepna nu embung nyusahkeun batur. Utamana kulawargana. Eta bae, ceuk manehna, mitohana lain sakali dua kali nawaran gawe nu leuwih   merenah jeung leuwih bisa ditarima ku masarakat. Tapi, manehna keukeuh embung. Lian ti geus ngarasa betah ku pagawean ayeuna, oge manehna kungsi nyeri hate ku polah mitohana. Mitohana, kaasup jelema aya. Malah adi si mitoha ieu jadi pangagung militer, jendral bintang tilu, mangsa Habibie manggung. Kawentar galak jeung "pinter". Sakalina kuring ngawawancara atawa nelepon teu weleh sentak sengor. Malum tangtara. Rada leahna teh, nya sanggeus kuring nyentak deui. Bari ngabolekerkeun alesan-alesanna nu teu asup akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tah, nyaho anak awewena bobogohan jeung abal-abal siga si Bonar, nu sakolana teu tamat SMA-SMA acan, tangtu bae mitohana teu panuju. Nepi ka karawinna teh kawin lari tea. Teu dihadiran ku kolot si awewe.  "Dia datang ke rumah kontrakan kami, setelah kami punya anak, Kang. Tadinya, mana mau...," dongeng manehna. Nya, keur gawe jeung kuring, mangsa anakna geus tilu, kawin manehna disampurnakeun sacara adat jeung gareja teh. Lian ti karek boga duitna, mitohana karak sadar yen si Bonar, sanajan preman, lalaki nu miboga tanggungjawab ka anak pamajikannana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keur usum Pemilu kamari, sanggeus lila teu panggih, aya SMS asup. Eusina, intina, ngajak kuring milih Megawati. Tangtu bae kuring nolak. Sudi najis. Boroning Megawati, Amien Rais jeung SBY ge kuring mah teu percaya. "Terimakasih. Semoga Anda cepat insyaf dari kekeliruan besar ini," walon kuring. Teu lila, nu ngirim SMS teh nelepon. Singhoreng manehna. "Wah, Kang, masa ajakan dari adik sendiri dibegitukan? Apa maksudnya? Di sini kumpul anak Banser ama anak PP," ceuk manehna, semu ngancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuring rumasa oge. Walonan kuring heuras teuing. Ongkoh mah enya, kuring ngarasa euweuh mangpaatna milih Presiden teh. Kitu keneh kitu keneh. Leuwih ti eta,  sugan teh lain manehna. Ku alatan lila tara panggih jeung tara teteleponnan, nomer HPna ku kuring dihapus. Sugan teh nu nga-SMS teh batur, nu teu wawuh, lain manehna. Kapaksa kuring ngajelaskeun jawaban kuring ku cara nu leuwih leuleuy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saencanna, kungsi oge ketang manehna nelepon. "Laporan" yen manehna jadi pupuhu margana sa Bekasi. Lian ti margana langsung, oge sawatara marga lian jadi "bawahan" manehna. Eukeur mah aya potongan, boga kawani, jeung diheunteu-heunteu oge (kacirina)boga teureuh menak Batak, komo di barungan ku hasil guguru ka ditu ka dieu, sanajan preman ge, nya kaharti mun manehna diarambeuan ku papada batur salemburna teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari tilu bulan ka tukang, manehna datang ka imah. Lian ti sasadu rumasa tambelar teh, manehna menta dianteur nepungan hiji jalma. "Dia minta bantuan saya ngurus korannya. Saya bilang, ada guru besar saya yang lebih tepat: Akang," ceuk manehna. Kabeneran keur euweuh gawe, oge sono lila teu panggih, eta pamenta teh ditedunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu ditepungan teh juragan metro mini. Katingalina mah rada nyakola. Handap asorna teu jijieunan. Sanajan,  koranna nya kitu tea bae. Nu lay outna siga sirkus, pabalatak, pinuh ku hurup beureum jeung biru, bari eusina "nembakan" pejabat. Kantorna dua kios nu pahareup-hareup, masing-masing ukuran 3X4, di tengah pasar! Wartawanna, lain bae geus karolot, tapi katingal salangar jeung ditarato.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanggeus mulak-malik sawatara edisi, nya ku kuring ditepikeun naon nu aya dina pipikiran kuring. Tangtu bae, maranehna aralohok ngadenge pangwadul kuring teh. Malum, nu ngadawulna  "wartawan senior", "seangkatan dengan Goenawan Mohamad"  -- kitu si Bonar nyebutkeun kuring ka eta majelis teh, nyanyahoananan. Euweuh nu nanya, komo ngadebat. Kabeh saregep, siga nu heueuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangsa mulang ti eta tempat, si Bonar wawaleh: Basa Pemilu kamari teh, sabenerna manehna nyalonkeun diri jadi anggota legislatif ti Patriot Pancasila. Ngawakilan Jakarta Barat. "Saya dapat 5.000 suara, Kang," ceuk manehna. Sanggeus keok di Pemilu legislatif, partaina ngadukung Megawati. Tah, Pemilu engke manehna rek ngiluan deui. Ngan engke mah hayang ngawakilan Bekasi, tempat dumuk manehna. Jeung lain ti PP. Tapi ti PDIP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, yang penting itu kan, Kang: One for you, one for me?," ceuk manehna. Maksudna, nya duit. Kongkalingkong jeung pamarentah. Sawareh keur maneh, lolobana keur aing. "Nah, koran itu siap-siap untuk itu, Kang," tambah manehna -- bari terus meredih sangkan kuring daek mantuan eta koran. Sanajan lain boga manehna, tapi nu garawe di eta koran teh nya "anak buah" manehna. Boh di lingkungan adat, boh di dunya preman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turun tina mobil manehna teh kuring teu weleh ngagaroan hulu, nu teu ateul. Ras inget ka batur di Batujaya jeung Cibarusah, nu diojok-ojok ti baheula mula karah ka seserengehan. Tapi, sakapeung sok kukulutus. "Bekasi geus lain Tatar Sunda deui. Pinuh ku urang Batak," ceuk maranehna. Salah sahijina, teu salah deui: Nya, si Bonar ieu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salemba Tengah,  Oktober 2005&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624787851464055?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624787851464055/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624787851464055' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624787851464055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624787851464055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/si-bonar.html' title='Si Bonar'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624782923685303</id><published>2006-12-15T21:42:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T21:43:49.376-08:00</updated><title type='text'>Qudori</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kuring mah resep ka eta budak teh. Jujur, wanter, rapekan, jeung teu weleh hahariringan. Kituna teh sok dibarungan ku heureuy, ngacapruk, jeung "kurang ajar". Eta bae, mun isuk-isuk meresihan rohangan kuring, bari kuring kabeneran keur sare di kantor, muka hordeng teh sok bari ceuceuleuweungan. "Bapa Maman sayang, bangunlah segera, bangunlah Indonesia Raya...," ceuk manehna, dina wirahma lagu kabangsaan. Teu nyaho, kuring karek sare jam satengah genep.&lt;br /&gt;Mun teu kitu, di mana angotna datang, inumeun nu masih diinum ku urang diringkidan. Pajarkeun teh waktu gawe manehna geus meh lekasan. Cangkirna rek dikumbahan. "Biar besok nggak banyak kerjaan," ceuk manehna, lempeng. Mun urang neugtreug atawa hayang nginum keneh, da eusi cangkir teh masih beleger, can kasiwer diinum, manehna ngajanteng di tukangeun. Nitah urang meakeun eta inuman harita keneh.&lt;br /&gt;Ari sakalina dititah meuli dahareun, ngabagikeunnana teh sok jiga guru TK keur ngabsen. "Pa Maman rendang, Pa Rudi sate, Pa Kelik gorengan, Mbak Rita capcay, Bu Astrid somay..." Sakapeung, saencan narima dahareun, urang kudu baris heula. Jeung "kudu" daek. Da, mun heunteu pajarkeun teh dahareunnnana rek diciduhan heula ku manehna.&lt;br /&gt;Ku polahna nu culangung jeung "kurang ajar" eta, teu weudeu kungsi aya semah nu kaeraan. Ditanya rek nginum naon, eta semah menta cikopi jeung cai herang. Ngadenge kitu, ana celengkeung teh manehna ngagorowok. "Oi, cakep-cakep rakus!," ceuk manehna. Atuh, si semah teh, budak awewe, langsung ngeluk. Era, diseungseurikeun jalma loba di tempat batur.&lt;br /&gt;Enya. Mun ngomong, eta budak teu bisa laun. Siga ngomong di huma bae, gogorowokan. Teu arang, tatangga hareupeun kantor ge sok ngaralieuk mun sakalina manehna ngomong teh. Da tarik tea.&lt;br /&gt;Kungsi eta ge ku kuring dipapatahan. Sangkan ngomongna rada laun, tong tarik teuing. Oge, mun heureuy, ningali heula. Komo ka semah mah. Di kantor ge teu kabeh jalma resep heureuy. "Bu Astrid contohnya. Dia itu nggak bisa main-main, orangnya serius. Lahirnya di kamar mayat," ceuk kuring.&lt;br /&gt;Tapi, da teu mempan. Karah nyerengeh. Bari ka luar ti rohangan kuring teh langsung ngagorowok. "Bu Astrid, bener Ibu lahirnya di kamar mayat?!," ceuk manehna. Atuh, nu ditanya jamedud. Diseungseurikeun ku sakantor.&lt;br /&gt;Mun manehna keur euweuh gawe, sakapeung sok ka rohangan kuring. Malah sok ngahaja dicalukan. Ambeh teu ngangganggu batur nu keur diarudag-udag deadline. Da eta sok tetelepek nanyakan itu ieu. Bari ngopepang kana laporan atawa tulisan, nu terus dibacaan bari ngagorowok tea. Keur teu pakepuk ku pagawean, sok diralayanan. Ari keur pahibut mah boro-boro. Diajakan dahar atawa salat ge sok harare-hare.&lt;br /&gt;Ari di rohangan kuring, manehna sok rada jempe. Anteng maca komik atawa lalajo televisi. Kalan-kalan, nya ditanggap sina ngecewis ngeunaan lembur atawa kulawargana di Jember. Atawa manehna nu tetelepek nanya, utamana ngeunaan pangalaman kuring basa gawe di majalah. Kituna teh bari sok nanyakeun alamat atawa nomer telepon sawatara artis sagala.&lt;br /&gt;Ari artis kameumeutna kaitung pikaahengeun: Suti Karno jeung Benyamin S. Nepi ka kungsi ngarenghik sangkan kuring ngawawancara Suti Karno jeung kulawarga Benyamin. "Biar Qudori bisa ikut, Pak. Mau foto bareng. Nanti Qudori kirim ke Jember. Kakak Qudori pasti seneng," ceuk manehna. Singhoreng, nu resep ka dua eta artis teh lain bae manehna. Lanceuk-lanceuk terena, awewe duaan, nu cenah saumuran jeung kuring, oge raresepeun.&lt;br /&gt;Tangtu bae pamenta manehna teu bisa dicumponan. Rek ngawawancara soal naon? Jeung keur naon? Sanajan enya teu leupas tina wawancara jeung nulis, pagawean kuring harita lain nyieunan majalah. Tapi, sarupaning laporan riset -- bari dicitakna kumaha nu mesen. Keur ngabeberah hatena, pangangguran ku kuring diheureuyan. "Kalau soal Benyamin, kamu baca aja di perpustakaan, " ceuk kuring bari nyebut ensiklopedi Americana.&lt;br /&gt;Dikitukeun teh mani giak. Deregdeg manehna indit ka pabukon. Teu lila mucunghul deui mawa ensiklopedi. "Yang ini, Pak?," ceuk manehna. "Ya, cari aja di huruf B atau huruf F," ceuk kuring, bari nyanghareupan monitor. Kareret manehna ka luar deui ti rohangan.&lt;br /&gt;Rada lila ti harita, manehna mucunghul deui. "Tak ada, Pak Maman. Ada juga Ben-jamin Ferangkelin," ceuk manehna. Sabenerna mah geus rada pegel ngayonan eta budak teh. Geus mimiti tagiwur ku editeun. Tapi, kagok asong: "Ya, iya. Itu. Dia itu kakeknya Benyamin S. Di situ dijelaskan asal-usul Benyamin, sampai ke anak-cucunya sekarang ini," ceuk kuring.&lt;br /&gt;Dikitukeun manehna ngadon colohok, bari terus ka luar deui. Tayohna neruskeun "maca" di pabukon. Kuring ge teu malire deui, buru-buru asup deui kana tulisan nu keur disanghareupan.&lt;br /&gt;Eureun-eureun kageuingkeun ku nu adan di televisi. Geus magrib. Kaluar ti rohangan, rek ka cai, nyampak kantor geus suwung. Babaturan geus pada mulang, si Mas Tohir, nu sok ngajaga kantor, geus datang. Karek kaluar ti kamar cai, tas abdas. "Jamaah, Pa?," ceuk manehna. Kuring unggeuk, ngaenyakeun.&lt;br /&gt;Ari ngaliwat palebah pabukon, kadenge sora nu keur motocopy. Pangangguran dilongok. Singhoreng si Qudori. "Ngapain, Dri?," ceuk kuring. "Ini, Pak Maman... Qudori motocopy Benjamin Ferangkelin. Kakak Qudori pasti seneng," ceuk manehna, bangun nu agul. Teg teh kuring jadi rumasa salah.&lt;br /&gt;Manehna teu nyaho kuring ngawadul. Leuwih ti kitu, eta artikel ngadon difotocopy. Geus kacipta, isuk si Astrid kukulutus. Pedah aya karyawan nu ngahahambur kertas jeung listrik. Untung kuring teu nunjukeun sajarah kasenian atawa sajarah Amerika. Beu, bakal beak sabaraha rim?&lt;br /&gt;Satengahing solat hate tagiwur. Hayang seuri, karunya, jeung rumasa salah, pagalo jadi hiji. Meh-mehan teu ngaaminan patihahna si Mas Tohir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayuputih, November 2005 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624782923685303?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624782923685303/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624782923685303' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624782923685303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624782923685303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/qudori.html' title='Qudori'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624732049388760</id><published>2006-12-15T21:33:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T21:37:50.233-08:00</updated><title type='text'>Memeh Lebaran</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ti saminggu saencan puasa ge, "kariaan" teh geus dimimitian. Ku munggah. Saeusi lembur geus pahibut: Masigit diberesihan atawa diomean pisan. Tembokna dikapur, samak-samak nu barutut, alatan mendongna didudutan ku barudak nu ngaji, dipake panunjuk, diganti. Kaasup tempat pasaran, diberesihan. Geus puhu bedug mah. Talina dipageuhan, nyiapkeun keur nu ngadulag.&lt;br /&gt;Kolot jeung barudak nu geus sawawa tihothat neangan sapu pare keur kuramas. Sawareh mah, nu dareukeut, geus baralik ka lemburna sewang-sewangan. Ngadon munggah di sarakan, munjungan atawa nyekar. Sawareh deui, pakpikpek di dapur. Masak. Nyiapkeun keur "nganteuran", silih kirim dahareun jeung tatangga, dulur atawa baraya.&lt;br /&gt;Nu matak helok, menu atawa kadaharan nu dikirim atawa ditarima teh meh sarua: Sambel goreng ati atawa kentang, lodeh oncom, kurupuk, jeung sanguna. Paling onjoy, mun keur aya, lodeh teh sok diganti ku opor hayam.&lt;br /&gt;Sakapeung nganteuran teh sok matak aral ngalampahannana. Enya, ku teu kaharti: Ngirim ka batur sambel goreng ati atawa kentang, balik deui atawa narima, eusi rantang teh siga nu teu obah: Sambel goreng! Ari sarua-sarua keneh mah, kunaon make silih kirim? Ceuk pikir. Mun kitu, ngirim sambel goreng, narima sangu tutug, misalna, rada kaharti.&lt;br /&gt;Geus kitu, keur kuring, sangeuk nganteurkeunnana. Utamana mun geus nganteuran ka Baros, ka kapi nini. Enya ge dibarengan ku Apa atawa Ema, eta ku ngempladna. Naek oplet ti Kebon Kalapa, turun di pengkolan ka Dustira. Ti dinya leumpang mapay rel kareta ka wetankeun. Lebah Pusdikin (Pusdikkav?), mengkol ka kidulkeun. Ngantay mapay galengan dua tilu kotak. Ngajingjing rantang. Munjungan ka rai aki.&lt;br /&gt;Beres munjungan ka bibina Ema, mapay deui lembur ka kidulkeun, sajajalan sur sor sasalaman jeung kapi-kapi lianna, bras ka Leuwi Gajah. Mengkol ka kalerkeun, ka Cimindi, ka kapi aki. Sarua ukur munjungan jeung ngobrol teu pati lila, terus balik. Naek oplet.&lt;br /&gt;Rute nu meh sarua teh, engke dibalikan deui mun Lebaran. Ngan, ari mangsa Lebaran mah ngobrolna sok rada lila. Meh sapoe jeput. Kalan-kalan ngendong, da biasana Lebaran ka Baros mah poe katilu atawa ka opat. "Ku naon teu sakantenan engke bae upami Lebaran, Pa?," ceuk kuring ka Apa, nyanyahoanan. Nu ditaros karah gumujeng. "Eh, ngarah barokah. Komo silaturahmi ka sepuh mah," saur anjeunna.&lt;br /&gt;Lian ti nganteuran, kuramas, jeung nyekar, nu rada badeur mah boga ritus lian mun munggah teh: Mimiti neangan pepetasan atawa karbit. Da, lodongna mah, biasana geus aya ti bulan itu keneh. Meunang mawa urang Limbangan ti lemburna. Sakalina nyieun ge, lain tina awi atawa kalapa. Bubuhan aya di kota, hese neangan awi – komo kalapa. Cukup tina kaleng urut wadah susu.&lt;br /&gt;Si kaleng teh bujurna dipiceun. Bujur nu hiji deui, minangka tutupna, dibolongan tengahna, liang keur nyundut. Ari karbitna, cukup diteundeun dina logak, nu meunang ngorek ku paku atawa naon bae nu bisa dipake ngorekan taneuh. Tangtu bae, sorana teu jejeleguran siga lodong tina awi atawa kalapa. Ngan saukur ngabelepbep atawa kalengna luncat ka luhur. Ramena mah ku surak barudak -- kuring sabatur-batur.&lt;br /&gt;Geus asup puasa, lian ti taraweh jeung ngilu pasesedek lalajo -- enya lalajo -- nu ngadulag, ritual nu dilakonan teh ngabeubeurang jeung ngabuburit. Bari, teu arang ngabeubeurang teh kamalinaan: Ngabring leumpang, ti Pasundan tungtung ka…Taman Sari. Ka Kebon Binatang! Isuk-isuk keneh ngadon moncor, nyingraykeun pager kawat, ngarah teu mayar.&lt;br /&gt;Atuh, sakali mangsa mah ngadon dibuburak ku pagawe Kebon Binatang. Bari sagala ditakol, maranehna pating gorowok, "Maung leupaskeun! Maung leupaskeun!". Ngadenge kitu, kuring sabatur-batur ti paparetot lumpat, paheula-heula kana pager urut tadi moncor.&lt;br /&gt;Singhoreng nu asup teu mayar karcis teh lain ngan rombongan kuring, barudak lian ge, teuing ti lembur mana, loba nu nyingraykeun pager kawat nu geus patingsolengkrah tadi. Eta bae luhureun kandang badak teh mani noyed jalma saumuran kuring, paheula-heula hayang geura moncor ka luar. Sieun dihakan maung.&lt;br /&gt;Teu lulumpatan alatan dibuburak ge, lalampahan teh tangtu bae matak cape. Jam sapuluh atawa jam sawelas, beuteung teh geus kukurubukan. Menta dieusi. Ngan, anehna, sudi najis kudu batal puasa mah. Paling ge ngadon ngeueum di walungan nu aya lebakeun Sabuga kiwari. Harita mah tangtu bae caina masih ngagenclang, bari sawareh mah rada jero jeung gede caina -- sakapeung sok kaparengkeun aya nu meunang hurang sagala.&lt;br /&gt;Mun teu ngeueum, balik ka lembur muru lohor. Lain hayang geura solat. Tapi, hayang geura abdas. Utamana hayang kekemu, bari neureuy cai saeutik. Beres solat, pek ngagoler dina ubin masigit. Dihihidan ku angin nu ngahiliwir ti pipir, nu dempet jeung solokan Ciateul, kageuingkeun teh ku bedug Asar. Mandi, solat, terus ngabuburit ka Tegallega atawa Alun-alun. Lalajo tukang obat, atawa kokorosokan di handapeun panggung Sandiwara Sunda Sinarmuda. Kira-kira jam lima, kakarak balik. Muru buka.&lt;br /&gt;Teu mikir sakola teu mikir naon, nu penting nepungan burit. Da sakola mah pere sabulan campleng. Tugas sapopoe di imah, sasapu jeung ngepel, bulan puasa mah satengah sunah. Meunang dilakonan, meunang heunteu. Kuma ingetna. Di mana inget ge, bisa dilakonan bada lohor. Kitu ge mun teu kapiheulaan ku ngatrok, ngabuburit, atawa ngagoler pisan di masigit.&lt;br /&gt;Pon kitu deui, anehna, ngaji. Lain tambah soson-soson. Mun teu kapergo ku Apa mah, anteng we ulin. Alesanna, waktuna kapake ku tarawehan. Ongkoh enya, ngaji nu biasana bada magrib teh euweuh. Sakapeung, Mang Mamat, tukang beca nu sok mondok di masigit bari ngawuruk ngaji barudak, tara katingal. Teuing balik ka lemburna, teuing ka mana. Sanajan kuduna diganti ku tadarusan, satutas taraweh, ih tara ieuh kageuing. Di mana sare di masigit ge, lain ngadon ngaji. Tapi, resep. Ngadon heureuy jeung babaturan. Silih jenggut sarung atawa kulit domba nu dipake anggel. Nepi ka janari.&lt;br /&gt;Lian ti Kebon Binatang, tempat ngabeubeurang teh Alun-alun. Kalan-kalan mawa buku tulis, ngadon heureuy di Masjid Agung, "ngaregepkeun" nu keur ceramah subuh. Bari beres ceramah, rob ka pagawe masigit. Menta cap jeung tandatangan. Eusi ceramahna mah, tinggal niron ti batur nu leuwih suhud. “Jeung eusina ge pasti kitu-kitu keneh: Nitah solat, nitah bageur,” ceuk babaturan, rada owah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beres ti masigit, meuntas ka Alun-alun. Ningali, deui-deui ningali, nu nyeungeut pepetasan. Atawa, ngabandungan nu dagang ...lotre endog! Enya, teuing kumaha asal-usulna, harita, bulan puasa teh sok rentul nu muka lotre endog. Nu dagang kitu teh lain bae kolot. Tapi, barudak sapantaran kuring harita ge teu saeutik. Teu beda jeung tukang asongan kiwari. Totonden, kamiskinan teh euweuh eureunna.&lt;br /&gt;Ari disebut lotre endog teh, pedah hadiahna endog asin. Prakprakannana, nya ilaharna lotre: Sanggeus mayar sahargana, urang milih tilu atawa lima kartu. Terus, nu dagang, atawa urang sorangan, ngoclak-ngonclakkeun kaleng eusi kertas nu aya nomeran. Mun nomer nu kaluar sarua jeung nomer salah sahiji kartu nu ku urang dipilih, urang meunang hadiah. Endog asin tea. Mun euweuh nu sarua, nya ngasin. Teu meunang nanaon.&lt;br /&gt;Enya ge ku Apa remen diomat-omatan tong ngadeukeutan nu kitu patut, keukeuh bae, sanajan tara masang ge, ari lalajo mah sering kana lotre endog teh. Matak apal ge. Nepi ka kiwari, kabayang kumaha kucelna kartu lotre endog teh. Kadieunakeun, alhamdulillah, kadoreksaan siga kitu teh leungit. Dicaram ku nagara, siga pepetasan.&lt;br /&gt;Ari sakalina nyeungeut pepetasan di lembur, remen dicarekan batur. Tina kituna mah munasabah. Teu nyarekan kumaha, da si pepetasan teh dibalangkeun kana suhunan manehna. Kacipta soakna nu boga imah. Lian ti reuwas teh, sieun kentengna somplak dibaledog pepetasan. Atawa sieun kahuruan pisan. Kawantu imah teh imah satengah bilik, bari geus kaitung aya umuran.&lt;br /&gt;Kungsi oge, ngabeubeurang teh ngadon mendeko di imah tatangga, maturan batur nu tatu alatan kaseungeut petasan. Jempol jeung dampal leungeunna rawing, alatan ngeupeul pepetasan. Disangkana, pepetasan teh apes, teu hurung. Ana dikeupeul, beledug teh bitu. Atuh, nu lain surak, manehna karah ngepret-ngepretkeun leungeun. Panas, peurih, jeung baloboran getih. Rumasa ngilu nyeungeut, meunang tilu subuh mah kuring maturan manehna nu teu bisa ingkah ti imah. Dikerem ku bapana.&lt;br /&gt;Kaistimewaan puasa, nu muarana ka Lebaran tea, oge karasa dina soal kadaharan. Padahal, ceuk agama, salah sahiji udagan puasa taya lian ti nahan nafsu, kaasup nafsu kana dahar. Lian ti ngulik awak teh, diajar ngaragap hate jeung kapeurih batur, utamana jalma fakir -- matak puasa ditutup ku zakat jeung silih halalkeun.&lt;br /&gt;Tapi, keukeuh bae: Teu arang ti jam tujuh keneh geus kukumpul dahareun. Kadedemesna teh ka pakel-pakel, sakapeung, ngadon diampihan. Geus puguh cau, buah sirsak, atawa permen mah. Pajarkeun teh keur buka. Padahal, geus waktuna buka mah boro-boro kadahar eta pentil buah teh. Dieusian kolek jeung sangu ge beuteung teh geus meh bitu. Kamerekaan. Dicontoan ku bapa ge, sangkan ngabiasakeun dahar sangu geus salat magrib, teu ngaggugu. Dur bedug, kadar nyuruput cai kolek, kadituna sangu jeung sangu. Ditutup ke kolek tilu mangkok.&lt;br /&gt;Tapi, kadedemes kana dahareun teh siga nu diluluguan ku kolot-kolot. Pan, sanajan dititah shaum ge, bulan puasa mah kadaharan teh siga nu diaya-ayakeun. Nepi, ka, dipikir-pikir, puasa teh lain nafakuran lapar dina harti nu jembar. Tapi, satemenna saukur nungguan buka atawa nunda barang dahar. Lain ngalakonan atawa manjangkeun shaum.&lt;br /&gt;Tah, dina hal dahareun, rupa-rupaning kolek sok diayakeun. Pajarkeun teh keur tajil, keur ngabatalan. Naha, nepi ka sapanci gede? Bereeun ka tatangga atawa ka urang masigit? Siga mangsa munggah: Batur ge sarua ngirim kolek.&lt;br /&gt;Geus kitu teh, dina perkara dahareun ieu, sok dumadakan sawatara tatangga ngadon dagang kolek, bubur lemu, candil, jeung menu tajil lianna. Siga nu geus kompak. Antukna, sanajan teu nyieun sorangan, kolek teh tara absen tina meja. Mun lain pangirim atawa nyieun sorangan, nya meunang meuli.&lt;br /&gt;Eta nu daragang kolek teh satemenna nu dagang dadakan atawa musiman tea. Da, bulan-bulan lian mah tara ieuh dugung-dagang. Mun lain pagawe kabupaten, nya pagawe swasta. Dina wiraswasta ge, lain padagang. Tapi, dina bulan puasa mah, maranehna dumadakan daragang kolek jeung sajabana.&lt;br /&gt;Barokah bulan puasa tea meureun. Sabab, lian ti nu dagang kolek, bulan puasa mah, tukang daging, tukang sayur, jeung pakean -- malah tukang cocoan budak -- oge sok kabagean marema. Kahirupan meh sakur jalma kapigeykeun. Kabeh kabagian rejeki. Kituna teh, ceuk ajengan, rejeki bulan puasa mah matak barokah -- mangpaat.&lt;br /&gt;Sapuluh poeeun deui ka Lebaran, nu taraweh di masigit mimiti corengcang. Kitu deui nu tadarusan, maca Qur'an nepi ka tamat. Lain pedah jadi karedul. Tapi, eusi lembur sawareh geus mulang ka sarakanna sewang-sewangan. Aya nu ka Limbangan, nu ka Cikijing, malah aya nu ka Solo sagala. Sanajan, keur kuring sabatur-batur mah euweuh pangaruh. Da, nu marulang ka lemburna teh umumna teu baroga bodak leutik. Malah, teu saeutik nu lalagasan. Kahirupan bulan puasa barudak mah teu kaganggu.&lt;br /&gt;Poe-poe eta mah, ritual teh nutur-nutur Ema. Kaluar asup toko, mapay ti Pasarbaru, Asia-Afrika, Dalem Kaum, Toko Lima. Sakapeung parat nepi ka Tegallega. Lain bae balanja bahan kueh atawa dahareun. Tapi, neangan baju atawa pibajueun, jeung sapatu -- nu nomerna undak sanomer tina ukuran sabenerna, ambeh leuwih lila kapakena.&lt;br /&gt;Nu kaleuleuwihi dina nyanghareupan Lebaran mah taya lian ti lanceuk kuring nu lalaki: Hiji mangsa puasa, deukeut Lebaran, ngadon ngadat. Ceurik gogoleran dina bangbarung. Lain menta baju, menta sapatu. Tapi, menta dipangmeulikeun wig! Kituna teh, meulina kudu ti Salon Dahlia di Ciateul, teu jauh ti lembur kuring.&lt;br /&gt;Mangsa lebaran, sunat teh sok di lapang leutik hareupeun gang. Eusi hotbahna teuing naon. Boro-boro ngabandungan, da kuring mah pahibut ngakur-ngakurkeun pakean weuteuh jeung pada batur. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Balik ka imah, sujud ka Apa jeung Ema. Sirah diusapan ku arannjeunna. "Ku Ema dihampura. Didungakeun sing pinter, sing jadi jalma soleh, heman ka dulur jeung sasama, tinekanan sagala cita-cita jeung pamaksudan. Ulah poho kana solat," kitu cariosan si Ema. Teu ngaharewos, teu ngaharahoshos, siga bibi kuring atawa Ma Enteng, ibuna Apa. Bubuhan jalmi PD, soanten si Ema mah siga sadidinten bae. Teuteug.&lt;br /&gt;Beda pisan mun anjeunna munjungan ka ibuna, nini kuring, nu calik di Subang, nu sakapeung sok Lebaran di Bandung. Si Ema ical gagahna. Ngudupruk dina pangkonan nini. Nu kuring teu wasa nuturkeunnana nepi ka kiwari: Cai pangumbahan tadi sok diwadahan deui kana gelas. Teras...dileueut ku si Ema! Si Ema nu sadidinten katingali gagah, calakan, jeung PD, harita mah cisocana ngareclakan, maseuhan sampean Nini. Kitu deui Nini. Nu biasana galak, tukang nyaram, tukang ngatur, sagala awas, sagala teu meunang, socana siga nu hurung mun tos molotot, bari ciwitna matak muriang tilu poe tilu peuting, teu weudeu ngadon ngagukguk. Sinjangna cipruk ku cisoca.&lt;br /&gt;Mun geus kitu, rumasa epes meer, kuring mah sok rada nyempod. Nyumputkeun mata nu carinakdak, jeung biwir nu geus lewa-lewe. Bari nungguan giliran sujud.&lt;br /&gt;Beres dahar kupat, kaluar imah. Ngabring sabatur-batur ngideran lembur. Sasalaman ka kolot-kolot. Kuring mah ngan ngilu ngider opat-lima imah. Da, sok kaburu disaur ku Ema. Diajak silaturahmi ka Liogenteng, ka bumi nini, ibuna Apa.&lt;br /&gt;Sakabeh ritual ti munggah nepi ka Lebaran teh nanceb jero dina hate. Nepi ka sok nyanyahoanan, minculak jeung nyalutak, teu isin ku Kanjeng Nabi jeung kiai: Ku naon pabaru teh teu dipindahkeun ka 1 Sawal bae? Lain 1 Muharam, komo 1 Januari mah? Ngarah nyecep kana ati, ngahudangkeun kumna kasadaran diri, yen aya hiji mangsa nu lain bae pakait jeung diri sorangan. Tapi ranteng manteng ka Anjeunna jeung satungkebing alam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Allahu Akbar, walilahhilhamdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salemba, 10 November 2006&lt;br /&gt;(mangsa nyukcruk katuna diri).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624732049388760?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624732049388760/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624732049388760' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624732049388760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624732049388760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/memeh-lebaran.html' title='Memeh Lebaran'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624720554743747</id><published>2006-12-15T21:31:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T21:33:27.326-08:00</updated><title type='text'>Tb.Omay Martakusumah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Nu nyieun gara-garana mah Teh Neni. Keur HBH Kusnet kamari, der ngadon medar mustika naon nu aya dina tiap rengkak tarian nu dipintonkeun harita. Atuh, kuring asa dikeletek. Bongan, si Teteh ngan medarkeun  falsafahna. Teu ngaguar rundayan sosiologi, jeung politik, nu aya di sabudeureun eta kamonesan. Nu, mun diringkes, muser dina diri almarhum Tb.Omay Martakusumah.&lt;br /&gt;Saha ari Tubagus Omay Martakusumah teh? Saencan ngajawab eta, sigana urang kudu nyebut heula (atawa sakaligus, bareng) nami Raden Tjetje Somantri. Urang geus pada caang, ieu inohong teh teu bisa leupas tina kamekaran tari Sunda kiwari. Malah ieu terah menak Bandung-Purwakarta teh disebut-sebut salaku "tonggak penting" kamekaran tari Sunda.&lt;br /&gt;Di mana "tonggak pentingna"? Ceuk katerangan, nya ti mimiti Tjetje Somantri turun makalangan, Tari Sunda teh "misahkeun maneh" tina Tari Jawa. Da, harita mah, saencan Gan Tjetje, nu disebut Tari Sunda teh nya Tari Jawa. Paling heunteu mun ngeunteung kana kabiasaan menak-menak harita, nu kamonesan, oge simbol statusna,  lian ti ngangge beskap sareng beno, ku nanggap Tari Bedaya jeung Serimpi. Pon kitu deui, upami aranjeunna bade ngersakeun ngibing: Nayub, sakumaha menak-menak Mataram. Ronggeng, longser, ketuk tilu, jeung nu lianna? Aya. Ngan eta mah kaulinan nu hirup di lingkungan cacah, rahayat.&lt;br /&gt;Nya, Gan Tjetje nu ngaguratkeun bedana Jawa jeung Sunda dina tari teh. Di antarana, ku nyiptakeun Tari Dewi, Kukupu, Sekar Putri, jeung sajabana ti eta. Ceuk brosur Tari Soenda 1933-2004, salami jumenengna, Gan Tjetje tos nyiptakeun teu kirang ti 44 tari. Tina jumlah eta, masih ceuk brosur tadi, 40 di antarana ditjiptakeun sasarengan sareng Gan Omay!&lt;br /&gt;Intina, mireungeu eta katerangan jeung nu lianna, hirupna Tari Sunda nu diibingkeun ku Gan Tjetje teh alatan diwarugaan ku Gan Omay. Ngawarugaan teh, lain bae pedah harita (1953-1938) Gan Omay jeneng janten Kepala Jawatan Kebudayaan Jawa Barat, nu mana Gan Tjetje janten salah saurang bawahannana. Tapi, oge ku ngiring ngarancang sareng nyayagikeun sarupaning kaperluan tari. Ti awitan tempat, anggoan, dugi ka properti sanesna. Lian ti janten "maecenas", anjeunna oge ngiring ancrub dina widang produksi atawa widang senina pisan. Di antarana, ku ngareka kelir, kostum, kalebet  tali nu aya dina Tari Kukupu, nu ngajadikeun jangjang eta kukupu hirup. Siga nu keur haliber.&lt;br /&gt;Tah, kamonesan Tari Kukupu ieu ngageunjleungkeun jagat tari Indonesia harita. Mun dibasakeun ku istilah barudak kasenian Bandung kiwari mah, "kontemper abis". Eukeur mah    Jawatan Kebudayaan Jawa Barat harita teh kaanggo pisan ku Bung Karno, nepi ka tiap aya tamu nagara, atawa misi kasenian ka luar nagri, nya rombongan Gan Omay nu remen dikapayunkeun teh. Ari ayeuna make aya tari nu hirup siga kitu? Boh kelir kostum-kostumna, trick atawa spectacle -na, atawa pola tariannana. Nepi ka Bagong Kusudiardja, bapana Butet Kertaredjasa, ngahajakeun sumping saparakanca ka Bandung. Seja ngimeutan leuwih deukeut eta inovasi&lt;br /&gt;Kaanggena Gan Omay saparakanca, lain bae sanggeus proklamasi. Ti zaman Walanda keneh ge, aranjeunna, nu harita masih diwadahan ku Sekar Pakoean, tos remen saba kota. Kituna teh bari matak helok nu dianjangan. Taun 1939, misalna, saatos manggung dina kariaan 200 Taun Karaton Surakarta, Ki Hajar Dewantara, dina salah sahiji seratanna di surat kabar, muji kamotekaran jeung kaahengan Tari Sunda nu dipintonkeun Sekar Pakoean di Solo. Taun 1935, Sekar Pakoen kantos dicandak ku Eduard Douwes Deker manggung di Cianjur. Oge direumbeuyan ku pamuji nu narongton.&lt;br /&gt;Katingal tina namina, Gan Omay teh terah Banten. Ramana, Tubagus Martaatmadja, asisten wadana Maja, Kabupaten Lebak. Ibuna, Nyi Mas Ratna Wiyatan, putra wadana Maligping. Teu nyalahan mun Gan Omay disebut jalmi macakal, pinter, atawa calakan teh. Eta teh, cenah, geus katingal ti aalit. Malah, kungsi aya urang Walanda nu ngahiap anjeunna sangkan ngiring ka Eropa -- sakola. Tapi, ibu-ramana teu masihkeun. Ma'lum, harita Gan Omay masih keneh alit.&lt;br /&gt;Sakola dasarna, nu harita lilana tujuh taun, ngan dilakonan ku sataun. "Karena langsung ditempatkan di kelas tiga," ceuk brosur nu tadi disebut tea. Poe ka dua sakola, diluncatkeun deui ka kelas V. Teu ngalaman kelas VI jeung kelas VII, da, cenah, mangsa ngiring ujian pikeun lebet Sakola Guru anjeunna langsung lulus. Sangkaan kuring, lian ti pinter, luluncatanna almarhum namatkeun sakola dasar, oge disarengan ku kaayaan anjeunna nu harita tos aya yuswa.&lt;br /&gt;Nuju sakola di Bandung, anjeunna oge ngiring diajar ngalukis ka hiji urang Walanda. Deui-deui anjeunna ditawisan sakola di Eropa, bari dibibita milangkori ka tiap kota nu aya di ieu dunya. Harita mah nu ngawagelna teh Kapala Sakolana. Di mana kersa ge sakola di Eropa, Gan Omay dipiwarang namatkeun heula sakola guruna.&lt;br /&gt;Saatos kantos ngalih ka Purwokerto neraskeun Sakola Guru-na, oge diselang ku nikah, Gan Omay dibenum janten guru sareng Kapala Sakola HIS Cilegon. Waktos di Cilegon ieu, anjeunna ngawitan "barontak": Nyerat, ngalatih,  sareng mintonkeun sandiwara nu diiluan  ku murid-murid awewe. Tangtu bae, kamonesan anjeunna teh ngageunjleungkeun masarakat harita.  Ari lain nari Bedoyo jeung Serimpi mah, harita, euweuh awewe baleg (sopan) nu maen tonil. Komo di payuneun umum. Ari ieu di Cilegon pisan?  Antukna, 1931, Gan Omay dialihkeun ka Gresik. Mung kiat dua taun. Bari aktif di Sarekat Islam, anjeunna ngalih ka Bandung. Ngawulang di sakola-sakola partikelir di Cimahi sareng Cicalengka. Kahaat pamarentah kolonial, nu teu bosen nawisan anjeunna sakola di Eropa sareng ngalanglang buana, deui-deui ditolak.&lt;br /&gt;Nya, di Bandung ieu macakal sareng motahna Gan Omay kasarangkaan. Lian ti ngadegkeun pakumpulan seni Tirtayasa (1933), anjeunna oge ngadegkeun Sekar Pakoean (1935), pakumpulan nu lain bae penting keur seni tari. Tapi oge keur cabang-cabang seni lainna -- ti mimiti reog, penca, tembang, nepi ka seni lukis jeung Basa Sunda. Di cabang seni lukis, Sekar Pakoean dieusian ku seniman-seniman nu engke bakal ngeusian sajarah senirupa modern Indonesia. Di antarana: Affandi, Hendra Gunawan, jeung Barli.&lt;br /&gt;Waktu Jepang asup, Sekar Pakoen "dilikuidasi" ku Kaimin Bunka Shidosho. Gan Omay janten Ketua Bagian Propaganda eta lembaga. Nya, ti harita Gan Tjetje ngawulang tari. Alatan dipundut ku Gan Omay. Saencanna, sanaos ngiring aub dina Sekar Pakoean, sareng tos  masagi sareng moyan dina tari, Gan Tjetje ngawulang penca. Sanes ibing atawa tari. Kituna ge, mantuan tuang guru, pangersa Raden Kartaatmadja, nu janten "ketua komisi" penca  eta pakumpulan. Mangsa taun 40-an ieu, Gan Tjetje nyiptakeun Tari Dewi sareng Sekar Putri. Minangka "tandingan" kana Tari Bedaya jeung Tari Serimpi nu "made in" Jawa tea.&lt;br /&gt;Siga nu ditegeskeun ku salah sawios muridna, oge salah sawios putuna,  perhatosan Gan Omay kana seni lukis sareng seni drama, nu ngagurat ti aalit dugi ka sepuhna, napak pisan dina tari-tari nu direka atawa nu ngiring direka ku anjeunna. Nu paling nyongcolang, nya Tari Kukupu.  Lian ti "pola lantai", blocking, nu sigana pangaruh tina kaedah-kaedah teater modern (Barat), rupaning kelir dina jangjang jeung pakean Tari Kukupu nunjukkeun Gan Omay perceka dina perkara warna, nu hartina ngamangpaatkeun kaweruh anjeunna dina seni lukis.&lt;br /&gt;Pupus taun 1984, dina yuswa 92 taun, Gan Omay kaamanatan putra salapan urang. Teu sakedik rundayannana nu neraskeun tapak lajak anjeunna dina widang seni. Malah, salah saurang putuna,  Armand Maulana, lulugu band Gigi, tiasa disebat jadi pupujan barudak ngora kiwari.  Putuna nu sanes, Nita, teu dikersakeun panjang yuswa. Pupus alatan panyawat kangker.&lt;br /&gt;Pon kitu deui murid atanapi asuhannna. Dalah palaputra muridna eta, katingal teu ninggalkeun naon nu tos ditaratas ku sepuh-sepuhna. Di antarana, putra pasangan Asri-Dida Hassanudin: Nu  mangsa sakola di Tehnik Lingkungan ITB kantos katingal aktiv di LSS. Putra Pa Dida sanesna, nu sakola di Senirupa ITB, ayeuna katingal sok mantuan mitohana, Gugum Gumbira -- manten Kepala Dinas Pariwisata  Kota Bandung nu jadi "tonggak" lain Tari Sunda, ku ngarevitalisasi jaipongan, nepi ka kamonesan ieu jadi karesep urang kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawung Luwuk, 10 Desember 2005&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624720554743747?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624720554743747/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624720554743747' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624720554743747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624720554743747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/tbomay-martakusumah.html' title='Tb.Omay Martakusumah'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624699682903909</id><published>2006-12-15T21:27:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T21:29:57.163-08:00</updated><title type='text'>Partai (Urang) Sunda</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Minggu kamari mah ka Bandung. Ngahaja. Rek nyokot hiji buku, aya nu rek dicutat. Tapi, dikorehan sabaraha kali ge, weleh teu kapanggih. Sigana mah di Subang. Teuing di Jatiwangi, ketang. Rumasa hirup di jalan. Boga banda teh sok ancal-ancalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina pabetekan teh karah manggih Kepartaian dan Parlementaria Indonesia -- wedalan Kementrian Penerangan 1954. Diimeutan deui eusina, utamana ngaran-ngaran nu nyampak di dinya, tetela -- harita mah -- urang Sunda teh "harirup" keneh. Atawa, nu leuwih pas, kaayaan nagara urang harita ngabalukarkeun urang Sunda loba mucunghul. Kaasup dina widang politik atawa rengrengan pangurus partai politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siga judulna, eusi eta "direktori" teh nya ngeunaan partai-partai nu aya harita. Nu ngadeg satutasna Maklumat Hatta, maklumat pamarentah ngeunaan partai politik, November 1945, nu diteken ku Mohammad Hatta. Jumlahna, aya kana 23 partaina. Luyu jeung kaayaan mangsa harita, eta partai teh dikelompokkeun dina tilu golongan: Asas kebangsaan, agama, jeung sosialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu kayungyun: Aya sawatara partai nu bisa disebut partaina urang Sunda harita. Di antarana, Partai Tani Indonesia (PTI), Partai Persatuan Rakyat Marhaen (Permai),  Partai Republik Indonesia Merdeka (PRIM), jeung Partai Kebangsaan Indonesia (Parki). Disebut partai (urang) Sunda teh, lain pedah puseurna aya di Tatar Sunda atawa udagannana nanjeurkeun karaharjaan urang Sunda. Komo ngadeugkeun Republik Sunda mah. Lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, siga geus disigeung di luhur, pangurus-pangurusna -- kaasup pimpinannana -- ge lolobana urang Sunda. Malah, Parki mah, sanajan diasupkeun kana golongan kebangsaan, siga PRIM, Permai atawa PTI pisan; ningali sajarahna, nya kaitung partai nu "meleg-meleg"  (urang) Sunda. Kitu ge, mun urang nganggap Paguyuban Pasundan bener-bener ngawakilan urang Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naon hubungannana? Parki, nu ngadeg jeung muser di Bandung, pakuat-pakait  jeung Paguyuban Pasundan (PP). Malah,  jigana, ieu partai teh diparajian ku PP pisan. Nuduh kitu teh pedah bae dina panganteurna ngeunaan Parki, eta buku  nyabit-nyabit sajarah jeung kamekaran PP mangsa samemeh proklamasi. "Riwayat Partai Kebangsaan Indonesia (Parki) dimulai dengan pendirian Paguyuban Pasundan," kitu unina bubuka ngeunaan eta partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah, dina bagean lian eta prolog, disebutkeun: "Di lain-lain lapangan pada umumnya Partai Kebangsaan Indonesia melanjutkan usaha-usaha Paguyuban Pasundan sebelum perang".  Dina widang sosial, misalna, Parki neruskeun kagiatan Reksa Perlaya, badan nu ngurus kapapatenan, nu diadegkeun ku PP saencanna. Pon kitu deui Parkiwa, sayap wanita eta partai, taya lian ti neruskeun Pasundan Isteri. (Atawa Pasi neruskeun Parkiwa? Can kapaluruh kumaha satemenna. Ngan, mun teu salah inget, nurutkeun pangajaran sajarah nukatarima mangsa SMP, Pasi ngadeg saencan kamerdekaan. Hartina saencan Parki jeung Parkiwana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina widang politik mah geus puguh. Parki pamadegannana taya beda jeung PP. Di antarana: Nolak ajakan Walanda pikeun rundingan minus RI. Jeung, nu paling leleb: Ngadesek sangkan pamarentahan Nagara Pasundan dibekukeun. Padahal, harita, tina 7 menteri nu aya dina kabinet Nagara Pasundan, 4 di antarana urang Parki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu leuwih aheng manan Parki, keur ukuran kiwari: PTI (Partai Tani Indonesia). Puseurna lain di Bandung, komo di Jakarta mah. Tapi, di Purwakarta. Sanajan, kaharti: Harita, Purwakarta jadi puseur Kabupaten Karawang jeung puser Karesidenan Purwakarta, nu ngawengku...Jakarta! Lian ti kitu, dina kamekarannana, puseur PTI pindah ka Petojo, Jakarta, nuturkeun padumukan luluguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngan, onjoyna ti Parki, PTI leuwih "gaul". Komisarisna lain bae di Tatar Sunda. Tapi, meuntas nepi ka Kalimantan Barat, Waingapu, Maluku,  jeung Sulawesi. Sanajan, di DPRS harita, maranehna ngan boga hiji wakil: R. Abdurochman Wangsadikarta, nu oge lulugu eta partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lian ti eta dua partai, aya deui PRIM (Partai Republik Indonesia Merdeka). Kelir Sunda ieu partai teu beda ti Parki: Rengrengan pangurusna kabeh dicekel ku urang Sunda. Ilikan bae ngaran-ngaranna: I.Garnida, Partawidjaja, Armawidjaya, Emen Dasri, Panhur, Juju, Kurdi, jste. Mun Parki kantor pangurus puserna di Jl.Dalem Kaum, PRIM ngantor di Jl.Suniaraja. Tangtu bae, duanana di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lian ti nu disebut di luhur, Partai Buruh ge teu leupas tina dominasi urang Sunda. Ngarang-ngaran sarupaning Tedjasukmana, Sanusi, Bratawijaya, Gojali, Natakusuma, rentul dina rengrengan pangurus. Boh nu kaasup lulugu atawa pimpinan, atawa ngan sakadar Ketua Departemen atawa Ketua Komisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pon kitu deui Permai (Partai Persatuan Rakyat Marhaen). Sanajan teu meleg-meleg "nyunda" siga Parki, malah luluguna ge lain urang Sunda, ieu partai teh didominasi ku urang Sunda. Ti mimiti Sekjen (I.Rustama) nepi ka departemen-departemen nu aya meh kabeh dicekel ku urang Sunda. Departemen Ekonomi, oge Keuangan, misalna, dicekel ku Haji Suja'i, urang Bandung nu harita oge jeneng jadi anggota DPRDS Kabupaten Bandung. Kitu deui rengrengan Dewan Penasehat: Dicepeng ku Mei Kartawinata jeung Mr.Iwa Kusumasumantri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di PNI, partai panggedena harita, sawatara ngaran Sunda oge ranggeteng dina rengrengan pangurus atawa Dewan Partai. Ti mimiti Gatot Mangkupradja, Ukar Bratakusuma, Husein Kartasasmita, nepi ka Ateng Kartanahardja. Kitu deui di Partai Sosialis Indonesia, nu disebut-sebut partai elit, pedah anggota-anggotana umumna jalma wedalan sakola (luhur). Di ieu partai, lian  ti Lukman Wiriadinata jeung Makmoen Soemadipradja, di antarana, aya Sastra, urang Garut nu kataji ku pipikiran Syahrir jeung alona nu nepi ngahaja ngumbara ka Bandung. (Ayana Sastra, nu ngan lulus Sakola Rakyat, satemenna meupeuskeun hujah perkara "elitis"na PSI tadi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumaha di partai-partai nu dumasar kana agama? Iwal Aruji Kartawinata nu jadi lulugu PSII,   Syafrudin Prawiranagara nu jadi anggota DPP Masyumi, jeung Jerman Prawiranata nu  jadi salah sahiji wakil Masyumi di parlemen, kuring teu manggih ngaran Sunda dina rengrengan pangurus partai lianna. Boh di NU atawa Perti. Geus puguh di Parkindo jeung Partai Katolik mah. Atawa, pedah ngaran-ngaran nu nyampak di dinya kabeh make ngaran Arab nepi ka kuring teu bisa nebak sekeselerna? Bisa jadi. Sanajan, mun ningali Perti didominasi ku urang peuntas, NU ku urang Jawa Timur, asana leuwih asup akal mun urang Sunda di dua partai Islam eta memang euweuh atawa saeutik pisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patanyaan lianna: Euweuh, atawa saemetna, urang Sunda dina partai-partai agama ieu naha nunjukkeun urang Sunda sekuler dina pasoalan politik? Atawa, malah "relijius" pisan: Urang Sunda nu nyantri teu percaya kana politik? Wallahualam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naon bae jawaban satemenna, rentulna urang Sunda dina rengrengan pangurus partai politik sekuler eta can karuhan pakait jeung peranna. Boh dina nanjeurkeun Sunda -- mun tea mah aya bari jeung perlu ditanjeurkeun -- boh keur kamaslahatan jalma loba di luar urang Sunda. Pondokna mah, toongan kuantitatif tadi can karuhan nembongkeun peran kualitatifna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngan, di luar perkara eta -- lian ti euweuhna ngaran Sunda di renrengan pangurus PKI (Partai Komunis Indonesia), nu bisa jadi pakait jeung "makmur"na Sunda jeung "relijiusitas" urang Sunda -- nu matak helok kuring pakait jeung nami Iwa Kusumasumantri. Ieu inohong nu remen dikaitkeun jeung partai sosialis Murba teh, namina lain bae nyampak dina rengrengan Permai. Tapi oge dina PTI. Di eta dua partai, anjeunna didahup janten Penasihat. Padahal, harita, lian ti janten anggota DPRS, Iwa oge dileler janten Menteri Pertahanan dina Kabinet Ali Sastroamijoyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kahareup, mun pareng, perkara Iwa ieu -- oge Jerman Prawiranata, Sastra, jeung sawatara inohong Parki  -- urang guar. Lain bae peran politik aranjeuna, tapi oge tapak lajak  para putera sareng putuna dina kahirupan paska 60-an nepi ka kiwari. Atawa (geus) aya nu rek mitembeyan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salemba, 10 Oktober 2005&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624699682903909?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624699682903909/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624699682903909' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624699682903909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624699682903909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/partai-urang-sunda.html' title='Partai (Urang) Sunda'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624680235515858</id><published>2006-12-15T21:25:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T21:26:42.950-08:00</updated><title type='text'>Pabaru</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;(Karumasaan keur R)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ari nyaho mah, ti mimiti sakola ge geus nyaho. Yen, pabaru Masehi teh tanggal 1 Januari. Demi pabaru Islam, tanggal 1 Muharam. Pon kitu deui, kadieunakeun,  geus rada sawawa, sok ngadenge aya "pabaru" Sunda. Boh di Cigugur, Ujung Karawang, Palabuan Ratu, atawa Sirnarasa. Malah, ka beh dieu deui, sok ngahajakeun ngilu nyakseni eta kariaan urang Sunda teh. Bari, nyoba-nyoba ngilu ngasaan jeung nafakuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, keur kuring, pabaru nu sabenerna taya lian ti Lebaran. 1 Sawal. Enya ge kiwari sok pangangguran milu kariaan atawa sasalaman dina maleman pabaru Masehi, atawa "milu gelo" ngadon hees di Puncak, sakadar nyinglaran disebut malawading bae. Teu nyerep jeung lelembutan. Komo make sarupaning nyieun resolusi atawa petisi nu sifatna personal jeung satengah sakral mah. Da, dina "pembukuan" kuring mah pabaru teh nya Lebaran tea. Nya, malem takbiran atawa mangsa sunat, nyieun resolusi teh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina kituna mah kaharti, ku naon kuring ngajadikeun Lebaran jadi pabaru: Perkara kabiasaan ti leuleutik, nu diwangun jeung dirojong ku hujah nu aya di lingkungan sabudereun. Keur sakuringeun, tingali pangacaprukan kuring: Memeh Lebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sainget kuring, pabaru Masehi karak kaayeunakeun dikariakeun ku jalma nu leuwih loba. Taun 80-an katompernakeun, karasa ceuyahna teh. Utamana sanggeus televisi swasta mahabu di urang. Saencanna mah, enya oge sakola sok pere, iklan ngajareblag dina koran, oge aya sawatara bangsa urang nu sok ngariakeun eta pabaru, kaasup acara kariaan di TVRI, umumna, urang asa hare-hare bae. Tara ieuh milu open. Komo milu nafakuran mah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu kacatet dina ingetan, saumur ngagandong tonggong,  karak dua kali kuring "ngilu" ngabageakeun pabaru Masehi. Taun 1985 atawa 1986, waktu  keur gawe di Bandung. Eta oge, bane bae haat ka kabogoh harita, Tionghoa-Jawa nu ngagem Katolik -- hartina manehna leuwih nyambung kana tradisi pabaru Masehi eta. Harita, ngadon lalajo The Year of The Dragon di bioskop teuing naon nu aya di Kapatihan. Bari cangkeul beuheung, da kabagean korsi panghareupna. Jauh tina tumaninah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saencanna, mangsa SMA, kelas dua atawa kekas tilu. Eta ge pedah diajak ku babaturan. Pangangguran, jeung hayang nyaho, eta pangajak teh ditedunan. Bari teu kuat lila, ngarasa hanjakal jeung asa nyiksa maneh. Ku teu "ngarti" ningali jelema nu ngaliud, ngahalangan jajalaneun. Boh leumpang, boh tutumpakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naon sabenerna nu dikariakeun teh? Atoh pedah manggih taun anyar?  Na, enya aya "taun anyar"? Memangna, aya naon dina taun nu anyar teh? Kahirupan anyar? Naonna nu anyar? Dina taun anyar mah rambutan teh obah jadi sagede-gede kadu? Atawa, Bandung dumadakan aya di sisi laut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harepan anyar? Anyar ti mana? Jeung, ti mana, oge naon, nu ngaranna harepan? Beh dituna mah kuring sok jadi nalangsa. Ku hiji ku dua. Urang remen tuturut munding, malah maksakeun, ngalakonan nu satemenna ku urang teu kaharti. Padu rame. Ka dua, urang sok ngabobodo maneh, ngahibur maneh ku luad-liud teu puguh. Taun baru, oge kariaan lianna, dipake jeda tina karipuh hirup. Tangtu bae lain ulah, tapi naha kudu kitu carana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngadon ngabring nyenyekel torompet, bari hayoh eta torompet teh ditiup dina ceuli batur. Atuh, nu ditarompetan teh ngagurubug.  Sakapeung nepi ka ambek, der gelut. Jauh tina pingeunaheun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keur pagawe nagri atawa pagawe swasta, rada leuheung. Biasana, ahir taun maranehna meunang bonus jeung gajih ka 14. Kitu ge mun pausahaanna untung jeung merhatikeun soal eta. Nu teu kitu mah nya lebeng. Intina, keur sawareh, pabaru teh memang aya nu disukuran. Nu lianna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ti harita, sakalina malem taun baru arang ngahaja kaluar. Leuwih ngeunah nyelegon di imah, lalajo televisi atawa sare pisan. Manan, pasesedek di jalan? Teu puguh tenjoeunnana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pon kitu deui kariaan pabaru Islam, 1 Muharam. Sarua teu napak na lelembutan. Ongkoh, di urang, pabaru ieu tara dikariakeun siga di batur. Sainget, karak dua kali ningali jalma nu ngaramekeun pabaru Islam. Di Jakarta jeung di Sumedang. Barudak leutik jeung rumaja pasesedek dina treuk. Ngabring, ngideran kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, keukeuh hate teh teu katoel. Batin teu ngarasa kakait. Nu aya malah suudzon: Eta kagiatan leuwih politis -- manan kultural atawa relijisius pisan. Leuwih karasa jadi proyek pamarentah atawa nu hayang jadi pamarentah, manan hujah jeung kereteg hate jalma loba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asana, dina perkara katoel heunteuna lelembutan, kuring leuwih katoel keneh ku pabaru Cina. Lain pedah di imah sok aya dodol Cina, pangirim tatangga Nini di Subang, tapi pedah pabaru Cina mah sok ditandaan ku hujan nu ngecrek teu eureun-eureun. Ongkoh, si Ema sok nepakeun harepan jalma tani. "Alhamdulillah, rezeki teh geus turun deui. Nuhun, Gusti. Nu tani sing jaradi," saur anjeunna, sakalina hujan pabaru teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanajan, eta ge tangtu bae teu samotah hate manggih Lebaran. Enya ge kiwari, geus gede, tara indit ka masigit, ukur ngabandungan tina load speaker, kalan-kalan bari maca buku nu meleg-meleg jauh tina urusan Gusti atawa Lebaran; ari malem takbiran teh hate sok pinuh ku kabungah, kasedih, kahanjakal,jeung kasieun. Der, nurutan gerentes hate kiai; Ku naon Lebaran teh teu unggal poe, puasa teh teu unggal bulan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina kituna mah kaharti, kunaon Lebaran nyerep jero manan pabaru-pabaru lianna. Ti saminggu deui ka puasa ge, jalma geus tatan-tatan. Munggah. Dikaramas jeung beberesih. Atuh, salila puasa, satengahing ngalenyepan beuteung nu peurih nahan lapar, hate teh sok ngadak-ngadak asa deukeut jeung Anjeunna. Komo, geus nincak minggu ka opat mah. Rarasaan teh asa beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kituna teh lain bae dina perkara ibadah, nu pakait langsung jeung Gusti. Tapi, oge ku pahibutna jalma nyiapkeun sagala kapeluan keur Lebaran. Keur kuring mah ieu teh hiji kabungah lian. Bungah ningali jalma, boh nu aya atawa nu walurat, ngaliud di ITC atawa Senen. Sagala dibeuli. Ti mimiti sapatu murah buatan Cina atawa Ciomas, nepi ka barang-barang nu sakapeung mah  siga euweuh hubungannna jeung Lebaran. Sarupaning korsi atawa kasur busa. Pan barang kieu mah bisa dibeuli iraha bae?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, da ngaranna Lebaran, jeung rezekina ayana harita, nya barang-barang jiga kitu teh dibareulian we. Siga geus diatur ku Anjeunna: Lebaran mah sakabeh jalma kabagean rezeki. Lain tukang daging jeung tukang kaen wungkul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jigana, kabiasaan  bangsa urang meuli barang weuteuh mangsa Lebaran teh pakait jeung makna Lebaran sorangan: Fitri, suci, atawa weuteuh deui. Mungguhing urang, nu weuteuh teh lain bae kaimanan, batin, jeung "pembukuan" diri. Tapi, oge barang-barang kaperluan hirup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondokna mah, Lebaran teh titi mangsa nu istimewa: Urang bungangang asa dihampura ku Anjeunna. Pon kitu deui ku papada jalma. Dimensi sosial lain bae pagalo jeung dimensi personal atawa individual. Tapi, diembohan -- malah didasaran -- ku dimensi spiritual. Leuwih ti pantes, mun kuring nganggap Lebaran teh pabaru nu sajati. Dalah mun dibandingkeun jeung weton atawa tepung taun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babakan Madang, Desember 2005&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624680235515858?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624680235515858/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624680235515858' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624680235515858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624680235515858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/pabaru.html' title='Pabaru'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624670506420672</id><published>2006-12-15T21:24:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T21:25:05.163-08:00</updated><title type='text'>Awi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kamari mah narima email ti babaturan nu gawe di hiji pausahaan komunikasi/marketing di Hong Kong, nu salah sahiji klienna pabrik peripheral jeung memori di Shenzen jeung Guangdong. Eusina, nawarkeun flash disk jeung sarupaning memory card. Kaitung murah: USB flash disk 128 mega ngan Rp 30 rewu, pesenan minimal 500 siki. Kaonjoyan lianna: Ngaran pausahaan atawa lembaga  nu mesen bisa dicitak dina eta (cangkang) flash disk. "Bisi aya pausahaan nu rek promosi," ceuk eta batur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enya. Eta flash disk generik teh bisa jadi suvenir atawa merchandising. Malah, mun daek, urang bisa ngajual flash disk ku merek sorangan. Karep daek, jeung boga modalna. Ngan, nu  matak kuring kataji mah beja lianna: pabrik peripheral nu jadi klien manehna ngaluarkeun monitor, key board, jeung mouse nu dijieun tina ... awi! Heueuh, tina awi. Lain tina mantega atawa ulen. Tangtu bae, nu dijieun tina awi teh cangkangna.  Lain jerona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ningali gambar nu ditangkodkeun ku eta batur, kacirina eta produk teh alus. Kasawang awi teh lemes jeung leuleuy, lentur. Teu beda jeung plastik. Sanajan, kuring sorangan teu pati resep kana kelirna. Kurang natural. Jadi jiga kai, deukeut ka coklat. Mun deukeut ka bodas atawa koneng saheab, sigana leuwih alus. Teu matak heurin kana panon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanajan kitu, kuring reueus ningali kamotekaran urang Cina teh. Kurang ti 5 taun saprak maranehna ngayakeun reformasi ekonomi, cocoan budak nu kualitasna sarua jeung Lego merul ka nagara urang. Taun 90-an ahir nepi ka kiwari, giliran motor, kaen, jeung barang elektronik. Antukna: Urang tangtu masih inget sawatara mangsa ka tukang, waktu nu nyarieun imah harookeun pedah harga beusi apung-apungan. Bari,  rada hese neangannana di matrial. Da, eta: 20% produksi beusi dunya harita diborong ku urang Cina, nu keur tihothat nyieunan pabrik jeung gedong jangkung di nagarana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tihothat ngawangun pabrik teh dibarung ku ngawangun "iklim yang kondusif". Di antarana,  merangan korupsi kalayan suhud. Sakur jalma nu kanyahoan nyalikong duit nagara diberok atawa dihukum pati pisan.  Antukna, lian ti dipikaajrih dina soal merangan korupsi, Cina jadi pangjugjugan investor. Komo, sawatara pemdana kaitung aktif jeung motekar dina neang jeung ngolo nu baroga duit teh. Maranehna, sakumaha swasta-swastana, teu mangmang nyewa pausahaan-pausahaan PR jeung biro iklan gede keur narik investor. Hiji batur kungsi nyaritakeun pangalamannana waktu nedunan ondangan hiji pemda di Cina. "Kita dijemput mulai dari atas pesawat, secara personal. Begitu turun,  karpet merah terhampar. Kita bagai tamu kehormatan," ceuk manehna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilna: Lain bae Gus Dur kungsi nyodorkeun koalisi ekonomi Indonesia-Cina-India, tapi urang Patrol, urang Wanayasa,  urang Pameungpeuk, atawa urang Cibingbin, jeung Cidaun, bisa meuli DVD player nu hargana teu leuwih ti Rp 200 rewu! Bari kualitasna, asana, teu eleh-eleh teuing ku buatan Jepang. Atuh, lain bae kontraktor urang nu pating gorowok. Nu baroga pabrik tinun jeung produsen barang elektronik ge sarua pating koceak. Teu kuat nandangan maceuh jeung murahna barang-barang ti Cina -- boh nu asupna legal, boh nu salundupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik deui kana perkara monitor tina awi, kuring jadi inget ka hiji batur, Tionghoa, urang Serang, nu kiwari geus almarhum jeung Pa Anang Sumarna, manten Kepala Dinas Pariwisata Jabar. Pa Anang, alumni senirupa ITB, konsisten dina ngaropea awi. Studiona di Cibeureum, Bandung, pinuh ku sarupaning kamonesan tina awi. Sanajan, keur kuring, desainna kitu-kitu keneh. Ngan, nu kuring nyatujuan, pamendak anjeunna, waktu diwawancara ku hiji majalah -- mun teu salah taun 97. Anjeunna rumahuh pedah urang teu pati mirosea potensi awi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kateupadulian urang kana awi kabuktian oge ku batur kuring nu kiwari geus almarhum tea.  Harita, taun 87-an, manehna nyodorkeun proposal riset ngeunaan mangpaat awi pikeun bahan wangunan jeung produk industri lianna. Euweuh hiji oge instansi, kaasup swasta, nu kataji ku eta proposal. Nepi ka maotna, taun 2000,   eta proposal teh euweuh nu ngawaro saurang-urang acan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, keur kuring, eta proposal riset teh kawilang "aheng" jeung "futuristik". Harita, dasawarsa 80-an, urang  keur ceuyah ku kayu lapis (triplek). Bob Hasan tihothat nyewa (jeung ngadegkeun) pausahaan PR keur merangan opini nu digorowokeun ku kalangan lingkungan ngeunaan pentingna mulasara leuweung tropis, nu museur dina kampanye boikot produk industri kai urang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari awi, nepi ka kiwari, teu jauh tina saukur bahan bilik, pager,  jeung parabot dapur. Kitu ge parabot dapur tina awi teh geus loba kasilih ku plastik. Paling, siga nu dilakukeun ku urang Rajapolah jeung Pa Anang ti taun 70-an, jadi craft atawa karajinan tangan. Kituna teh, ceuk tadi ge: Desainna teu jauh ti nu geus aya -- teu matak narik nu rek meuli. Aya oge, sih, sawatara parabot tina awi nu kaitung motekar, saperti korsi jeung tempat hees. Tapi teu jadi mainstream. Dibandingkeun desain produk hoe, misalna, awi jauh tinggaleun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuring sorangan teu inget, sabaraha persisna potensi awi di Tatar Sunda harita nu dicatet ku eta batur -- oge nu ditaksir ku Pa Anang dina wawancarana. Pon kitu deui dina mangsa kiwari. Sigana mah kawilang gede. Pan, di urang mah, teu sirikna aya di unggal lembur kebon awi teh? Malah, di sawatara wewengkon mh, awahing ku lega, lain deui kebon awi. Tapi, leuweung awi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tah, eta batur boga kahayang: Kumaha sangkan awi pasipatannana nu regas bisa leuwih kuat, leuwih leuleuy, nepi ka bisa jadi bahan produk-produk industri. Naha jadi bahan utama atawa ngan sakadar bahan tambahan. Produk-produk atawa bahan bangunan nu dierong ku manehna ti mimiti tehel,  panel, nepi ka kusen. Malah, cenah, manehna oge mikiran kumaha carana sangkan awi bisa jadi bahan nyieun kertas, lawon, pangdiukan korsi, setir mobil, jeung parahu. Kumaha ngolah awi nepi ka bisa siga fiber plastik atawa tapas kalapa nu kiwari sok dijarieunan bemper mobil jeung nu lianna. "Sangkan urang bisa nyieun barang tina awi nu desainna alus, bari -- mun ditakol -- ngabelentrang siga beusi atawa plastik, kuat puluhan taun," ceuk manehna, harita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku pikirna, mun urang bisa ngaronjatkeun jeung mekarkeun mangpaat awi, tangtuna leuweung kai, nu jadi panyicingan atawa panyangked cai jeung taneuh, bisa leuwih kajaga. Sanajan, ceuk manehna, tangkal awi oge bisa jadi sengked keur nahan erosi. Malah, dina hal sengked ieu,  tangkal awi leuwih alus manan tangkal kai. Nu harita manehna can nyaho, kakuatan tangkal awi salaku panyangreud cai. "Nu jelas, lian ti leuwih murah, melak awi leuwih gampang. Jati karak bisa dipanen umur 5 taun. Kitu ge kaitung ngora. Da, nu alusna mah nu 10 taun ka luhur," ceuk manehna. Ari awi? "Bisa jadi sarua. Bedana jeung kai, melak awi cukup sakali".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enya. Pan awi nu umum aya di urang mah sok ngadapur. Sabibit teh sok sirungan, baranahan, nepi ka jadi belasan atawa leuwih ti 20  leunjeur -- ngadapur tea. Nu dipanen nya nu diperlukeun wungkul. Naha ngan nu ngorana, naha nu kolotna wungkul. Teu kabeh dibabad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siga disebut di luhur, nepi ka nu boga alpukahna maot, eta proposal teh euweuh nu malire. Karak dua atawa tilu taun ka tukang kuring manggihan tehel (parket) tina awi, nu meh deukeut jeung naon nu diimpleng ku almarhum. Ngan, nyakitu, kelirna teu matak narik ati. Meulah jeung motongna ge teu rata. Siga nu dibebek ku bedog kitu bae, teu make mesin. Kitu deui beungeutna. Teu lemes siga nu kasawang ku kuring waktu ningali foto monitor buatan Guandong tea.  Dalah jeung triplek atawa parket jati ge, eta beungeut tehel awi teh karasa garinjulna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lian ti eta, kuring kungsi ngadenge aya dosen UGM nu keur nalungtik awi salaku bahan bangunan. Utamana bahan partisi atawa panel, gaganti triplek atawa bilik. Ngan, kuring can ningali kumaha hasilna. Naha lemesna sarua jeung asbes atawa gipsum? Atawa siga multiplek atawa hardboard? Oge kuat jeung liatna. Tapi, kumaha-kumaha ge kualitasna, nya sukur pisan. Lain bae pedah implengan almarhum bisa kabuktian, tapi urang bisa ngamekarkeun mangpaat awi keur kahirupan nu leuwih jembar, merenah jeung raharja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotel Mesra, 3 Agustus 2006&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624670506420672?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624670506420672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624670506420672' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624670506420672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624670506420672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/awi.html' title='Awi'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624664536653163</id><published>2006-12-15T21:22:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T21:24:05.476-08:00</updated><title type='text'>Obahna Lembur jeung Kota</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sigana, kiwari mah geus teu relevan deui nyebut "kota" jeung "lembur" teh. Sarua teu relevanna nerapkeun istilah "urang kota" atawa "urang lembur". Utamana, mun nempatkeun eta kokocapan dina harti pasipatan atawa kaayaan nu patukang tonggong. Sabab, ayeuna, antara eta dua tempat atawa dua golongan teh, asana, geus euweuh deui bedana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bae tengetan: Soal wangunan, misalna -- perkara model imah.  Ningali imah-imah di pilemburan teu beda jeung imah-imah di kota. Naha nu roromawian, nu neplak Gedung Putih, atawa nu miminimalisan. Kabeh aya. Boh, nu neplakna alus, komo nu goreng mah. Pon kitu deui imah reyod tina bilik atawa triplek. Di kota jeung di pilemburan sarua aya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal parabot imah, taya bedana: Ti mimiti kompa listrik, dispenser, hair dryer, bed cover, karpet, wall paper, rice cooker, kipas angin, DVD player, nepi ka kamera digital -- paling heunteu HP nu aya kameraan -- geus rentul di pilemburan. Karuhan, bangsaning televisi jeung kulkas mah. Di lembur-lembur, meh umum nu ngukut barang-barang siga kitu teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tutumpakan, nya kitu keneh. Sanajan memang enya aya lembur-lembur nu can kaliwatan ku angkutan umum, kitu ge angkutan umum nu mangrupa mobil. Da, ari ojeg motor mah, asana, pating suliwer. Rek ti luhur gunung atawa di sisi basisir, tukang ojeg teu weleh okeh. Boh nu motorna kiriditan, boh nu bodong pisan. Kiwari, ceuk paribasana, euweuh hiji titik oge di lemah urang nu can kagiles ku gilinding motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina perkara kadaharan, naon nu didahar ku urang lembur oge geus teu beda jeung maranehna nu caricing di "kota". Tingali bae paruntahan nu aya. Bungkus-bungkus kadaharan sarupaning Chiki, Supermie, Indomie, akua, jste, meh sarua ngahunyudna jeung nu aya di paruntahan urang kota. Kalan-kalan, siga nu kungsi kasakseni ku kuring di Cikijing, Majalengka, "runtah kota" teh pabalatak nepi ka tengah kebon nu jauh ka ditu ka dieu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakean? Ti mimiti singlet Agnes Monica, nu nembongkeun bujal jeung taktak sabeulah, nepi ka jilbab ala Ratih Sang, lain bae dipake ku urang Kebayoran atawa barudak Tebet. Tapi, urang Cisalak, Rancakalong, Cipatujah, atawa Luragung,  geus loba nu make papakean jiga kitu teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pon kitu deui nu marake calana boxer, nu makena "kudu" nembongkeun merek eta calana atawa tempat karetna tea. Geus puguh sabangsaning oblong, calana baggy, atawa sontog mah. Barudak Jalupang, luhureun Kalijati, naragog sisi jalan ka kebon karet teh nya make papakean siga kitu. Teu beda jeung barudak Matraman atawa Kebonsirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi? Ku ceuyah jeung murahna televisi, oge ku pagaliwotana jalma nu pulang anting kota-lembur, urang lembur jeung urang kota sarua ngahaleuangkeun lagu SMS. "Bang, SMS, siapa, ini Bang?...". Sarua lalajo sinetron Hidayah. Sarua ngareungeukeun Ustad Jefry. Sarua ngadeuleu cumentilna Mulan Kwok jeung Maia Ahmad. Sarua, lalajo Smack Down atawa Kikan Cokelat. Sarua lalajo nu lalajo "lumpur Lapindo".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ningali kitu, naon atuh satemenna nu ngabedakeun kota (jiga Bandung) jeung pilemburan (jiga Kiara Dua, Cianjur)? Sawah, kebon, pabrik, mol? Runtah, macet, cai? Dokter, sakola? Rumahsakit, pasar, leuweung? Degung, organ tunggal, balong? Masigit, baju kampret, burger, brownies? Atawa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papanjangan bari rada ngaleuleuwihi -- alias ngacapruk tea -- perkara kaayaan lembur jeung kota teh lain rek nyeungceurikan obahna kaayaan pilemburan urang. Tapi, manghanjakalkeun. (Naon bedana jeung nyengceurikan?). Manghanjakalkeun, transformasi, mobilitas, migrasi sosial -- dalah reformasi pisan -- nu aya  salila ieu teu nambah walagri kahirupan. Paling heunteu, keur kuring, nu sok nyanyahoanan bari resep ngaririeut hulu sorangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanjakalna teh, nya pedah lembur atawa kota teu nambah asri, teu nambah ngeunah kadeuleuna, bari teu ngeunah ngalakonanana. Teu nambah walagri kahirupan tea. Karah asa tambah raminyud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enya di Cianjur, misalna, rentul paimahan-paimahan anyar, nu aspalna leucir, buruannana pinuh kekembangan. Tapi, lebah  Kawung Luwuk mah asa jadi tambah rujit. Lembur teh asa metet, imah jelema pagegeye jeung kandang kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, mun dipikir-pikir, nu caricing di kota jeung pilemburan teh eta-eta keneh. Pan, Bandung ngalegleg (lain dilegleg) ugana sorangan, heurin ku tangtung, nepi ka jumlah nu aya ti beurang onjoy nepi ka sayutana manan ti peuting, ku saha? Sabalikna, saha nu ngadegkeun imah minimalis di lembur-lembur? Saha nu mawa singlet Agnes Monica ka Luragung? Saha, nu ngadon muka kebon kentang puluhan hektar di Sawit, nepi ka urang dinya kokoceakan? Atawa, saha nu jadi pangagung di Bandung? Saha oge nu jadi pupuhu hiji dinas di pilemburan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hartina, eusi kota jeung lembur teh sarua-sarua keneh. Eta-eta keneh. Paling heunteu, sarua mentalitas jeung kalakuanna: Sarua resep ngaruntah, sarua resep ngabukbak leuweung -- nu hiji keur paimahan, nu lian keur kebon boled. Sarua teu miboga kasadaran "tata ruang", karuhan kasadaran budaya mah (Geus puguh Ciater teh Tatar Sunda, der ngadegkeun masigit teh siga di Bagdad, nepi ka alo kuring mah nyebutna teh Dunia Fantasi. Geus puguh Gusti mere kamonesan ka urang pikeun nyebut masigit nu aya di alun-alun teh Masjid Agung, der diganti jadi Masjid Raya), sarua teu wasa mikir panjang, teu mikirkeun batur. Boh dulurna, tatanggana, atawa incu buyut-buyutna. Seuhseuhannana mah teu mikirkeun dirina sorangan. (Lieur, pan?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakola, pasantren, cacarekan karuhun, teu matih. Jajauheun tina ngahuripkeun hirup, teu ngahirupkeun akal-akal acan.  Bisa jadi, ngaji atawa sakola teh ngan apal cangkem tea. Teu kataekan. Nepi ka, hasil ngaji, hasil sakola teh teu ngagetih dina hirup kumbuh sapopoe. Teu nyangkaruk dina kawijakan publik -- mun manehna jadi pangagung. Ngan ngadagleg mangsa di kelas, masigit, atawa hajat bumi jeung ngalaksa. Kaluar ti dinya mah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geus heula, ah! Bisi teu kataekan! Bisi gering...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parakanmuncang-Cikaramas, Juni 2005.&lt;br /&gt;(Diome saeutik sapulangna ti HBH 2006).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624664536653163?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624664536653163/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624664536653163' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624664536653163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624664536653163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/obahna-lembur-jeung-kota.html' title='Obahna Lembur jeung Kota'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624653729634089</id><published>2006-12-15T21:20:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T21:22:17.460-08:00</updated><title type='text'>Sakola Haratis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Wawuh mah geus lila, ti jaman mahasiswa keneh. Ngan, teu wanoh. Lain pedah manehna di Yogya kuring di Bandung atawa di Jakarta. Tapi, lian ti carang takol teh, manehna mah idek liherna teh di lingkungan santri. Ari kuring, babaturan di Yogya teh umumna  jalma-jalma teu eucreug. Boro-boro noelan agama, sakapeung mah siga nu teu baroga Gusti.                &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawuh teh pedah bae, sakali mangsa ka Yogya kuring ngadon diendongkeun di hiji tempat kos, nu eusina, lian ti barudak IKIP jeung ASRI, oge barudak UGM. Kaasup manehna. Nya, ti dinya wawuh teh. Sanajan, enya ge kungsi sabaraha kali tepung, kumaha jeung saha manehna mah leuwih loba dibejaan ku nu lian.                  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari bulan Maret kamari,  salah saurang ASRI nu kungsi kost di tempat pangendongan teh datang ka imah. Teuing ti saha nyaho alamat kuring. Sanajan  ngadenge manehna geus lila pindah ka Jakarta, can kaparengkeun panggih. Sakalina ulin atawa gawe ka lingkungan kasenian atawa lingkungan lianna, tara ieuh tepung. Nu kadenge ku kuring, manehna gawe di sakola Ratih Sang. Teuing jadi nanahaon.                 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayeuna manehna dipercaya jadi programer hiji cafe di Kuningan. Ngahaja nepungan kuring, menta tulung hayang dipangnyieunkeun strategi komunikasina. Ari ditanya saha nu bogana, singhoreng urut batur sakosna baheula. Urang UGM nu cicingeun jeung nyantri tea. Cohagna mah, jadi siga reuni. Kuring teu rampa-reumpeu teuing ngigelan maranehna.                 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanajan, rarancang komunikasi nu ku kuring dijieun mah teu diterapkeun bener-bener. Alatannana, biasa: Dana komunikasi nu aya samporet, loba kacoceng keur kaperluan sejen. Rada manghanjakalkeun oge sabenerna mah. Lain pedah kuring hese cape mikiran eta rarancang -- bari teu dibayar. Tapi, eta cafe boga karep ngalulugukeun kabudayaan -- hususna mah kasenian, wabil husus deui: seni rupa. Matak batur ti ASRI tadi jadi programmerna.                &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubarna, nya leuwih wanoh jeung urang UGM tea. Wanoh dina harti leuwih nyaho. Singhoreng, lulus sakola, manehna  kungsi jadi pagawe  Departemen Kehutanan. Kaluar, itikurih, wiraswata. Kawilang sukses. Lian boga HPH di Kalimantan, manehna oge boga sawatara pausahaan lianna di Jakarta jeung di lemburna, Solo. Kaharti mun manehna kaduga muka cafe di Kuningan ge, nu nyewa tempatna bae puluhan yuta sataun -- encan kadituna, ti mimiti interior, parabotan, nepi ka beaya produksi jeung operasionalna.          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceuk tadi ge, nyaho lalakon manehna teh ti nu lian. Da, manehna mah leuwih loba nyerengeh tea. Rek ngahajakeun tunya-tanya rada jero ge asa karagok. Komo, sawareh mah biheung meunang jawaban nu paheut. Kaasup beja nu nyebutkeun, lian ti aya pakuat-kaitna jeung BIN, eta batur teh kungsi gawe di Bob Hasan. Malah, HPH nu ayeuna dicekel ku manehna teh nya "warisan" ti Bob Hasan. Wallohu alam, can nyukcruk bener.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngan, mun sakalina ngumpul jeung barudak seniman, sok rada mangkarunyakeun, bari rada geuleuh: Manehna ngan ukur jadi pangrungu. Tara ieuh ngomong atawa ngomentaran. Ngabetem jeung saukur nyerengeh. Mun teu bari mencetan HPna, ngadeluk hareupeun laptop. Geuleuhna, ngabetemna teh, sakapeung siga nu jaim. Jaga imej. Da, jeung batur-baturna nu lian mah sok katingal alewoh.                          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari minggu kamari, dumadakan, nu biasana ngan ukur ngagelenyu bari koret ku kecap teh, manehna mani capetang.  Nyaritakeun paguron luhur nu diurus ku yayasan manehna. Laptop jeung komunikator nu sasarina teu weleh dikeukeuweuk teh teuing kamana.                 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caritana, manehna kapeto jadi pupuhu hiji yayasan -- nu rengrengan pangurusna, ti mimiti pembina, penasehat, jeung pengawasna, urang Solo nu ayeuna maranggung di Jakarta. Mun kuring teu salah inget, cenah, Menhankam jeung Staf Ahli Wapres widang Kabudayaan kaasup rengrengan eta yayasan. Teu weudeu, kawilang maju eta sakola nu diurusna teh. "Kemarin kita dapat bantuan perpustakaan dari Indosat," ceuk manehna, nyebutkeun salah sahiji lembaga nu ngilu ngadeudeul eta sakola.                 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu narik ati kuring, eta sakola teh haratis. Si mahasiswa teu kudu mayar SPP atawa uang kuliah. Di luar buku, ngan mayar keur pamondokan Rp 50 rewu, jeung keur dahar Rp 10 rewu sapoe. Hartina, di luar buku, si mahasiswa ngan kaluar duit Rp 350-an rewu sabulan. Kaitung murah. Dalah keur ukuran Yogya. Da, babaturan lian, nu anakna sakola di hiji paguron Katolik di Yogya, sarua meunang fasilitas asrama, bari kasebut meunang bea siswa, sabulanna teh ucul duit nepi ka sayutana -- keur dahar jeung asrama wungkul.              &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taun ajaran kamari, ceuk manehna, mahasiswa anyar nu ditarima ku eta paguron haratis teh aya kana 300-na. Nu daftar mah tangtu bae leuwih ti sakitu. "Itu juga setelah kita minta Aa Gym bicara di Republika," ceuk manehna, ngeunaan lobana mahasiswa nu daftar ka paguronna.                &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceuk manehna keneh, saacan ngumaha Aa Gym, eta paguron teh kungsi masang iklan. Hasilna teu sapira. Nu daftar teh meh euweuh. Jalma teh, cenah, lain bae teu percaya yen eta sakola haratis. Tapi, teu percaya kana kredibilitas jeung kualitasna justru alatan ku haratisna eta.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ningali kitu, manehna nya nyeluk si Aa  sangkan nyarios ngeunaan eta sakola. Alhamdulillah, sanggeus kiai nu moyan sanusantara ngaluarkeun "fatwa"na  mah jelema teh palercaya. Nepi, ka nu daftar teh teu bisa ditarima kabeh. Da, kawatesan ku tempat jeung fasilitas lianna.                &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku kuring diteleksek, manajemen siga kumaha nu diterapkeun nepi ka bisa haratis siga kitu. Di jaman werit siga kieu, tangtu bae ieu teh kaasup salah sahiji kaahengan dunya. Singhoreng, eta sakola teu ucul duit keur wangunan -- nu remen jadi bangbaluh kagiatan pendidikan siga kieu. Enya, sakanyaho, eta sakola nu aya di Yogya teh, baheula mah salah sahiji fakultas atawa cabang ti STAI Surakarta. Ngan, dua atawa tilu taun katukang, kalentab ku seuneu otonomi daerah, eta sakola di Yogya teh ditutup. STIA Surakarta museurkeun tarekahna di Solo.                &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tah, wangunan nu di Yogya tea, disanggap ku manehna sabatur-batur. Ngaliwatan yayasan nu ngahaja diadegkeun keur kapentingan eta. Terus, di wangunan tadi, muka paguron luhur ekonomi. Ngakhususkeun diri dina ekonomi syariah, nu kiwari tambah in. Bari haratis tea.                &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceuk eta batur, matak manehna bisa ngaharatiskeun eta sakola, lian diembohan ku kahaat batur, boh mangrupa zakat atawa sidkoh, unit-unit usaha nu aya di eta sakola  kawilang maju. Nya, satemenna, ceuk manehna, tina hasil usaha-usaha eta beaya keur ngahirupkeun sakola teh. Ti mimiti kantin, fotocopy, nepi ka distribusi buku. "Sumbangan pihak lain, sih, hanya tambahan," ceuk manehna.                &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saencanna, manehna badami jero heula jeung dosen oge staf-staf lianna. Matotoskeun perkara ngaharatiskeun beaya sakola, nu tangtuna bakal mangaruhan karaharjaan ekonomi maranehna. "Tapi, alhamdulillah, atas keikhlasan teman-teman dan hasil unit-unit usaha yang ada, sekolah kita bisa gratis dan kesejahteraan pengajar maupun pegawainya cukup layak. Tidak beda dengan dosen atau pegawai sekolah biasa, yang tidak gratis," ceuk manehna.               &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanajan manehna sakitu alewohna, kuring tetep cangcaya. Aya hal nu masih can dibuka ku manehna ngeunaan manajemen eta sakola. Kahayang mah, manehna ngajentrekun angka. Sabaraha keur listrik, sabaraha keur meuli kapur, sabaraha keur gajih dosen jeung pagawe. Sabaraha hasil unit-unit usaha nu aya. Ieu mah, keukeuh, ngan "alhamdulillah" jeung "alhamdulillah". Paling ge, "Berkat manajemen Allah". Disangkana, kuring teh wali atawa sarupaning jalma sakti : Nu langsung ngarti ku dijawab "alhamdulillah" atawa nyaho nu ngaranna "manajemen Gusti Allah".     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, boro-boro wali. Disebut sasantrian ge jauh keneh pisan. Jeung, nu penting mah, nya teu ngarti we. Kumaha, hiji sakola nu meh teu ngutip duit ti mahasiswana, bisa ngaraharjakeun dosen jeung pagawena "Tidak beda dengan dosen atau pegawai sekolah biasa, yang tidak gratis"?     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina hasil unit-unit usaha? Asa pamohalan bisa nutupan. Paling ge cukup keur mayar listrik jeung tukang beberesih. Di mana bisa ge bari mayar gajih dosen jeung pagawe, nya teu gede. Teu bisa saraharja dosen-dosen di sakola lianna. Komo, kamari, waktu aya lini, wangunan eta sakola ngilu kababuk. Ti mana waragad ngomeannana? Kahaat nu lian, nu ceuk manehna teu jadi andelan? Wallohualam.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Loba sabenerna mah prak-prakan "manajemen Gusti Allah" nu hayang ditanyakeun teh. Ngan, pipikiran teh ngadon nereleng sosoranganan: Iraha di antara urang Sunda aya nu boga pokal siga kitu? Nyieun sakola haratis atawa murah -- bari hade kualitasna, dosen jeung pagawena bisa raharja sawajarna  -- di luar pasantren, nu memang geus mayakpak.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atawa, boa-boa, kuring nu pareumeun obor? Teu wawuh ka nu naon nu  pating peletek di lembur sorangan.               &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plaza Senayan, 19 Oktober 2006 &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;(Nungguan buka, nungguan si Eneng).&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624653729634089?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624653729634089/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624653729634089' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624653729634089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624653729634089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/sakola-haratis.html' title='Sakola Haratis'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624626515683189</id><published>2006-12-15T21:16:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T21:17:53.463-08:00</updated><title type='text'>Almanthiq al Aristi (Oleh-oleh ti Tarogong # 5)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Salah sahiji patanyaan nu, ceuk pamanggih kuring, pangalusna taya lian tinu diajukeun ku peserta ti Lampung. Poho deui ngaranna mah. Ngan, ieu urang Jember nu nyongcolang teh -- katingal, tina patanyaan-patanyaannna, loba maca -- keur di Jawana aktif di LSM.&lt;br /&gt;Sakuringeun, patanyaan manehna lain bae jadi mataholang naon nu diudag ku eta daurah. Tapi, oge nyeukeutan: Ngahudangkeun (deui) etos kaulamaan (kaelmuan) para ulama pangasuh pondok. (Nu engke ngahudangkeun hal sarupa di kalangan santri jeung, tangtu bae, umat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari patanyaannana, kawilang “teu pira”: Naha bener, (peradaban) Islam boga hutang ka (peradaban) urang Barat, khususna ka sarjana jeung ahli-ahli falsafah Yunani? Teuing nyungkun -- teuing nyindir peserta lian (atawa panitia pisan), nu ulukutek dina perkara teknis atawa teu jauh tina kitab -- eta patanyaan teh. Tapi, keur kuring mah: oke pisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanjakal, Ajengan -- nu harita jadi pembicara -- teu ngajawab eta patanyaan nu mendasar. Karah hayoh, deui-deui, medar perluna sajarah jeung elmu sajarah dina nafsir atawa ngembangkeun kaelmuan agama Islam. Teu beda dina ceramahna nu eunggeus-eunggeus. Eta deui, eta deui. Kituna teh bari ukur mere garis badag wungkul. Teu ngabejerbeaskeun kalayan rinci. Abong kiai ahli hikmah. (Cenah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mun teu inget tugas kuring harita ukur jadi tukang motret -- ongkoh rumasa jalma "sekuler", engke hayoh ngadon dicariduhan ku nu aya -- hayang tah ngarawel mikropon nu ngajegir di hareupeun eta majelis. Lain nanaon. Ceuk tadi ge: Ieu patanyaan teh kawilang mendasar. (Bagian tina) mataholang ieu dhaurah. Sabab, nya alatan pagilinggisik jeung falsafah atawa kaweruh ti sarjana-sarjana Yunani eta, cenah, Islam jaya di buana teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mun teu salah, ti jaman Abas Al Saffah, raja Abasiyah nu ka hiji, ulama-ulama Islam geus nafakuran elmu-elmu nu jolna ti Yunani. Malah, saencan Islam jaya di Persia ge, urang Persia teh geus boga hiji universitas. Asana mah ngaranna teh Universitas Jundi Shapur. Diadegkeun ku Shapur, lulugu Bani Sassan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nya, di universitas eta tradisi ilmiah nu nyampak di "puncak-puncak" peradaban nu aya harita digalo jadi tradisi ilmiah sarjana-sarjana Persia. Lian ti Yunani, karya-karya ilmiah ti India, Cina, Yahudi (Ibrani), Suryani (Syria), Romawi, oge didareres ku sarjana-sarjana Persia harita. Geus karuhan karya-karya sarjana Persia sorangan mah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisana urang Persia nepi ka "nalaktak" kitu teh teu ujug-ujug. Legegna mah, teu a historis tea meureun. Aya sabab atawa aya titincakannana. Aya ayeuna aya baheula: Jauh saencanna, Iskandar Zulkarnaen, abad ka 3 Masehi (?), waktu ngajorag Asia nepi ka India, geus mitembeyan ku naon nu disebut Helenisme tea. Pagalona Wetan jeung Kulon. Nya, ti harita para ulama jeung sarjana Persia khususna, ulama Timur umumna (kaasup Mesir jeung India), geus wanoh jeung kabudayaan Yunani-Romawi. Kaasup dina perkara kaelmuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanajan kitu, nu kacatet ku sajarah, hartina aya bukti bungkeuleukan, mangrupa buku atawa dokumen tulis lianna -- bari kungsi kabaca atawa kadenge ku kuring "dongengna" -- ceuyahna nawu elmu ti Yunani teh nya magsa Islam geus manggung. Boh di Irak, Suryani, Iran, Spanyol, oge Mesir. Utamana, nya ti mangsa Jaman Abasiyah tea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cenah, nya di Jaman Abasiyah ieu mucunghalna istilah almathiy alaristy jeung mutsul alflathuniy teh. Istilah ka hiji jelas ngarujuk ka Kanjeng Aristoteles, nu kadua ka Kanjeng Plato. Urang pada terang, cenah, kumna falsafah atawa pipikiran nu mangkuk nepi ka kiwari teh, mun disederhanakeun, taya lian ti "perang abadi" dua sarjana Yunani ieu. Ide versus materi -- lengkep jeung varian-varianna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lian ti Plato jeung Aristoteles, sarjana-sarjana Yunani lianna nu karyana diteuleuman, sakaligus ditarjamahkeun kana Basa Arab, ku sarjana-sarjana muslim harita -- di antarana -- : Euclideus, Hypocrates, jeung Galenus. Demi ti India, di antarana, mun teu salah, karya salah saurang sastrawanna: Baidaba. (Teuing kapinanonna Shai Baba. Komo jeung Shahrukh Khan mah). Karya Baidaba nu ditarjamahkeun teh taya lian ti Khalilah wa Dimnah, nu -- cenah deui bae (mun teu ceuk Cak Nur, ceuk Abdul Hadi WM), ku ngaliwatan tarjamahannana dina Basa Malayu, mere pangaruh kana falsafah kakuasaan nu diagem ku raja-raja Jawa jeung Malayu. (Raja Sunda mah teu disebut-sebut, euy. Sumpah. Tapi, kaharti: Raja Sunda mah sarakti. Teu kapangaruhan ku nu lian. Hehehe...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Baidaba eta oge, nu ditarjamahkeun kana Basa Arab ku Al Mustafa (teuing naon lengkepna. Poho), nu engke mere pangaruh ka sawatara filosof Kulon "modern". Di antarana, nu pangingetna: Francis Bacon! (Ngahaja make tanda seru. Soalna, mun teu salah, Bacon teh jadi salah sahiji ikon penting dina buku Eco, The Name of The Roses).&lt;br /&gt;Balik deui kana perkara "hutang" urang ka urang Yunani tadi, nya ku alatan pagilinggisik jeung elmu nu dikembangkeun ku maranehna, urang khususna, dunya umumna, panggih jeung Al Kindi, Biruni, Alhazen, Kanjeng Imam Ghazali, Kanjeng Ibnu Rusyd, oge sarjana-filosof nu nepi ka kiwari tetep "jumeneng" -- kagak ada matinye : Kanjeng Ibnu Taimiyah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumaha satemenna, jentreannana (?), pangaruh urang Yunani tadi kana pamendak para ulama-ulama Islam? Oge naon nu dimaksud almathiy alaristy jeung mutsul alflathuniy? Eta mah lain bagian kuring. Bagian nu leuwih ahli. Bagian ajengan jeung kiai. Kuring mah ukur ngambeuan haseupna. Eta ge ti kajauhan. Teu langsung tina durukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ongkoh geus rek magrib. Rek ka cai heula. (Era atuh, euy. Geus ngilu "dhaurah nasional", ari solat masih keneh loba bolongna. Emh, sorry pisan, My Lord. Forgive me. Please!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babakan Madang, Desember 2005&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624626515683189?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624626515683189/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624626515683189' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624626515683189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624626515683189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/almanthiq-al-aristi-oleh-oleh-ti.html' title='Almanthiq al Aristi (Oleh-oleh ti Tarogong # 5)'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624585107253925</id><published>2006-12-15T21:10:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T21:10:51.600-08:00</updated><title type='text'>Ngaji, Novel, jeung Gelo</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Saur Ema jeung Apa, mangsa leupas susu, kuring kungsi dirorok ku salah sahiji kapi nini di Kalijati. Ngan teu lila. Ukur bubulanan. Waktu nini ngalih ka Madiun, alatan carogena, nu janten AURI, ditugaskeun di ditu, kuring dipundut deui ku Ema. Sigana mah Ema teu luas ari tebih teuing ti Bandung mah. Hese ngalongokna.&lt;br /&gt;Sanajan teu lila, jeung teu inget-inget acan, kuring ngarasa kahutangan budi ku eta nini teh. Matak, sanggeus gede, mun sakalina ka Subang teh sok maksakeun nyimpang ka bumi bibi, salah sahiji putrana. Nini mah, oge Aki Oding, carogena, tos lami ngantunkeun. Mun teu salah, waktu kuring kelas lima.&lt;br /&gt;Lian ti kahutangan budi, sok ngahajakeun nyimpang teh pedah bae bumina kaliwatan. Teu kudu pungkal-pengkol heula. Ongkoh sakalian milu ka cai.&lt;br /&gt;Sakali waktu mah, teuing ti mana mimitina, obrolan satengahing munjungan teh nepi kana perkara putuna. Bibi teh ngadon ngagulkeun salah sahiji putuna, nu harita keur anteng ulin di buruan. Lian ti pinter di sakola teh, eta budak pinter ngajina. "Hatam Qur'anna ge geus opat kali," saur anjeunna. Padahal, karak kelas lima. "Ajengan di pasantren mah geus menta sabaraha kali sangkan dipasantrenkeun di dinya," saur bibi. Sabaraha bumi ti anjeunna, memang aya pasantren Qur'an. "Ngan teu dibikeun," saur anjeunna deui.&lt;br /&gt;"Ku naon teu dipasihkeun?," ceuk kuring.&lt;br /&gt;"Ah, bisi gelo! Budak keneh," waler anjeunna.&lt;br /&gt;Ngadenge kitu, kuring ngan saukur ngaheheh. Teu wani neruskeun. Obrolan disalenggorkeun ngeunaan kasehatan anjeunna, wuwuhan anjeunna teh kagungan kasawat gagal ginjal. Tiap tilu dinten ngadon ka Bandung, cuci darah di Hasan Sadikin -- dugi ka pupusna, sabaraha bulan ka tukang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;++++&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanajan dina basa, jeung kakait, nu rada beda, jawaban atawa pamadegan siga si bibi teh lain harita bae nu nepi kana ceuli. Di Cibadak, Sukabumi, misalna, kuring kungsi mergokan hiji tukang warung nu ngahulag anakna, budak SMP, nu keur tonggoy maca novel. "Tong maca bae bisi gelo," kitu ceuk eta tukang warung. Tayohna mah eta budak teh resep maca. Asa piraku ari maca dua tilu buku mah ngadon dicaram. Komo, bari nyebutkeun bisi gelo mah.&lt;br /&gt;Keur kuring, pamadegan siga kitu teh kaharti tapi teu saluyu. Kahartina, dina halna bibi kuring, budak teh nya can sawawa bae ari kudu ngaji tafsir atawa tauhid nu jero mah. Cukup bisa maca Qur'an, shalat, jeung prak-prakan ibadah nu dasar bae. Malah, boa-boa, ka hareupna, kahoyong anjeunna mah si putu teh ngalap elmu "sekular" bae. Sakola umum. Matak teu masihkeun ka pasantren teh, lain perkara gelona.&lt;br /&gt;Da, ari gelo mah teu ku masantren teu ku sakola sekuler. Sarua bae lolongkrangna. Pangalaman kuring salila sakola: Paling heunteu aya tiluan nu disebut gelo teh. Hiji urang Sospol Unpad, hiji urang Senirupa ITB, hiji deui babaturan SMA, mahasiwa Matematika ITB. Mun kuring rek diitung mah, nya jadi opat. (Mun ditambah jeung nu maca ieu pangacaprukan, nya leuwih loba deui: 1387 jalma!).&lt;br /&gt;Demi dina kasus di Sukabumi, manan maca novel mending mantuan manehna di warung. Di mana rek maca ge, meureun, leuwih hade maca buku-buku nu diajarkeun di sakola. Karuhan, pakait jeung niley, UAN, jste.&lt;br /&gt;Atawa, manehna nganggap carita nu aya dina novel teh ngan lamunan nu nulisna wungkul. Bari teu napak dina kanyataan hirup -- paling heunteu, kanyataan hirup sapopoe nu kaalaman ku maranehna. Kaharti, mun manehna nyaram si budak maca novel teh. Utamana, mun novel eta napak jero dina diri budakna. Hartina, eta budak teh jadi teu napak dina realitas nu aya. Nya, gampangna, gelo tea.&lt;br /&gt;Teu panujuna, dina kasus bibi kuring: Asa piraku ajengan teu boga ijiran mana nu merenah diajarkeun ka budak, mana nu pantes atawa wajib pisan keur nu geus sawawa. Malah, bisa jadi, si ajengan tadi geus ningali kamampuhan si budak. Di mana dibere elmu nu bareurat ge, eta budak moal nepi ka gelo. Mana anjeunna meredih ka bibi ge.&lt;br /&gt;Ari dina kasus Sukabumi: Salah sahiji fungsi novel, malah fungsi kasenian umumna, nya memang keur ngimpi. Ngabeberah hate. Ngaleupaskeun kasusah, katugenah, kakesel, atawa kacangkel, tina kahirupan sapopoe. Biasa hirup walurat, nya hayang ngimpi jadi beunghar. Butek ningali kuleuheuna Bandung, nya hayang ngambeuan asrina kota-kota di Denmark. Munasabah, sawatara di antarana, eusina ngan impian wungkul. Teu napak jeung kahirupan sapopoe.&lt;br /&gt;Leuwih ti kitu, teu kabeh novel ngan sakadar dongeng. Teu saeutik, sanajan bari ngadongeng, novel nu mere kaweruh ngeunaan hal-hal lian dina kahirupan. Dua novel Jamal, misalna, mere pangaweruh ngeunaan sawatara kaweruh dasar ngeunaan senirupa jeung -- saencret -- ngeunaan sajarah, "adat", jeung "budaya" Sunda.&lt;br /&gt;Novel Umberto Eco, &lt;em&gt;The Name of The Rose&lt;/em&gt;, lian ti nyengseurikeun jalma nu ngaharamkeun seuri teh, oge mere kaweruh kumaha ulama-ulama Nasrani abad pertengahan mulungan kaweruh ti sarjana-sarjana Muslim -- beh dituna, nya nembongkeun jumud sakaligus motahna kahirupan Eropa, paling heunteu Itali, samemeh maranehna meunang pencerahan, nu di antarana ngalahirkeun Michael Angelo jeung Leonardo da Vinci.&lt;br /&gt;Hartina, mun kuring jadi si bibi atawa indung budak Cibadak tadi, naon nu tumiba ka barudakna teh rek dihucuhkeun. Si budak rek diserahkeun ka pasantren. Ku cara kitu, paling heunteu, eta budak bisa nyerep kahirupan nu leuwih relijius. Bari teu jauh ti imah. Sakalina hayang ngalongok, tinggal ngalengkah.&lt;br /&gt;Beh dituna, naon salahna jadi jalma gelo? Malah, ngeunah jadi jalma gelo mah, lin? Euweuh salah euweuh bener. Kuma karep. Agama sorangan teu ngahukuman jalma owah. Dalah, pamanggih kuring, di mana gelona ku alatan ngaji, diajar perkara agama, atawa nungtut elmu, gelo nu alus. Da, paniatan awalna hade. Ngalap elmu agama, nu beh dituna ngalap berkah Anjeunna. Batan gelo alatan ditampik ku kabogoh atawa mikiran buruan nu kagusur jalan tol?&lt;br /&gt;Hanas eta elmuna teu kataekan, bantet, atawa jadi gelo pisan, nya eta mah "nasib". Salila usahana geus bener, geus alus, hasilna goreng, nya lain salah urang. Pan, urang mah kadar usaha? Sakadar ngojayan awak.&lt;br /&gt;Jeung deui, naha enya mun jelema ngaji ti leuleutik, atawa loba maca buku, kaasup sarupaning novel, bisa gelo? Can tangtu. Malah, ceuk tadi ge: Dina halna ngaji, asa piraku ajengan teu boga ijiran? Dina perkara maca novel, piraku si budak teu boga pipikiran sorangan, nu nungtun manehna ngabedakeun mana realitas mana impian? Perkara mantuan gawe di warung, nya eta mah tinggal ngatur waktuna bae. Iraha maca, iraha ngaladangan. Euweuh pakaitna jeung gelo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepinggan, 12 Agustus 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mangsa kageloan ku gelo jeung nu gelo)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624585107253925?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624585107253925/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624585107253925' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624585107253925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624585107253925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/ngaji-novel-jeung-gelo_15.html' title='Ngaji, Novel, jeung Gelo'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624568741969075</id><published>2006-12-15T21:06:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T21:08:07.870-08:00</updated><title type='text'>Nu Manggih Soul Mate</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Geus lila teu panggih jeung manehna teh. Paling anyar, taun 2004. Samemeh manehna miang ka hiji kota leutik di Amerika, nohonan ondangan ti hiji LSM kasenian jadi visitor artist di eta kota. Tepung teh, harita, bane bae kuring ngilu mere referensi. Kungsi panggih sabaraha kali di sawatara acara kasenian, tapi karah silih gupay. Atawa kadar sasalaman, ngobrol sakeudeung -- manan heunteu pisan. Kontak deui waktu Harry Roesli maot. Kuring nelepon manehna, ngajak takziah. Eta ge teu tepung. Da, manehna teu bisa milu. Keur kagok ku pagawean cenah. Ngajurung ku dunga bae.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari minggu kamari, meh tengah peuting, kirining nelepon. "Lagi ngapain, lu?," ceuk manehna. Ku kuring dijawab rek ka enggon. Tunduh. Da, enya. Solat Isa ge asa lila. Lain ku khusu. Tapi, nginget-nginget babacaan, da pipikiran geus reupreupan, hayang sare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Temenin gua, dong. Gua lagi di BB's, pengen ngobrol," ceuk manehna.&lt;br /&gt;"Wah, sori, Ji. Gua ngantuk banget. Besok ajalah. Sekalian nonton si Tony," ceuk kuring, inget yen di dinya teh tempat manggungna si Tony, urang Semarang nu resep ngalagu reggae. (Lain ngalagu rame).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peuting isukna, nepi ka jam salapan telepon teu ngirining bae. Pon kitu deui jam sapuluh. Ari satengah sawelas ku kuring ditelepon, kadenge sora brangbrengbrong. "Lagi di mana?," ceuk kuring. "Di Batavia!," ceuk manehna ngagorowok. "Sebentar lagi gua on the way ke sana," ceuk manehna deui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enya bae. Teu lila, manehna nelepon. "Gua udah di depan Hotel Nikko, nih," ceuk manehna. Maratkeun heula pagawean nu tinggal saeutik, kaluar ti imah kabeneran aya tukang ojeg ngaliwat. Belenyeng ka Menteng. Nepi ka nu dijugjug, manehna geus nyampak. Teu obah gaya. Dandanan teu weleh nga-ABG: Calana sontog, oblong kayas, rompi korduroy kelir kekembangan, sapatu kets beureum, rangsel biru. Beuteungna nu mimiti bentelu teu katutupan kabeh, bujalna meh katingali. Paromanna teu weleh sumringah, pinuh ku sumanget hirup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kabar, boss?," ceuk manehna bari ngarawu leungeun kuring. Nuyun ka jero cafe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karek ge gek, geus golosor inumeun. Tayohna, manehna geus mesen ti tatadi. Kituna teh bari nganyahokeun kuring nu teu bisa nginum alkohol, manehna hideng mangmesenkeun cai jeruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanggeus nanya itu ieu perkara pagawean, manehna nyaritakeun kahirupan rumahtanggana. Singhoreng, geus aya dua taunna manehna tara sare di imah. Mun teu di studiona, nya di hotel. Kituna teh, mun sakalina hulu cangkeul alatan gawe mangpoe-poe, ngadon kukuluyuran heula ti hiji cafe ka cafe lian -- jiga poe-poe harita. "Tutup yang di sana, gua ke sini. Gitu aja seterusnya. Nyari cafe yang masih buka," ceuk manehna, tatag, teu kadenge mangkarunyakeun diri atawa naon. "Udah tua baru jadi Basquiat. Hahaha...," ceuk manehna deui, mimiti ngupahan maneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alatan sering hirup di cafe, nya manehna wanoh jeung pagawe-pagawena. Nepi ka, ceuk carita manehna, teu saeutik pagawe-pagawe cafe nu remen ngumaha duit mun sakalina maranehna perlu mayar kontrakan atawa mayar kuliah. "Kalau lagi ada, ya gua kasih. Kalau nggak, mau gimana lagi?," ceuk manehna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuring percaya kana omongan manehna teh. Eta bae, harita, sanajan korsi-korsi lian geus ditangkub-tangkubkeun, geus waktuna tutup, meja kuring duaan teu ditoel-toel acan. Najan sabaraha urang katingal geus baralik, sawareh mah ngadon ngagimbung di juru. Bisi ieu langganan istimewa aya perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari ieu batur, keur mahasiswa, prestasi akademikna kaitung nyongcolang. Malah kungsi jadi mahasiswa pinunjul sagala. Pon kitu deui lukisan-lukisannana. Koas teh motah, ka ditu ka dieu. Kelir-kelirna rame, pating seledek dina kanvas. Nepi ka, harita, lian ti Rahmaiani, nya manehna nu ceuk implengan kuring sabatur-batur bakal jadi seniman kahot teh. Malah, waktu hiji lembaga di Walanda mere bea siswa, manehna salah sahiji mahasiswa nu dicalonkeun. Ngan, eleh "gelo" ku Neng Yani. Bea siswa eta memang diajangkeun keur mahasiswa nu bener-bener hayang jadi seniman. Ari manehna, najan enya ge keur ukuran kuring mah kaasup jalma motah, gaya hirupna leuwih tartib manan nu lian. Malah, harita, cita-citana ge jadi "seniman dan pengusaha kaya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawuh teh nya pedah remen tepung. Mun teu di tempat barudak Anak Merdeka, tempat kostna si Yayak Kencrit jeung Susiawan, nya di imahna Harry Roesli. Malah taun 85, kuring kungsi mantuan manehna nyieun workshop di imahna Harry Roesli -- bahan pikeun skripsina. Nya ti harita deukeut teh. Malah jeung dulur-dulurna ge kuring jadi warawuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulus sakola, loba nu ngarasa kaleungitan. Alatannana, manehna dianggap leuwih beurat kana dagang manan kana kaseniannana. Sanajan sabaraha kali pameran, dianggapna nya lukisan-lukisan dagang tea. Lain "karya seni". Ongkoh, teu euleum-euleum, nyieun pausahaan ge ieu batur mere ngaranna teh "CV Usaha Serba Dagang Gambar". Kungsi usaha jeung batur saangkatannana, teu lana. Siga nu papalimpang jalan: Nu hiji hayang jadi seniman, ari ieu hayang jadi usahawan. Antukna eta usaha teh bubar. Baturna diganti ku nu lian, kantorna ge pindah ka Tebet, nginjeum imah Bugis lanceuk beuteungna, teu jauh ti imah mitohana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nya, waktu di Tebet eta, kuring kungsi pagilinggisik deui jeung manehna. Kabeneran majalah tempat gawe dibredel. Kuring jadi copy writer amatir di pausahaan manehna. Ngan kitu, sanajan manehna geus sakola manajemen ge, keur kuring, cara gawena nyeniman keneh. Di kantor teh karah loba ngobrol nu lian-lian. Lain migawe atawa ngadiskusikeun pagawean. Nu paling geuleuh: Ngalakonan gawe teh keukeuh make rumus mahasiswa, SKS, sistem kebut semalam. Atuh, hasilna kurang nyugemakeun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakalina meunang gawe nyieunan videoklip, manehna sok rada purunyus. Make rajin nganteurkeun balik si artis atawa model nu aya dina eta pagawean sagala. Sanajan jauh tina ngabaruntakeun rumahtanggana, paling heunteu can kajadian, kungsi oge kuring, salaku pimpinan produksi, ngilu nyarekan. "Nganterin cewek, kan cukup pake sopir? Nggak usah lu sendiri yang nganterin," ceuk kuring. Lain nanaon, ambeh teu nimbulkeun fitnah. Beh dituna, nya bisi ngaganggu kana pagawean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komo, saencan ngilu nyarekan, kuring geus ningali tanda-tandana: Lain mantuan kuring nyeukseukan, manehna karah ngabela hiji artis nu elat datang ka pagawean nepi ka ...tilu jamna! Ti harita, kuring teu percaya mun kuring bisa gawe bareng jeung manehna. Ongkoh, ayeuna mah kantorna ge geus bubar deui. Manehna nyieun usaha lian, bari jauh, di Sawangan, teu jauh ti imahna -- cenah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari pamajikannana, tangtu bae kuring wawuh. Bubuhan, baheula, keur mahasiswa, kuring sok ngedrop manehna mun sakalina manehna apel teh. Ongkoh, kabogohna teh mahasiswi Unpad, saasrama jeung babaturan safakultas kuring, di asrama putri nu di Dago tea. Nya sakalina ulin ka dinya teh, kuring ge sok panggih jeung kabogoh eta batur teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakitu bobogohan ti jaman sakola keneh, diteruskeun ku kawin saberes kuliah, nepi ka kiwari nu cikal meh lulus SMA, singhoreng, rumahtangga eta batur teh -- ceuk pangakuan manehna -- awet rajet. "Bini gua itu orangnya dingin. Dia tahu mana lukisan yang bakal laku, mana yang nggak. Tapi, dia nggak bisa diajak ngobrol soal kesenian atau soal-soal sosial," ceuk manehna. Kituna teh bari sasadu, rumasa yen salila taunan bobogohan manehna teu ngawangun komunikasi nu intens jeung pipamajikeunannana harita. "Lu tahu sendiri, gua ketemu cuma malem minggu," ceuk manehna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ceuk manehna, mangsa di Amerika, ngarasa sono ka anak pamajikan, manehna ngahaja datang ka wartel nu jarakna aya kana sakilona ti tempat cicingna. Rek nelepon. Bari, harita, cenah, keur tiris-tirisna. "Eh, baru juga nyambung, dari sana bini gua teriak-teriak soal duit. 'Ji, gimana ni, Ji...'," dongeng manehna..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, waktu di Amerika eta manehna ningali kumaha urang ditu ngebrehkeun kanyaah jeung kasono ka pamajikan atawa salaki. "Tiap ketemu, mereka saling bilang I love you. Ciuman...," ceuk manehna. Intina, nya waktu di Amerika eta manehna asa manggihan deui dirina. Nu sawareh, keu kuring, asa jijieunan. "Gua pengen jadi seniman!," ceuk manehna. Har, ari Ujang? Salila ieu nyaneh teh jadi naon? Ceuk kuring dina hate. Karunya oge ku telatna ieu batur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keur kuring, sanajan batur nu lian mah nganggap manehna tukang dagang, lain seniman, ceuk kuring mah nya eta-eta keneh. Jeung deui, naon salahna seniman dagang? Atawa nu dagang oge seniman? Ari bener mah? Ongkoh, mun diimeutan leuwih telik, pan ti mahasiswa ge manehna mah geus kitu: Lian ti hayang sukses dina kasenian, oge hayang jadi pengusaha. Naon salahna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enya ge ngaranna tara disebut-sebut di kalangan nu ngalulugukeun "wacana", manehna kaitung moyan keur ukuran Jakarta mah. Ceuk nu leuwih nyaho, dina hal dipikaresep ku pasar, manehna sauted handapan Hanafi. Eta bae, mun kaparengkeun ulin ka sawatara hotel atawa cafe, lukisan-lukisan manehna reuteum ngeusian eta wangunan. Boh di lobby, boh di sawatara rohangan lianna. Tina kituna mah ulet usahana teh. Sabaraha lembaga loba make kabisana. Jeung deui, keur kuring, gambar atawa desainna teh teu "dagang-dagang" teuing. Hartina, tapak mangsa mahasiswana masih aya. Sanajan, tangtu bae, leuwih kalem, leuwih tartib, jeung manis. Teu motah deui. Pan, tina kituna mah, nurut umur. Piraku motah saendeng-endeng?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanajan kuring teu nganggap goreng ge, manehna ngarasa salila ieu ngalukis teh leuwih loba alatan ku ngagugulung kabutuh hirup: Mayar listrik, telepon, sakola budak, les Basa Inggris, les piano, bensin, jste. "Gua cuma kerja, kerja, kerja," ceuk manehna, mimiti rada melankolis jeung dramatis. Sakalina rek ngaekspresikeun diri leuwih total, jadi seniman tea, pamajikannana siga nu ngahulag. "Padahal, gua kurang apa? Selama ini, seluruh kebutuhan dia, sekolah anak-anak, rumah tangga, gua penuhi? Sekarang ini, gua ingin hidup untuk gua sendiri. Toh, kewajiban gua sebagai kepala rumahtangga selalu gua penuhi," ceuk manehna, bari nyebutkeun angka nu dibikeun ka pamajikanna tiap bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teu ku hanteu, samulang ti Amerika eta manehna panggih jeung hiji awewe. Sarua icikibung dina widang kasenian. Malah, cenah, kungsi diwawuhkeun ka kuring basa tepung di salah sahiji acara. Kuring sorangan teu apal. Nu pasti, ceuk manehna, eta awewe teh ngarti pisan kana naon nu aya dina angen-angenna. Boh dina urusan kasenian, oge dina perkara kahirupan lianna. "Ama bini gua? Boro-boro. Setiap ketemu pasti berantem," ceuk manehna, nurustunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungguhing keur pada bogoh tea meureun, eta batur teh sok ngadon rendevouz di studiona -- nu, cenah, teu jauh ti imahna. Nepi, ka hiji waktu, kapergo ku pamajikannana. Sanajan harita teu nepi ka Bharata Yudha, hubungan jeung pamajikannana beuki teu karuhan. Ahirna, pamajikannana menta diserahkeun. Keur manehna, pipisahan jeung pamajikannana teu jadi masalah. Kaasup perkara harta. "Rumah, lukisan-lukisan gue yang ada di situ, mobil, silahkan ambil," ceuk manehna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu ngabeuratkeun manehna: "Gua nggak tega pisah ama anak. Terusterang ini yang nyiksa gua selama ini. Gua takut, nggak bisa ketemu anak-anak," ceuk manehna. Hal lian nu ngabeuratkeun manehna: Mitohana. "Lu tahu sendiri gimana sayangnya mertua gua ama gua," ceuk manehna. Enya. Keur milu gawe di Tebet, kuring sok nyaksian kumaha mitohana ngadangkal nitah pembantu: Nganteuran dahar keur ieu mantu kakasih. Malah, kumaha meumeutna si mitoha ka manehna sok ditepikeun kapi lanceuk pamajikan, nu jadi tatangga mitoha eta batur. Ari ayeuna ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lian ti dua hal eta, oge manehna beurat ku kabogohna ieu. Lain beurat pedah bogoh. Tapi, sieun kabogohna dituduh jadi ulon-ulon nu ngangganggu katingtriman rumahtanggana. "Padahal, gua udah bermasalah sejak lama ama bini gua. Sementara, ama cewe ini gua menemukan soul mate," ceuk manehna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayeuna manehna keur nyanghareupan urusan pipisahan jeung pamajikannana. Ari, jeung si soul mate, cenah geus genep bulan ieu teu panggih. Har? Ongkoh soul mate?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singhoreng, sanggeus pasanggrok jeung pamajikannana, kabogohna teh menta kategesan ieu batur: Milih manehna atawa pamajikannana? Tapi, pamajikannana sorangan geus menta diserahkeun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siga nu dicaritakeun tadi, manehna lain embung nyerahkeun pamajikannana. Tapi, beurat ku anak. "Paling enggak, gua butuh waktu untuk menerangkan perceraian ini ama anak-anak gua," ceuk manehna. Tah, salila manehna can mutuskeun tea, si soul mate embung tepung jeung manehna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antukna, ieu batur jadi andar-andar. Nu sakalina cangkeul hulu, hirup ti hiji cafe ka cafe lian. Abong seniman...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salemba, Februari 2006 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624568741969075?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624568741969075/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624568741969075' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624568741969075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624568741969075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/nu-manggih-soul-mate.html' title='Nu Manggih Soul Mate'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-116624514625967799</id><published>2006-12-15T20:51:00.000-08:00</published><updated>2006-12-15T20:59:06.863-08:00</updated><title type='text'>Ua Sas jeung Al Nadim</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Maca posting Ua Sas ieu, http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/message/108236, nu nyabit-nyabit perkara koleksi pabukonna nu nepi ka 4.000, kuring jadi inget ka Al Nadim. Komo, basa kamari panggih di Cupumanik mah. Si Ua alewoh nerangkeun kumaha jujutan “perbukuan” di urang. Kituna teh bari mahanan buku sagala. Nuhun pisan, Ua. Katampi. (Padahal, sumpahna ge ngan heureuy, Ua).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapanjang balik ka Jakarta-keun, hate mah teu weleh inget ka si Ua – oge MJ. Rumasa, nu tadina hayang nguriling, karah “ngahujud” di Cupumanik. Bari sosoranganan. Wuwuhan poe Ahad. Karak bisa kaluar jam 12-an. Eta ge bubuhan bae ditelepon. Ngadon luncat kana angkot ka Cimahikeun. Nungguan batur ti sore keneh, karah ngabetem. Karak ngawalonan SMS kuring sanggeus kuring balik deui ka Jakarta. Atuh, acara di Bandung teh paburantak. Teu bisa kamana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saha ari Al Nadim? Ieu inohong teh urang Bagdad. Hirup jaman Khalifah Harun Al Rasyid – teuing Al Ma’mun, ketang. Ngan, siga si Ua, Al Nadim teh sarua boga karesep kana buku. Malah, lian ti resep, siga si Ua oge, anjeunna muka toko buku di Bagdad. Alatan ku strategis, teu jauh ti Masjid Agung Bagdad jeung Bait al Hikmah – nu jadi centre of excelence dina kahirupan intelektual Bagdad harita (Mun di Jakarta ayeuna mah sarupaning Teater Utan Kayu meureun, nya?) – toko buku Al Nadim jadi pangjugjugan para ulama jeung sarjana Bagdad harita. Ongkoh, lian ti icalan buku, di tokona eta, Al Nadim oge nyadiakeun rohangan khusus keur sawala. (Ilikan kumaha model sawatara toko buku jeung cafe kiwari). Lian ti perkara agama (Islam, tangtuna), di eta tempat, cenah, oge sok diayakeun sawala ngeunaan filsafat jeung sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atuh, teu pamohalan mun toko buku Al Nadim jadi pangjugjugan para ulama jeung sarjana teh. Kaasup jadi pangjugjugan gegeden-gegeden Bagdad harita, nu sarua pada resep nareangan elmu pangaweruh. Nya, alatan jadi pangjugjugan gegeden jeung inohong eta, Al Nadim jadi wawuh jeung maranehna. Malah, ngaran Al Nadim ge, taya lian ti sesebutan keur anjeunna alatan “jadi sobat para inohong” (al Nadim). Da, ngaran nu sabenerna mah lain eta. Saha? Poho deui, euy! Hehehe... (Barina ge tong sagala hayang dihuapan, atuh. Sakali-kali mah teangan ku sorangan. Bukuna ge pabalatak di pabukon jeung toko buku. Malah nge-search di go&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-116624514625967799?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/116624514625967799/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=116624514625967799' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624514625967799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/116624514625967799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/12/ua-sas-jeung-al-nadim.html' title='Ua Sas jeung Al Nadim'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-113791336136945423</id><published>2006-01-21T22:55:00.000-08:00</published><updated>2006-01-21T23:02:41.466-08:00</updated><title type='text'>Dana Abadi Sunda</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;Kamari, basa kongres di TBI tea, aya sababaraha hal nu napel dina pikiran. Sabenerna mah loba, ketang. Ngan, lian sabagian geus ditepikeun ku Ua Sas, Kang Oman, oge MJ, nu napel pisan na sirah mah kasauran Kang Asep. Ngeunaan pentingna ningkatkeun kualitas SDM di Tatar Sunda. Tangtu bae, nu dimaksud teh bangsa Sunda – lain bangsa lianna. Da maranehna mah geus dipikiran ku bangsana sewang-sewangan – meureun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tah, dina perkara SDM ieu, mun teu salah mah bari nyutat postingna Kang Damai ngeunaan sakola di Purwakarta tea, Kang Asep nyodorkeun kumaha mun urang ngayakeun bea siswa keur barudak Sunda nu pinter tapi teu bisa laju sakolana alatan teu boga pakeunna. Ngadenge kitu teh, kuring nu keur anteng ngababade kumaha nimatna ngagayem karedok mangsa harita, jadi kageuing. Aya ku tegep eta kasauran teh, ceuk hate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Da, nya eta, di antarana, nu ku kuring remen dipikiran teh. Malah, lamunan teh sok rohaka, lian ti bisa mere bea siswa teh, mun bisa mah bangsa Sunda teh boga dana abadi. Keur nanahaon? Keur naon bae salila nyangkut kapentingan bangsa Sunda. Naha keur mere bea siswa, medalkeun buku, nyieun kongres, ngadegkeun partai, nyieun jalan kareta, nyieun masjid, pasantren, sakola, atawa mere modal ka sing saha bangsa Sunda nu kudu dibere modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokona mah keur naon baelah. Salila aya pakaitna keur kapentingan bangsa Sunda. Da, geuning karasa: Loba lamunan atawa kahayang remen mentog alatan ku euweuh dana. Malah, sakapeung mah duit nu dipikabutuh teh "teu sabaraha". Jiga sawatara waktu ka tukang, aya batur ngumaha duit Rp 5 yuta keur bekel ka Singapura jeung Kuala&lt;br /&gt;Lumpur, rek "sakola" ngeunaan kahirupan kasenian di ditu. "Tiketna mah geus aya. Ngan teu boga bekel pisan. Sanajan enya sagalana geus ditanggung ku urang ditu ge, piraku teu nyakuan saperak-perak acan mah," ceuk eta batur teh. "Datang ka maneh teh pedah ku butek bae. Geus kaditu ka dieu, teu meunang saperak-perak acan. Padahal, pageto kudu geus mangkat," ceuk eta batur deui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain kuring rek ngagampangkeun perkara duit. Malah sabalikna. Ngan, dina itungan jiga kiwari, mangsa nu maraling nepi ka meunang triliunan, mobil-mobil nu hargana cenah nepi ka ngamiliar pating saliwer di jalan, duit sakitu teh teu samenel-menel acan. Tapi, naha, ieu aya batur nepi ka ngumaha ka kuring, nu sarua kutudna, ku duit nu "ngan" sakitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mun rek "dianalisis" mah tangtu bae loba pisan pijawabeunnana teh. Ti mimiti perencanaan nu kurang asak, heureutna lengkah eta batur, nepi ka tulalitna ieu nagri. Enya, rek teu disebut tulalit kumaha: Ongkoh subur makmur, tapi ieu aya "duta bangsa" meh teu bisa miang ku alatan duit nu "ngan" sakitu? Coba? Komo, duit sakitu teh lain keur saurang dua urang. Tapi, keur sapuluh jalma. Enya, da babaturan teh mawa rombongan. Terus, iinditanna teh nepi ka dua minggu. Saminggu di Singapura, saminggu deui di Kuala Lumpur. Hartina, duit Rp 5 yuta teh nitih Rp 500 rewu sewang saurangna. Keur dua minggueun di pangumbaraan! Piraku Dinas Budaya jeung Pariwisata teu bisa&lt;br /&gt;ngabantuan duit nu teu samenel-menel acan tadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, geus capelah "nganalisis" katulalitan ieu nagreg teh. Komo ngomongkeun nu ngokolakeunnana mah. Lain teu penting. Tapi, keun bae heula. Mending ge urang ngurus sorangan bae, pada-pada urang. Saha nu nyaho bisa ngageuing maranehna, kum nu ngokolakeun ieu nagara. Dina heunteuna ge paduli teuing. Ceuk si bungsu tea mah, "Emang gue pikirin". Da mun bisa mah pamarentahan teh dibubarkeun bae. Ka mahal-mahal ngabeayaannana. Cukup nepi ka RT jeung RW ameh teu riweuh. Paling luhur ge nya cukup lurah atawa camat. (Edas…, dasar si&lt;br /&gt;kasebelan, kalahka los ka dinya, nya?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tah, dina perkara dana abadi tea, ceuk lamunan, kurang leuwih siga pipikiran Den Aming, babaturan kuring di Bandung nu lingas jeung bedegong tea: Mun tea mah tiap bangsa Sunda nyodakohkeun sarewu perak saurang tiap bulanna, piraku teu kakumpulkeun duit nepi ka Rp 10 miliar sabulan? Enya, pan bangsa Sunda teh cenah nepi ka 40 yuta. Anggap bae nu boga duit jeung kahaat teh ngan saparapatna, 10 yuta, dikali sarewu, pan nepi kana Rp 10 miliar lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teu kudu sodakoh saendeng-endeng, sebut bae sataun atawa dua taun: Duit nu kakumpulkeun teh nya tinggal ngalikeun bae 12 atawa 24. Nepi ka Rp 120 miliar atawa Rp 240 miliar! Komo mun sodakoh eta mayeng, saendeng-endeng. Duka teuing sabaraha tah duit nu bisa dikumpulkeun teh. Boa-boa tempat keur ngawadahanna ge moal aya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mun tea mah bunga bank teu kaasup haram, nya nu dipake pikeun kapentingan Sunda teh cukup tina bunga bank tea. Atawa, ambeh tumaninah jeung reugrueg, titipkeun ka bank syariah. Nya tina hasil usaha nu diatur ku bank syariah tadi nu dipake teh. Atawa: tina duit nu miliaran tadi teh, sawareh diputerkeun heula kana usaha nu dikokolakeun ku sorangan – maksudna ku pausahaan nu memang diadegkeun pikeun kapentingan eta. Tah kauntungan hasil usaha eta nu dipake keur kapentingan Sunda teh. Duit pokona mah tong dicoceng-coceng. Keun bae antep sina Rp 120 miliar atawa satriliun saendeng-endeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mun eta bisa kalaksanakeun teh, asa piraku aya kajadian deui jiga ki sobat tadi atawa aya barudak Sunda nu teu lalaju sakolana. Pon kitu deui nu ngadon nyalair duit di tengah jalan, keur ngadegkeun masigit. Komo nu teu barisa usaha, padahal boga kabisa, alatan ku euweuh modal nu "teu sabaraha". Sigana mah bisa katangkulan tah kaayaan jiga kitu teh. Paling heunteu, nya bisa ngurangan meureun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heueuh ari ngalamun mah babari. Tapi, prakna? Nyaeta ieu nu jadi pipikiran mah. Lain bae perkara prakna dina harti ngeprakkeun bangsa Sunda sangkan ngarilu aub sodakoh keur kapentingan bangsana. Tapi, saha nu kira-kira boga pakeun pikeun ngeprakkeun eta gerakan teh? Terus, kumaha cara ngontrol eta "goah"? Enya, sangkan teu dikentit atawa disalahgunakeun kunu ngarurusna? Boh pribadina, boh kroni-kronina?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu kapikir bisa ngeprakkeun teh, nya inohong nu perceka bari boga sipat amanah tur nyaah ka bangsa Sunda jeung budayana. Komo, mun bisa mah, tong eta deui eta deui. Piraku balik deui ka Mang Ihin, Pa Mashudi, atawa – nu keur manggung kiwari -- Gan Agum, Gan Agum deui mah? Lain teu percanten ka aranjeunna. Ngan, naha bangsa Sunda teh teu boga inohong lianna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tah, cik baraya, kumaha eta lamunan kuring jeung Kang Asep teh? Kira-kira saha nu bisa dipikumaha sangkan eta kahayang bisa laksana: Bangsa Sunda boga goah abadi, pikeun karaharjaan dirina? Lian ti kitu, nu pangpengtingna: kumaha sistem kontrolna sangkan eta duit teu "ngagoda" jeung teu "digoda" kunu ngokolakeunnana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aya sih sababaraha ngaran nu ngolebat dina sirah. Tapi, asa piraku ari kabeh eusi sirah kuring kudu dikaluarkeun mah. Lian ti siga nu makmak-mekmek jeung guminter teh, oge eusi sirah kuring teh teu kabeh bener. Tong boroning perkara saha jeung kumaha ngontrolna, perkara nu leuwih poko ge lain teu kudu dipaluruh leuwih jauh: Naha soal goah karaharjaan nu sipatna langgeng eta teh pamohalan atawa hanteu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saha nu nyaho, eta mah ngan saukur sora jurig nu ngulampreng mangsa janari. Sanajan, ceuk kiai mah, nya pipikiran mangsa harita nu kaitung alus teh. Kitu ge, ketang, mun bener kuring boga pipikiran. Da rarasaan mah kuring teh tara mikir-mikir acan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:78%;"&gt;From: &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:kisunda@yahoogroups.com"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:78%;"&gt;kisunda@yahoogroups.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:78%;"&gt;Date: Mon Jul 22, 2002  1:42 pm &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Subject: Dana Abadi Sunda?&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-113791336136945423?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/113791336136945423/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=113791336136945423' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/113791336136945423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/113791336136945423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/01/dana-abadi-sunda.html' title='Dana Abadi Sunda'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-113791278042238666</id><published>2006-01-21T22:43:00.000-08:00</published><updated>2006-01-21T22:53:00.533-08:00</updated><title type='text'>Kakaren Lebaran II</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/712/2118/1600/MGT%20(17)bw15.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/712/2118/320/MGT%20%2817%29bw15.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Baheula, mangsa kelas 2 atawa 3 SMP, taun 70-an, kuring pernahmaca hiji tulisan. Eusina, kira-kira, ngeunaan "bahaya kapitalisme"jeung ....modal asing di nagara berkembang! Dina eta tulisandijelaskeun: Kumaha kapitalisme geus ngaranjah kahirupan agama jeungekspresi individu, nu sipatna personal, unik. Ngagalaksakna eta modalgede teh lain bae dina ngamangpaatkeun Natal atawa poe-poe kaagamaanlianna pikeun kapentingan akumulasi modal (dagang) ku sarupaningChristmast Sale atawa End Year Sale – nu sakapeung matakpikahelokeun, naha bener eta teh "sale" atawa akon-akon bae. (Maenya,meh unggal usik aya diskon?). Tapi, nu pang disorotna ku eta tulisan,taya lian ti kartu Natal (nu ku urang bisa bae dianalogikeun jeungkartu Lebaran). Kaasup telegram khusus nu dikaluarkeun ku kantor pos. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ceuk eta tulisan, sainget kuring, kira-kira : Kartu-kartu nuditerbitkeun ku sarupaning Hallmark, jste, ku sabab dicitak kalayanmassal, geus tangtu eusi atawa kekecapannana sarua. Sarupaning MerryChristmast and Happy New Year (atawa Selamat Idul Fitri, Mohon MaafLahir Batin). Sanajan enya, eta pausahaan-pausahaan teh nyodorkeunsawatara pilihan. Tapi, tiap pilihan tangtuna leuwih ti hiji. Malah,tiap "paket" aya kana rewuna. Kaasup kartu-kartu nu dieusian ku kecap-kecap endah, nu murwakanti tapi otentisitasna dianggap kurang – da,masal jeung masinal tea. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Leuwih ti kitu, masih ceuk eta tulisan, manusa modern (maksudna mahurang Amerika atawa Eropa, meureun. Da nu nulisna lain bangsa urang)digiring kana hiji gaya hirup nu saragam. Malah satemenna dipaksasangkan saragam. Ti mimiti hudang sare, nepi ka unggah deui kaenggon, teu meunang ingkah tina renghap ranjugna mesin produksi. Nepika silaturahmi ge kapaksa diwakilan ku...Hallmark! Beh dituna, "tatanilaina" ge ditangtukeun ku Hallmark: Mun teu make kartu Hallmarkdianggap tinggaleun jaman! Teu gaul alias kuper! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hal lian nu ditepikeun ku eta tulisan, nu oge pangdiingetna kukuring nepi ka kiwari, alatan ka beh dieunakeun aya tulisan di mediaurang nu eusina misoal – kurang leuwih – "afdol heunteu"nasilaturahmi make kartu model Hallmark kitu. Alesannana, nu taditea: "Sentuhan personal"na kurang. Massal, pabrikan, urang tinggalnandatangan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Harita, mangsa SMP, umur 14 atawa 15, antara ngarti jeung heunteu,kuring bati molohok bae maca eta tulisan teh. Lain bae pedah nunulisna urang Barat, tapi eusina oge "sexy" pisan. Kapitalisme, PMA,industrialisasi, jste. Ma'lum, harita tutas Malari – nu ngaliwatansawatara kolot di Sasakgantung jeung Ciateul, kuring remen ngadengegerendengna. Leuwih ti kitu, tong boroning Hallmark atawa kartuLebaran, kartu pos biasa ge kuring kaitung langka ngamangpaatkeunnana. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sainget kuring harita, malah bisa jadi nepi kaayeuna, kuring ngamangpaatkeun kartu pos teh beunang diitung ku ramo.Sakali atawa dua kali basa kuring pirajeunan ngirimkeun jawaban TTSka salah sahiji koran. Kadua, waktu nampa kartu pos bergambar tisalah sahiji emang nu keur sakola di luar nagri. Katilu, basa kuringngirim surat pondok dina kartu pos ka kapiemang nu keur tugas di luarJawa. Maksud kuring, kartu pos, surat, komo kartu ucapan nuditerbitkeun ku sarupaning Hallmark, lain "kultur" kuring. Boro-boro... &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nyaho &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hallmark bungkeuleukan teh pedah bae di paviliun kapinini kuring diSlipi, kungsi aya pasangan Ambon-Padang ngadon ngontrak. Maranehna,boga tradisi Hallmark. Tiap taun, tangkal Natalna reuteum ku eta kartu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Geus rada gede, pipikiran kuring leuwih kritis deui. Intina: Nahabener, kaculangungan modal gede teh nepi ka pikakeueungeun siga kitu?Di mana enya ge, kapitalisme meulit kuat kana kahirupan sapopoe, maenya euweuh hiji-hiji acan manusa nu bisa nyingcet? Maksud kuring,naha euweuh urang Amerika atawa urang Eropa nu silaturahmi dina poean Natal atawa Taun Baru nu ngamangpaatkeun surat biasa. Atawa nyieunkartu Natal sorangan, nu sipatna teu massal atawa pabrikan? Hartina,kahariwang eta "filosof" teh leuwih ngarupakeun suudzon atawa – boa-boa – paranoid manehna bae. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Malah, dina kanyataannana -- mun tea mah tulisan tadi ditujukeun kaIndonesia sangkan ati-ati atawa teu narima pisan kapitalisme atawamodal asing -- mangsa kuring SMP keneh, kuring kungsi ningali kartu-kartu Lebaran nu sipatna personal: Boh nu dikirimkeun ku urang luar[urang Eropa], boh nu dikirimkeun ku sasama urang Indonesia. Kuringningali teh di imah babaturan, nu lanceukna, awewe, harita masih SMA,sok susuratan jeung Si Jon [nu harita jadi kartunis majalah Gadis]jeung teuing saha jeung nanahaon [urang Itali]. Pinuh ku kareueuspedah lanceukna meunang kartu lebaran ti kartunis beken jeung urangItali, babaturan teh nembongkeun eta kartu ka kuring. Jelas eta duakartu teh teu miboga sipat masal. Malah personal pisan. Boh nu ti SiJon atawa urang Itali tadi, duanana ditulis make tulisan leungeun.Malah nu ti Si Jon mah, lian ti kartuna teu ilahar, nyieun sorangan,oge digambaran karikatur beunang manehna. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Perkara "afdol heunteu"-na silaturahmi (baca; menta hampura) makekartu lebaran? Beh, dituna mah wallohualam. Ngan, ceuk pipikirankuring, ku naon heunteu urang ngamangpaatkeun media? Utamana salilangan eta nu bisa dilakukeun. Urang kabeneran ngumbara di Banjarmasin.Sakalina Lebaran, teu boga duit keur ongkos ka lembur. Piraku kudumaksakeun maneh ngojayan laut? Komo, aya nu nyebutkeun yen media(alat) teh taya lian ti wawakil atawa papanjang diri urang. Kaasup,ceuk kuring, kartu Lebaran model Hallmark! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Salila ngarasa kawakilan ku kekecapan buatan eta pabrik, nya tayasalahna ngamangpaatkeun produk "kapitalisme" siga kitu. Manan teusilaturahmi pisan? Hehehe... &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*** &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Panjang lebar ngacapruk soal Hallmark teh, oge mosting kakarenmangrupa SMS, pedah bae Juma'ah itu aya semah datang. Dua urang,babaturan gawe di FORUM. "Mau lebaran, nih, Kang. Masa cuma lewat SMSdoang. Kan, enggak sopan," ceuk salah saurang di antarana, yuniorna Bah Willy di Fisika, putuna almarhum Pa Wirayat. Kuring saukur ngaheheh bari ngahiap terus ka tukang, ka tempat dahar. Kabeneran,pamajikan keur narima murid. Kamar hareup dipake. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Silaturahmi via SMS teu sopan? Kekecapan asal teh, satengahingngobrol ka ditu ka dieu, teu eureun ngeleketek pipikiran kuring. Nahaenya? Ceuk saha? Atuh, ngobrolkeun perkara ekonomi neolib ala SBY jeung rencana reshufle nu teu prak bae teh teu parat. Kuringmengkolkeun obrolan ngeunaan sopan heunteu sopanna silaturahmi ku SMStadi. Ieu "pasoalan daria" teh taya bedana jeung perkara afdolheunteu-na silaturahmi ku kartu atawa ku telegram. "Mun silaturahmiku SMS dianggap teu sopan, kumaha mun nulis surat pribadi ku mesinketik?," ceuk kuring. Babaturan teh karah ka nyararengeh. Sadar pananya kuring euweuh mangpaatna dijawab. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kuring sorangan, baheula, ngarasa teu sopan nulis surat ku mesinketik teh. Tapi, sanggeus biasa make mesin ketik, kadieunakeunkomputer, pamadegan (persisna mah rarasaan) kuring obah. Ayeunakuring ngarasa teu ngalanggar adab, teu ngarasa teu sopan, munsakalina nulis surat pribadi ku mesin ketik (baca: komputer). Ponkitu deui munjungan ku SMS. Atawa saukur ngirim kartu Lebaran. Kuring sorangan teu nyaho persis, naha obahna "ukuran" kasopananieu ku alatan kuring kungsi gawe di media, nu hartina leuwih akrabjeung biasa ku mesin ketik (komputer) atawa kumaha. Ngan, nu karasaku kuring: Tulisan leungeun kuring kiwari jauh leuwih goreng mananmangsa kuring keur SMA atawa taun-taun anyar jadi mahasiswa! Malah,harita mah, kuring teu sirikna "narsistik" kana tulisan kuringsorangan! Sawatara buku nu kuring resep, ngahaja disalin ku...tulisanleungeun! Rarasaan, ku cara kitu, kuring bisa leuwih ngarti kanaeusina, bari resep ningali...tulisan sorangan! Geus puguh ari catetan kuliah mah. Catetan nu teu pararuguh teh ku kuring sok ditulis deuiku leungeun. Semester tilu jeung opat bae, waktu kuliah geus karasangabosenkeun, eta "panyakit" teh cageur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Mangsa EDITOR dibreidel, bari nyinglarkeun kakeuheul ka Juragan Harmoko jeung pamingpin-pamingpin EDITOR, kuring kungsi boganiat "ngalatih" deui ieu leungeun sangkan bisa nulis "alus" caramangsa SMA. Tapi, teu junun. Alih-alih nulis, leungeun teh karahka "ngagambar". Matak sakalian bae: Kuring meulian karton kandelteuing sabaraha puluh lambar, akrilik murah, jeung koas. Duaan jeungbudak, beurang peuting ngadon...gagambaran! Nya gambar kitu bae, nuteu paruguh. "Pipicasoan", ceuk si Asikin mah -- nurutan kekecapanSujoko). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lian ti eta, kiwari, waktu kuring leuwih biasa nulis dina komputer,kuring meunang kanikmatan nulis nu teu eleh gedena manan kuring nulisku leungeun. Malah, leuwih ngeunah, leuwih praktis. Salila uteuk(jeung hate) pinuh ku ide, leungeun teh asa teu eureun-eureun. Ngan,rumasa, mun nulis dina Basa Sunda, kuring remen ngarandeg. Neangankekecapan nu leuwih merenah. Kuring ngarasa, nulis dina BasaIndonesia leuwih lancar manan nulis dina Basa Sunda. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Hartina," ceuk kuring, basa maranehna karah ka malalohok, "Soal sopan teu sopan, soal hate urang. Maksud kuring, SMS, oge Hallmark,sabenerna bisa oge nembongkeun otentisitas urang. Salila, urangnasorangan otentik, jujur jeung `ihlas' kana naon nu ku urangdilakukeun atawa diucapkeun dina eta SMS. Hartina oge, salila urangihlas, silaturahmi ku SMS sarua sopanna jeung ku surat atawa kupatepung langsung. Pon kitu deui ngetik surat ku komputer". Nepi ka maranehna baralik, euweuh komentar ngeunaan pangacaprukantadi. Teuing ngarti, teuing heunteu. Pon kitu deui kuring.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-113791278042238666?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/113791278042238666/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=113791278042238666' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/113791278042238666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/113791278042238666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/01/kakaren-lebaran-ii.html' title='Kakaren Lebaran II'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-113727378820874412</id><published>2006-01-14T13:19:00.000-08:00</published><updated>2006-01-14T13:23:08.220-08:00</updated><title type='text'>Milis jeung (Diajar) Nulis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Tadi, kamari, atawa sawatara waktu ka tukang (kuma parengna pangacaprukan ieu dialungkeun ka milis), geus dipaheutkeun kumaha mangpaat milis keur nembrakkeun pipikiran atawa rasa ku cara ditulis. Utamana keur nu boga karep hayang bisa nulis. Oge, kuring nyebutkeun yen kuring sorangan teu boga teori nu maneuh. Malah, rek deukeut-deukeut kana anti teori. Kuma aing, ngacapruk, sekali cuek tetap beybeh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sanajan kitu, di handap ieu aya sawatara tips nu kapulungan salila ieu. Ngan, kusabab  kasang tukang kuring majalah berita, sanajan model penulisan beritana siga nulis carpon, nya dumasar kana kumaha nulis di majalah berita atawa pangalaman nulis di majalah berita. Sanajan, ari dasar-dasar nulis mah, rek di mana-mana bae ge, sarua-sarua keneh. (Meureun). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lian ti kitu, tips ieu teu leupas tina khitah jeung "kaahlian" kuring: Ngacapruk. Bari, teu pati malire ngeunaan teori tea. Nya, naon nu ditepikeun di dieu teh kuma karepna bae. Jajauheun kana sistematis. Da, ngacapruk. Ongkoh ieu mah lain nulis makalah. Tapi, ngacaprukeun perkara ngacapruk jeung pangacaprukan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Satadina mah rek ngahiap MJ. Sina medar perkara ieu. Alatannana, lain bae pedah MJ bisa nulis leuwih tartib atawa leuwih sistematis manan kuring. Tapi, MJ oge miboga hal nu ku kuring teu dipikaboga atawa teu bisa: MJ kungsi nulis artikel di Kompas jeung Koran Tempo (sanajan: geus lila didodoho, artikel lianna euweuh deui). Oge, dina waktu kurang ti opat taun (?), MJ geus boga novel nepi ka tilu. Bari, minggu kamari ku kuring ditingali di QB, novel nu kahiji mah, si kasebelan teh, geus dicitak ngaduakalian. Sanajan teu pati ihlas ge, urang kudu narimakeun. Yen,  MJ geus kauji. Boh ku ahlina (penerbit) boh ku publik. Matak diterbitkeun, jeung dicitak leuwih ti sakali ge, tangtuna alus. Paling heunteu aya nu meuli. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi, paniatan teu uni eta teh dibolaykeun. Lain bae sieun wiwaha kuring ngagejret, kaelehkeun, tapi kuring oge hayang konsisten bae kana karep mimiti: Pan, kuring nu hayang ngacapruk teh? Lain MJ. Mun MJ nu ngacaprukna, kuring ayeuna kudu kumaha? Maca? Maca naon? Di hareupeun ngan aya meja, kembang sacewir, jeung daftar menu. Maenya daftar menu kudu diapalkeun? Mun geus apal kumaha? Ngacapruk ngeunaan daftar menu? Ah, eta mah engke bae. Ngantosan Teh Giwang ti Nyi Sunda atanapi Teh Tien ti Surabaya. Sugan bae aranjeunna kersa nyerat perkawis katuangan Sunda. Boh sajarahna, bahan-bahanna, cara ngolahna, oge mangpaat sareng kumaha cara tuangna. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ari nulis, satemenna gampang pisan. Teu beda jeung cumarita atawa dahar. Maksud kuring, lian ti perkara "wani" nu disebut dina pangacaprukan saencanna, oge ditangtukeun ku ide jeung pangaresep. Kumaha we mun urang dahar. Mun euweuh dahareunnana, naon nu rek didaharna? Pon kitu deui nulis. Mun urang teu boga ide, naon nu rek ditulisna?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ari pangaresep, nya siga dahar tadi. Alatan ku resep, ku beuki, dahar teh jadi rewog. Nu tadina ja-im, da dihareupeun aya pimitohaeun, kana goreng ulen mah celebek deui celebek deui. Da resep. Teu inget yen geus tilu minggu tipepereket nahan lapar, diet, sangkan jarum timbangan teu tibuburanjat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ku resep oge biasana urang ngotektak, neangan informasi leuwih jauh ngeunaan naon nu dipikaresep eta. Nu ahirna, sakapeung, urang leuwih nyaho ngeunaan hal tadi manan jalma lianna. Utamana nu teu boga karesep siga urang. Di mana ulen nu ngeunah, kumaha cara ngagorengna, kudu bari nangtung atawa bari diuk, tempat ngagoreng kudu di dapur atawa di buruan (batur), dipoe heula atawa heunteu, dipotongna neros atawa masagi, deungeunna sambel kacang atawa sambel kecap, atawa ditambul kitu bae, nginumna teh pait atawa Teh Iva, jst, jst. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tah, ku loba kaweruh atawa informasi eta, urang leuwih gampang cumaritana. Leuwih nikmat daharna. Ngan ulah salah harti: Nu dimaksud leuwih loba teh lain hartina urang kudu jadi ahli sarupaning doktor siga Kang Ganjar atawa master jiga Kang Oman atawa MJ -- mun sakalina urang rek nulis ngeunaan tatanen, geologi, atawa desain. Ieu mah leuwih loba teh "leuwih ngarti" bae. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ku leuwih ngarti atawa (ngarasa) leuwih loba informasi tea, urang jadi leuwih gampang deui nulisna. Alatan kitu, nulis nu panggampangna nyaeta nulis ngeunaan diri urang sorangan. Boh dina harti silib, boh dina harti saujratna. Dina harti silib,  ngeunaan diri sorangan teh taya lian ti pangaweruh atawa informasi nu geus jadi milik urang, nu geus diinternalisasi, nu geus kaharti tea. Mun urang teu ngarti ngeunaan hiji hal, sanajan boga ide jeung aya karep ge, nya  rada dadaligdeugan nulisna teh. Siga kuring nulis pangacaprukan ieu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ari dina harti saujratna, nya ngeunaan diri sorangan bae. Pangalaman nu kaalaman ku diri pribadi atawa rasa jeung pipikiran nu nyampak dina hate jeung uteuk urang.  Nyaritakeun diri urang sorangan atawa paningal sorangan. Sarupaning nu ku kuring disebut "memoar" atawa "oto/biografis" tea.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ngeunaan ieu, memoar atawa biografi tea, tiap urang pasti boga. Meja bae, nu euweuh nyawaan, boga "biografi". Piraku, urang nu hirup, boga rasa, boga akal, boga pancaindra, boga agama, boga kulawarga, boga kabogoh, sakola, jste, teu boga nu kitu? Komo, pan, cenah, manusa teh mahluk unikum. Euweuh saurang acan nu identik. Nu hiji jeung nu lianna beda. Hartina, tiap biografi pasti miboga carita sewang-sewangan. Boga daya tarik masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kukituna, pilihan Kang Kumi (atawa Kang Eko?) di urangsunda ngeunaan "assignment " penulisan pangalaman di pangumbaraan atawa ngumbara teh relevan pisan. Tiap urang pasti boga pangalaman ngeunaan eta. Lain pedah loba anggota milis nu teu dumuk di lemburna atawa di Tatar Sunda, tapi soal ngumbara oge bisa ditafsirkeun pangumbaraan batin. Pan, teu saeutik oge nu cicing di lembur, ku ngaliwatan buku, internet, dvd, MMS, jste, kakalayaban ka mana-mana. (Bandingkeun proyek Kang Kumi ieu jeung proyek nu dipigawe ku barudak Tobucil di Bandung).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tulisan-tulisan memoar siga kitu, ceuk kuring, nu dilarapkeun make gaya "orang pertama" tea, leuwih ngeunah dibacana. Alatannana, ditulis kunu nyaho, kunu ngarti ngeunaan naon nu ditulisna. Ku jinisna. Hartina oge leuwih jujur, leuwih otentik. Tingali bae seratan Teh Ai, Teh Nenny (Batam), atawa seratan Teh Lies (dina salah sahiji web), jste. Aranjeunna nyerat ngeunaan dirina, boh nu mangrupa pangalaman (fisik) boh nu mangrupa ide atawa pipikiran. Dalah, penulis profesional siga Pa Ajip ge satemenna seueur ngaguar pangalaman atanapi pipikiran sabudeureun kahirupan atanapi pangalaman anjeunna. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Enya, "memoar" atawa tulisan "biografis" siga kitu teh sakedapan mah siga nu ego sentris atawa nabeuh maneh pisan. Paling heunteu, "teu obyektif". Da remen museur ka dirina. Memang enya. Tapi, tong salah, lian ti paling gampang tadi, nya cara eta nu paling otentik. Paling jujur. Da, memang ngeunaan dirina. Antukna, tulisan-tulisan siga kitu teh mere dampak nu otoritatif pikeun nu nulisna. Bari, ceuk tadi tea: Leuwih ngeunah dibacana. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Teu kabayang, misalna, Pa Ajip nyerat ngeunaan industrialisasi di Bolivia atawa kawijakan impor pamarentah Jepang dina widang IT. Atawa, supaya tong  jauh teuing babandingna, nu masih keneh aya dina domain ka-Sunda-an: Sajarah ngadegna AMS atawa Damas. Sanajan can tangtu hasilna goreng, da informasi ngeunaan eta bisa diteangan jeung bisa diinternalisasi jadi milik anjeunna, tapi eta seratan teh pastina teu leuwih "ngalagena" -- jeung leuwih euyeub -- manan seratan Pa Ajip ngeunaan dalang Abyor, misalna. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Malah, di luar soal ngeunah jeung heunteu dibacana tadi, seratan anjeunna ngeunaan Kongres Pamuda Sunda, saheulaanan, keur sakuringeun, tulisan paling informatif jeung pangrempegna ngeunaan perkara eta. Padahal, eta tulisan teh teu leupas tina sipat memoar atawa otobiografi, nu remen janten wanda seratan-seratan anjeunna. Tapi, ku cara nyaritakeun pangalaman nu kaalaman eta, tulisan tadi karasa detail, lengkep, "meyakinkan", jeung otoritatif tea.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dina pangalaman kuring salila gawe di majalah, boh salaku penulis atawa editor, karasa naha eta tulisan teh hasil reportase nu nulisna, paling heunteu nu nulisna ngilu reportase keur eta tulisan, atawa ngan ngandelkeun laporan batur. Lain bae suasana, gambaran atawa deskripsi kaayaan tempat jeung jalma nu diwawancara, malah, sakapeung, pakait jeung lengkep heunteuna informasi nu pantesna aya dina eta tulisan. Komo dina tulisan ngeunaan masalah kriminal mah. Ku reportase, proses ngajadikeun informasi jadi pangalaman atawa milik "sorangan" tea, urang bisa ngagambarkeun kaayaan leuwih lengkep, leuwih detail, leuwih hirup. Nu, engkena, lain bae nambah kaweruh nu maca ngeunaan masalah nu ditulis, tapi bisa nambah ngeunah macana.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lian hal-hal tadi,  salah sahiji cara keur nambah kaparigelan (jeung kawani) urang dina perkara nulis, taya lian ti loba maca. Maca di dieu lain urang kudu ngadukduk macaan buku-buku ilmiah, text, falsafah, kabudayaan,  atawa sarupaning buku-buku nu baleurat, atawa "how to" pisan --  nu sipatna praktis -- nepi ka euweuh waktu keur nulis. Lain. Sanajan, maca buku nu karitu ge teu eleh penting. Malaj penting pisan. Utamana mun urang boga karep (concern) kana hal eta. Keur nambah kaweruh, data, atawa informasi tadi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi, nu dimaksud maca di dieu mah taya lian ti maca karya-karya sastra sarupaning carpon atawa novel. Baheula,  Syu'bah Asa, salah sahiji penulis jeung editor nu dianggap jago di majalah Tempo, mun anjeunna sakalieun "ngawulang" bagbagan nulis, sok nyebat sarupaning tulisan Saroyan, Tolstoy,  Zola, Mishima, jeung Hemingway. Tapi, ceuk kuring, kumna karya sastrawan lianna ge sarua mangpaatna. Kaasup nu aya di urang. Ti mimiti Idrus, Bastari Asnin, Ramadhan KH, Pramoedya, Navis, Toha Mohtar, nepi ka Budi Darma, Danarto, jeung Seno Gumira Ajidarma, Jamal, Caraka, Ki Umbara, Usep Romli, Holisoh ME, jste.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nu kaharti ku kuring, ku maca buku-buku kasusastraan siga kitu, urang lain bae meunang kaweruh atawa pangalaman batin, nu sakapeung sok aya mangpaatna dina kahirupan sapopoe. (Malah, pan kasusastraan teh, siga kasenian umumna, cenah bisa ngalelemes rasa jeung batin. Nepi ka sakapeung mah jadi leuleus pisan si batin teh. Ngulampreh, teu walakaya). Tapi, oge ngabeungharan urang ku kokocapan, paribasa, metafora, jste. Pondokna mah nambah kaparigelan jeung kanyaho dina perkara basa.  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lian ti eta, ku cara loba maca buku sastra, cenah, urang oge dilatih ngeunaan plot, bloking, deskripsi, klimaks, anti klimaks jeung sajabana. Hartina, ku cara maca, kaparigelan urang dina cumarita atawa nulis tadi diasah. Kituna teh, nu karasa ku kuring, urang teu asa dipapatahan. Da maca novel mah, siga "lalajo" seni lianna, leuwih sering dianggap ulin, rekreasi, kalangenan. Manan, karasa atawa dianggap diajar atawa re-kreasi. Kaweruh atawa kaparigelan nulis teh nyelesep kana lelembutan urang, nga-internalisasi tea. Bari meunang embohna: Kabeungharan rohani tadi, nu engke sok patarema jeung kaparigelan basa tea, utamana dina perkara plastisitas basa atawa rasa basa. Tah, mun ide, informasi, jeung kaparigelan tadi geus nyampak, biasana nulis teh sok ngagorolang. Lancar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lian ti eta,  aya deui resep lianna nu leuwih teknis sangkan urang bisa leuwih gancang jeung gampang nyieun hiji tulisan: Nyieun outline atawa plot tulisan. Sakanyaho kuring, rumus nulis siga kieu teh sok dilakukeun ku Farid Gaban (Euweuh pakaitna jeung Soni Farid Maulana, komo Farid Hardja mah). Paling heunteu, basa bareng gawe di Editor. Saencan tret nulis, manehna mah sok nuliskeun heula informasi atawa ide-ide naon bae nu rek ditepikeun teh. Misalna, rek nulis ngeunaan pangacaprukan kuring ieu: Bag-bagan nulis jeung milis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tah, dina layar teh manehna mah nulis heula point-pointna. Misalna, ngeunaan pangacaprukan saencanna salaku bubuka, sajarah baca tulis atawa realitas nu nyampak kiwari,  disambung ku conto-conto kasus. Mangpaat internet atawa milis pikeun diajar nulis,  teori Syu'bah Asa, pentingna nyieun outline tulisan, jste. Geus kitu mah, bari diselang nyiapkeun udud jeung cikopi, kakara manehna tret nulis. Meh sapeupeuting medar poin-poin nu geus dikotretkeun dina layar komputer tea. Tiap point dipedar jadi hiji atawa sawatara alinea. Mun kabeh point geus kapedar, nya jadi tah tulisan teh.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kuring sorangan teu pati resep kana gaya nulis kitu teh. Rumasa boga sipat nu teu tarapti, jeung rumasa "nyaho" tur "bisa" nulis tea, nulis teh sok langsung tret bae. Tara ieuh make out line atawa plot-plotan. Ku rarasaan, nu kitu mah sok ngawujud sorangan. Pan, ku "nyaho" tadi, urang geus bisa ngabayangkeun ti mana mimitina, terusna kumaha, jeung saterusna. Komo mun eta tulisan teh hasil reportase sorangan. Di jalan keneh, eta tulisan teh geus "jadi". Kaasup lead, kutipan-kitupan nu penting, tempat neundeun eta kutipan, ending, jste. Kabeh geus kawangwang. Di kantor mah tinggal mindahkeun kana komputer.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Resep lianna nu kungsi "diwasiatkeun" ka kuring, bari arang dilakukeun: Saencan dibikeun ka editor atawa ka bagian desain, nu dina konteks urang mah dialungkeun ka milis, da milis mah euweuh editorna, pariksa heula eta tulisan teh dua tilu kali mah. Bisi aya informasi nu diperlukeun tapi can nyampak dina eta tulisan --  nya di dieu mangpaat nyieun outline tulisan tadi. Oge, bisi aya  ejaan atawa data/angka nu salah. Pon kitu deui bisi aya kekecapan nu remen dipake, bari bisa diganti ku kocap lianna nu harti jeung fungsina sarua.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kituna teh,  saencan urang mariksa deui eta tulisan, urang reureuh heula. Tong lila-lila. Cukup sapuluh atawa lima belas menit bae. Lakukeun kagiatan nu euweuh pakaitna jeung tulisan. Naha ngopi heula, mereskeun kamar, nitah office boy meuli roko, ningali PR budak, sholat Isya, ngawawaas sekretaris, noong budak kost mandi, memener hordeng, atawa naon bae nu bisa ngareureuhkeun uteuk urang tina soal tulisan. (Kuring sorangan, baheula, keur badeur, sanajan geus beres saharita keneh, dibikeun ka redpel atawa editor mah engke bae peutingan deadline. Saencan deadline mah api-api sibuk we. Ngadon kukurilingan di Mayestik atawa nyiapkeun tulisan keur ...minggu hareupna. Bongan, nyaho pagawean eta geus anggeus, sok dititah nulis nu lian deui. Untung resep).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mun uteuk urang geus cenghar deui, kakarak ilo deui eta tulisan teh. Naha geus lengkep, geus bersih, atawa kumaha. Mun anggeus, nya cemplungkeun bae ka milis atawa kana blog. Mun dialungkeunnana kana blog, bejaan batur sina maca eta tulisan. Keun  maranehna sina jadi editor, kritikus, hakim, KPK,  MK, jste. Bolor-bolor, tah nu maca blog atawa tulisan urang teh. Kajeun teuing. Pokona mah sekali cuek, tetep beybeh. Keur naon aya milis, aya blog, ari urang tetep teu bisa nulis (leuwih panjang) mah?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mun tiap minggu urang bisa ngahasilkeun hiji tulisan, nu panjangna minimal 5.000 karakter, hartina salila sataun urang geus boga 52 tulisan. Diembohan ku foto, gambar, komentar, jste, eta tulisan teh cukup keur 200 kacaeun mah. Malah bisa nepi ka 1.200-an kaca --  mun ditambahan ku buku telepon mah. Hartina dina sataun urang bisa nerbitkeun hiji buku. Hasilna, mun daek, lumayan bisa keur nambahan meuli Alpahrd.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Medalkeun buku siga kitu jauh tina pamohalan. Tintincakannana lain euweuh. Yayasan Perceka  bae geus dua kali nerbitkeun buku, nu eusina malulu tulisan-tulisan nu kungsi diposting dina milis urangsunda. Atuh, nu leuwih profesional, dina harti ngitung pisan kana perkara untung rugi, aya Kambing Jantan, Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh. Malah, mun kuring teu salah denge, dina waktu kurang 10 bulan, eta buku teh geus dicitak nepi ka tilu kalina! Sanajan, si kambing bahanna lain tina milis. Tapi tina blog.&lt;br /&gt;Leuwih ti kitu, nu bisa nulis panjang siga kitu teh loba pisan. Lain bae MJ, Kang Oman, atawa Bah Willy. Tapi, kumna nu aya di ieu milis. Semua pasti bisa! Kari daekna. Jeung, tigin kana piwulang: Sekali cuek, tetap beybeh! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hidup Persib!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;From: Maman Gantra &lt;mamangantra2000@yahoo.com&gt; Date: Thu Jan 12, 2006  12:49 am Subject: Milis jeung Nulis&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-113727378820874412?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/113727378820874412/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=113727378820874412' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/113727378820874412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/113727378820874412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/01/milis-jeung-diajar-nulis.html' title='Milis jeung (Diajar) Nulis'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-113727331405761298</id><published>2006-01-14T13:13:00.000-08:00</published><updated>2006-01-14T13:15:14.063-08:00</updated><title type='text'>Milis jeung Nulis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Dina pangacaprukan-pangacaprukan ngeunaan milis saencanna kuring leuwih loba ngaguar mangpaat milis salaku media komunikasi. Kitu ge leuwih loba "ngomongkeun urang luar", pihak-pihak nu diasumsikeun atawa katohyan pisan teu nyaho atawa teu wanoh kana milis atawa internet. Tah, di dieu mah kuring hayang ngaguar mangpaat milis hususna, internet umumna, keur urang, nu geus aya di "jero". Utamana dina perkara nulis. Sanajan, teu pamohalan, ieu pangacaprukan teh taya bedana mapatahan Basa Inggris ka caroge Teh Lies atawa Teh Netty.&lt;br /&gt;Wawanian ngacapruk ka beh dieu teh pedah bae, cenah, urang teh kaasup nu teu produktif dina perkara nulis ieu. Handapna produktifitas urang dina nulis ieu lain bae perkara politik sentralistis salila ieu. Tapi, oge, cenah, patarema jeung sajarah atawa pasipatan urang sorangan: Sanajan urang kungsi boga hurup sorangan, hartina karuhun-karuhun urang geus nepi kana naon nu disebut peradaban aksara, hartina oge boga tradisi nulis jeung maca, nu dianggap peradaban "nu maju"; keukeuh bae eta tradisi teh leuwih jadi tradisi nu elitis. Sarupaning privelege para ajar, kiai, santri, bujangga, jeung santana. Lain tradisi nu sumarambah di jalma loba. Di cacah (jalma loba) siga maranehna mah, cenah, nu aya teh tradisi lisan -- tradisi sungut, baham, eungab, atawa tradisi oral tea.&lt;br /&gt;Ma'lum, sanggeus peradaban aksara (Laten) dihudangkeun deui ku Walanda ge, ngalewatan Politik Etis, nu salah sahiji organna Balai Pustaka tea, pan lolobana mah nya tedak menak bae nu bisa maca jeung nulis (Laten) teh. Dalah pasantren, nu leuwih populis jeung leuwih "dipercaya" ku balarea salaku sakola atawa lembaga pendidikan, teu bisa ngembangkeun budaya tradisi baca tulis tadi kalawan "nyugemakeun". Maca jeung nulis keukeuh lain hiji tradisi dina harti dilakonan ku umumna masyarakat urang.&lt;br /&gt;Tah, sajarah siga kitu teh, cenah, mangaruhan kana naon nu dimaksud tradisi nulis dina mangsa kiwari. Kaasup di kalangan intelektuil atawa sarjana-na pisan. Pan, teu saeutik di antara urang nu teu "kuat" nyieun tulisan nu panjangna leuwih ti 5.000 karakter. Di mana aya ge, nya ngacapruk siga kuring. Teu sistematis, jeung teu puguh alang ujurna. (Kukituna, omat, tong pecaya teuing kana tulisan-tulisan kuring!).&lt;br /&gt;Perkara nulis (nu papanjangan bari ngacapruk tea), kuring remen ditanya: Kumaha bisa nepi ka siga kitu? Di mana jeung kumaha diajarna? Kuring sorangan teu boga jawaban nu paheut. Komo nu sipatna teori bari jeung  ilmiah mah. Resep kuring sederhana bae: prak!   Enya, ongkoh mah, baheula, can aya QB. Neangan buku teh hese. Komo nu ngawarah urang perkara bag-bagan nulis. Atuh di sakola, sanajan enya ti fakultas komunikasi, kuring lain ti jurusan jurnalistikna – nu urusannana leuwih deukeut kana kaahlian sarupaning nulis. Atuh teu meunang kuliah kumaha prak-prakkan nulis tea. Kaasup naon nu disebut nulis kreatif. Pan ayeuna mah, sawatara lembaga manajemen ge ngajarkeun kumaha nulis (oge maca) kreatif sagala. Atuh di QB Bakmi GM, Thamrin, nepi ka aya belasna buku ngeunaan perkara nulis (kreatif) teh.&lt;br /&gt;Ngeunaan prak atawa diajar nulis, keur kuring mahasiswa, aya batur nu rajin nyieunan surat pembaca. Meh unggal minggu manehna ngider ti koran ka koran nu terbit di Bandung. Mikeun surat pembaca. Ku kuring kungsi ditanya, keur naon kikituan sagala? "Diajar nulis," ceuk manehna. Ku naon teu nulis artikel bae sakalian? "Can bisa. Geus sabaraha kali nyieun teu dimuat-muat. Beda jeung surat pembaca. Leuwih gampang," ceuk manehna. Sanajan, nu kabandungan harita, teu sakabeh suratna dimuat. Rumasa deuih, harita kuring teu matuh maca koran teh.&lt;br /&gt;Mimitina mah kuring bingung ngadenge jawaban batur jiga tadi teh. Tapi, sanggeus dilenyepan, kaharti oge. Ku cara remen nulis surat pembaca manehna lain bae ngabiasakeun ngebrehkeun pipikirannana. Tapi, oge ngabiasakeun nulis. Kaasup kumaha nulis di media. Prak-prakkannana, mun surat pembacana dimuat, ku manehna sok diimeutan deui. Diakurkeun jeung arsip nu aya di manehna. Ti mimiti nyurekkeun koma jeung titik, nepi ka cacarakan jeung padalisanna teu kaliwat. Geus puguh sarupaning alinea mah. Ku kuring sok diheureuyan. "Maneh yakin, yen koreksian redaktur eta koran geus bener? Jeung deui, boa-boa surat maneh dimuat teh alatan ku euweuh surat lianna," ceuk kuring. Dikitukeun teh manehna karah ngabetem.&lt;br /&gt;Kadieunakeun kuring nyaho, diajar nulis ku cara nyieun surat pembaca, singhoreng, lain bae dilakukeun ku eta batur. Hiji lawyer di Jakarta, nu kiwari cenah kaitung pangmahalna, oge ngalakukeun hal nu sarupa. Utamana, baheula, basa manehna karek mitembeyan muka kantor sorangan. Ongkoh, keur manehna, nulis surat pembaca teh lain bae diajar nulis (nu sipatna populer) atawa sakadar ngebrehkeun pipikirannana. Tapi, oge make boga maksud lian: Ngiklankeun dirina. "Kita kan nggak boleh beriklan? Nulis artikel, kadang-kadang ditolak redaksi. Cara yang gampang, ya nulis surat pembaca. Nama dan alamat kita 'kan ada di sana?," ceuk manehna, bari omat-omatan eta "rusiah" teh tong diucah-aceh ka batur. Enya, katingalna eta lawyer teh "ngotot" pisan. Ku alatan sok nulis surat pembaca eta, maneha nepi ka bisa "ngayakinkeun" PWI sangkan manehna dibere kartu anggota.&lt;br /&gt;Dina seuhseuhannana, surat pembaca lain bae dimangpaatkeun keur diajar nulis atawa "ngiklankeun" maneh. Tapi, oge bisa jadi hiji "profesi".  Baheula, aya sepuh, urang Aceh, urut wartawan, nu saatos pangsiun milih "penulis surat pembaca" salaku "profesi"na. Sanajan teu meunang duit ge, eta serat sepuh meh unggal poe aya dina koran. Poe ieu di Kompas, isukna di Pelita, pagetona di Suara Karya atawa Sinar Harapan. Nepi ka, mun kuring teu salah inget,  surat-surat pembaca nu diserat ku anjeunna teh kungsi dibukukeun sagala. Bubuhan tilas wartawan tea, meureun, seratan-seratan anjeunna teu beda jeung artikel atawa berita nu aya dina koran atawa majalah.&lt;br /&gt;Lian ti surat pembaca, media keur diajar nulis teh catetan harian (diary). Nu kuring nyaho, nu ngalakonan cara ieu salah sahijina mahasiswa ITB  harita (80-an). Ceuk manehna, dina salah sahiji bukuna, ngabiasakeun nulis buku harian teh geus dimimitian ti mangsa bisa nulis. Ongkoh, ceuk manehna keneh, kolotna ngawajibkeun pisan manehna sadudulur  pikeun nulis. Nulis naon bae. Geus puguh ari tiap mulang ulin ti hiji tempat wisata mah. "Pulang dari pasar aja, kami disuruh bikin laporan, bikin reportase," ceuk manehna. Tina kabiasaan eta, nu nyambung kana tradisi nyieun buku harian, lian ti dibiasakeun ngimeutan dunya sabudereunnana, manehna jadi wanoh kana nulis. Malah, sakolana ge sasatna dibeayaan ku nulis, ladang artikel nu dimuat di media.&lt;br /&gt;Pon kitu deui hiji mahasiswa IPB (harita). Sarua diajar nulis ku ngaliwatan nyieun diarry. Kuring sorangan teu wawuh jeung eta penulis teh. Ngan rada wanoh kana tulisan-tulisanna, sakalieun maca Aktuil jeung sawatara majalah rumaja harita, taun 70-an. Nyaho soteh ngeunaan soal diary eta, pedah bae ibuna guru biologi kuring di SMP. Ma'lum nu janten ibu, reueus ningal putrana tiasa nyerat di majalah. Ongkoh, eta penulis teh putra mung hiji-hijina. Satengahing ngawulang bag-bagan biologi teh anjeunna sok cumarios perkawis putrana. Oge, kumaha sang putra dugi ka wacis nyerat sapertos kitu.&lt;br /&gt;Mireng kitu, kuring kungsi nyerengeh sorangan. Soalna, dina pipikiran kuring harita, malah nepi ka kiwari, nulis diary teh kabiasaan budak awewe. Lain budak lalaki. Sanajan enya sadar kana mangpaatna, nu kabayang ku kuring: Asa teu "macho"  aya budak lalaki nulis  "dear diary...". Hahaha... Sanajan, tangtuna lain diary siga kitu nu ditulis ku eta dua pangarang teh. Tapi, saha nu nyaho ketang? Pan kuring ge can kungsi maca diary aranjeunna?&lt;br /&gt;Ngan, sigana, tradisi nyieun diary siga kitu teh diwajibkeun pikeun sakola-sakola baheula mah. Maksudna sakola zaman Walanda, nu ngadopsi (meureun) cara atikan sakola-sakola di Eropa. Lain pedah budak sapantar Anne Frank bisa nyieun diary nu pikaaheungeun siga kitu. Tapi, eta bae, kuring kungsi ngabantuan hiji sepuh nyieun otobiografi. Ditingal teh seratan anjeunna, aya ku "akurat". Dina mertelakeun hiji kajadian teh, lain bae tanggal jeung tempatna. Dalah jam jeung menitna ge tara tinggaleun. Hartina, anjeunna ngagaduhan sarupaning diary atawa buku harian tea. Pan, asa pamohalan mun anjeunna mung ngandelkeun tina emutannana mah? Tong boroning kajadian nu geus mangpuluh-puluh taun, kajadian dua tilu bulan kamari ge (kuring mah) sok poho deui. Komo nepi ka detail jam jeung menitna. Pan,  ari (sakalina) solat ge sok poho, naha ieu teh rakaat ka tilu atawa ka dua.&lt;br /&gt;Atawa pedah anjeunna tentara, jeung teu weleh jadi komandan? Hartina, boga asisten jeung anak buah purah nyatetkeun atawa ngalaporkeun kajadian-kajadian eta. Tapi, maenya nepi ka kajadian atawa pangalaman nu sipatna pribadi oge dicatet ku eta asisten atawa ajudan? Kuring leuwih percaya, sakola (jeung kaayaan) baheula memang kondusif keur ngalahirkeun tradisi nulis (jeung maca) eta. Pan, urang mah tong boroning nyieun catetan harian, sakalina nulis surat ge sararangeuk. Ongkoh, ayeuna mah geus aya telepon jeung SMS. Mun inget atawa aya beja nu rek ditepikeun ka batur ge, cukup nga-SMS.&lt;br /&gt;Tah, dina perkara nulis surat ge, bandingkeun misalna jeung kolot-kolot urang. Utamana nu kungsi kawarah ku atikan Walanda tadi. Bibi pamajikan, sakitu geus sepuhna, dina sabulan paling heunteu nyerat hiji serat. Komo, waktu saderek-saderekna masih jarumeneng keneh mah. Sirikna teu unggal enjing anjeunna ka kantor pos, ngeposkeun serat kanggo saderek-saderekna.&lt;br /&gt;Bibi pamajikan teh jajauheun bisa disebut penulis profesional. Beda jeung Pa Ajip (Rosidi), nu profesina memang kana nyerat. Pantar Pa Ajip mah pastina tara tinggaleun kana nyerat. Malah, sakali waktu, kuring kungsi naros ka anjeunna: Sadinten nyerat sabaraha kaca, boh serat biasa boh nu mangrupi artikel? "Teu pira, paling ge 18 kaca," saur anjeunna, anteng.&lt;br /&gt;Urang, nu hirup dina jaman internet siga kiwari, satemenna boga media nu leuwih loba, leuwih gampang, jeung tetep relatif murah, pikeun bisa jeung ngabiasakeun nulis. Lain bae ku sarupaning serelek (serat elektronik atawa email). Tapi, nu sipatna leuwih publis, bari tetep murah jeung gampang tadi: Milis jeung web blog.&lt;br /&gt;Enya. Pan, ku alatan demokratna milis jeung internet, malah liberal pisan, urang bisa nulis kumaha jeung naon bae. Nu ngawatesan urang, sigana ngan tilu perkara: Wanda atawa paniatan milis, kadaek, jeung ...tanaga urang! Kuat heunteu urang nulis leuwih ti 5.000 karakter? Beh dituna mah, wawanen. Kaasup, wani heunteu urang disebut "aneh". Ngadon papanjangan, ngacapruk nuturkeun pipikiran sorangan, nu sakapeung teu nyambung, atawa euweuh mangpaatna keur nu lian?&lt;br /&gt;Kitu ge mun urang nulisna salah tempat, ketang. Siga nu remen dilakukeun ku kuring. Da, mun dina tempatna mah, nya dianggap ilahar bae. Teu aneh, teu sing. Jeung deui,  di mana enya ge teu dina tempatna, kajeun teuing. Moal raheut ieuh. Urang mah tawakal bae kana kayakinan urang: Sekali cuek, tetap beybeh! Ongkoh,  perkara "wawanen" tadi nu remen ngahulag urang pikeun "berekspresi" teh. Umumna, urang teu wani nulis ku alatan sieun jeung sieun. Utamana sieun salah. Nepi ka loba anggota milis nu panonna barelek, malah (ceuk cenah) nepi ka aya nu lolong sagala. Alatan ngan noongan bae.&lt;br /&gt;Ongkoh lebar bae mun ngiluan milis ngan saukur noongan. Moal dipikawanoh ku anggota lianna. Hartina, jadi ngurangan babarayaan.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;From: Maman Gantra &lt;mamangantra2000@yahoo.com&gt; Date: Thu Jan 12, 2006  12:49 am Subject: Milis jeung Nulis &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-113727331405761298?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/113727331405761298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=113727331405761298' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/113727331405761298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/113727331405761298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/01/milis-jeung-nulis.html' title='Milis jeung Nulis'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-113727135510656752</id><published>2006-01-14T12:37:00.000-08:00</published><updated>2006-01-14T12:42:35.116-08:00</updated><title type='text'>Kusnet Jeung Jaringan Warnet Tatar Sunda</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Ceuk salah sahiji laporan UNDP, nyutat kasus India, internet bisa ngaronjatkeun kahirupan ekonomi hiji masyarakat nepi ka 3%. Ku kituna, munasabah mun pamarentah hiji nagara, kaasup pamarentah Indonesia, mere perhatian nu daria dina perkara internet ieu. Matak, basa narima beja ti babaturan nu ngahadiran hiji rakor di BPPT, Salasa, 20 Desember, teh kuring kacida bungahna: Pamarentah nyiapkeun dana nepi ka US$ 1 milyar keur ngawangun jaringan serat optik di nagara urang. "Jaringan itu akan merambah sampai ke desa-desa, Kang," ceuk eta batur.&lt;br /&gt;Wah, daria yeuh pamarentahan SBY teh. Ceuk pikir. Rarancang ngeunaan warintek, jste, nu oge kungsi dilaunching ku pamarentah Habibie bakal kalaksana. Panasaran,  isukna, rebun-rebun keneh kuring geus cinutrung di tepas. Nungguan tukang koran.&lt;br /&gt;Barang jol, kuring langsung mukaan halaman jero Kompas. Kapanggih. Ngan 2 kolom. Ongkoh, geuning, eta rakor teh ngabahas soal Buku Putih Litbang Iptek. Laporan Kompas ge, nya ngan ngareportaseukeun eta rakor. Teu museur kana perkara serat optik. Atuh, informasi kuring ngeunaan eta rarancang teu leuwih loba manan kamarina.&lt;br /&gt;Serat optik, sanajan geus rada heubeul, tapi di urang masih kaitung langka. Maksud kuring, infrastruktur telekomunikasi nu aya kiwari masih ngamangpaatkeun kabel biasa. Nepi ka, fasilitas siga kabelvision di Jakarta, nu bisa ngakses internet 24 jam kalayan waragad nu relatif murah, teu bisa dirasakeun mangpaatna ku jalma nu leuwih loba. Mun teu salah, di Jakarta, nu kaliwatan ku jaringan serat optik ieu ngan jalan atawa daerah nu ngebat ti Thamrin ka kidulkeun. Parat nepi ka Pondok Indah jeung Cinere. Atuh, nu bisa ngakses internet murah via kabelvision teh ngan nu aya di jalur eta bae. Daerah Menteng, nu kawentar elit ge, teu kabeh bisa ngarasakeun mangpaat eta.&lt;br /&gt;Beda jeung Lombok. Mun teu salah deui bae, jaringan serat optik di Lombok geus leuwih "rempeg". Diwangun mangsa almarhum Soesilo Sudarman manggung jadi Menparpostel, kontraktorna joint venture Walanda-Indonesia. Hartina, munasabah mun, teorina, urang Lombok leuwih melek internet manan dulur-dulur urang nu dumuk di Ciamis, misalna.&lt;br /&gt;Perkara kaleuwihan serat optik manan kabel biasa, oge daerah mana nu satemenna geus boga fasilitas ieu, tangtuna dulur-dulur nu gawe di Telkom leuwih nyaho. Nu jadi perhatian  kuring leuwih makro deui: Infrastruktur telekomunikasi, hususna fasilitas internet, di urang, di Tatar Sunda.&lt;br /&gt;Eta bae. Sakalieun ngulampreng ka lembur, kuring sok hese neangan warnet. Di Ciamis, misalna, sakanyaho kuring, warnet teh ngan aya di deukeut alun-alun. Kitu ge bukana siga nu puasa sunat: Ngan Senen jeung Kemis. Bari bukana teh ti jam salapan isuk nepi ka bada Isya, jam dalapanan. Sanajan, Ciamis kaitung nu pangheulana miboga program "internet masuk sekolah". Malah salah sahiji STM di dinya jadi proyek percontohan keur tingkat nasional.&lt;br /&gt;Di antara sawatara kota kabupaten di Jawa Barat nu kungsi dianjangan rada lila (Subang, Indramayu, Kuningan, Majalengka, Ciamis, Cirebon, jeung Garut), nu nembongkeun kamajuan  rada mending, lian ti Cirebon, ukur Subang. Kiwari di Subang ayanepi ka ti tilu warnet. Tadina mah, dua taun ka tukang, sakanyaho kuring warnet nu manteng jeung murah teh nu aya di hareupeun Kantor Bersama. Bogana LIPI. Tapi, taun ieu, Bupati Eep rada lumayan: Ngahiap hiji pausahaan IT/ISP pikeun ngawangung infrastruktur TI di daerahna. Atuh, sawatara warnet mucunghul, ngamangpaatkeun eta "fasilitas". Sanajan, nya masih museur di kotana. Can nepi ka pasisian.&lt;br /&gt;Kaayaan "walurat" eta beda jauh jeung Yogyakarta. Bubuhan Kota Pelajar tea meureun. Di eta kota, teuing aya sabaraha ISP. Tiap ISP biasana ngalayanan nepi ka 50 warnet. Mun tea mah nepi ka aya 10 ISP, bari masing-masing rata-rata ngalayanan 30 warnet, hartina di "kota leutik" siga Yogya aya nepi ka 300 warnet. Teu heran mun di eta kota aya warnet nu ongkosna ngan Rp 2.000 sajam!&lt;br /&gt;Dina salah sahiji rapat DES, kuring kungsi nyigeung perkara  ieu: Kira-kira Kusnet, nu bisa disebut leuwih melek internet manan urang Sunda lianna, oge dirempegan ku sawatara "ahli" TI, bisa heunteu nyumbangkeun pipikiran jeung tanaga dina pangwangunan TI di Tatar Sunda. Nu "basajan" jeung "mendasar" bae: Misalna nyieun konsep (jeung ngajalankeun) jaringan warnet murah.&lt;br /&gt;Enya, ongkoh eta wangkongan teh aya dina konteks DES, nu saeutik loba medar perkara bisnis, perkara untung-rugi. Matak, disebut murah ge lain hartina eta warnet teh nyadiakeun fasilitas internet haratis. Tapi, nya mayar. Tapi, murah. Ongkos nu dicokot ti masarakat nu ngamangpaatkeun eta fasilitas nya "alakadarna" bae. Sangkan bisa nutup investasi jeung ongkos operasionalna bae. Sanajan, dina prak-prakannana, bisa jadi, ku alatan masih arang konsumenna,  ongkosna leuwih mahal manan Bandung atawa Jakarta, nu bisa nepi ka ngan Rp 3.000 sajamna. Matak, harita, kuring nekenkeun perkara feasibility tina aspek "bisnis"na.&lt;br /&gt;Tangtu bae,  sukur pisan mun bisa haratis teh.  Sanajan, rada pamohalan. Tapi, nu penting di dieu: Aya usaha pikeun ngahangkeutkeun fasillitas atawa infrastruktur internet di Tatar Sunda, nu beh dituna mah nya ngahangkeutkeun karaharjaan balarea tea. Hanas eta, internet aya efek sampingna, sarupaning gambar jeung informasi nu teu araruni, nya ngeunteung bae ka pangalaman diri urang bae: Sabaraha lila sih urang kagendam ku gambar-gambar kitu? Paling ge dua tilu bulan. Kadieunakeun mah pan geus bosen? (Mun tea mah aya di antara urang nu masih keneh masket kana web-web sarupa kitu, nya geus waktuna konsultasi jeung Sarlito Wirawan atawa Bu Yudi Markum).&lt;br /&gt;Keur nyadiakeun alat (komputer) kalayan murah lain hal nu mustahil. Kuring kungsi mantuan hiji lembaga nu keur ngawangun jaringan komputer di sakola-sakola di Sulsel jeung NTB. Kabeneran, harita aya hibah komputer urut ti hiji LSM di Amerika. Teknologi jaringan nu diterapkeunnana naon nu disebut sistem cloning: Urang ngan butuh hiji komputer anyar, boh teknologina boh barangna, nu difungsikeun salaku server. Nu lianna, nepi ka 40 komputer, nya komputer-komputer urut tea, nu teknologi geus lawas -- harita sarupaning DX jeung Pentium I. Bari, masing-masing eta komputer client teh teu kudu make hard disk. Hasilna, nya kaitung nyugemakeun. Utamana keur barudak atawa jalma nu kakarak wawuh jeung komputer atawa internet.&lt;br /&gt;Lian ti lembaga siga MDLF atawa LSM Amerika nu mere komputer urut harita, satemenna masih loba lembaga sarupa. Malah, basa Makarim Wibisono masih jadi Presiden Ecosoc, anjeunna kungsi nyabit-nyabit perkara kerjasama nu sipatna G to G dina ngamangpaatkeun komputer urut di nagara maju keur nagara-nagara berkembang siga nagara urang. Teuing kumaha lajuninglaku eta program teh. Pan, Pa Makarimna ge tos teu nyepeng deui kalungguhan eta. Ongkoh, nu ku kuring kadenge, aya sawatara aktivis lingkungan nu teu pati panuju kana eta program teh: Sieun program eta dipake alat nagara maju pikeun miceun limbah di maranehna ka nagara-nagara berkembang. Geus puguh nu aya di Glodok, mah. Da, alas manehna bisa kaganggu.&lt;br /&gt;Jeung deui, presepsi birokrasi di urang ge can sarua. Eta bae, harita, basa ngasupkeun komputer urut tea, kungsi nyangked lila di palabuan. Depindag jeung Bea Cukai harita nganggap eta barang teh komoditi, nu kudu mayar bea masuk jeung pajeg lianna sailahar barang impor. Nepi ka hiji tina tilu kontainer nu aya kudu dihibahkeun deui ka hiji urang Madura, nu manguruskeun eta barang  sangkan bisa kaluar ti palabuan. Keur mayar jasa manehna.&lt;br /&gt;Di luar aya euweuhna lolongkrang meunangkeun komputer haratis, dibeayaan ku sorangan ge satemenna teu mahal-mahal teuing. Ku taksiran kuring, biaya keur nyieun warnet nu standar (lain nu make fasilitas sarupaning game online), 1 server 10 client, moal leuwih ti Rp 15 yuta. Rp 5 yuta keur server, Rp 10 yuta keur 10 client (@ Rp 1 yuta).&lt;br /&gt;Tangtu bae wangwangan kuring teh kudu ditingali deui ku ahlina, diakurkeun jeung kaayaan pasar komputer urut kiwari, kaasup feasebility bisnisna tea. Ngan, ku kitu ku kieu, kuring yakin ide ieu teu kaasup "muluk", komo pamohalan mah. Utamana, mun urang percaya kana mangpaatna bari percaya kana prinsip rereongan -- nu dina basa kiwari mah, kawengku atawa ngawengku "kemampuan mengorganisir diri", nu jadi salah sahiji ciri naon nu disebut masarakat nu maju atawa civil society.&lt;br /&gt;Ku cara rereongan, nu terorganisir, urang lain bae bisa nyieun jaringan warnet nu murah. Tapi, oge fasilitas atawa kagiatan lianna nu numpu atawa pakait jeung internet. Ti mimiti portal budaya jeung ekonomi Sunda, nepi ka radio  jeung database widang lianna. Bari kituna teh, insya Allah, bisa tetep murah kanu ngamangpaatkeunana jeung bisa jadi pangupa hirup  keur sakur nu ngalakonannana.&lt;br /&gt;Sanajan, keur sakuringeun, mangpaat nu dipiharep leuwih "sederhana" deui: Mun tea mah Kusnet, sebut bae ku  diwadahan ku Yayasan Perceka, nepi ka bisa miboga jaringan warnet siga kitu, silaturahmi urang nu oge dina raraga ngamumule sarakan teh leuwih pepek deui. Kusnet, atawa miis-milis lianna, ngan teu dieusian ku urang-urang nu hirup di Jakarta atawa kota-kota gede. Tapi, oge ku dulur-dulur nu memang dumuk di lembur. Hartina, urang neuleu jeung madudengkeun Sunda kiwari teh teu loba teuing deviasina. Da, teu ngan diwawaas ti Thamrin atawa ti Sudirman bae. Tapi, dipepekan jeung disukuan oge ku informasi jeung paningal ti Cigalontang, Cibarusah, Kasomalang, Karanghawu, Cidaun, Kiara Dua, Cikijing, atawa Pamarican.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;urangsunda, Wed Dec 28, 2005  9:01 pm Subject: Kusnet jeung Jaringan Internet Tatar Sunda&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-113727135510656752?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/113727135510656752/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=113727135510656752' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/113727135510656752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/113727135510656752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/01/kusnet-jeung-jaringan-warnet-tatar.html' title='Kusnet Jeung Jaringan Warnet Tatar Sunda'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20984936.post-113727091431516694</id><published>2006-01-14T12:05:00.000-08:00</published><updated>2006-01-21T22:42:19.313-08:00</updated><title type='text'>Kakaren Lebaran (SMS Lebaran)</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Lebaran kamari mah rada prihatin. Lain bae rumasa lumokot ku dosa, rumasa sok sisiku jeung rerengkas. Tapi, pamajikan ngadon gering. Eta ge kungsi dibawa ka dokter, ngan teu daek dicaram. Teu kaop meleng, manehna ngolesed ti enggon. Ngilu cakah-cikih, ma’lum rek Lebaran. Antukna, karah karugrag. Tatanya ka dokter teh euweuh tapakna. Malah leuwih parna: Unggal peuting humarurung, kesang ngoprot, bari irung mengpet. Tisu pabalatak dina enggon, kuring teu meunang ingkah. Kudu mencetan sapeupeuting. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tilu poeeun deui ka lebaran manehna can jagjag keneh. Kasawang: Moal bisa ka mamana. Padahal, kuduna, kamari teh giliran Lebaran di Bandung, di imah kolot kuring. Kapaksa silaturahmi jeung munjungan teh ngaoptimalkeun SMS. Bari mencetan tonggong pamajikan, kuring ngirim SMS ka sakumna baraya jeung kawawuhan. Teu ku hanteu, nu teu pati loma, dalah nu teu wawuh pisan, ku kuring dikiriman SMS. Pangangguran. Lain bae artis jeung seniman, “relasi” mangsa keur jadi wartawan. Sawatara inohong – boh nu nyekel kalungguhan di pamarentahan atawa swasta pisan – kabeh dikintunan SMS. Kabeneran, dina adress book aya sawatara nomer maranehna. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tetela, leuwih efektif geuning. Dosa teh asa ngurangan. Naha perbawa Lebaran, atawa kakuatan basa nu nyampak dina kekecapan nu ditepikeun dina eta SMS? Atawa perkara kaihlasan jeung otentisitas nu nulisna? Wallohualam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nu pasti, SMS nu mairan silaturahmi kuring atawa nyodorkeun pangwilujengna, unina teh rupa-rupa. Siga nu nembongkeun dirina sewang-sewangan. Aya nu pikahelokeun, alatan jauh pisan tina implengan kuring ngeunaan eta jalma. Aya oge nu matak tingtrim kana hate. Atawa, matak ngehkey pisan -- paling henteu, keur kuring, nu rasa humorna teu leuwih luhur manan dampal suku. Sanajan, teu saeutik oge nu eusina lempeng-lempeng bae. Standar. Siga SMS nu dikintun ku hiji inohong nu ngantor di Senayan ieu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;TERIMAKASIH PESANNYA SELAMAT IDULFITRI MHN MAAF LAHIR BATHIN&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanajan standar pisan, malah meh leungiteun “citarasa”, alatan tulisannana kabeh ku huruf gede jeung teu make tanda baca pisan, nu matak kuring ajrih : Eta ku kersa ngawalonan SMS cacah pantar kuring. Boro-boro loma, wawuh ge heunteu. Naha, pedah anjeunna politisi kitu? Matak dipairan ge, kuring dianggap calon pemilih pontensial dina Pemilu engke? Teuing...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu matak helok kuring, salah sahijina SMS nu unina siga kieu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Terimaksih. Ya Allah…perkayalah saudaraku ini dgn keilmuan, hiasilah hatinya dgn kesabaran &amp; kasih sayang, muliakanlah wajahnya dgn ketaqwaan dan perindahlah fisiknya dgn kesehatan, serta terimalah amal ibdah ramadhannya dgn kelipatgandaan barokah dan magfirahmu. Minal a’idin wal fa’idzin. Taqabbalal lallahhu mina waminkum, taqabal ya karim, kullu amin waantum bi khair. Selamat ‘idul Fitri 126H. XXX &amp;amp; kel.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maca eta SMS, cipanon meh nyurucud. Karasa kaihlasan eta do’a jeung nu ngadu’akeunnana. Padahal, teu wawuh teu sing. Helokna deui, sakanyaho kuring tina media atawa omongan jalma ngeunaan anjeunna, eta inohong teh teu ningalikeun citra nu relijius atawa nyantri kawas SMS-na. Malah, pan, ceuk tadi ge, lain bae karasa relijiusitasna eta inohong. Tapi, oge karasa kaihlasannana. Du’ana matak tingtrim kana hate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di hari yang fitri, maafkanlah saudaramu ini. Walau trasa sulit tuk memaafkan sang penguasa negeri. Tundukkanlah hati, walau inflasi meraja. Sampaikanlah doa buat 40 juta duafa &lt;xxxx&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eta mah SMS nu dikirim ku hiji ekonom, urang Sunda, nu jelas teu panuju kana kawijakan paekonomian neolib ala SBY. Sanajan basana murwakanti, tapi keur kuring politis teuing. Tangtu bae, kaihlasannana karasa oge. Naon nu di-SMS-keunnana, sakanyaho kuring, luyu jeung naon nu diprakkeun atawa digugulung dina kahirupan sapopoe anjeunna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina hal pupuisian, bandingkeun jeung jawaban di handap ieu. Ti hiji kolot di Makassar, penyair, nu siga Ua Sas, muka panto pabukon pribadina keur jalma loba :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hakikat cahaya bulan bersarang pd matahari, tetapi cahaya menyangkar dlm lipatan jiwa dan hati. MOHON MAAF LAHIR BATHIN! Selamat Idul Fitri minal aidhin wal faizin (XXX sekeluarga).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jero pisan, pan, hartina? Sigana, leuwih jero manan Laut Banda. Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aya deui hiji SMS nu ceuk pangrasa kuring: Nembongkeun kakuatan jeung kaendahan Basa Sunda. Ongkoh nu ngintunna, salah sahiji nonoman Sunda nu kandel jeung liket pisan ka-Sunda-annana. Mun urang leukeun nitenan seratan-seratan anjeunna, karasa kaseukeut pikir jeung manah anjeunna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wanci janari marahmay asri nganti sasih nu fitri. Ati nu surti neda jembar pangampura. Wilujeng nampi kabagja sabada nyorang lara puasa. Mugya waluya mapag salira.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aya deui nu unina:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Tembang Melayu mengalun riang, kaki menghentak tiade henti. Kini datanglah bulan kemenangan, jika ada salah kata mohonlah kami dimaafkan. Met lebaran Id.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangwilujeng nu karasana “centil” jeung “maksa”. Ma’lum, nu nulisna artis. Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Idem tito; ibid; loc cit. punten seepeun kecap endah, nu penting niatna sae. He..he..&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eta mah pangwaler ti hiji dosen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Paralun nu ka suhun&lt;br /&gt;Hapunteun nu ka teda&lt;br /&gt;Nyuhunkeun dihapunteun dosa alit &amp;amp; ageung&lt;br /&gt;Met boboran 1426 H.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Narima jawaban di luhur kuring ngagakgak. Lain nanaon. Kuring ngirim pangwilujeng ku Basa Indonesia. Oge: Ieu inohong teh lain urang Sunda, urang Jawa. Penyair, nu katingalna “sentimen” ka urang Sunda – utamana pisan ka salah sahiji inohongna. (Sanajan, manehna ajrih pisan ka Ali Sadikin. “Presiden saya Ali Sadikin,” ceuk manehna, waktu dikolongan saha nu kira-kira pantes jadi Presiden RI, baheula basa reformasi mimiti meletek). Sigana, eta SMS teh meunang naroskeun anjeunna ka baturna, awewe Jawa-Ambon nu memang alus Basa Sundana alatan ti leuleutik cicing di Bogor. Kana eta SMS, kuring mairan siga kieu: “Kalau Raden Moesa menerima SMS Anda tadi, beliau pasti bangkit dari kuburnya,” ceuk kuring, ngaheureuyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ma’ap…bukannya saya mau ganggu, bukannya mau ikut”an jg, tp ma’ap… Saya bener” mau minta ma’ap…Kan IDUL FITRI, ma’ap…Lahir Batin ya… Ma’ap…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS eta lain ti inohong. Tapi, babaturan kuliah kuring, nini-nini. Siga SMS ti penyair nu urang Jawa tadi, kuring ngehkey waktu narima ieu SMS: Kacipta eta nini-nini gaul, urang Garut, rada bayuhyuh, metakeun kalakuan hiji tokoh dina sinetron Bajaj Bajuri. Ma’ap..., ma’ap...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari SMS nu paling tegep, nu unina di handap ieu :&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Wilujeng Lebaran, hampura abdi nya, pliiis….:-)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ti Kang Nanang, anggota Kusnet! Siga SMS ti “si nini” jeung “si penyair Jawa”, kuring ngehkey waktu narima SMS eta. Kabayang, jalma siga Kang Nanang nyebut “pliiiss...” teu beda jeung suan-suan pamajikan nu omongannana sok direumbeuyan ku kekecapan sarupaning “pliiis...”, “najong”, atawa “so what gito, lho?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atuh, jawaban kuring ka Kang Nanang ge teu eleh “gaul”: Sama-sama, gitu, loh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetela Lebaran teh mere kabagjaan ka jalma loba. Sanajan ku hal anu “teu pira”: Basa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From: urangsunda@yahoogroups.com&lt;br /&gt;Date: Thu Nov 24, 2005 2:28 am&lt;br /&gt;Subject: Kakaren Lebaran (SMS Lebaran) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20984936-113727091431516694?l=mamangantra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mamangantra.blogspot.com/feeds/113727091431516694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20984936&amp;postID=113727091431516694' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/113727091431516694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20984936/posts/default/113727091431516694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mamangantra.blogspot.com/2006/01/kakaren-lebaran-sms-lebaran.html' title='Kakaren Lebaran (SMS Lebaran)'/><author><name>MGT's Digital Print Art Work</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05109686329571317736</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
